
Anak-anak tampak tidak sabar karena mereka akan pulang ke rumah asal mereka. Setelah beberapa jam lamanya dalam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di rumah terbengkalai itu.
Namun tidak tepat jika rumah itu dikatakan terbengkalai, kenyataannya teras rumah itu tampak terawat dengan baik, bahkan langit-langit bagian depan rumah pun tampak bersih.
"Aneh sekali! Padahal terakhir paman ke sini, tempat ini kayak rumah hantu," ujar Rofiq. Akhirnya ia pun membuka gerbang lalu memarkirkan mobilnya.
Ia membantu anak-anak membawa barang-barang ke depan pintu rumah. "Oh? Ini nggak kekunci?" Rofiq keheranan karena ia dapat membuka pintu tanpa kunci.
Ia pun masuk ke dalam untuk memeriksa. Ia mendapati rumah itu sudah bersih. Ia dikejutkan dengan kedua anak berwajah sama yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga.
"Astaghfirullah! Bikin kaget saja!" ujar Rofiq. "Oh, akhirnya datang juga," ujar Shahih. "Ke... kenapa ada dua Shahih?" Rofiq keheranan.
"Aku bukan Shahih," ujar Asyraf, kali ini ia juga menunjukkan wajah kesalnya. Ia sudah tidak tahan karena setiap hari dianggap sebagai Shahih.
"Sepertinya anak-anak yang lain pindah ke sini, badan mereka sudah besar-besar semua, mungkin rumah paman nggak cukup," ujar Shahih.
Tanpa banyak tanya, Rofiq langsung menyuruh anak-anak itu masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Shadiq, kamu nggak tidur sama kakak? Hasan tidur sama Shahih dan Asa loh! Pasti sempit," ujar Syihab.
"Kenapa nggak ajak Hasan aja ke kamar kakak?" tanya Shadiq. "Nggak mau! Baunya kak Syihab lebih parah dari pada Shadiq.
"Lah? Terus kalian mau tidur berempat?" tanya Syihab. "Aku dan Asa tidur di kamar tamu," ujar Shahih.
"Kenapa nggak pakai saja kamar ayah dan ibu kalian?" tanya Rofiq. "Nggak boleh!" ujar anak-anak serentak kecuali Shahih dan Asa. "Mereka nggak setuju tuh," ujar Shahih kemudian mengajak Asa membereskan barang-barang yang ada di kamar Shadiq dan Hasan.
Rofiq langsung mencegat kedua anak itu. "Sebentar, ada yang ingin paman katakan," ujar Rofiq.
Setelah membawa semua anak ke ruang keluarga, ia pun memulai pembicaraan. "Kalian akan hidup mandiri mulai saat ini. Karena sudah tinggal di pesantren, seharusnya tinggal di sini tanpa orang tua kalian sudah bisa, Zahra yang memasak untuk kalian, kalian juga harus membantunya. Lalu Syihab, jangan biarkan adikmu pergi-pergi hingga lewat waktu Maghrib! Tegur saja kalau perlu," ujar Rofiq.
"Yang ada mungkin dia bakal pergi sampai tengah malam," ujar Hasan. Syihab hanya bisa menggaruk-garuk kepala.
__ADS_1
"Syihab, jangan lakukan itu! Nggak ada alasan untuk pergi hingga lewat waktu Maghrib! Kamu harus jaga adik-adikmu," ujar Rofiq, ia mengeluarkan lembaran uang, ia hendak menyerahkannya pada Syihab.
Sayangnya Shahih langsung merebut uang yang ada di tangan Rofiq. "Hei, Shahih! Apa yang kamu lakukan?" tanya Syihab keheranan.
"Kakak kasih uang ke kak Zahra aja sampai telat dua pekan. Kakak pasti bakal jarang di rumah! Bakal repot kalau kami lagi butuh uang di sini. Lebih baik aku dan Asyraf saja yang memegang uang, kami nggak pergi ke manapun, kami juga bisa bergiliran pergi jika ada kebutuhan mendesak, jadi nggak akan repot," ujar Shahih.
"Bukan begitu maksud paman! Kamu nggak tahu berapa jumlah uang yang kamu ambil itu?" tanya Rofiq. Asyraf langsung menunjukkan kertas berisi tabel, ia langsung menuliskan jumlah uang di baris pertama untuk menjawab pertanyaan Rofiq.
"Ini sangat sederhana, namun kita bisa tahu dengan jelas uang itu habis untuk apa saja. Kami akan meminta kwitansi pembeliannya. Kalau beli di pasar, bisa dibuatkan catatannya," ujar Shahih.
"Wah! Detail sekali! Seperti bendahara saja," ujar Zahra. "Baiklah, kalau begitu paman titipkan pada kalian berdua!" ujar Rofiq, tiba-tiba ia mendapat telepon.
"Syihab, paman mau pulang sekarang karena ada keperluan. Kalau ada masalah dengan uangnya, kamu bisa telpon paman yak," ujar Rofiq kemudian terburu-buru pergi keluar.
Setelah senyap, Syihab langsung menatap Shahih dengan ekspresi dinginnya. "Apa-apaan ini? Kau jagoan di sini kah?" tanya Syihab.
