
Hari kedua pun dimulai, namun Hasan memilih tidak ikut mengajar, akhirnya Alfa menggantikannya dengan Arkan, hanya anak itu yang bisa berbicara dengannya tanpa gagap dan ketakutan.
Awalnya ia mencoba mencari anak-anak lainnya, namun setiap ia memasuki kamar-kamar, anak-anak langsung bisu atau memilih menghindarinya, hanya Arkan yang berani berhadapan dan menyapanya.
Pengajaran di hari kedua tampak tidak adao masalah. Arkan dapat menyesuaikan diri dengan Asyraf daripada Hasan, begitu pula dengan Asyraf, ia paham betul sifat asli Arkan hingga ia bersikap hati-hati padanya. Mereka pun akhirnya bisa bekerja sama mengondisikan anak-anak itu.
Di sisi lain forum milik Shadiq sangatlah ramai. Anak-anak kecil itu sangat senang dengannya, apalagi ia sangat bersifat dewasa daripada Arkan dan Asyraf.
Setelah pengajaran selesai, beberapa anak masih melekat di sisi Shadiq. Mereka penasaran dengan kehidupan pesantren.
Sayangnya ada satu hal yang sangat mengganggu Shadiq, yaitu seorang gadis kecil yang terus merangkul lengan kekarnya. Gadis itu tampak nyaman berada di sisinya layaknya seorang anak yang sedang bersikap manja di depan ayahnya.
"Mella, sudahlah! Kakak mau pulang dulu. Sudah sore," ujar Shadiq, namun gadis kecil itu tetap bergeming.
"Aku mau ikut kakak," ujarnya. "Nggak boleh, Mella! Nanti ayahmu khawatir kalau kamu pergi," ujar Shadiq.
"Kalau begitu kak Shadiq yang jadi papaku saja," ujar Mella. Anak-anak yang lain hanya bisa tertawa mendengar perkataan Mella. Shadiq terus menggaruk-garuk kepala dengan perasaan tidak nyaman. Ia tidak berani menegur gadis kecil itu karena takut membuatnya tersinggung.
tak lama kemudian ibu-ibu pun datang untuk menjemput mereka. Tentu saja mereka menyapa Shadiq lebih ramah daripada dua anak lainnya.
Ibu Mella pun menegur Mella agar segera melepaskan lengan Shadiq, sayangnya gadis kecil itu terus menggelengkan kepalanya.
"Aduh, mas Shadiq! Maaf ya! Mella emang bandel anaknya," ujar ibu Mella. "Nggak papa kok bu, namanya juga anak-anak," ujar Shadiq sambil menggaruk-garuk kepala lagi, ia benar-benar malu karena harus berhadapan dengan orang tua gadis kecil itu.
"Kak Shadiq nggak boleh pergi! Kak Shadiq di sini aja!" ujar Mella, ia semakin erat memeluk lengan Shadiq. Shadiq pun tidak bisa bergerak bebas, ia takut sekali bergerak akan membuat Mella terluka karena tenaganya terlalu besar jika dibandingkan dengan gadis kecil itu.
"Duh, Mella!" Ibu Mella mulai geram. "Nggak... nggak papa kok bu, aku akan tinggal di sini sebentar lagi," ujar Shadiq.
"Maaf ya mas, merepotkan. Kalau gitu sebaiknya mas-mas mampir dulu di rumah saya, pasti lelahkan ngurusi anak-anak bandel," ajak ibu Mella. Shadiq pun tertawa ramah di hadapannya.
Akhirnya mereka bertiga pun pergi ke rumah Mella, sedangkan Shadiq terpaksa berjalan
__ADS_1
sambil menggendong gadis kecil itu karena ia tidak mau melepaskan lengannya.
"Nah, ini rumah saya mas! Mari, masuk ke dalam," ujar ibu Mella.
Akhirnya mereka bertiga pun duduk di ruang tamu. Suasana rumah itu sangat lenggang, tak lama kemudian ibu Mella datang menyuguhkan beberapa camilan dan teh.
Selagi Asyraf dan Shadiq mulai menyantap camilan itu, Arkan hanya bisa menatapnya sambil menelan ludah.
"Ada apa mas? Nggak suka sama jajanan ini? Atau mau saya ambilkan yang lain?" tanya ibu Mella. "Ngg.. nggak papa bu, maaf saya...." Arkan agak enggan untuk mengakuinya.
"Maaf bu, Arkan sedang puasa," ujar Asyraf.
"Oh, walah! Puasa ya! Kalau begitu biar ibu bungkusin! Nanti buat buka ya," ujar ibu Mella sambil tersenyum ramah. "Makasih bu," ujar Arkan.
Setelah mengambil plastik untuk membungkus makanan, ibu Mella memulai pembicaraan. "Suami saya sedang bekerja di luar kota jadi rumah kami sangat sepi. Mella juga jadi jarang ketemu dengan papanya. Papanya sering pulang agak larut malam, jadi nggak ada kesempatan buat ngobrol. Gara-gara itu Mella suka sekali menempel pada mas Shadiq, sebenarnya kalau papanya mau pergi kerja, Mella juga suka memeluk lengannya biar nggak pergi," ujar ibu Mella.
"Hmm, memang wajar bu. Shadiq ini memang kelihatan kayak bapak-bapak, jadi anak-anak suka mengobrol dengannya," ujar Asyraf bercanda, ia ingin membuat pembicaraan itu tidak terdengar monolog.
