
"Hei, Daddy! Nggak pergi ke kantin kah? Tumben sekali! Lagi ngumpulin uang buat beli sesuatu? Sepatu? Sandal? Atau jaket?" tanya Faisal.
"Aku bukan ayahmu, ngapain panggil Daddy segala? Jangan manggil aku kayak gitu dong! Aku malu kalau adik-adikku tahu!" ujar Syihab.
"Lah kenapa? Adik-adikmu memang sudah tahu kok," ujar Ifan. "Bukan mereka berdua! Aku masih punya satu adik lagi!" ujar Syihab dengan wajah gelisah.
"Kami tahu kok, yang di asrama putri kan? Memang malu sih kalau dia tahu julukanmu seperti ini di asrama, tapi dia nggak mungkin tahu kan?" tanya Faisal.
"Bukan yang itu! Aku punya adik satu lagi di sini! Di asrama ini!" ujar Syihab. "Adikmu yang mana? Banyak sekali! Bukankah kedua adik kembarmu baru masuk di tahun pertama? Lalu adikmu yang lain tahun ke berapa?" tanya Ifan keheranan.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar saat mereka bertiga sedang berbincang-bincang. Syihab langsung membuka pintu kelas, namun ia terperanjat saat melihat siapa yang ada di balik pintu kelasnya. Tatapan tajam Shahih membuatnya terkejut hingga terjatuh.
"Ada apa ini? Aku sedang nonton drama kah? Ngapain kakak jatuh di depan pintu? Kayak habis lihat matahari terbit dari barat saja," ujar Shahih.
Syihab langsung berdiri dan menjaga sikap. "Oh, kenapa kamu ke sini? Ada apa?" tanya Syihab gagap. Shahih langsung melirik ke arah dua teman Syihab.
"Kalian membuat geng kah? Ngapain bertiga di kelas jam segini?" tanya Shahih keheranan. Ia juga membuat Ifan dan Faisal salah tingkah.
"Ini bukan apa-apa kok, kami cuma ngobrol biasa. Ada perlu apa kamu ke sini? minta apa?" tanya Syihab.
"Nggak ada apa-apa, cuma kebetulan lewat terus ada orang di dalam kelas jadi aku ketuk pintunya," ujar Shahih.
"Apanya yang cuma lewat? Kamu ngetuk pintu kelas SMA tanpa tujuan justru aneh banget!" ujar Syihab.
"Yah, kalau sudah aneh...ya sudahlah. Mau gimana lagi? Aku terlanjur sudah ngetuk pintunya," ujar Shahih kemudian berlalu dari hadapan mereka.
Ifan dan Faisal yang sembari tadi menahan nafas pun langsung merasa lega. "Itu benar-benar adikmu? Kok beda sekali!" ujar Faisal. "Lebih mirip sama adik Syihab yang perempuan sih," ujar Ifan.
"Iya! Matanya yang sipit itu..... aku hampir berpikir ada gadis nyasar di asrama kita," ujar Faisal. "Tapi mukanya serem banget sih! Tatapan tajamnya..... kayak ustadz Alfa!" ujar Ifan.
"Wah! Setuju sih! Bener-bener mirip ustadz Alfa!" seru Faisal. "Menurut kalian dia denger obrolan kita tadi nggak?" tanya Syihab cemas.
"Kayaknya nggak loh! Aku juga takut kalau dia tahu kita barusan nggosipin dia," ujar Ifan. "Kau nggak bilang-bilang kalau punya adik satu lagi! Tahun ke berapa dia? Kedua? Berarti selisih umur adik-adikmu itu cuma setahun?" tanya Faisal.
__ADS_1
"Bukan! Dia adik terakhirku, dia juga termasuk anak-anak kembar itu," jawab Syihab. "Wah! Keren! Kembar tiga dong? Kamu nggak pernah bilang kalau mereka kembar tiga!" ujar Faisal.
"Soalnya adik terakhirku nggak mirip sama kedua saudaranya," ujar Syihab. "Iya sih, kasihan sekali!" ujar Ifan.
