Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Musibah besar


__ADS_3

"Dingin! Dingin!" keluh Hasan, seluruh tubuhnya menggigil, akhirnya Shadiq memindahkannya ke dipan paling pojok agar jauh dari pintu kamar.


"Badannya semakin panas!" ujar Shafiq, ia bahkan tidak tahan menyentuh tubuh Hasan, anak itu sangat kesakitan.


"Duh! Kenapa kamu jadi gini, Hasan! Aku takut!" ujar Shadiq sambil mengusap-usap dahinya.


"Shahih, kita harus gimana? Dia semakin panas! Lihatlah! Matanya jadi merah begitu!" ujar Shadiq panik.


"Suruh dia pejamkan mata," ujar Shahih. "Nggak mau! Panas banget!" ujar Hasan, ia masih mengerang-ngerang kesakitan di tempat tidurnya.


Adzan Maghrib pun tiba, akhirnya anak-anak persiapan pergi ke masjid.


Setelah sholat selesai, mereka masih ada kegiatan hafalan Al-Qur'an bersama, namun Shadiq memilih izin untuk menemani Hasan di kamar.


"Shahih, Asyraf! Kalian nggak ikut? Kasihan Shadiq loh, sendirian nemenin Hasan," ujar Fashalay. Shahih terlihat tidak mendengarkan, lebih tepatnya ia tidak peduli. Sedangkan Asyraf hanya menggeleng kepala saat ditanya Fashalay.


Kegiatan terus berlanjut hingga Isya. Setelah sholat, mereka langsung menuju ke kamar untuk melihat Hasan.


"Duh! Kayaknya jadi makin parah! Ini bahaya!" ujar Shadiq. "Kau kayak nggak pernah lihat orang sakit saja!" ujar Shahih.


Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. "Ada apa ini? Kenapa ada bel malam-malam begini?" tanya Ario keheranan.


"Semuanya! Kumpul di lapangan!" teriak salah seorang kakak pengurus. Anak-anak bergegas menuju ke lapangan karena takut. Mereka tidak ingin balok kayu yang dipegang oleh kakak pengurus itu mendarat ke tubuh mereka.


"Duh, Hasan! Maafkan aku! Bertahanlah! Aku mau kumpul sebentar!" ujar Shadiq kemudian berlari meninggalkannya.


Setelah kumpul di tengah lapangan, kakak pengurus mulai mengeluhkan ketertiban para santri yang mulai memburuk.


Suasana malam itu benar-benar tegang dan menakutkan karena kakak pengurus terus berteriak-teriak.


"Omong kosong apa ini? Mereka sedang berbuat apa?" tanya Asyraf keheranan. "Entahlah, yang jelas aku benci dengan suasana ini! Mereka pikir kita ini apaan sih?" Shahih kesal.


Tak lama kemudian kakak tingkat memerintahkan seluruh anak yang kumpul untuk mengambil posisi push up.


"Sialan! Salahku apa sampai dapat perlakuan seperti ini?" Shahih benar-benar kesal, ia tetap diam di tempat selagi anak-anak lainnya mengambil posisi push up, ia langsung berdiri.


"Ngapain kamu berdiri?" tanya salah seorang kakak pengurus. "Saya tidak melakukan kesalahan apapun hingga pantas mendapatkan hukuman ini! Saya ingin kembali ke kamar!" ujar Shahih.


Kakak pengurus langsung membanting balok kayu yang ia pegang. "Kamu! Sini maju ke depan!" teriak kakak pengurus. Akhirnya Shahih pun maju ke depan tanpa rasa takut.


"Apa-apaan ini? Kamu membangkang? Masih kecil sok jadi jagoan?" tanya kakak pengurus. "Perkataan kakak nggak ada hubungannya dengan perkumpulan yang ada di sini! Saya merasa nggak melakukan kesalahan apapun hingga pantas dihukum," ujar Shahih.


"Hei! Kamu tahu ini namanya apa? Ini namanya hukum berjamaah! Semua kena hukumannya!" ujar kakak pengurus.


"Omong kosong! Kalau memang hukuman berjamaah, kenapa kakak nggak ikut dihukum juga? Kenapa kakak pengurus nggak ikut ambil posisi push up?" tanya Shahih, ia langsung berbalik badan.


"Hei, anak-anak! Kalian yang nggak merasa melakukan kesalahan apapun jangan menurutinya! Dia sendiri juga nggak ikut push up! Padahal katanya hukuman berjamaah," teriak Shahih.


Renogi dan Asyraf langsung berdiri, mereka tidak ikut push up. "Apa ini? Ternyata pembangkangnya bertambah!" teriak salah seorang kakak pengurus.

__ADS_1


"Kami tidak menerima perlakuan buruk dari kakak pengurus! Ini adalah sikap arogan!" ujar Shahih.


