
Aisyah tidak menyangka anak sulungnya jauh dari kata jera. Meskipun sudah dihajar habis-habisan, nyatanya keesokan harinya anak itu tetap pulang setelah matahari terbenam. Untungnya Ghozali tidak melihat, jadi anak itu baik-baik saja.
"Kenapa kamu masih pulang jam segini? Mau dimarahin ayahmu lagi? Kamu tuh udah dibilangin Syihab! Jangan macam-macam!" tegur Aisyah. Lagi-lagi anak itu hanya menundukkan kepala.
Aisyah benar-benar bingung harus berbuat apa, ia tidak ingn menyaksikan suaminya berubah menjadi binatang buas di rumah itu.
"Nih, Syihab! Dengar baik-baik yah! Anak pertama! Jangan jadi contoh yang buruk buat adik-adikmu! Kasihan mereka karena harus melihatmu diteriaki bahkan dipukuli ayahmu! Kasihan Zahra! Dia perempuan, Syihab!" ujar Aisyah. Syihab hanya melirik dingin ke wajah Zahra, ia merasa kesal.
"Lihat apa kamu? Ibumu di sini loh! Lagi bicara denganmu! Kamu ini sudah besar atau masih bayi? Dengarkan ibu baik-baik Syihab! Jangan buat ayahmu marah lagi, oke!" Aisyah mengingatkan, ia pun kembali ke dapur dan mulai merapikan hidangan untuk makan malam.
Ia mendapati ada sesuatu yang kurang, ia kehabisan kecap dan gula. Akhirnya ia pergi ke kamar, berniat mengambil uang untuk membeli keperluan.
Sayangnya sesampainya di kamar, ia mendapati uang yang dia simpan semakin berkurang. Ia sangat perhitungan terhadap uang karena Ghozali selalu menyerahkan uang yang tidak terlalu banyak padanya.
"Syihab! Kamu ngambil uang ibu di kamar?" tanya Aisyah pada Syihab. "Apa Syihab ngambil uang? Siapa yang suruh dia masuk?" Ghozali langsung menimpali, Aisyah tidak sadar kalau suaminya itu sudah di rumah.
"Mas? Sejak kapan kamu sampai di rumah? Aku kok nggak tahu," ujar Aisyah keheranan. "Ini rumahku! apa mesti harus kasih tahu kapan aku pulang?" tanya Ghozali dengan wajah dinginnya, ia tidak ingin menukar topik, ia langsung kembali menatap Syihab.
"Kamu ambil uang? Berapa? Untuk apa? Bukankah ayah sudah memberimu uang saku?" tanya Ghozali dengan mata membelalak. Syihab langsung menundukkan kepala.
"Hei! Jangan lihat bawah! Wajah ayahmu bukan di kaki, tapi di kepala!" bentak Ghozali, tentu saja hal itu membuat Aisyah dan Syihab terkejut.
"Hei! Kamu dengar nggak! Lihat mata ayah, Syihab! Lihat sini! Kamu punya mata nggak sih?" tanya Ghozali sambil mendongakkan kepala Syihab. Anak itu tampak ketakutan.
"Siapa suruh kamu masuk kamar ayah dan ibu? Siapa yang suruh?" tanya Ghozali. Syihab tetap diam dengan wajah ketakutan.
"Sudahlah mas! Jangan berlebihan! Dia pasti sangat menyesal," ujar Aisyah. "Anak seperti ini? Menyesal? Kutebak dia pulang Maghrib lagi! Hanya karena aku nggak lihat dia pikir bisa lolos?" tanya Ghozali, ia langsung menampar wajah Syihab. Suara dari tamparan itu terdengar sangat keras, bahkan membuat darah keluar dari mulut Syihab.
Aisyah langsung menghampiri Syihab, ia segera memeriksa darah yang terus keluar dari mulutnya itu.
Aisyah langsung beranjak dan menampar Ghozali, sayangnya ia dapatkan hanyalah rasa sakit sedangkan pria itu terlihat tidak merasakan apapun dari tamparan Aisyah.
"Sadarlah mas! Kau bisa membunuh anakmu jika begini! Kamu ini manusia atau binatang?" teriak Aisyah, ia langsung membawa Syihab pergi ke kamar lain.
"Ya Allah, Syihab! Ibu harus gimana?" Aisyah terus panik melihat darah yang keluar dari mulut anak itu. Bagian dalam pipinya terlihat sobek karena gesekan dari gigi ketika Ghozali menamparnya.
