
Ghozali langsung menangis di ruang kerjanya, ia tidak bisa berhenti menangisi istrinya, ia bahkan menyobek-nyobek semua salinan dokumen keluarga yang telah ia siapkan, ia terus membodoh-bodohi dirinya sendiri.
Saat itulah ia mulai kehilangan rasa bencinya terhadap istrinya, bahkan ia menyadari kalau dirinya membenci tanpa alasan. Ia selalu bersikap dingin padahal istrinya terus mencoba tersenyum di hadapannya, padahal istrinya terus berusaha memperbaiki suasana hatinya, namun ia malah membalasnya dengan sikap dingin dan arogan.
Semua perlakuannya itu ia sesali sampai merasa tidak pantas hidup. Ia benar-benar terpukul.
Saat tangisnya reda, ia pun melihat bekal yang dibawa istrinya, ada amplop di dalamnya.
"Mungkin aneh sekali aku bicara dengan kertas ini, tapi karena mas nggak pernah dengerin aku, nggak akan baca pesan yang aku tulis di ponsel, jadi kutulis saja di sini, semoga mas memiliki waktu yang senggang untuk membacanya," ujar Aisyah dalam tulisan yang tertera di amplop itu. Membacanya saja sudah membuat Ghozali menangis kembali.
Ia pun membuka isi amplop itu.
"Mas, Assalam masih hidup! Aku yakin itu! Entah mas tahu atau nggak, aku mohon maaf karena berburuk sangka padamu. Aku sempat berpikir bahwa mas sengaja menyembunyikan dokumen tentang kelahiran anak kita.
Tapi aku sangat bersyukur karena persangkaan itu, aku tergerak untuk mencaritahu kebenarannya. Ternyata anak kita tertukar! Ibu dari anak yang selama ini kita anggap Assalam juga ternyata telah meninggal tepat setelah melahirkan.
Mulai dari situ aku terus memeriksa catatan rumah sakit, sebelumnya aku minta maaf karena memanfaatkan pekerjaanmu sebagai alasan untuk meminta beberapa dokumen terkait riwayat kelahiran anak-anak delapan tahun yang lalu.
Catatan kelahiran itu terus memberikan petunjuk hingga membawaku ke sebuah panti asuhan. Aku juga sempat mengobrol dengan pengasuh yang ada di sana.
Aku mencari anak yang sesuai dengan riwayat kelahiran dari buku catatan yang kubawa. Benar saja, pengasuh menyebutkan seorang anak yang memiliki sifat yang sama persis seperti Shahih. Pendiam, nggak banyak menangis, seperti anak yang sedang sakit.
Aku benar-benar nggak nyangka apa yang dia ceritakan bisa sama persis seperti kepribadian Shahih. Aku pun meminta foto anak tersebut darinya, namun ia mengatakan kalau anak itu nggak pernah ikut foto bersama.
Saat itulah aku sadar mas! Shahih juga demikian! Coba mas lihat di foto keluarga kita, meskipun baru-baru ini kita foto bersama, namun Shahih nggak ada di sana! Padahal aku sangat yakin kalau foto yang kita ambil itu benar-benar sempurna dan lengkap, seolah keberadaan Shahih terlupakan begitu saja.
__ADS_1
Oleh karena itu, setelah membaca surat ini, kuharap kau pulang ke rumah lebih cepat, aku ingin mendiskusikannya denganmu. Menemukan orang yang mengadopsi Assalam nggak mudah. Bahkan panti asuhan nggak pernah mendengar kabarnya lagi.
Ayo kita cari Assalam bersama mas, aku tahu kalau mas sangat membenciku, seenggakknya aku ingin anak-anak kita berkumpul dan lengkap, nggak ada satupun yang dianggap meninggal.
Setelah itu terserah mas mau ngapain, kalaupun mau menceraikanku, aku nggak masalah, mas mengambil hak asuhku, juga nggak masalah. Aku memang ibu yang buruk bagi mereka semua. Asalkan anak-anakku bisa berkumpul bersama, asalkan Shahih bisa bertemu dengan kembarannya, asalkan ia nggak merasa terasingkan lagi, aku nggak masalah berpisah dengan mereka," ujar Aisyah dalam suratnya.
Dokter Ahli bedah saraf baru saja keluar dari ruang operasi, Ghozali pun langsung keluar dari ruang kerjanya dan pergi menghampiri dokter itu.
"Gimana dok? Apakah istriku baik-baik saja?" tanya Ghozali. "Tentu saja tidak, banyak pendarahan yang membeku di kepalanya, itu membuat beberapa kerusakan, tapi aku berhasil mengangkatnya. Sayangnya aku tidak bisa menjamin kalau di akan sadar, sekarang ia masih dalam kondisi vegetatif," ujar dokter itu.
"Kondisi Vegetatif? Apa maksudmu? Kenapa istriku menjadi begitu?" Ghozali tampak frustasi dan tidak terima. Dokter ahli bedah saraf itu pun menjadi kesal, ia pun sempat tertawa karena tingkah Ghozali.
