Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Hati sebening kaca yang mudah pecah


__ADS_3

Aisyah memberikan bekal lagi pada Ghozali pagi ini, ia memastikan suaminya itu membawanya. "Mas, aku mau ngomong sebentar! Ini tentang Assalam!" seru Aisyah.


"Aku buru-buru mau berangkat!" ujar Ghozali. "Tapi ini penting!" ujar Aisyah sambil memegangi tangan Ghozali. Pria itu tampak benci tangannya di sentuh. "Kau mau apa?" tanya Ghozali dengan ekspresi dinginnya. Aisyah terus bersabar dengan sikap suaminya itu.


"Nggak apa-apa mas, kita bicarakan nanti saja," ujar Aisyah. Ghozali pun langsung pergi ke mobilnya untuk berangkat kerja. Ia terdiam sejenak sambil menatap dokumen-dokumen penting keluarga seperti surat nikah, kartu keluarga, dan bahkan akte kelahiran anak. Ia hendak melakukan sesuatu dengan dokumen-dokumen itu.


Setelah sampai di tempat kerjanya, ia langsung menyalin semua dokumen itu di mesin cetak yang ada di samping ruangannya.


Mayang pun melihat hal itu kemudian tersenyum, ia mencoba mengejutkan Ghozali dengan menepuk bahunya.


"Ya ampun, Mayang! Bikin kaget saja!" ujar Ghozali sambil buru-buru mengemas salinan dokumen itu. "Kamu sudah makan?" tanya Mayang. Ghozali menggeleng lalu tersenyum, ia meninggalkan bekal yang dibuat istrinya di mobil.


"Kalau begitu,mau sarapan bareng? Aku bawa dua bekal, ini berat sekali!" ujar Mayang. "Baiklah," ujar Ghozali. Mereka berdua pun pergi ke atap gedung dan mulai menyantap makanan di sana.


"Gimana keadaan rumahmu?" tanya Mayang, Ghozali tidak menjawab, ia hanya mengerutkan dahi. "Oh, maaf! Aku nggak bermaksud berbicara serius," ujar Mayang.


"Nggak masalah kok," ujar Ghozali kemudian melanjutkan sarapannya. Ia kembali bekerja seperti biasanya sambil sesekali kembali ke ruang kerjanya dan menatap dokumen-dokumen keluarganya itu.


Akhirnya siang pun tiba, Aisyah datang ke tempat Ghozali seorang diri, ia tampak membawakan bekal untuk makan siangnya. Saat itu Mayang sedang berada di dalam ruangan dan sempat berbincang-bincang dengan Ghozali hingga tertawa.


Aisyah pun langsung masuk ke dalam ruangan Ghozali tanpa mengetuk pintu. Mayang yang melihatnya pun langsung pamit untuk pergi.


"Ada apa lagi? Kenapa kau jadi sering ke sini? Siapa yang jaga rumah?" Ekspresi Ghozali yang sejak tadi cerah tiba-tiba berubah dingin saat Aisyah memasuki ruangannya


"Aku hanya mengantarkan ini padamu! Mas sangat susah diajak bicara sih! Nanti malam harus pulang gasik loh! Aku benar-benar ingin ngomong hal yang penting! Penting banget mas!" ujar Aisyah dengan wajah bersemangat.


Sayangnya wajah cerianya langsung hancur seketika saat melihat beberapa dokumen terkait pernikahan, bahkan akte kelahiran anak. Ia paham betul dokumen-dokumen itu hendak digunakan untuk apa.


"Mas harus pulang sebelum Maghrib loh," ujar Aisyah, suaranya sudah tidak bersemangat lagi. Ia pun berbalik badan hendak keluar.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, wanita tadi cantik sekali, aku iri karena ia bisa membiarkan rambut panjangnya terurai di tempat umum seperti ini," ujar Aisyah kemudian pergi dari ruangan Ghozali.