Meskipun ia sudah menyeka darah itu, sayangnya tidak mau berhenti mengalir meskipun sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Aisyah langsung buru-buru ke pojok ruangan dan membuka ponselnya. "Abi......." panggil Aisyah dengan suara terisak.
"Assalamualaikum! Aisyah? Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Hamid. "Aisyah mau pulang saja! Aisyah nggak mau di sini! Sudah nggak tahan! Aisyah benci sama mas Ali!" ujar Aisyah pada ponselnya dengan suara lirih.
"Aisyah! Tenanglah! Apa yang sebenarnya terjadi? Bisa beritahu Abi dan Umi?" pinta Sarah.
"Mas Ali bukan manusia, Abi! Umi! Dia benar-benar binatang buas!" ujar Aisyah tak bisa berhenti menangis. "Kenapa kamu bicara begitu Aisyah! Cepat berikan ponselmu pada Ghozali! Umi mau bicara!" ujar Sarah.
"Nggak mau, Umi! Aku takut! Aku takut dia membunuhku jika mengadukan ini," bisik Aisyah di telepon, ia benar-benar ketakutan dan terus menangis.
"Astaghfirullah, Aisyah! Kamu nggak boleh fitnah begitu! Coba beritahu Umi apa yang terjadi!" ujar Sarah ikut khawatir.
"Mas Ali.... Mas Ali...... Mas Ali menampar Syihab dengan keras Umi! Bisa dibayangkan tubuh sebesar dia menampar anak kecil, apa yang akan terjadi?" Aisyah tidak bisa berhenti menangis.
"Apa yang terjadi Aisyah? Apakah Syihab baik-baik saja?" tanya Hamid. "Mana mungkin baik-baik saja Abi! Mulutnya terus ngeluarin darah!" ujar Aisyah.
"Ibu! Ibu! Aku....... pusing," ujar Syihab sambil menarik-narik tangan Aisyah. Aisyah langsung memeluknya. "Nggak apa-apa sayang! Kamu akan baik-baik saja," ujar Aisyah.
"Gimana Aisyah, Syihab ada di situ kan?" tanya Sarah. "Tentu saja! Kalau dia nggak aku ambil mungkin sudah dibunuh sama pria itu!" ujar Aisyah.
"Hush! Jangan ngomong sembarangan! Umi mau ngomong sama Syihab dulu," ujar Sarah, Aisyah pun mendekatkan ponselnya ke Syihab.
"Dia nggak bisa Jawab Umi! Mulutnya kesakitan!" ujar Aisyah. "Ya Allah! Sampai segitunya? Periksakan ke dokter! Nanti takut kenapa-napa!" ujar Sarah. "Aku nggak berani keluar Umi! Aku nggak berani minta mas Ali nganterin Syihab ke sana!" ujar Aisyah.
"Kamu tunggu di situ saja! Nanti Alfa datang buat anterin kalian!" ujar Hamid. Telepon pun dimatikan.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar, Aisyah pikir itu adalah Zahra, ia pun langsung membukakan pintu, namun langsung terkejut dan jatuh di lantai saat melihat Ghozali yang ada di balik pintu itu. Ia benar-benar terkejut seperti seseorang yang baru saja melihat monster.
Ghozali pun mengulurkan tangan hendak memberdirikannya, namun secara spontan Aisyah menghindarinya. Ia masih takut dengan lengan kekar itu, apalagi setelah melihat urat-urat yang menonjol ke permukaan kulitnya.
Ghozali langsung memperbaiki lengan kemejanya yang tersingkap dan kembali mengulurkan tangan, Aisyah masih takut sambil terisak.
Ghozali pun mengangkat tubuh Aisyah dengan lembut ke kasur, membuat Aisyah tenang. Setelahnya ia menghampiri Syihab yang terbaring tak berdaya di sisi Aisyah.
Dengan wajah penuh penyesalan, ia mencoba memeriksa mulut Syihab. "Maafkan ayah nak! Ayah sangat berlebihan," ujar Ghozali. Tangannya bahkan sampai gemetaran karena takut akan menyakiti anak itu lagi. Aisyah pun langsung menghampiri dan menahan lengan Ghozali agar Syihab yang berada di gendongannya tidak terjatuh.
Akhirnya Ghozali membawa anak itu ke rumah sakit bersama keluarganya. Ia meminta salah satu rekan kerjanya untuk memeriksa apa yang terjadi pada Syihab.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alfa pun sampai di rumah sakit tepat setelah penanganan di rumah sakit selesai. "Gimana keadaannya dok?" tanya Alfa.
