Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Asyraf


__ADS_3

Aisyah pun bisa menelpon pihak panti asuhan, sayangnya anak yang ia cari-cari itu sudah tidak ada, seseorang telah mengadopsinya. Meskipun begitu, Aisyah tetap penasaran dengan kehidupan anak itu di panti asuhan, akhirnya ia meminta Alfa untuk membawanya ke sana.


"Kenapa tiba-tiba kakak mau ke panti asuhan? Mau jenguk siapa?" tanya Alfa. "Bukan siapa-siapa kok, kamu cukup antarkan kakak ke sana, ntar kakak pulang sendiri," ujar Aisyah.


"Jangan begini kak! Aku tunggu sampai kakak pulang! Jangan suka pergi-pergi sendiri!" Alfa mengingatkan.


"Lah apa masalahnya?" tanya Aisyah. "Bukankah aku pernah bilang? Bukain pintu rumah aja kakak mesti harus hati-hati, apalagi pergi berkeliaran di luar rumah. Walaupun Ghozali nggak peduli, aku yang risau, kak!" ujar Alfa.


"Oke lah, kamu tunggu sampai selesai yak! Jangan kemana-mana loh!" ujar Aisyah. Ia pun langsung masuk ke dalam untuk bertemu dengan pengasuh.


"Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan ibu Tiara?" tanya Aisyah pada seorang wanita paruh baya yang ada di dekat gerbang.


"Oh, Saya bu Tiara, jangan-jangan, ibu adalah.... ibu Aisyah? Yang minta ketemuan?" tanya wanita itu.


"Iya benar bu," ujar Aisyah. "Oh, begitu! Kalau begitu, silahkan masuk dulu," ujar wanita itu. Ia pun membawa Aisyah ke ruang tamu.


"Sepertinya agak ramai di sini," ujar Aisyah. "Biasa, kebanyakan yang ada di sini adalah anak-anak sekitar tujuh hingga sepuluh tahun," ujar bu Tiara.


"Sepertinya banyak foto-fotonya juga," ujar Aisyah. "Iya, tapi ngomong-ngomong, ibu cari siapa?" tanya bu Tiara.


"Apakah ada anak dengan kelahiran delapan tahun yang lalu? Sekitar bulan Juli," tanya Aisyah.


"Oh! Ada! Ada! Kami sangat ingat itu karena satu-satunya yang memiliki dokumen kelahiran lengkap," ujar bu Tiara.


"Wah, syukurlah kalau begitu!" seru Aisyah. "Tapi kenapa ibu menanyakan Asa? Dia sudah diadopsi tiga tahun yang lalu, apakah ibu kerabatnya? Pak Ardhi juga berharap ada kerabatnya yang mencarinya," ujar bu Tiara.

__ADS_1


"Eh, bu... bukan kok, saya adalah kenalan pak Ardhi, saya cuma ingin tahu gimana kabar anak itu," ujar Aisyah. Bu Tiara tampak murung.


"Sebenarnya kami tidak yakin dengan keadaan Asa," ujar Bu Tiara. "Namanya Asa?" tanya Aisyah. "Oh, nama aslinya Asyraf, tapi anak-anak sini kesusahan memanggilnya jadi kami memberinya panggilan Asa," ujar bu Tiara.


"Apa maksud ibu tentang keadaan Asa? Apanya yang tidak yakin?" tanya Aisyah. "Entahlah, saya bingung menjelaskannya. Anak itu tidak seaktif anak-anak biasanya. Bahkan saat yang lain menangis karena hal sepele, ia tidak pernah menangis. Ia sangat pendiam. Itu terlihat saat usianya mencapai lima tahun. Untungnya ada keluarga yang dermawan, ia menerima anak itu apa adanya dan mengadopsinya, namun sampai sekarang kami tidak pernah mendengar kabarnya," ujar bu Tiara.


"Anak itu tidak pernah menangis? Juga pendiam?" Aisyah semakin penasaran. "Bukan tidak pernah sih, ia jarang menangis, jarangnya sangat tidak wajar dan membuat kami khawatir," ujar bu Tiara.


"Bisakah saya minta fotonya?" tanya Aisyah, ia semakin penasaran. Bu Tiara pun mengambil album fotonya, namun saat mencari-cari, ia tidak menemukan satupun foto dari anak itu.


"Hmm! Sepertinya ia tidak pernah ikut saat kami mengadakan foto bersama, ia selalu membenci hal itu," ujar bu Tiara.