Ia benar-benar sakit hati. Cara suaminya memandang dirinya dengan caranya memandang wanita tadi benar-benar berbeda.


Apalagi setelah melihat beberapa dokumen keluarga itu. Tidak mungkin ada orang yang membawa dokumen seperti surat nikah ke tempat kerja, apalagi dia seorang dokter. Alasan yang paling logis untuk membawa dokumen-dokumen itu hanyalah satu, yaitu untuk mengurusi perceraian.


"Nggak apa-apa, aku sudah menemukan Assalam, aku bisa menemukan anak itu! Aku cukup senang," ujar Aisyah, ia berusaha menghibur dirinya padahal matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Dadanya terasa sangat sesak hingga ia terus menekannya. "Nggak apa-apa Aisyah! Ini kerja bagus! Kamu bisa menemukan Assalam! Kamu yang terbaik!" ujar Aisyah, ia berusaha menguatkan dirinya.


Sayangnya memikirkan dokumen-dokumen yang ada di meja Ghozali itu membuatnya tak mampu berdiri. Ia pun duduk di bangku teras sambil mengambil nafas dalam-dalam, ia duduk di situ sejam lamanya.


"Nggak apa-apa cerai, yang penting kamu menemukan anakmu! Yang penting Shahih nggak sendirian lagi! Kamu akan baik-baik saja," ujar Aisyah membohongi diri sendiri.


Pikirannya pun menjadi semakin luas. Ia membayangkan perceraian itu sungguh terjadi sedangkan Ghozali merenggut semua hak asuh anaknya. Ia membayangkan Assalam, yang ia cari susah payah akan direnggut darinya. Ia benar-benar tidak rela hal itu terjadi.


"Nggak apa-apa Aisyah! Yang penting anak-anakmu bisa bahagia!" Aisyah berusaha menghilangkan rasa takutnya.


Ia pun beranjak dari bangku lalu berjalan ke jalan raya, hendak menyeberang untuk menaiki angkot.


Sayangnya suasana hatinya sangat tidak stabil saat itu, ia berjalan sempoyongan tanpa menyadari ada sebuah mobil melaju ke arahnya. Suara rem paksa pun terdengar hingga ke ruangan Ghozali, disusul dengan suara benturan keras dan jeritan orang-orang.


Ghozali sempat tidak peduli hal itu ia berpikir istrinya sudah pulang sejam yang lalu, namun tiba-tiba Daffa dan Andhika berlari ke ruangannya. "Ghozali! Istrimu!" teriak Daffa.


Ghozali terkejut bukan main hingga menjatuhkan buku jurnal yang ia pegang. Beberapa detik yang lalu ia sempat berpikir istrinya pulang dengan selamat.


Ghozali pun langsung keluar dari ruangannya, ia segera berlari ke IGD, untuk melihat siapa yang sedang dibawa ke sana. Ia langsung tumbang melihat wajah istrinya yang bersimbah darah tak sadarkan diri.


"Ghozali! Ghozali! Sadarkan dirimu!" ujar Daffa, ia dan Ade langsung mengangkat tubuh pria itu ke bangku. Andhika juga segera mengambilkannya air.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aisyah ada di sana? Bukankah ia seharusnya sudah pulang dari tadi?" tanya Ghozali. Sayangnya orang-orang tidak ada yang mengetahui hal itu.


"Kami tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dia memberhentikan angkot yang ada di seberang jalan. Kupikir dia baik-baik saja, tapi malah menyebrang di jalanan ramai tanpa sadar ada mobil yang melaju dengan cepat dari sisi kanannya," ujar Ade.


Ghozali pun teringat dengan kata-kata terakhir Aisyah sebelum ia pergi meninggalkan ruangannya, ia pun menyadari kalau suasana hatinya langsung memburuk saat itu juga.


Ghozali pun merasa benar-benar kacau, ia merasa bersalah karena tidak menyadarinya. "Argh! Sial! Seharusnya saat itu aku mengantarnya keluar! Seharusnya aku memastikannya pulang dengan selamat!" Ghozali merasa penuh penyesalan hingga menangis di tempat. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Aisyah, ruang IGD tak kunjung memberikan kabar.