"Kamu... Merasa nggak bersalah? Teman-temanmu gaduh di masjid, telat ke masjid, bangun kesiangan, terlambat masuk kelas, berkeliaran di luar kamar melebihi jam sepuluh, kamu nggak merasa bersalah?" tanya kakak pengurus.


"Tentu saja! Aku nggak merasa melakukan kesalahan yang disebutkan tadi!" ujar Shahih tegas.


"Kesalahanmu adalah nggak mengingatkan mereka!" ujar kakak pengurus. "Aku sudah mengingatkan mereka, bahkan setiap hari," ujar Shahih.


"Benarkah? Lalu kenapa mereka masih melanggar peraturan?" tanya kakak pengurus sambil menonjok dahi Shahih. "Itu bukan urusanku lagi!" ujar Shahih membalas tonjokkan kakak pengurus itu.


"Kalau masalah mengingatkan, kakak juga berkewajiban untuk mengingatkan mereka! Jadi kakak harusnya dapet hukuman juga! Bukan cuma kakak, tapi para ustadz yang ada di sini! Harusnya kakak panggil mereka semua ke sini bangunkan mereka semua! Suruh mereka ambil posisi push up!" ujar Shahih,ia masih tampak emosi, namun beberapa kakak pengurus langsung membawanya pergi ke tempat lain bersama Asyraf dan Renogi.


Pada akhirnya mereka bertiga hanya didiamkan di ruangan kelas sedangkan anak-anak lainnya masih menjalani hukuman.


"Konyol sekali sistem kepengurusan di pesantren ini!" ujar Shahih.


Setelah berjam-jam lamanya, akhirnya mereka bertiga pun dipersilahkan untuk kembali ke kamar masing-masing, mereka juga diminta untuk merahasiakan apa yang mereka lakukan saat berada di kelas.


"Argh! Ngantuk sekali! Mereka menyuruh kita bangun pagi, tapi malah membuat kita menjalani hukuman hingga tengah malam! Benar-benar nggak masuk akal!" keluh Ario.


"Hasan beruntung sekali karena nggak ikut hukuman itu," ujar Fashalay. "Beruntung jidatmu! Dia sedang sakit parah!" ujar Shadiq kesal.


"Sudahlah! Semuanya tidur! Jangan gaduh lagi, nanti kena hukuman lagi baru tahu rasa!" ujar Shahih kesal, ia semakin benci dengan anak-anak di sekelilingnya. Kenyataan bahwa ia sampai repot-repot berurusan dengan kakak pengurus adalah karena mereka semua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Adzan Subuh tiba, Shahih langsung memukul-mukul pintu dengan sapu hingga patah, ia berkeliling asrama sambil memukul pintu setiap kamar untuk membangunkan anak-anak. Ia sudah sangat kesal karena begitu adzan berkumandang, anak-anak masih pada tidur.


"Apa-apaan mereka ini? Menjijikkan sekali!" ujar Shahih kesal, ia pun sadar mengapa kakak pengurus marah dan menghukum semua anak-anak.


Setelah sholat subuh, semua santri mengikuti kegiatan hafalan Al-Qur'an. Para ustadz sangat kerepotan karena harus membangunkan anak-anak yang sesekali tidur saat membaca Al-Qur'an, begitu juga dengan Amir, ia adalah pengampu hafalan Al-Qur'an untuk anak-anak yang sekamar dengan Shahih.


Tak lama kemudian seorang anak dari kamar yang sama datang sempoyongan. "Ustadz! Ustadz! Tolong! Tolong!" ujar anak itu dengan suara lemas, ia masih ngantuk.


"Ada apa Febio?" tanya Amir. "Ustadz! Tolong! Kamar jadi hangat! Ada apinya," ujar anak itu. "Kamu ini ngigau apa? bicara yang jelas!" ujar Amir, anak yang lainnya sempat tertawa mendengar perkataannya yang aneh.


Tak lama kemudian, tiba-tiba listrik menjadi padam, meskipun Subuh itu seharusnya masih gelap gulita, sayangnya tampak dari luar jendela, langit berwarna jingga seperti senja.


Para santri langsung berbondong bondong keluar dari masjid, mereka langsung meninggalkan para ustadz mereka demi melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Kebakaran! Kamar Abu Bakar kebakaran!" teriak salah seorang kakak pengurus. "Kamar Abu Bakar itu kamar kita!" ujar Fashalay, akhirnya anak-anak yang lainnya ikut berlari untuk memeriksa.


Api tampak sudah menjulang tinggi hingga ke lantai dua. "Hasan! Di mna Hasan?" tanya Shadiq. "Woi! Hasan! Hasan masih di dalam kamar!" ujar Ario panik.


"Ustadz! Tolong! Ustadz! Hasan masih di kamar!" teriak Shadiq, sayangnya tidak ada yang mendengarkan. Anak-anak hanya melongo sambil terus menatap kobaran api itu.


"Woi! Kalian ngapain? Awas! Adikku masih ada di dalam kamar! Kita harus panggil Ustadz!" teriak Shadiq, ia bahkan sampai menangis-nangis sambil menyingkirkan anak-anak yang berkerumun dan menghalangi jalan.


