Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Kecanggungan di rumah


__ADS_3

"Sayang, kumohon... jangan maksa terus deh! Kamu udah berkali-kali masuk rumah sakit terus! Istirahat dulu aja! Masa pemulihanmu jadi makin lama kalau kamu kek gini terus, Sayang!" ujar Ghozali khawatir.


"Anak-anak sudah pergi ke pesantren semua, mas! Hanya aku yang bisa ngurusi rumah," ujar Aisyah.


"Kan ada Syihab! Minta dia suruh kerjakan pekerjaan rumah! Jangan kamu terus!" ujar Ghozali.


"Dia juga sedang belajar, aku nggak mau ganggu aktivitasnya," ujar Aisyah. "Nggak papa, sayang! Toh dia nggak akan nolak kalau kamu suruh," ujar Ghozali.


"Tapi intinya bukan itu yang jadi masalah mas! Keknya kamu selalu resah kalau aku nggak di rumah. Padahal aku cuma nginap di rumah orang tuaku loh! Ada apa sih mas sebenarnya? Kamu kayak anak kecil yang takut di tinggal ibunya," ujar Aisyah.


"Makanya minta Syihab pergi ke kampus aja, jangan tinggal di rumah. Toh kamu nggak pernah minta dia bantu-bantu kerjaan rumah," ujar Ghozali.


"Loh? Masalahnya di Syihab? Ada apa dengan Syihab si mas? Kamu lagi bertengkar sama anak itu?" tanya Aisyah.


"Bu.... bukan begitu, sayang! Pokoknya jangan biarin dia lama-lama di rumah! Aku nggak suka!" ujar Ghozali.


"Dia anakmu loh mas, kenapa kamu nggak suka dia di rumah?" tanya Aisyah keheranan. "Bukannya nggak suka! Makin lama dia di rumah, makin aneh sifatnya! Dia suka sekali menyelinap ke kamar kita," ujar Ghozali.


"Hmm, mungkin kamu nggak pernah kasih dia uang jadi diam-diam ambil uang di kamar! Makanya mas, jangan pelit-pelit deh! Ntar dia kebiasaan kek pencuri gitu gimana?" tanya Aisyah.


"Nggak, Aisyah... dia nggak ambil apa-apa dari kamar kita! Cuma..... cuma.....," Ghozali tampak ragu untuk memberitahu Aisyah, ia pikir istrinya akan menganggapnya aneh.


"Ah, sudahlah mas! Susah banget kamu ni kalau ngomong! Kamu sembunyiin rahasia dariku ya?" tebak Aisyah curiga. "Eh? Ng... nggak kok! Nggak ada apa-apa," ujar Ghozali.


"Kalau begitu pulanglah! Mandi mas! Kemejamu sampai tembus pandang gara-gara keringat! Aku sudah bilang kan? Pakai kaos mas! Lihatlah, ****** di dadamu itu kelihatan jelas banget!" ujar Aisyah sambil menunjuk-nunjuknya dengan perasaan gemas.


Ghozali pun merasa malu setelah menyadari hal itu, ia segera memakai jasnya agar dadanya tidak terlihat.


"Kenapa baru bilang, sayang?" tanya Ghozali dengan wajah memerah. "Ya ampun, kenapa wajahmu jadi manis sekali hari ini mas? Lagian mana kutahu kalau mas sampai berkeringat sebegitu banyaknya! Seharian ini aku hanya tidur di sini! Makanya cepat pulang dan mandi!" ujar Aisyah.


Akhirnya Ghozali pun memutuskan untuk pulang. Ia masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap, berharap Syihab tidak menyadarinya.


"Kenapa ayah berjalan seperti itu? Kayak landak mau nyuri buah aja," ujar Syihab keheranan. Ghozali pun terkejut bukan main saat melihatnya sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Kenapa kamu ada di situ?" tanya Ghozali. "Bukan apa-apa, aku cuma bosan di sini, nggak ada kerjaan," ujar Syihab.

__ADS_1


"Kalau bosan, sana beres-beres rumah, bukannya masuk ke kamar ayah! Hobimu benar-benar aneh sekali!" ujar Ghozali.


"Ayah dari mana kok basah kuyup begitu? Hujan-hujanan?" tanya Syihab. "Ini keringat, bukan hujan!" ujar Ghozali, ia pun pergi ke kamar mandi.


Saat itulah Syihab senyum-senyum sendiri, membuatnya merasa tidak nyaman. Ia segera mengunci pintu kamar mandi sebelum anak itu melakukan hal yang aneh-aneh.


Setelah selesai mandi, Ghozali pun menyadari satu hal yang ia lewatkan. Ia tidak menyiapkan baju ganti setelah mandi. Akhirnya ia tahu alasan mengapa Syihab senyum-senyum sendiri saat ia masuk kamar mandi.


Ia sempat terpuruk karena menghadapi kenyataan bahwa ia harus meminta tolong Syihab mengambilkan pakaiannya.


"Syi..... syihab?" tanya Ghozali. "Iya yah?" tanya Syihab, ia sudah berada di depan pintu kamar mandi, seolah dari tadi menantikan hal itu.


"Syihab..... tolong ambilkan baju ayah," ujar Ghozali. "Heh? Ayah lupa nggak bawa baju?" tanya Syihab dengan nada jail.


"Syihab, tolonglah! Ambilkan baju ayah," ujar Ghozali. Ia tidak tahu harus seperti apa menyikapi sifat anaknya itu. Ia hendak tertawa dan terpuruk di waktu yang sama.