Akhirnya Aisyah mencoba membuka ponselnya, ia mencoba mencari foto Shahih. Sayangnya ia juga tidak menemukannya satu pun di foto keluarga.


"Aneh sekali!" ujar Aisyah, foto bersamanya dengan keluarga terasa begitu lengkap, namun ia tidak sadar kalau di foto itu tidak ada Shahih.


"Apakah dia terlihat seperti ini?" tanya Aisyah sambil menunjukkan foto Shahih yang ia ambil secara diam-diam.


"Aduh ya ampun! Benar sekali bu! Ini Asa! Saya ingat sekali tatapan matanya yang khas! rambutnya juga, semuanya, benar! Ia tampak seperti itu!" seru bu Tiara.


Aisyah tidak bisa berkata-kata, matanya langsung berkaca-kaca. Ia sangat terharu karena anaknya yang selama ini ia anggap sudah meninggal ternyata masih hidup.


"Tapi dari mana ibu mendapatkan foto ini? Apakah ibu pernah melihatnya langsung?" bu Tiara, Aisyah benar-benar hampir menangis.


"Bu? Ibu baik-baik saja?" tanya bu Tiara. "Baik bu! Terima kasih atas informasinya, nanti saya hubungi lagi yah bu! Saya mau pulang dulu!" ujar Aisyah.

__ADS_1


Ia pun buru-buru keluar dari panti asuhan dan berlari ke mobil Alfa. "Loh? Kak? Kenapa kakak menangis? Ada apa di dalam tadi?" tanya Alfa keheranan. "Bu... bukan apa-apa," ujar Aisyah sambil tersenyum, namun ia terus terisak.


Alfa tidak mengerti apa yang terjadi, ia pikir Aisyah sedang sedih dan berusaha terlihat bahagia. "Kamu lihat apa?" tanya Aisyah keheranan.


"Nggak lihat apa-apa kok, mau ke mana lagi kita?" tanya Alfa. "Aku mau pulang, udara di sini sangat kering sekali," ujar Aisyah.


Akhirnya Alfa pun langsung membawa mobilnya melaju di jalan raya.


Sayangnya ia tidak membawa Aisyah ke rumah, melainkan ke sebuah puncak bukit. "Hei! Ini bukan jalan ke rumah!" ujar Aisyah.


"Sudahlah, diam saja," ujar Alfa. Ia pun memberhentikan mobilnya dan menyuruh Aisyah turun.


"Kenapa kita turun di sini?" tanya Aisyah. "Cari udara segar, biar kakak tenang," ujar Alfa. Akhirnya Aisyah menurutinya, ia melangkah ke dekat tebing dan bersandar pada pagar. Ia langsung menghirup udara sesuka hatinya, ia benar-benar tenang hingga tidak terisak lagi.


"Kalau kakak kenapa-kenapa, bilang aku saja, jangan diam terus! Aku tahu kalau si landak itu sangat payah! Dia nggak bisa ngurusin kakak," ujar Alfa.


Nggak boleh gitu, Alfa! Nggak baik! Kata siapa dia nggak bisa ngurusin kakak? Buktinya kakak masih hidup sampai sekarang, masih bisa makan, tiga kali sehari pula," ujar Aisyah.


"Terserah kakak dah," ujar Alfa sebal, akhirnya ia pun mengantarkan Aisyah pulang ke rumah.


Karena suasana hatinya sedang baik, ia mencoba memasak makanan yang lebih istimewa untuk anak-anaknya.


Tidak lama kemudian beberapa orang mengetuk pintu rumah, Aisyah tahu kalau itu adalah anak-anaknya, ia pun menyambut mereka dengan riang gembira.


"Hmm! Bau apa ini bu?" tanya Hasan. "Ayam!" seru Shadiq. "Benar sekali! Ibu masak ayam kecap loh!" seru Aisyah. "Wah enak tuh! Zahra boleh ikut bantuin?" tanya Zahra. "Boleh saja," ujar Aisyah.

__ADS_1


"Yes! Makan daging lagi!" ujar Shadiq. "Keknya di otakmu cuma daging doang!" ujar Hasan. "Kata siapa? Aku juga suka sayur kok," ujar Shadiq.


"Sst! Sudah! Jangan bertengkar!" ujar Aisyah. Selagi mereka tampak senang, Shahih terlihat biasa saja.


__ADS_2