"Kondisinya baik-baik saja, ia mungkin merasa pusing karena kelelahan beraktivitas. Hanya ada luka sobek di bagian dalam mulutnya, itu yang membuatnya terus mengeluarkan darah. Kami sudah menjahitnya juga untuk menghentikan pendarahan," ujar Daffa.
"Baiklah, terima kasih pertolongannya," ujar Ghozali dengan perasaan lega. "Kau sangat rendah hati sekali! Bahkan di hadapan istrimu! Bukankah menangani hal kecil seperti ini mudah bagimu?" tanya Daffa keheranan. Ghozali tidak menjawab, ia hanya mencoba menyembunyikan tangannya yang terus bergetar hebat.
"Ngomong-ngomong, kenapa bisa ada luka sobek di dalam mulutnya? Bahkan pipinya juga memerah! Apakah ia menghantam sesuatu? Menabrak siku dinding saat berlari atau jatuh dari tangga? Aku lihat ada bekas memar lainnya di tubuhnya, Itu pasti benda yang sangat keras hingga membuatnya seperti ini! Kasihan sekali! Lain kali hati-hati ya," ujar Daffa sambil mengusap-usap punggung Syihab.
Setelah keluar dari rumah sakit, Syihab langsung membukakan pintu untuk keluarganya, saat Aisyah dan anak-anak hendak masuk, Alfa mencegat.
"Kalian masuk mobilku saja!" ujar Alfa. "Apa maksudmu Alfa?" tanya Aisyah keheranan. "Apalagi? Tentu saja mengantar kakak dan anak-anak pulang ke rumah," ujar Alfa.
"Kami baik-baik saja, kok," ujar Aisyah. "Sudahlah! Turuti saja!" ujar Alfa, ia langsung mengangkat anak-anak masuk ke dalam mobilnya.
"Kakak mau ikut kami atau dia?" tanya Alfa. Aisyah bingung, ia sempat menengok ke arah Ghozali yang terdiam meskipun sudah membukakan pintu mobil.
Dengan perasaan tidak nyaman, Aisyah melangkah jauh dari Ghozali, ia memilih masuk ke dalam mobil Alfa. Ia masih khawatir dengan kondisi Syihab jadi ia terpaksa masuk ke mobil Alfa.
Setelah melaju, Alfa pun sampai di rumah lebih dulu. "Makasih Alfa, kamu bisa tunggu sebentar? Kakak akan membuat teh untukmu," ujar Aisyah. "Nggak usah, kakak kok malah kayak pembantu saja menyuguhi tamu segala! Aku kan bukan orang asing!" ujar Alfa kesal.
"Duh, bicaramu memang kasar sekali! Ntar nggak ada wanita yang menyukaimu gimana?" tanya Aisyah khawatir. "Nggak peduli! Lagian yang kasar bukan tanganku, nggak seperti landak itu," ujar Alfa.
"Sepertinya lebih baik kusuguhi teh saja Kamu nggak bisa nyetir mobil kalau kondisimu nggak tenang begini," ujar Aisyah kemudian masuk ke dalam.
Tak lama kemudian Ghozali pun datang dan langsung memarkirkan mobil di garasi.
Setelah menutup garasi, Alfa sudah berada di depannya dan langsung meninju wajahnya. Ghozali tidak menghindar, ia membiarkan tinju Alfa mengenai pipinya.
"Argh! Ini tidak seberapa dibandingkan yang anakmu rasakan!" ujar Alfa sambil meninjunya sekali lagi. Meskipun begitu, ia tetap tidak puas. Ia terus memukuli Ghozali bahkan hingga jatuh tersungkur di lantai.
Alfa benar-benar diluar kendali dan terus meninju wajahnya. "Apa-apaan wajahmu itu? Perlukah kupatahkan juga hidungmu?" tanya Alfa sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Apa yang kamu lakukan, Alfa! Hentikan!" teriak Aisyah. "Kenapa? Kakak membelanya? Dia bahkan hampir membunuh Syihab tapi kakak masih membelanya? Kenapa kakak membela psikopat ini? Kenapa?" tanya Alfa.
"Hentikan, Alfa! Dia sudah menyesalinya!" ujar Aisyah. "Kakak nggak dengar perkataan dokter tadi? Dia bahkan menganggap Syihab jatuh dari tangga, bahkan menabrak tembok? Kau bercanda? Hanya sekali tampar tapi sekeras dinding rumah ini? Kakak masih rela gorila batu ini tinggal di rumah kakak?" tanya Alfa sambil menggeleng kepala, ia benar-benar kecewa.
__ADS_1
Ia pun langsung menyingkir dari tubuh Ghozali lalu pergi meninggalkan mereka berdua.