Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Mella si gadis kecil ceria II


__ADS_3

Keesokan harinya saat mengajar TPA, Shadiq tidak mendapati Mella di kumpulan anak-anak itu. Ia pun menghampiri salah seorang anak.


"Adit, kenapa Mella nggak datang?" tanya Shadiq. "Nggak tahu, kirain tadi ada di sini," ujar Adit. "Apaan? Dari awal dia emang nggak ada di sini," ujar Shadiq. "Iya kah? Aku lupa kak," ujar Adit sambil menggaruk-garuk kepala. Shadiq pun menjadi gundah, namun Asyraf menyuruhnya untuk mengabaikan hal itu.


Sayangnya setelah berhari-hari Mella tidak datang, Shadiq merasa semakin gelisah. "Asyraf, Arkan, kita pergi ke rumah Mella yuk! Aku ngerasa nggak nyaman banget! Udah nggak tahan!" ujar Shadiq.


"Apaan sih? Ngapain ke sana?" tanya Arkan, ia merasa resah dengan ajakan Shadiq, ia enggan pergi ke rumah orang yang tidak ia kenali, namun jika ia menolak ajakannya, maka ia terpaksa harus menunggu di masjid itu sendirian.


"Asyraf! Ayolah! Bantu aku! Dia udah nggak berangkat sejak lama!" ujar Shadiq. "Kenapa nggak besok aja sih? Jangan hari ini lah! Udah sore!" keluh Arkan.


Akhirnya mereka bertiga pun pulang setelah Alfa datang untuk menjemput mereka. Sayangnya Shadiq masih terus murung, hal itu membuat Alfa penasaran.


"Ada apa Shadiq? Jangan cemberut gitu! Mukamu jadi jelek mirip ayahmu," Alfa. "Mella udah berhari-hari nggak berangkat ke TPA," ujar Shadiq.


"Eh? Heh? Mella? Hmm..." Alfa terdiam, ia tidak kenal siapa yang Shadiq bicarakan. "Ka... kalau begitu, coba saja datangi rumahnya. Barang kali dia mau berangkat. Atau mungkin dia sedang sakit," ujar Alfa.


Setelah mendengar pendapat Alfa, Shadiq pun merasa lega, akhirnya ia tidak murung lagi.


Mereka sampai si pesantren dam langsung bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Shadiq merasa heran dengan Arkan yang tampak terburu-buru ke kamar mandi, hal itu mengganggunya.


"Ada apa, Arkan? Kenapa nggak persiapan ke masjid? Bentar lagi adzan Maghrib loh!" ujar Shadiq.


"Nggak lihat cucianku menumpuk?" tanya Arkan. "Kenapa baru cuci baju sekarang?" tanya Shafiq keheranan. Arkan tampak enggan menjawab.


"Sudahilah pertanyaanmu itu. Nggak usah pura-pura peduli atau khawatir, aku nggak butuh. Aku emang orang paling beda dibandingkan dengan kalian semua. Aku memang pemalas, sensitif, aneh, dan banyak kesan lainnya yang bisa kau pikirkan sesukamu. Jadi, pergilah," ujar Arkan.


"Aku cuma tanya loh. Kenapa marah-marah?" tanya Shadiq. "Aku nggak marah-marah. Emang begini caraku bicara!" ujar Arkan geram, pada akhirnya adzan Maghrib pun tiba. Ia segera masuk ke kamar mandi dan mengabaikan Shadiq begitu saja.


Shadiq pun berangkat ke masjid dengan wajah murung. Saat itu juga Hasan datang menghampirinya.


"Wajahmu semakin lama semakin tua saja!" ujar Hasan, ia pun kembali menjaga jarak setelah melihat wajah murung Shadiq. Sebenarnya ia enggan disamakan dengan saudara kembarnya itu.


"Heh? Ada apa Shadiq? Kamu pasti bosan karena di sini nggak ada perempuan kan?" tanya Fashalay.


"Menurut kalian, apakah aku terlihat seperti orang yang suka mencampuri urusan orang lain?" tanya Shadiq.


"Kata siapa? Siapa yang bilang begitu?" tanya Fashalay. "Pasti si Arkan kan? Dia memang selalu begitu jika ada orang yang memerhatikannya. Nggak usah dihiraukan!" ujar Ario.