Alfa pun datang ke Shadiq. "Gimana Shadiq? Apa yang terjadi?" tanya Alfa. "Hasan masih ada di dalam sana!" teriak Shadiq.

__ADS_1


Sayangnya kobaran api membuat mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Setelah pintu kamar tumbang di makan api, orang-orang langsung menjaga jarak dari tempat itu. Tidak ada satupun orang yang peduli meskipun Hasan masih berada di dalam kamar.


"Awas, Shadiq! Bahaya!" ujar Alfa, ia langsung menarik lengan Shadiq. "Tapi Hasan...." Shadiq tampak putus asa, tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya.


Akhirnya ia pun bertekad untuk masuk ke dalam kamar. Ia melepaskan tangan Alfa lalu berlari menuju kamar, anak-anak lain tidak ada yang bisa mencegatnya, mereka tidak berani menghampiri kobaran api itu.


Shadiq langsung melompat ke dalam kamar dengan alas kakinya yang perlahan-lahan meleleh, ia mendapati Hasan sedang terduduk kebingungan di pojok ruangan.


"Shadiq? Apa yang terjadi? Apakah aku masuk neraka? Kenapa kamu juga?" tanya Hasan keheranan, ia benar-benar linglung.


"Ini bukan neraka!" teriak Shadiq, ia mencoba menyuruh Hasan untuk berdiri, sayangnya anak itu tidak mampu melakukannya.


Hasan pun tersadar kalau di sekitarnya dipenuhi kobaran api. "Shadiq! Keluarlah! Jangan ke sini! Bahaya!" ujar Hasan.


"Kamu juga keluar! Ayo!" teriak Shadiq. "Aku nggak bisa! Aku nggak bisa berdiri! Kamu saja keluar! Cepetan keluar! Apinya semakin besar, Shadiq! Keluar!" teriak Hasan.


"Nggak! Kamu juga harus keluar!" ujar Shadiq. "Aku nggak bisa berdiri! Aku nggak bisa berjalan! Kamu harus keluar, Shadiq! Kamu masih bisa bergerak bebas!" ujar Hasan.


Shadiq langsung menangis tersedu-sedu, ia benar-benar bingung hendak melakukan apa, Hasan terus meneriakinya.


"Shadiq! Keluar! Keluar dasar bodoh! Woi keluar! Goblok! Dungu kau! Keluar sana, anjing!" Hasan sampai rela mengata-ngatainya agar Shadiq mau keluar tanpa dirinya.


"Woi! Setan! Sana keluar! Kau tuli kah? Keluar sana! Bodoh!" teriak Hasan, ia sudah kehabisan suara, ia tidak bisa memaki Shadiq lagi.


Saat itulah Shadiq langsung mengangkat tubuh Hasan, ia tampak kepayahan, namun tidak ingin menyerah.


Ia terus mengangkat tubuh adiknya yang bahkan lebih berat darinya itu.


"Oh, lihat! Itu Shadiq dan Hasan!" ujar anak-anak panik. Mereka bingung hendak berbuat apa.


Belum sampai di daun pintu, sebuah balok kayu dari dipan menghalangi jalan. Shadiq tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak bisa lewat sambil membawa Hasan.


Karena bingung, akhirnya ia melempar Hasan hingga keluar kamar dengan selamat, namun dirinya masih terjebak di dalam.


"Shadiq!" teriak Hasan histeris, ia mencoba merangkak untuk menghampirinya, namun anak-anak mencegatnya agar segera menyingkir.


"Minggir semuanya!" teriak Shahih dan Asyraf serentak. Kedua anak itu berjalan beriringan. Asyraf membawa seember air sedangkan Shahih membawa gulungan handuk basah.


"Awas semuanya!" teriak Shahih sambil menggelar gulungan handuk itu hingga sampai ke tempat Shadiq.


Asyraf pun langsung berlari ke arah Shadiq melalui gulungan handuk itu. Ia langsung menyiramkan seember air ke tubuh Shadiq dan tubuhnya sendiri.


"Asa?" Shadiq tidak percaya ada yang berusaha menyelamatkannya. "Tunggu apalagi? Lepas bajumu!" ujar Asyraf.


"Eh? Lepas baju? Kamu saja!" ujar Shadiq, meskipun keadaan sudah genting, ia masih merasakan malu.


Akhirnya Asyraf pun merobek baju yang Shadiq gunakan lalu menyumpal hidung Shadiq dengan potongan kain dari baju itu. Ia pun menuntun Shadiq hingga keluar kamar.


Semua anak langsung bertepuk tangan. "Tunggu apa lagi? Ambil semua air yang ada! Siram apinya sampai padam!" Teriak Shahih.

__ADS_1


Anak-anak langsung berhamburan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air, mereka berbondong-bondong menyirami gedung yang dilahap api itu hingga padam.


__ADS_2