Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Asrama putra II


__ADS_3

"Shahih, Asyraf! Kalian nggak cuci baju kalian? Itu sudah menumpuk di ember loh! Ini sudah sepekan! dua hari lagi sudah hari senin! Kalian belum cuci baju OSIS juga!" ujar Hasan mengingatkan.


"Aduh! Ke mana mode tukang bersih-bersihnya Shahih sih? Kayaknya aku belum pernah lihat deh! Tiap hari dia jadi makin malas saja," ujar Ario.


"Benar sekali! Padahal aku mau minta ajarin rapiin lemari," ujar Fashalay. "Percuma saja kalian meminta hal itu! Lihatlah!" ujar Hasan sambil membuka lemari Shahih dan Asyraf.


"Eh? Buset! Itu sangat kosong! Bukunya ke mana? Cuma ada peralatan mandi, makan sama baju biasa!" Shadiq terkejut bukan main.


"Kalian berdua ini benar-benar luar biasa! Lihatlah, seragam kalian bahkan masih ada di ember semua, belum ada yang dicuci," ujar Ario menggeleng kepala.


"Masih ada dua hari, pasti kerang kok kalau dicuci nanti malam," ujar Asyraf. "Lagian akhir-akhir ini uangku terus berkurang. Aku harus hemat, nyuci sekali sepekan bisa menghemat deterjen," ujar Shahih.


"Apa? Hemat? Bukankah kamu nggak pernah pergi ke kantin? Kamu sudah super hemat loh," ujar Shadiq keheranan.


"Nah itu! Aku juga heran! Aku nggak pernah pergi ke kantin tapi uangku terus berkurang," ujar Shahih.


"Aku juga, mungkin sepekan ini sudah habis seratus ribu," ujar Asyraf. "Hmm! Mungkin itu alasan kalian mencuci sepekan sekali, lalu gimana dengan buku-buku kalian? Kenapa lemari kalian nggak ada bukunya?" tanya Hasan keheranan.


"Kami taruh di laci kelas, akhir-akhir ini aku kerepotan membawa tas ke dalam kelas, apalagi menjadwalkan pelajaran itu sangat membuang-buang waktu dan membuat lemari berantakan. Jadi semua buku kami, ada di laci meja," ujar Asyraf. Hasan menggeleng kepala.


"Ide malas kalian benar-benar brilian! Harusnya aku juga coba kayak gitu aja yah! Dulu aku setiap berangkat sekolah juga selalu bawa semua buku mata pelajaran. Tapi kalau di pesantren, tinggal taruh aja semua buku itu di laci! Ya ampun aku sampai nggak kepikiran sama hal seperti ini!" ujar Ario sambil menepuk jidat.


"Jangan ikut-ikutan! Mereka berdua benar-benar sesat! Itu bisa bikin kalian menjadi sangat pemalas," ujar Hasan.


"Bilang saja iri, kalian juga ingin melakukan hal yang sama kan?" tanya Asyraf. "Nggak juga! Aku tetap taruh buku di lemari," ujar Hasan dengan lagaknya.


"Uang lima puluh ribuku hilang!" teriak Shadiq. "Loh? Kok bisa?" tanya Hasan. "Nggak tahu! Kirain tadi malam masih ada di sekitar sini," ujar Shadiq sambil merogoh bagian bawah lipatan bajunya.


"Kamu ini bodoh sekali! Kenapa taruh uang di bawah baju?" tanya Hasan keheranan. Belum sempat menjawab, tiba-tiba keramaian membuat mereka segera keluar dari kamar.


"Lihat itu! Kak Syihab gagah sekali!" seru Shadiq sambil menunjuk Syihab yang sedang mengenakan setelan jas.


"Kayaknya cuma dia yang kelihatan gagah dengan jasnya. Yang lainnya kayak orang pakai jas hujan, lihatlah jas mereka kebesaran bak tenda," ujar Fashalay.


"Sumpah, keren banget kakakmu, Shadiq! Kayaknya paling keren seangkatan," ujar Ario.

__ADS_1


"Eh! Ada satu lagi yang nggak kalah kerennya loh! Lihat, badan sama tubuhnya pas dengan jasnya! Itu dari kelas IPA kalau nggak salah," ujar Fashalay.


"Hmm! Namanya siapa yah? Babeh Yusuf? Oh iya! Namanya babeh Yusuf!" seru Ario. Shadiq dan Hasan langsung tertawa.


"Kok panggilannya babeh Yusuf sih? Aneh banget!" ujar Hasan. "Itu gara-gara tubuhnya besar, terus mukanya kayak pria dewasa. Kalian nggak tahu? Kakak kalian juga dipanggil Daddy Syihab loh," ujar Ario.


"Daddy Syihab? Ada-ada aja! Aneh sekali! Besok-besok aku panggil kakak begitu saja lah!" ujar Hasan sambil tak bisa berhenti tertawa.


"Kak Syihab berarti sudah lulus dari pesantren ini dong? Kita nggak bisa ketemu kak Syihab lagi?" tanya Shadiq murung.


"Huh, pasti enak sekali mereka sudah lulus, bisa pergi dengan bebas. Nggak kayak di sini, serba diatur," ujar Fashalay.