"Aduh! Sebentar lagi Maghrib! Si Zahra bisa marah kalau aku nggak ke sana sekarang!" ujar Syihab panik. Ia tampak buru-buru pergi ke kamar untuk mengambil beberapa lembar uang.
"Wah! Banyak sekali! Buat apa?" tanya Ifan. "Adikku juga perlu uang saku! Nggak mungkin aku simpan sendiri di sini," ujar Syihab.
Akhirnya ia buru-buru menuju ke pos satpam untuk meminta izin pergi ke asrama putri. Setelah kepayahan berlari, akhirnya ia bisa melihat Zahra yang sedang duduk termenung di pinggir aliran irigasi dekat gerbang asrama. Anak itu tampak sedang mencabuti rumput yang ada di pinggiran sungai irigasi itu.
"Wah, Zahra! Akhirnya sampai juga!" seru Syihab, ia bahkan membentangkan kedua tangannya, berharap adiknya itu memeluknya.
Alih-alih memeluknya, Zahra tampak murka. Ia mencabuti rumput sebanyak mungkin lalu melemparnya ke arah Syihab. Ia sempat kesal hingga matanya berkaca-kaca.
"Kenapa lama sekali! Aku dari tadi duduk di sini kayak orang gila loh! Besok-besok yang pegang uang aku saja!" ujar Zahra kesal. Ia langsung menghampiri Syihab dan memukuli lengannya.
"Aduh! Aduh! Ampun Zahra! Aku minta maaf! Tanganmu keras sekali!" ujar Syihab memohon ampun. Sayangnya anak itu tetap kesal dengan tangisannya. Syihab sempat bingung hendak melakukan apa.
"Aduh! Jangan nangis dong!" ujar Syihab, ia berusaha menenangkannya, namun tangisan Zahra semakin menjadi-jadi.
Bukannya tenang, kali ini Zahra memukul wajah Syihab hingga tersungkur, ia hampir terjatuh ke sungai irigasi. Secara spontan Zahra langsung menarik lengannya.
"Fiuh! Hampir saja!" Syihab menghela nafas lega. "Cepat berdiri! Tubuhmu sangat berat!" ujar Zahra, ia sudah tidak kuat menarik lengan Syihab.
Sayangnya Syihab tampak enggan untuk beranjak. "Salahmu sendiri memukulku," ujarnya dengan wajah sebal. "Oh? Mau kujatuhkan?" tanya Zahra.
"A... ampun! Ampun! Aku akan berdiri! Aku juga ada kabar baik buatmu loh! Shahih sudah kembali!" ujar Syihab.
"Benarkah?" tanya Zahra semangat, ia langsung menarik lengan Syihab dengan kedua tangannya dan menjauhkannya dari sungai irigasi itu.
"Waduh! Kuat sekali adikku ini, padahal perempuan loh," ujar Syihab, ia sempat menelan ludah, ia tidak bisa membayangkan adiknya itu memukulinya sekuat tenaga.
"Benarkah Shahih sudah kembali? Sekarang di mana? Di rumah?" tanya Zahra penasaran. "Nggak kok, dia di asrama juga. Besok-besok aku ajak Mereka bertiga ke sini, kau belum pernah lihat Shadiq dan Hasan juga kan beberapa bulan ini?" tanya Syihab.
__ADS_1
"Wah! Benar sekali! Adik-adikku yang imut! Aku jadi nggak sabar!" seru Zahra. "Daripada mereka berdua, lebih imut kamu, Zahra!" ujar Syihab sambil mencubit pipi Zahra karena gemas.
Tak lama kemudian seorang gadis datang membuka gerbang. "Hei, kamu! Ngapain di luar?" tanya gadis itu. "Oh, ini kakakku datang buat kasih uang, mbak!" ujar Zahra.
"Ngasih uang memangnya butuh berapa lama?" tanya gadis itu dengan ekspresi dinginnya.
"Santai aja sih mbak! Namanya saja ketemu adek sendiri, kan kangen," ujar Syihab. Gadis itu masih berekspresi dingin, ia langsung menyuruh Zahra untuk masuk.