__ADS_1


"Tapi...." Shadiq masih merasa gundah. "Sudahlah! Bahkan anak egois itu saat ini nggak peduli kalau kamu sangat gundah karena perkataannya! Nggak usah peduli sama anak itu!" ujar Fashalay.


Keesokan harinya Alfa memanggil Arkan, Asyraf, dan Shadiq ke kantor. Sayangnya yang datang hanyalah Shadiq dan Asyraf.


Akhirnya Shadiq pun pergi ke kamar untuk mencari Arkan.


Tak lama kemudian ia mendapati Arkan sedang mencuci pakaian. "Arkan, bukankah kamu baru saja mencuci baju kemarin? Kenapa mencuci lagi? Ustadz Alfa sudah menunggu loh," ujar Shadiq.


"Aku nggak ikut lagi," ujar Arkan. "Loh? Kenapa?" tanya Shadiq. "Kamu tahu sendiri kan? Aku nggak punya waktu lagi buat cuci baju! Aku nggak bisa menghabiskan semua waktu soreku untuk pergi ke tempat itu!" ujar Arkan dengan nada tinggi.


"Arkan, kenapa kamu marah-marah? Aku cuma tanya," ujar Shadiq. "Lihat mukamu aja udah bikin sakit hati. Nggak usah bikin aku makin iri dengki, pergi saja sana dan bilang ke pamanmu kalau aku nggak bersedia mengajar TPA lagi!" ujar Arkan dengan mata berkaca-kaca, ia langsung masuk ke kamar mandi agar Shadiq tidak melihat air matanya mengalir di wajahnya.


Akhirnya Shadiq segera kembali ke kantor dan menyampaikan permintaan Arkan. "Hmm, aneh sekali! Padahal paman pikir ia sangat bersemangat untuk mengajar anak-anak itu," ujar Alfa.


"Paman aja yang nggak bisa membaca suasana! Kalau mengajak orang, harusnya tambah satu lagi temannya. Kasihan dia mengajar TPA sendirian," ujar Asyraf.


"Apa maksudmu? Kenapa dia sendirian? Kan ada kalian bertiga! Bukankah kalian saling kenal? Sekamar juga kan?" tanya Alfa keheranan.


"Paman benar-benar nggak ngerti apa yang terjadi ya? Paman hanya mengajak keponakan paman untuk mengajar TPA, hanya keluarga paman sendiri. Ia yang bukan siapa-siapa tentu saja merasa resah, contoh saja saat berada di mobil. Apakah pernah paman pernah mempertimbangkan perasaannya?" tanya Asyraf.


"Tapi dia nggak pernah ngeluh apapun, ke kalian juga nggak pernah bilang kan?" tanya Alfa.


Akhirnya mereka bertiga pun sampai di masjid lebih, awal. Kumpulan anak-anak yang biasanya sedang bermain menunggu kedatangan mereka sekarang belum terlihat juga.


"Asyraf, ayo! Kita pergi ke rumah Mella," ujar Shadiq, ia hendak menghilangkan suasana canggung antara Alfa dan Asyraf.


Setelah Alfa pergi, Asyraf dan Shadiq pun langsung berjalan ke rumah Mella lalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Tak lama kemudian ibu Mella pun membukakan pintu. "Waalaikum salam. Eh? Mas Shadiq!" seru ibu Mella kegirangan, ia bahkan sampai menepuk lengan Shadiq lalu mengajaknya ke dalam rumah.


"Duduk dulu mas-mas," ujar ibu Mella. Mata tajam Asyraf langsung tertuju pada tirai yang bergerak-gerak di balik ruang keluarga, ia langsung bertatapan dengan Mella yang tampak sedang mengintip dari balik tirai itu.


Mella pun langsung berlari ke dalam, setelah Asyraf sadar.


"Ada perlu apa mas Shadiq ke sini?" tanya ibu Mella. "Be... begini bu. Sudah beberapa hari ini Mella nggak datang ke TPA," ujar Shadiq.


"Aduh! Benar sekali mas! Saya juga mau ngadu hal itu! Dia nggak mau pergi ke TPA akhir-akhir ini!" ujar ibu Mella.