Ibu Mella pun tertawa. "Iya yah! Tak kira mas Shadiq ini ustadz, ternyata masih santri
"Kelas tiga SMP bu," ujar Shadiq. "Loh? Mas? Masih SMP? Saya kira hampir lulus SMA!" Ibu Mella benar-benar terkejut mendengar jawaban Shadiq, namun anak itu hanya menggaruk kepala kebingungan dengan reaksi ibu Mella.
Tak lama kemudian Alfa pun datang untuk menjemput mereka bertiga. Sayangnya suasana dalam mobil ketika perjalanan pulang menjadi tampak canggung, bahkan Arkan memilih mengalihkan perhatiannya ke jendela, ia bersikap dingin agar Asyraf tidak mengajaknya bicara.
"Arkan, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Shadiq. "Nggak," ujar Arkan singkat, ia terlihat tidak tahan berada di dalam mobil itu. "Si Arkan lagi puasa, dia agak lemas pergi-pergi," ujar Asyraf.
"Wah! Puasa? Daud ya?" tanya Alfa. Arkan hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Alfa.
Setelah mobil berhenti, ia langsung keluar dari mobil lalu pergi begitu saja. Alfa sempat keheranan dengan perilakunya.
Mereka terus mengajar TPA hingga pertengahan tahun. Seperti biasa anak-anak bersemangat untuk bertemu dengan Shadiq, terkhusus Mella, gadis kecil itu terlihat paling bersemangat di antara anak-anak lainnya.
__ADS_1
Shadiq sempat memandangi gadis kecil itu bertingkah menggemaskan, suara ketawanya juga sangat menghiburnya.
"Kau kenapa?" tanya Asyraf. "Nggak....bukan apa-apa. Keknya punya anak itu menyenangkan ya," ujar Shadiq. "Wah, si Shadiq kebelet punya anak ni," ujar Arkan. Entah kenapa setelah lama mengajar TPA ia menjadi sering berinteraksi dengan Shadiq, bahkan sering merespon semua hal yang dilakukannya.
"Apa sih, Arkan?" tanya Shadiq. "Bukan apa-apa kok. Biasanya kamu ngomong hal aneh atau bersenandung nggak jelas. Tumben hari ini nggak kek gitu," ujar Arkan.
"Huh, keknya nggak ada hari bagimu tanpa membully," keluh Shadiq. "Kamunya aja yang aneh," ujar Arkan. Asyraf ikut tertawa mendengar perkataannya. Ia juga baru sadar kalau Shadiq memiliki kebiasaan aneh yang bisa menjadi bahan tertawaan setelah Arkan selalu mengomentari semua gerak-geriknya.
Hari ini pun mereka mengajar TPA lagi, namun Shadiq merasakan sesuatu yang berbeda dari Mella.
Ank yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SD itu tiba-tiba menjadi pendiam, bahkan penampilannya berubah total. Meskipun begitu, kebiasaan lamanya masih belum berubah, ia masih duduk di samping Shadiq meskipun kali ini tidak memeluk lengannya lagi.
"Kak... menurut kakak..... aku cantik nggak?" tanya Mella tiba-tiba. Tentu saja i memerlukan keberanian yang tinggi untuk menanyakan hal itu.
Shadiq pun tertawa, ia langsung mengusap-usap kepala Mella. "Iya, Mella! Kamu memang cantik kok dan menggemaskan kok!" ujar Shadiq.
Sayangnya mendengar jawaban yang tidak serius itu, Mella menjadi kesal, ia mencubit paha Shadiq lalu pergi begitu saja.
"Hayo kak Shadiq! Mella nangis loh!" ujar salah seorang anak, beberapa anak lainnya juga menyorakinya. Shadiq sempat bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Heh? Mella nangis? Tapi kakak nggak ngapa-ngapain loh!" ujar Shadiq, dalam situasi yang tidak dapat ia mengerti. Ia hanya bisa menatap Arkan dan Asyraf, berharap mereka memberikan sebuah penjelasan padanya.
Sayangnya Arkan tampak acuh tak acuh dengan tatapannya, hal itu membuatnya semakin berkeringat, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Asyraf pun menghela nafas panjang. "Lain kali hati-hati kalau bicara dengan anak orang, dia bukan adik atau anakmu," ujar Asyraf.
"Terus apa yang harus kulakukan?" tanya Shadiq. "Sudahlah, biarkan saja. Bentar lagi kita lulus SMP, nggak ke sini lagi, simpel kan?" tanya Asyraf.
"Yah nggak gitu!" ujar Shadiq menepuk dahi. "Menurutku jangan dibuat stress dulu. Tunggu saja besok-besok, mungkin ia sudah melupakannya. Banyak hal yang bisa membuat kesedihan anak kecil hilang asalkan ia bisa bermain dan tertawa," ujar Arkan.
"Sepertinya kau paham cara menghadapi anak-anak," ujar Asyraf terkesan. "Loh? Memangnya kenapa? Kita semua pernah menjadi anak-anak kan?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Nggak gitu juga konsepnya," ujar Asyraf. "Menurutku emang begitu kenyataannya loh! Aku punya ingatan yang kuat dengan masa kecilku, jadi aku masih paham sampe sekarang. Aku malah ngerasa nggak berubah sama sekali dari kecil sampe sekarang," ujar Arkan.
"Nggak mungkinlah, banyak yang berubah pasti! Tambah besar, tambah dewasa," ujar Asyraf.