
"Aisyah, aku malah lupa bilang dari kemarin! Sebenarnya hari ini direktur mengajak kami semua buka bersama di rumah sakit, sepertinya akan sampai Isya baru pulang," ujar Ghozali. Wajah Aisyah berubah murung.
"Tapi ia juga menyuruhku untuk mengajakmu juga sekalian sama anak kembar kita, gimana sayang?" tanya Ghozali.
"Lah terus, si Zahra sama Syihab gimana?" tanya Aisyah. "Suruh adikmu ke sini saja, sepertinya ia mau menjaga mereka. Ia pasti bersemangat ketika disuruh menjaga anak kecil," ujar Ghozali.
"Lah, mau gimana lagi, dia kan jadi ustadz di pesantren, tentu saja sering dititipi banyak anak orang," ujar Aisyah. "Nah, itu! Suruh dia aja datang," ujar Ghozali.
"Sepertinya nggak akan mau deh, dia sangat membencimu," ujar Aisyah. "Bilang saja kamu ada keperluan!" desak Ghozali. "Baiklah, tapi menurutku Shahih ditinggal saja, kita bawa Shadiq dan Hasan," ujar Aisyah.
"Loh? Kenapa?" tanya Ghozali keheranan. "Kayaknya lagi nggak sehat, beberapa hari ini ia lebih tenang dari anak-anak lainnya, ia bahkan jadi jarang menangis. Aku takut kenapa-kenapa kalau membawanya pergi," ujar Aisyah.
"Baiklah, kamu yakin? Kalau dia menangis saat kita tinggal gimana?" tanya Ghozali. "Ntar suruh Alfa menelpon saja kalau kenapa-kenapa, nanti kita langsung pulang," ujar Aisyah.
"Oh, gitu? Baiklah!" ujar Ghozali sambil mengenakan kemejanya. Aisyah pun mengancing kemejanya dan memakaikannya dasi. Ia terus memandangi tubuh suaminya yang tampak seperti manekin kekar yang tidak berubah sama sekali.
"Tubuh mas bagus sekali! Apa saja yang mas lakukan setiap hari untuk menjaga bentuknya?" tanya Aisyah. "Ada apa sayang? Kamu ingin terus melihatnya? Apakah aku perlu membuka kancing bajuku lagi?" tanya Ghozali sambil tersenyum menggoda, ia langsung menyudutkan Aisyah di sudut ruang ganti.
"Ehm," Syihab memergoki mereka berdua dengan wajah kesal. Aisyah menjadi salah tingkah dan langsung pergi ke dapur. "A.... ada apa Syihab? Ada yang kamu inginkan?" tanya Ghozali gagap.
"Aku mau ganti baju, ayah! Lama sekali!" keluh Syihab. "Oh, maaf! Mau ayah bantu pakai baju?" Ghozali menawarkan. "Boleh saja, aku sedang malas bergerak," ujar Syihab sambil menghampiri ayahnya.
Ghozali pun mulai mengambil pakaian Syihab lalu mengenakannya. "Lain kali jangan malas gerak yah, nanti nggak sehat! Kamu juga harus kuat biar bisa jaga adikmu," ujar Ghozali.
"Lengan ayah keras sekali! Kenapa bisa seperti ini?" tanya Syihab sambil terus meninju lengan Ghozali. "Ayah kan nggak malas gerak, nggak kayak kamu, jadi tubuh ayah keras," ujar Ghozali sambil mengacak-acak rambut Syihab. Ia pun menyadari kalau rambut anaknya itu sama persis sepertinya, tegak lurus mencuat ke segala arah. Karena gemas, Akhirnya Ghozali langsung mendekapnya dan mengusap-usapkan pipinya ke kepala Syihab.
__ADS_1
"Duh, ayah! Aku nggak bisa nafas!" keluh Syihab. "Kamu sangat menggemaskan sih! Cepat besar makanya," ujar Ghozali. Zahra yang sejak tadi melihat mereka berdua langsung memasang wajah sebal.
"Ada apa Zahra?" tanya Ghozali, Zahra langsung duduk di pangkuan ayahnya. "Kamu ini manja sekali! Pakai kerudungmu dulu," ujar Ghozali sambil memakaikan kerudung pada Zahra.
"Lah! Ayah!" keluh Zahra saat melihat ke cermin, kerudung itu tidak terpakai dengan benar. Ia pun memukuli ayahnya dengan tangan mungilnya itu.
"Hahaha! Maaf Zahra! Ayah nggak tahu cara makainya," ujar Ghozali. Aisyah pun datang dan menyaksikan hal itu.
"Ibu! Ayah sangat nakal! Nyebelin!" ujar Zahra kesal. "Ya ampun! Siapa yang memakaikanmu itu?" Aisyah ikut tertawa.
Akhirnya ayah dan kedua anak itu pergi keluar rumah untuk melakukan rutinitas masing-masing, sedangkan Aisyah segera menghubungi Alfa.