__ADS_1


"Apakah Mella nggak keluar-keluar bu? Biasanya anak-anak yang lain bermain bersama sebelum TPA dimulai," ujar Asyraf.


"Nah, itu mas! Setiap hampir sore, Mella selalu menyelesaikan mainannya, lalu kembali ke kamar. Sudah sekali mengajaknya ke TPA," keluh ibu Mella.


"Hmm! Mella ada di sini kan bu?" tanya Asyraf. "Iya, bentar ya... biar saya panggil," ujar ibu Mella. Ia pun mulai memanggil anaknya.


Awalnya sempat terjadi cekcok antara anak dan ibu itu, pada akhirnya Mella pun keluar dari persembunyiannya, ia tampak malu-malu menuju ke ruang tamu. Ia langsung duduk di samping Asyraf untuk menghindari Shadiq.


"Ehm, Mella. Ada apa?" tanya Shadiq, sayangnya Mella langsung menyembunyikan wajahnya di lengan Asyraf.


Tentu saja Asyraf merasa tidak nyaman dengan tingkahnya, ia mencoba membuat Mella tidak terlalu melekat padanya.


"Maaf ya mas, ayahnya jarang pulang, jadi Mella suka begitu," ujar ibu Mella, ia juga langsung menegur Mella yang bertingkah tidak sopan menurutnya.


"Mella? Kamu marah sama kakak?" tanya Shadiq. "Mella, geli!" keluh Asyraf, ia tidak tahan dengan anak kecil itu, akhirnya ia balik menggelitik, hal itu membuat ekspresi cemberut Mella menjadi tertawa.


"Mella, nanti berangkat ke TPA yak," ujar Shadiq. Mella tampak bermuka masam mendengar perkataan Shadiq.


"Mella, kakak minta maaf, ya! Tapi kamu juga harus berangkat ke TPA loh!" ujar Shadiq. Setelah beberapa kali membujuknya, akhirnya Mella pun mengangguk.


Akhirnya anak itu mau mengikuti kegiatan TPA bersama Shadiq. Terlebih lagi ia semakin dekat dengan Shadiq.


Setelah TPA selesai, lagi-lagi Mella tidak ingin pulang ke rumah, ia masih melekat di lengan Shadiq. Hal itu membuat ibu Mella datang untuk membujuknya pulang.


"Mella! Jangan ngerepotin orang lain deh! Nanti ibu telpon ayah biar pulang gasik!" ujar ibu Mella. Akhirnya Mella pun melepaskan pelukannya dari lengan Shadiq kemudian pulang bersama ibunya. Shadiq terus memandangi gadis kecil itu.


"Ada apa, Shadiq?" tanya Asyraf keheranan. "Bukankah dia... sangat manis dan menggemaskan?" tanya Shadiq, ia tidak bisa berhenti memandangi senyuman gadis kecil itu, apalagi saat gigi taringnya mencuat keluar layaknya vampir.


Asyraf masih terus menatap Shadiq, membuatnya merasa tidak nyaman. "Bu... bukan berarti aku pedofil yang menyukai anak kecil loh ya!" ujar Shadiq.


"Siapa yang bilang kau pedofil? Lagian selisih usia kalian hanya tujuh tahun kan? Bahkan kau bisa menikahinya di usia 25 tahun, mungkin saat itu ia sudah tumbuh menjadi gadis cantik," ujar Asyraf.


"Eh? A... apa? Menikah? Gadis cantik? Apa yang kau bicarakan?" Wajah Shadiq langsung memerah karena malu.


"Nggak usah malu, dilihat dari usia dan perawakanmu, wajar saja kalau mulai menyukai lawan jenis," ujar Asyraf.


"Kau terlalu blak-blakan mengatakan hal itu! Atau mungkin.... kau juga mengalaminya? Mulai tertarik dengan lawan jenis," tanya Shadiq.

__ADS_1


"Tidak, aku masih terlalu jauh untuk tertarik hal seperti itu. Aku bahkan belum terlihat dewasa, tidak sepertimu yang suka memerhatikan dan peduli dengan kesusahan orang lain, aku masih memprioritaskan diri sendiri," ujar Asyraf.


__ADS_2