"Kenapa ayah malu-malu gitu? Tinggal ambil aja sendiri kan bisa," ujar Syihab. "Syihab.... ayolah! Jangan nakal nak! Ambilkan baju ayah," ujar Ghozali terus memohon, namun Syihab tampak menikmati hal itu, ia membiarkan ayahnya terlalu lama berada di kamar mandi.


"Keluar aja yah, ganti baju di dalam kamar mandi kan susah, mending ganti di kamar aja. Ada yang gampang kok ngapain repot-repot?" tanya Syihab.


"Hayo, lupa apa?" tanya Syihab. "Ayah lupa nggak bawa handuk! Nanti basah semua lantainya!" ujar Ghozali.


"Nanti aku pel kok, tenang aja. Ayah tinggal ke kamar aja buat ganti baju," ujar Syihab. "Syihab, jangan gitu dong," ujar Ghozali terus memohon.


Akhirnya Syihab pun mengambilkan semua pakaiannya. "Ni yah, dah aku bawa," ujar Syihab.


Ghozali pun mencoba membuka pintu kamar mandinya sedikit demi sedikit. Tentu saja hal itu membuat Syihab semakin tertawa.


Ia tidak tahan dengan tingkah ayahnya yang lucu itu. Akhirnya ia pun mencoba menahan pintu kamar mandi agar tetap terbuka.


"Syihab! Syihab! Jangan bercanda! Hei, Syihab! Ayah masih telanjang!" ujar Ghozali panik, tenaga Syihab terlalu besar untuk ia lawan.


Pada akhirnya engsel pintu kamar mandi itu pun rusak. Syihab langsung berhenti mendorong pintu itu karena merasa bersalah.


"Bu.. bukan aku loh. Ayah yang ngerusak pintunya," ujar Syihab tidak mau tahu.

__ADS_1


"Lagian kenapa ayah tutup tutupin segala? Padahal dulu juga sering ajak aku mandi bareng," ujar Syihab.


"Kamu udah besar Syihab! Harusnya kamu tahu malu! Ya ampun!" ujar Ghozali kesal. Ia pun langsung keluar dari kamar mandi dan berlari ke ruang tamu. Entah kenapa ia semakin merinding berhadapan dengan Syihab.


"Loh? Mau ke mana lagi, ayah?" tanya Syihab. "Mau ke rumah sakit, jenguk ibumu," ujar Ghozali terburu-buru, ia tidak ingin anaknya melakukan hal aneh lainnya seperti mengunci pintu dari luar untuk mengurungnya.


"Ayah, aku belum makan!" ujar Syihab. "Itu di atas kulkas ada uang, beli saja sesukamu," ujar Ghozali tergesa-gesa, ia segera masuk mobil dan pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Aisyah tampak hendak berkemas-kemas. "Loh? Cepat sekali ke sininya mas!" ujar Aisyah keheranan.


"Gimana kondisimu setelah pemeriksaan tadi?" tanya Ghozali. "Aku sudah boleh pulang!" seru Aisyah. "Ba... baiklah, itu bagus sekali!" ujar Ghozali kemudian duduk di kursi sambil menghela nafas lega.


"Kukira kamu baru saja mandi. Kenapa wajahmu tampak kelelahan?" tanya Aisyah. "Bu... bukan apa-apa. Syukurlah kamu bisa pulang hari ini, sayang," ujar Ghozali.


Akhirnya setelah berkemas, Ghozali membawa Aisyah pulang ke rumah. Syihab tampak menanti di depan ruang tamu sambil bermain ponsel.


"Tumben sekali kamu keluar dari kamarmu, Syihab," ujar Aisyah. Anak itu tampak kegirangan mendapati ibunya pulang ke rumah. Ia langsung memegangi tangan ibunya yang lembut kemudian meletakkannya di wajah.


"Lihatlah anak itu, nggak pernah hilang sifat manjanya. Kamu udah besar, Syihab! Gimana kalau temen-temenmu tahu kalau pria berbadan besar sepertimu masih manja pada ibunya?" tanya Ghozali.


"Nggak papa lah, mas! Dia kan jarang di rumah, dia harus pergi merantau untuk kuliah. Sesekali manja pun boleh lah," ujar Aisyah.


Ghozali hanya menunjukkan muka masam. Ia langsung menyingkirkan tangan Aisyah dari wajahnya.


"Kalau mau dimanja, cepat lulus kuliah, bekerja, dan menikah! Minta istrimu yang memanjakanmu! Jangan melekat pada ibumu terus!" ujar Ghozali sambil mencubit pipi Syihab dengan geram.


"Auh! Sakit, ayah!" ujar Syihab. "Udah besar, Syihab! Udah dewasa!" ujar Ghozali gemas, ia langsung menggelitik Syihab berkali-kali.


Selagi mereka berdua bercanda, Aisyah hendak pergi ke kamar mandi. Sayangnya ia dikejutkan dengan engsel pintu yang sudah patah.


"Loh? Kenapa pintu kamar mandinya jadi begini?" tanya Aisyah. Secara serentak Ghozali dan Syihab saling menyalahkan.


"Dua pria di rumah ini benar-benar..... ada-ada saja! Tidak ada hal lain yang bisa kalian gunakan untuk menguras tenaga kalian kah? Bersih-bersih kek! Malah ngerusak!" tegur Aisyah.


Akhirnya Ghozali dan Syihab pun terdiam, namun mereka masih saling menyikut dan menyalahkan.

__ADS_1


__ADS_2