"Kau bertanya padaku? Bukankah seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri? Istrimu melangkah ke jalanan besar sendirian, kondisinya sedang terpuruk karena melihatmu berselingkuh, tapi kau malah bertanya padaku seolah itu semua salahku?" dokter bedah saraf itu langsung mendorong Ghozali.
"Hentikanlah! Kau masih belum dewasa untuk berumah tangga. Kau benar-benar pria pengecut!" ujar dokter itu kemudian membersihkan jasnya yang sempat disentuh Ghozali. Ia pun pergi meninggalkannya.
Ghozali pun menghampirinya, membantu Hamid mengangkatnya ke bangku. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aisyah terbaring di sana? Kenapa dia berada di sini dan mengalami hal mengerikan itu?" tanya Hamid.
"Maafkan aku, Abi! Ini salahku! Aisyah datang ke sini untuk membawakan bekal padaku untuk makan siang," ujar Ghozali.
"Hah? Membawa bekal untuk makan siang? Perasaan Aisyah nggak pernah begitu! Jadi maksudmu dia keluar rumah sendirian ke tempat kerjamu hanya untuk membawakan makan siang?" Entah kenapa Sarah menjadi buruk sangka terhadap Aisyah.
Ghozali tidak bisa mengatakan kalau Aisyah datang ke tempatnya untuk memberikan secarik kertas padanya, hal itu akan membuat Sarah semakin berburuk sangka pada Aisyah.
"Maafkan aku Umi! Ini benar-benar salahku! Aisyah nggak salah sama sekali. Karena sibuk bekerja aku bahkan nggak bisa memastikan Aisyah pulang dengan selamat," ujar Ghozali.
__ADS_1
"Tidak usah beralasan, bukannya tidak bisa beralasan! Kau memang sudah tidak punya alasan lagi untuk peduli padanya! Bukankah kau memiliki wanita lain di sisimu?" ujar Alfa, ia sudah kembali lagi ke dalam rumah sakit dengan wajah penuh benci.
"Apa maksudmu Alfa? Kenapa kau menuduhnya begitu? Jangan bikin Abi marah deh! Punya mulut tuh dijaga baik-baik!" tegur Hamid, Alfa tidak bisa melawan saat ayahnya sudah berkata serius, ia hanya terdiam.
Ghozali merasa sangat takut dengan raut wajah Hamid yang dipenuhi amarah, ia langsung bertekuk lutut di hadapannya. "Abi, aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh minta maaf!" ujar Ghozali sambil menangis penuh penyesalan.
Mata Hamid berubah berkaca-kaca, ia juga masih tidak rela anaknya terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang sangat menyedihkan itu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar istrimu nggak akan bangun lagi, dia akan terus terbaring seperti itu meskipun masih bisa hidup. Dia nggak akan bisa mengurus rumah dan anak-anakmu lagi," ujar Hamid. Ghozali hanya bisa terdiam.
"Sepertinya kamu juga masih bingung. Perlukah Abi mengurus beberapa dokumen untuk surat perceraian?" tanya Hamid.
"Nggak, Abi! Ini semua tanggung jawabku! Aisyah menjadi seperti ini karena salahku! Aku yang akan menanggung semuanya! Aku nggak mau cerai," ujar Ghozali.
"Baiklah, anggap saja ini salahmu. Lalu apa bedanya? Apakah dia akan bangun jika kamu mengakuinya? Nggak! Dokter bilang kemungkinannya sangat kecil! Aku memang nggak tahu apa-apa tentang kedokteran, tapi kata dokter untuk memulihkan saraf-saraf yang rusak membutuhkan bertahun-tahun lamanya! Saat menunggu waktu yang nggak pasti itu, siapa yang akan mengurus anak-anakmu? Siapa yang akan mengurus rumahmu?" tanya Hamid.
"Nggak bisa begini Abi! Kalau aku ceraikan Aisyah, aku benar-benar orang yang paling nggak bertanggung jawab! Aku nggak bisa memberikan contoh yang buruk untuk anak-anakku, untuk cucu kalian. Pokoknya aku akan cari cara untuk masalah rumah tangga, aku akan menyewa pembantu," ujar Ghozali.
"Baiklah, kalau itu memang maumu, Abi nggak akan ikut campur lagi. Seenggaknya Abi merasa senang Aisyah nggak ditinggalkan dalam kondisi seperti ini," ujar Hamid kemudian memeluk Ghozali, ia berharap pria itu bisa bersabar menghadapi cobaan ini.
"Maafkan putriku karena nggak bisa memenuhi keinginanmu,maafkan putriku karena terbaring di sana," ujar Hamid. Akhirnya mereka pun bisa tenang kembali.
Sayangnya anak-anak yang datang langsung menangis melihat ibu mereka terbaring dengan alat-alat yang dipasang di beberapa bagian tubuhnya. Mereka tidak rela melihat hal itu.
Ghozali pun kewalahan selagi menenangkan anak-anaknya sedangkan Mayang tampak memerhatikan Ghozali dari kejauhan.
__ADS_1
Ghozali memang sempat menatapnya, tapi ia tidak peduli lagi seolah seperti orang asing yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Perasaannya pada wanita itu langsung berubah dalam sehari, ia langsung sadar kalau wanita itu bukan siapa-siapanya dan tidak berhak ia perhatikan.