"Aku hanya memberikan solusi terbaik untuk mengatur keuangan ini," ujar Shahih. "Nggak usah banyak alasan! Emang benar kalau kakak telat kasih uang ke Zahra, tapi emangnya kenapa? Dia di asrama putri, keluarnya susah! Toh waktu kamu minta uang pun langsung kakak kasih," ujar Syihab.
"Kamu tahu apa? Anak kecil tahu apa?" tanya Syihab kesal, ia bahkan berkali-kali mendorong bahu Shahih.
"Kak, Syihab, sudahlah! Toh ide Shahih untuk mencatat semua pengeluaran uang itu sangat bagus! Kupikir kita bisa berhemat!" ujar Zahra.
"Lah! Anak kecil sepertinya bisa apa?" Syihab semakin kesal hingga mendorong Shahih dengan sekuat tenaga.
Anak itu pun terlempar jauh hingga kepalanya terbentur siku meja. Zahra langsung berteriak, sedangkan Shahih masih terlihat menatap Syihab dengan tatapan layunya.
"Da.... darah! Itu darah!" teriak Hasan. "Kakak! Itu darah!" Hasan menjerit-jerit ketakutan. Amarah Syihab langsung hilang seketika, ia langsung sadar.
Zahra tidak berani mendekat karena darah yang mengalir di bahu Shahih. Syihab pun langsung menghampirinya.
"Shahih? Shahih! Kamu baik-baik saja? Sadarlah! Shahih!" teriak Syihab. Ia benar-benar panik melihat Shahih yang tak kunjung mengedipkan mata, justru matanya terlihat membelalak seolah hendak keluar.
__ADS_1
Tak lama kemudian rahang bawahnya terbuka lemas. Mulut Shahih ternganga lebar, hal itu langsung membuat Syihab menangis ketakutan.
"Shahih! Kumohon! Bangunlah! Shahih! Ayolah! Shahih!" Syihab semakin gelisah.
Asyraf pun langsung menghampiri Shahih lalu menyingkirkan tangan Syihab dari tubuhnya.
"Tanganmu terlalu kasar, bisa-bisa, pendarahannya semakin parah," ujar Asyraf dengan ekspresi datarnya, hanya dia seorang yang tampak tidak gelisah, ia masih tenang.
"Za... Zahra! Telpon Paman Rofiq sekarang juga! Dia pasti belum jauh! Cepat!" ujar Syihab panik.
"Nggak bakal sempat! Telpon ambulan saja," ujar Asyraf. "Ambulan bakal lebih lama! Paman Rofiq baru keluar dari rumah tadi, dia pasti belum jauh!" ujar Syihab.
"Nggak ada kepastian. Belum tentu ia langsung jawab telponnya! Lebih baik telpon ambulan dulu! Meski lebih lama, tapi petugas bakal langsung memberikan penanganan yang tepat sebelum membawanya ke rumah sakit. Kalau kita bawa dia seperti ini pakai mobil paman bakal lebih bahaya," ujar Asyraf.
"Hasan, Shadiq! Ambilkan bantal dan kain bersih!" ujar Asyraf, ia langsung membalikkan posisi tubuh Shahih hingga punggung lehernya yang berlumuran darah pun terlihat.
Ia langsung memejamkan mata Shahih lalu mengencangkan rahangnya dengan perban. "Lantainya sangat licin, pasti ia terbentur dengan keras! Pernapasan sama detak jantungnya juga masih normal, Aku cuma lihat pendarahan biasa, ini cuma luka sayat karena sudut meja. Kayaknya ada yang bermasalah di bagian dalam kepala atau lehernya. Sayangnya aku nggak tahu bagian mana yang terbentur, kalau salah sentuh bisa gawat," ujar Asyraf.
Zahra dan Hasan langsung menutup mata sedang Shadiq langsung mual melihat lumuran darah yang akhirnya menodai lantai. Syihab hanya bisa menggigit jari sambil bolak balik dari ruang tengah ke ruang tamu. Ia hendak memastikan mobil ambulan itu sudah datang.
"Paman sudah jawab telponnya!" seru Zahra. Syihab pun langsung merebut telponnya. "Ada apa, Syihab? Baru paman tinggal uangnya dah kena masalah?" tanya Rofiq.
"Bu.. bukan paman! Shahih! Ini Shahih berdarah! Paman ke sini sekarang! Ke sini sekarang juga! Kumohon paman!" ujar Syihab tak henti-henti menangis.
Akhirnya Rofiq pun langsung berbalik arah, ia segera kembali ke rumah Ghozali. Sesampainya di sana anak-anak tampak sedang menangis melihat apa yang terjadi pada Shahih sedangkan Asyraf masih tetap tenang sambil menggerakkan tubuh Shahih dengan hati-hati.
Rofiq langsung menghampirinya untuk memeriksa, ia tidak menyangka tangannya langsung berlumuran darah saat menyentuh punggung Shahih.
"Hati-hati! Paman bisa bikin lukanya jadi makin parah!" tegur Asyraf. "Innalilahi! Kenapa bisa jadi begini, Astaghfirullah! Apa yang terjadi?" tanya Rofiq.
Anak-anak tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi, mereka masih tampak gelisah dan ketakutan. "Lantainya licin. Dia terpeleset dan jatuh dengan kepala membentur meja ini!" ujar Asyraf.
__ADS_1
Tak lama kemudian ambulan pun datang, mereka langsung mengangkat tubuh Shahih dengan tandu lalu membawanya dengan ambulan.