"Assalamualaikum, ada apa kak?" tanya Alfa. "Waalaikum salam, kamu gasik banget ngucapin salamnya," ujar Aisyah. "Pastilah," ujar Alfa dengan lagaknya.
"Alfa, kamu mau jaga Syihab, Zahra, dan Shahih nggak?" tanya Aisyah. "Siapa yang minta? Pasti si landak itu yah?" tebak Alfa.
"Lah, kalau kamu nggak mau terus kakak titip ke siapa lagi? Ayolah! Sekali ini saja," desak Aisyah. "Nggak mungkin sekali, si landak itu pasti bakal sering nyuruh-nyuruh aku! Padahal kenal juga nggak!" ujar Alfa.
"Astaghfirullah, Alfa! Susah banget sih ngomong sama kamu!" ujar Aisyah kesal. "Iya-iya! Ntar aku ke sana! Argh! Kakak harusnya bersyukur karena aku lagi nggak ada kerjaan! Tapi kenapa Shahih ditinggal?" tanya Alfa.
"Kakak takut dia kenapa-kenapa, dari kemarin diam terus, nggak banyak gerak. Ia juga nggak banyak bersuara, nggak seperti kedua saudara kembarnya," ujar Aisyah.
"Oh, ya udah ntar aku ajak main deh biar nggak diem terus," ujar Alfa. "Jangan bawa keluar-keluar loh! Di rumah aja!" ujar Aisyah. "Iya kak! Santai aja sama aku," ujar Alfa.
"Baiklah, wassalamu'alaikum," ujar Aisyah. "Waalaikum salam," jawab Alfa mengakhiri telepon.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore pun tiba, kedatangan Alfa bersamaan dengan kepulangan Ghozali. "Cih! bukan berarti aku sengaja datang di waktu yang tepat," ujar Alfa, ia tidak ingin dikatakan serentak dengan Ghozali.
"Sudahlah, kamu ini! Kenapa nggak pernah akur dengan kakak iparmu?" tanya Aisyah keheranan. "Yeah, untuk apa aku dekat-dekat dengan landak ini?" tanya Alfa kesal.
"Pada akhirnya aku mendapatkan julukan yang aneh-aneh! Gorila, bahkan landak. Sebaiknya kucukur rambutku saja deh," ujar Ghozali.
"Jangan, ih! Bagus seperti itu!" ujar Aisyah. "Hahaha! Gorila? Kejam sekali! Kakak dengar itu? Ada orang yang bahkan mengejeknya gorila," ujar Alfa. "Ayahku bukan gorila!" teriak Zahra kemudian menghampiri Alfa lalu memukulinya.
"Wah! Wah! Siapa yang datang ini? Zahra kesayangan paman!" seru Alfa sambil mengangkat Zahra. "Ini mirip kakak dengan tubuh yang mungil! Benar-benar menggemaskan!" seru Alfa sambil menggelitik Zahra.
"Hei! Itu anakku!" ujar Ghozali, ia hendak merebut Zahra dari Alfa. "Kau masih punya Syihab, jangan reseh! Aku hanya meminjamnya sebentar," ujar Alfa.
Akhirnya Ghozali dan Aisyah pun pergi bersama kedua anak kembar mereka. Sesampainya di rumah sakit, orang-orang tampak ramai menunggu adzan berkumandang. Mereka mulai berbincang-bincang satu sama lain.
Saat itu Ghozali menjadi perhatian utama karena hanya ia satu-satunya orang yang membawa keluarganya.
Saat itu juga Shadiq dan Hasan, anak kembar Ghozali menangis dengan keras, mereka minta digendong ke sana kemari untuk melihat berbagai hal baru. Ghozali pun kewalahan hingga seluruh tubuhnya basah kuyup dipenuhi keringat.
"Hahahaha! Lihatlah! Dokter Ghozali habis hujan-hujanan padahal langit masih terang begini," ujar Daffa, yang lainnya ikut tertawa. "Ternyata begitu yah mbak, anaknya? Aktif sekali yah, sehat-sehat semua," ujar Mayang.
"Iya mbak, mereka berdua itu anak ayah, jadi sukanya nempel sama ayah mereka. Kalau ayah mereka belum pulang-pulang juga sampai larut malam, yah aku yang stres mbak. Untung saja nggak ada tetangga di samping rumah kami, kalau ada mungkin aku bisa diusir dari lingkungan itu," ujar Aisyah.
Pembicaraan mereka sekilas menjadi serius karena turut prihatin dengan keadaan Aisyah. "Hayo, Ghozali! Kasihan istrimu loh! ditinggal di rumah sendirian jaga anak," ujar Andhika.
__ADS_1
Semakin lama mereka berbicara, pada akhirnya pembicaraan mereka menyindir satu hal, yaitu kebijakan direktur tentang kumpul-kumpul di kafe berkedok evaluasi pekerjaan. Akhirnya sejak hari itu direktur tidak pernah mengadakan acara kumpul-kumpul yang tidak berarti. Hal itu membuat Ghozali bisa pulang ke rumah lebih cepat.