Wajah Zahra yang berseri-seri pun tampak murung kembali, namun Syihab tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan wajah murung adiknya masuk ke dalam asrama.
"Aish! Bikin khawatir saja! Semoga dia baik-baik saja di sana," ujar Syihab cemas. Ia pun kembali ke asrama dengan wajah murung juga.
"Ada apa, Daddy? Kenapa wajahmu murung begitu? Ya ampun! Apakah adikmu baru saja memukulmu? Wajahmu lebam!" ujar Ifan.
"Yeah, itu memang benar, tapi aku khawatir padanya," ujar Syihab. "Kenapa? Dia menangis?" tanya Faisal penasaran.
"Nggak, tadi aku lihat santriwati SMA, wajahnya serem banget! pokoknya jutek abis! Sepertinya dia jadi kakak pengurus di asrama. Ia menyuruh adikku masuk dengan paksa, padahal kami berdua belum selesai bicara," ujar Syihab.
"Memang begitu peraturan di asrama putri. Mereka lebih ketat daripada kita, bahkan hukuman di sana dikatakan lebih kejam loh!" ujar Ifan.
"Kok lebih kejam? Mereka perempuan loh! Masak lebih kejam sih!" Syihab keheranan. "Yeah, hukuman di sini nggak ada apa-apanya bro! Paling cuma push up, rolling, lari keliling lapangan, bersih-bersih kamar mandi, dan yang paling parah cuma digunduli kakak pengurus," ujar Ifan.
"Lah segitu sudah parah loh? Memangnya asrama putri sekejam apa? Nggak mungkin mereka disuruh push up sama rolling kan?" tanya Syihab.
"Hukuman mereka berbeda dengan di sini! Kalau di sini kita paling ngerasain lelah, atau pegal-pegal. Beberapa hari sudah nggak kerasa lagi sakitnya, tapi di asrama putri.... hukuman mereka seperti harus memakai kerudung putih yang sudah diberi cat warna warni nggak jelas, membersihkan teras kamar dan kelas selama sepekan, bahkan yang paling parah adalah memakai rompi pelanggaran. Hukuman mereka itu benar-benar mengerikan. Meskipun menggunakan rompi tidak membuat lelah atau pegal-pegal, tapi malunya loh! Mungkin seumur hidup nggak akan lupa. Apalagi bersih-bersih di teras, bukan cuma santri yang lihat, guru-guru juga lihat," ujar Ifan.
"Wah! Hukuman seperti itu pasti efektif bikin jera!" ujar Faisal. "Tentu saja! Mereka kan perempuan, lebih hati-hati daripada kita-kita ini, normalnya mereka akan berpikir berkali-kali ketika hendak melakukan sesuatu," ujar Ifan.
"Yeah, kalau kalian lihat perempuan pergi ke mall juga bakalan lama, soalnya harus keliling dulu, apa yang mau dibeli," ujar Syihab sambil tertawa, ia teringat dengan tingkah adiknya yang suka berkeliling saat kedua orangtuanya mengajak mereka ke mall.
"Perempuan memang hebat! Jika mereka masih bertahan dalam asrama yang super tertutup rapat itu, mereka perlu diacungi jempol! Bukan main-main perjuangan mereka!" ujar Faisal.
"Tentu saja! Makanya aku berniat menikah dengan anak pesantren saja," ujar Ifan. "Kalau aku sih penginnya sama adiknya Syihab saja, udah dapet plus-plus. Selain imut, juga anak pesantren," ujar Faisal.
__ADS_1
"Wah, Daddy Syihab jadi kakak iparmu dong!" ujar Ifan. "Tentu saja, ntar aku nggak manggil daddy lagi, tapi kak Syihab! Gimana kak Syihab? Kau setuju kan?" goda Faisal.
"Hentikanlah! Kalian ini bikin aku pusing!" ujar Syihab sebal. "Kan aku cuma tanya! Boleh nggak aku ambil adikmu?" tanya Faisal. Syihab enggan menjawab, ia hanya berbalik badan.