Akhirnya setelah beberapa menit berlalu, akhirnya dokter jaga pun datang. "Gim.. gimana keadaan Aisyah dok? Gimana keadaan istriku?" tanya Ghozali.


"Kondisi tubuhnya sudah stabil, tidak ada cidera serius di tubuhnya, namun pendarahan hebat terjadi di kepalanya, ia memerlukan operasi secepatnya," ujar dokter jaga.


Dokter spesialis bedah saraf pun datang setelah mendapatkan panggilan dari IGD. "Dok, to... tolong selamatkan istriku!" ujar Ghozali sambil memohon-mohon, ia benar-benar terpukul dengan hal itu. Ahli bedah saraf itu langsung menyingkirkan tangan Ghozali dari jasnya dengan ekspresi dingin, ia langsung pergi ke IGD untuk memeriksa kondisi Aisyah.


Tak lama kemudian Alfa pun datang, Ghozali yang sembari tadi duduk di kursi tunggu langsung beranjak setelah melihatnya.


Alfa hendak menerobos ruang IGD, namun Ghozali mencegahnya. "Apa yang terjadi? Kenapa Abiku mendapat panggilan dari rumah sakit? Kenapa? Apakah kakak ada di dalam sana? Di ruangan itu?" tanya Alfa, ia tampak sangat panik, wajahnya benar-benar merah.


"Tenanglah Alfa, ia akan menjalani operasi," ujar Ghozali. Alfa yang tampak tak sabar itu langsung memukul wajah Ghozali, ia terus memukulinya hingga wajah pria itu dipenuhi darah.


"Hentikan! Apa yang sedang kau lakukan di rumah sakit?" teriak Mayang. "Siapa ini, Ghozali? Siapa? Wanita simpananmu?" tanya Alfa dengan suara keras. Membuat semua pegawai rumah sakit meliriknya.


"Alfa, tenangkan dirimu, kita sedang di rumah sakit," ujar Ghozali. "Kau pikir ini yang paling penting? Kakakku terbaring di sana! Istrimu loh! Kudengar ia tertabrak mobil tepat di depan rumah sakitmu!" teriak Alfa.


"Sebenarnya kau di mana saat itu? kau biarkan kakakku berjalan sendirian di jalan raya? Kau gila? Bukankah kau suaminya? Kenapa kau membiarkannya mengalami kecelakaan itu? Suami macam apa kau ini?" teriak Alfa sekali lagi, ia benar-benar emosi lalu memukul Ghozali sekali lagi.


"Maafkan aku Alfa, aku benar-benar tidak tahu apa-apa, kupikir Aisyah sudah pulang sejam sebelumnya. Tapi kudengar ia menyeberang jalan tanpa menyadari mobil yang melaju di sisi kanannya," ujar Ghozali.


"Kau pikir kakakku se tolol itu sampai nyeberang jalan ramai? Segoblok itu kah? Aku yakin dia habis lihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat! Sesuatu yang membuatnya syok berat! Apakah dia baru saja melihat wanita simpananmu? Begitu kah? Sampai rasanya ingin mati? Kau tahu sendiri kan? Hati istrimu itu mudah hancur! Kalau kau tidak menyukainya, setidaknya jangan mempermainkan hatinya! Dia perempuan! Tidak setangguh dirimu!" teriak Alfa, setelah melampiaskan amarahnya, ia langsung menangis di tempat.

__ADS_1


"Kasihan kakakku sampai harus mengalami semua ini, ia bahkan tidak berani memberitahu Abi dan Umi, ia tidak berani memberitahuku apa yang ia derita selama ini. Apakah kau mengancamnya juga? Benar-benar suami yang jahat!" teriak Alfa lalu pergi keluar gedung, ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakaknya terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang parah.


__ADS_2