Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Syihab


__ADS_3

Ghozali terbangun dari tidurnya, namun ada satu hal yang sangat mengganggu paginya itu.


Syihab tampak tertidur nyenyak di sampingnya, bahkan mencoba memeluknya layaknya bantal guling.


"Hei, Syihab! Bangun! Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Ghozali keheranan. Syihab masih tampak setengah sadar lalu kembali memejamkan mata dan memeluk Ghozali erat-erat.


"Syihab! Oi, Syihab! Tubuhmu sangat berat!" ujar Ghozali, ia benar-benar merasa tidak nyaman. "Sebentar saja, aku mau begini sebentar lagi," ujar Syihab.


Akhirnya adzan pun berkumandang, mau tidak mau Syihab harus bangun dari tidurnya.


"Kenapa kamu tidur di kamar ayah? Kamu punya kamar sendiri kan?" tanya Ghozali keheranan.


"Aku cuma pengin tidur sama ayah saja," ujar Syihab. "Kamu udah besar, Syihab! Pengin tidur dengan ayah? Kamu bikin ayah takut saja!" ujar Ghozali sambil menjaga jarak dari anaknya.


"Salah ayah sendiri nggak pulang sampai bertahun-tahun lamanya. Aku nggak ada kesempatan tidur dengan ayah loh waktu kecil, yang ada malah aku harus tidur dengan mereka berempat, itu sangat menyesakkan," ujar Syihab.


Ghozali pun terdiam sambil mengerutkan dahi, ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi anaknya yang satu ini.


"Syi.... Syihab! Ayah tahu kalau itu salah ayah! Tapi harusnya kamu paham kalau kamu sudah besar! Kumohon, dewasalah! Adik-adikmu juga nggak pernah minta tidur bareng ayah kok!" ujar Ghozali, ia pikir perkataannya itu tidak bisa dibantah lagi.


"Lah! Mereka berbeda! Dibandingkan dengan ayah, mereka lebih suka bersama ibu! Kalau ibu berada di rumah, mungkin mereka juga pengin tidur bersamanya!" ujar Syihab.


Pada akhirnya perkataan Syihab yang menjadi tak terbantahkan. Ghozali sudah tidak bisa menyangkal kenyataan itu. Ia sempat murung karena Syihab mengatakan bahwa anak-anak lainnya lebih memilih bersama Aisyah.


"Eh, ayah... bukan itu maksudku! Aku nggak bilang kalau mereka benci ayah kok," ujar Syihab, ia merasa sangat bersalah membuat ayahnya termenung.


"Baiklah! Lalu, gimana caranya agar mereka nggak segan-segan berbicara dengan ayah?" tanya Ghozali.


"Loh? Aneh banget! Kupikir mereka nggak pernah segan kalau bicara dengan ayah loh! Ayah saja yang selalu canggung kalau ngobrol dengan mereka," ujar Syihab.


"Lah! Mau gimana lagi? Ayah sudah lama nggak ketemu mereka! Anak-anak yang seingat ayah masih kecil itu sekarang sudah besar begitu saja!" keluh Ghozali.


"Kalau gitu ayah yang harus dekati mereka, tapi jangan jail, ini masa-masa mereka nggak mau digangguin dengan alasan nggak jelas," ujar Syihab.

__ADS_1


"Kayak gimana caranya?" tanya Ghozali. "Contohnya hari ini!" seru Syihab bersemangat. "Eh? Hari ini? Ada apa dengan hari ini?" tanya Ghozali.


"Dih! Kejam sekali! Hari ini hari ulang tahunku yah!" ujar Syihab sambil memukul lengan Ghozali.


"Waduh! Karena belum kembali bekerja, ayah jadi lupa hari," ujar Ghozali sambil menggaruk-garuk kepala.


"Ngomong-ngomong, ayah masih punya banyak uang kan?" tanya Syihab, ia semakin melekat di lengan ayahnya dengan wajah penuh harap.


"Kenapa kamu mau tahu itu?" tanya Ghozali sambil menelan ludah, ia berfirasat buruk.


"Ayolah keluar! Aku mau ajak ayah jalan-jalan, selagi ini hari ulang tahunku! Oh ya, jangan lupa bawa banyak uang!" ujar Syihab.


"Loh? Kenapa malah kamu yang ngatur?" tanya Ghozali. "Sudah bertahun-tahun ayah nggak belikan aku hadiah ulang tahun loh!" ujar Syihab. Akhirnya Ghozali terpaksa menurutinya.


Setelah subuh usai, mereka mulai bersiap-siap untuk pergi. Zahra menatap mereka berdua dengan wajah keheranan.


"Kalian mau ke mana? Kok nggak ngajak-ngajak!" ujar Zahra penasaran. "Kamu emang nggak diajak," ujar Syihab mencoba memancing amarah Zahra.


"Hei, hentikan Syihab! Jangan nambah masalah!" ujar Ghozali. Melihat ayahnya itu, Zahra langsung memalingkan wajah, ia kembali beraktivitas seperti biasanya.