Selagi yang lain melihat-lihat keramaian itu, Arkan tampak gelisah sambil bolak balik memeriksa lemarinya.


"Ada apa, Arkan?" tanya Shahih penasaran. "U... uangku! Uangku! Ada yang lihat nggak? Uang tujuh puluh!" ujar Arkan panik sambil mencari ke sana kemari.


"Hei, Arkan! Katanya mau bayar uang kas! Mana?" tanya Ario. "Be.. bentar, uangku.... uangku hilang!" ujar Arkan sambil mencari-cari ke bawah kolong dipan.


"Lah! Nggak usah alasan! Ayo! Tinggal kamu yang belum bayar loh!" ujar Ario. "Sabar! Aku lagi cari uangku!" ujar Arkan.


"Sudahlah! Dia bilang uangnya sedang hilang! Kalian harusnya bantu cariin bukan ganggu dia!" ujar Asyraf, ia ikut membantu mencari di setiap kolong dipan.


"Dahlah, uang kasnya aku bayarin dulu nih," ujar Shahih sambil memberikan uang pada Ario.


Arkan semakin gelisah sambil mencari-cari uang itu, matanya semakin berkaca-kaca karena tak kunjung menemukannya.


Adzan Dzuhur pun tiba, anak-anak segera persiapan menuju ke masjid. Asyraf mencoba menenangkan Arkan yang sedang terisak lalu mengajaknya untuk pergi ke masjid.


Saat mereka semua sudah pergi, Shahih kembali ke dalam kamar ia membaca buku selama tiga menit lalu segera pergi sebelum kakak pengurus menggiringnya ke masjid.


Sepulangnya dari masjid, Ario langsung heboh membongkar semua isi lemarinya. "Hilang!" teriaknya.


"Apanya?" tanya Hasan. "Uang kas kamar kita hilang!" ujar Ario. "Kamu taruh di mana?" tanya Hasan.


"Nggak tahu, aku lupa! Tadi perasaan tak pegang, tapi nggak tahu ke mana lagi," ujar Ario.

__ADS_1


"Duh! Ngapain dibawa-bawa segala! Harusnya biarin aja di lemari!" ujar Hasan menepuk dahi.


"Duh, teman-teman! Gimana nih? Uang kas kamarnya hilang," ujar Ario gelisah, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Pada akhirnya anak-anak sekamar mengeluhkannya karena ia teledor.


"Duh, maaf! Aku lupa! Tolong, yang nemu langsung bilang ke aku dong! Itu uang banyak loh! Sejuta lebih!" ujar Ario panik. Sayangnya anak-anak sekamar terlanjur menatapnya sinis, mereka membenci keteledorannya.


Sejak hari itu ia pun dikucilkan, bahkan Shadiq yang biasanya tidak memihak siapapun ikut mengucilkannya.


Suatu hari, ketika adzan Ashar tiba, anak-anak segera persiapan menuju ke masjid. Shahih masih duduk santai di dipannya.


Ketika anak-anak sedang sibuk mengganti seragam mereka menjadi pakaian sholat. Tiba-tiba seorang anak tampak baru saja datang dengan beberapa bungkusan jajanan di tangannya. Ia juga ikut segera mengganti pakaian.


Setelah semua anak pergi kecuali Shahih dan anak itu, Shahih pun beranjak dari kasurnya lalu memastikan bahwa tidak ada orang lagi yang berlalu melewati kamar.


Ia pun membuka semua lemari anak-anak yang tertutup itu. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membuka semua lemari itu?" tanya anak yang sedang berganti baju itu keheranan.


Shahih tidak mendengarkan, ia bahkan menghampirinya lalu menyentuh barang-barang yang ada di lemari anak itu.


"Hei! Kenapa pegang-pegang?" tanya anak itu semakin heran. "Namamu.... Bagas kan?" tanya Shahih sambil mengambil dompet yang ada di lemari anak itu.


"Hei, kembalikan!" ujar Bagas sambil merebut dompet yang diambil Shahih.


"Itu kau kan?" tanya Shahih sambil menatap Bagas dengan tatapan tajam. "Apanya?" Bagas keheranan.


"Uang kas, uang Arkan, uang Shadiq, uangku juga," ujar Shahih sambil memegang tangan kanan Bagas lalu menggaruk-garuknya.


Karena merasa tidak nyaman, Bagas pun hendak melepaskan tangan Shahih dari tangannya. Sayangnya saat itu juga tangannya langsung berdarah.


"Duh, maaf! Kayaknya kuku jariku kepanjangan, harus dipotong besok nih," ujar Shahih.


"Apaan sih?" ujar Bagas kesal, ia pun meniup-niup bekas luka di tangannya. "Sebaiknya kembalikan uang itu atau kusebarkan ke anak-anak lainnya.


"Ka... kamu bicara apa sih? Aku? Ngembaliin apa?" tanya Bagas sambil mengerutkan dahinya.


"Terserah kau mau ngembaliin apa nggak, kalau saja kamu nggak curi uang Arkan, aku nggak akan sampai cari tahu kalau kau pelakunya. Sepertinya aku haru berterima kasih pada Arkan karena dia membuatku mencegah seseorang berbuat kemungkaran," ujar Shahih kemudian pergi meninggalkan Bagas.

__ADS_1


__ADS_2