"Kamu suka sekali menarik-narik lengan ayah, kalau ada orang lain memerhatikan, mereka bisa berpikiran aneh loh!" ujar Ghozali, ia merasa malu sendiri.


Syihab hanya menanggapi perkataan ayahnya dengan tertawa. "Ayah baru sadar? Kita jalan berduaan saja juga sudah cukup aneh kok," ujar Syihab.


"Sebaiknya kita pulang saja," ujar Ghozali, ia merasa tidak nyaman. "Nanti dulu! Kita sudah sampai ke tempatnya!" ujar Syihab, ia berdiri di depan sebuah mall besar.


"Mau cari apa di sini?" tanya Ghozali keheranan. "Sudahlah! Ayo masuk dulu!" seru Syihab. Ia membawa ayahnya ke toko busana formal.


"Mau dibelikan setelan jas? Kenapa nggak bilang aja?" tanya Ghozali. "Sst, diam!" ujar Syihab sambil memilihkan beberapa setelan jas untuk ayahnya.


"Ayah, coba pakai ini, dan ini," pinta Syihab. "Kenapa malah ayah yang pakai jasnya?" tanya Ghozali keheranan.


"Kebetulan ukuran tubuh ayah dan aku kan sama, aku bisa lihat setelan itu cocok atau nggak kalau dipakai aku," ujar Syihab.

__ADS_1


"Kan cermin ada," ujar Ghozali. "Lah, kalau pakai cermin, aku nggak bisa nentuin itu cocok apa nggak! Lagian aku juga nggak bisa lihat bagian belakang tubuhku! Sudahlah, ayah saja yang coba!" ujar Syihab memaksa.


Akhirnya Ghozali pun menurutinya, setelah keluar dari ruang ganti, ia malah menarik perhatian orang-orang.


"Wah, kayaknya gagah sekali kalau pakai setelan ini! Kalau begitu aku ambil yang ini!" seru Syihab, ia juga memilih beberapa setelan jas lagi beserta dasinya.


Pada akhirnya mereka berdua pun mencoba-coba beberapa setelan jas lainnya dan itu menarik perhatian para pramuniaga.


"Wah sepertinya kakak-kakak cocok mengenakan apa saja di sini," ujar salah seorang pramuniaga terkesan melihat paras mereka berdua.


"Kakak-kakak ini bersaudara? Kakak beradik? Kalian berdua sangat mirip!" seru salah seorang lainnya. Kini mereka berdua bagaikan seorang artis di hadapan para pramuniaga.


Ghozali semakin merasa tidak nyaman, ia meminta Syihab untuk segera menyelesaikan keperluannya.


"Aku bukan adiknya, mbak! Dia ayahku," ujar Syihab sambil tertawa. Para pramuniaga terkejut mendengar pernyataannya, mereka tidak percaya orang seperti Ghozali memiliki anak setua Syihab.


Melihat wajah-wajah terkejut itu, Ghozali semakin merasa tidak nyaman, ia ingin cepat-cepat keluar.


Akhirnya setelah Syihab selesai memutuskan apa yang hendak ia beli, mereka pun pulang ke rumah.


Ghozali merasakan betapa lelahnya saat itu meskipun hari masih siang dan cerah. Syihab pun memberikan satu setelan jas itu pada ayahnya.


"Loh? Kenapa? Nggak suka?" tanya Ghozali keheranan. "Bukan begitu, sebenarnya aku sejak lama ingin memilihkan pakaian yang bagus buat ayah. Karena sekarang belum punya uang, seenggaknya aku bisa milih salah satu yang cocok, besok-besok aku belikan dengan uangku sendiri, aku belikan setelan yang mahal," ujar Syihab.


"Kamu ada-ada saja mintanya," ujar Ghozali sambil menepuk bahu Syihab, meskipun sudah beranjak dewasa, Ghozali masih merasa senang melihat sisi kekanak-kanakan dari Syihab.


Zahra pun muncul dengan berkacak pinggang, raut wajahnya membuat suasana hati Ghozali berubah.


"Aku sudah belanja hati-hati, mondar-mandir kesana-kemari cari bahan makanan yang murah kayak anak hilang, tapi kalian baru pulang dari mall bawa barang-barang mahal?" Zahra benar-benar kecewa.


"Duh, kamu kok jadi makin galak kayak ibu sih!" Syihab mencoba mengganti topik. "Nggak usah ngelantur! Kalau kalian punya waktu buat beli baju-baju itu, kenapa nggak ke pasar aja? Cari bahan makanan sama sayur-sayuran yang bagus! Pasti uang yang kalian habiskan nggak sebesar sekarang ini!" ujar Zahra kesal.


"Ini bukan salah ayah, Syihab yang memaksa ayah ke sana," ujar Ghozali menyangkal. "Lah kok bisa kebalik begitu? seharusnya Syihab yang nurut sama ayah, bukan ayah yang nurut sama Syihab!" tegur Zahra, ia sudah tidak tahan melihat mereka berdua lalu kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


"Tuhkan! Gara-gara kamu masalahnya jadi tambah rumit," keluh Ghozali, ia masuk ke dalam rumah dengan wajah lesu.


__ADS_2