
"Argh! Kau bau badan! Pindahlah! Jangan duduk di sini!" ujar Hasan kesal. "Ya elah! Ntar kalau dah punya bau badan baru tahu rasa," ujar Shadiq.
"Lah! Pokoknya jangan di sini! Pindah! Pindah!" pinta Hasan. "Kau ini egois banget! Ini nggak bau banget koh, biasa aja! Baunya enak malahan," ujar Shadiq.
"Argh! Nggak suka! Baumu kayak om-om yang biasa nagih uang di bus," ujar Hasan. "Lah wajar kok! Kak Syihab juga punya bau kayak gitu," ujar Shadiq.
"Kan kak Syihab di SMA, kau di sini masih SMP tapi bau badannya ke mana-mana," ujar Hasan kesal.
"Argh! Oke! Oke! Besok aku beli deodoran!" ujar Shadiq kesal kemudian beranjak dari kursinya, sayangnya kursi yang kosong hanya tersisa di bagian pojok belakang, akhirnya ia terpaksa duduk di sana.
Tak lama kemudian wali kelas masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi guru. "Eh? Bukannya sekarang pelajaran IPS? Kenapa wali kelas datang ke sini? Dia kan ngajar bahasa Arab, apa aku salah jadwal?" tanya Hasan pada Ario, anak yang duduk di bangku sebelah kirinya.
"Kudengar ada anak baru yang datang ke sini, aku lihat dia masukin barang-barang ke lemari," bisik Ario.
"Loh? Tapi aku nggak lihat ada kendaraan wali santri di luar loh," ujar Hasan. "Kudengar ia datang ke sini sendiri," ujar Fashalay, anak yang duduk di samping Ario.
"Hmm! Hebat sekali datang ke sini sendiri!" ujar Hasan. "Semuanya, harap diam!" ujar wali kelas, ia pun beranjak dari kursinya dan menyuruh seorang anak yang berada di depan kelas untuk masuk.
Akhirnya anak itu pun masuk ke dalam kelas sambil mengucapkan salam, akhirnya seisi kelas menjawab salamnya, namun Shadiq dan Hasan masih terdiam karena mendengar suara yang tidak asing.
"Silahkan perkenalkan namamu," ujar wali kelas. Anak yang tampak tersenyum itu membuat seisi kelas terdiam.
"Perkenalkan, namaku Shahihul Mufid," ujar anak itu. Seketika Shadiq dan Hasan langsung terkejut bukan main.
"Loh? Kok Shadiq pindah? Kamu yakin mau duduk di pojok belakang, Shadiq?" tanya wali kelas. "Shadiq hendak menggeleng kepala, namun tatapan tajam Hasan membuatnya terpaksa mengangguk.
"Kalau begitu, Shahih bisa duduk di samping Hasan, semoga kalian bisa akrab. Oh iya! Hasan ini kemarin habis juara dua lomba beladiri loh! Kalau ada anak yang nakal padamu bisa minta dia untuk melindungimu," ujar wali kelas sambil bercanda.
Shahih hanya mengangguk dengan tersenyum ramah lalu duduk di samping Hasan. Wali kelas langsung pergi sedangkan suasana kelas menjadi hening. Itu karena pusat perhatian anak-anak di kelas tampak diam saja sambil mengeluarkan buku-bukunya, ia bahkan tidak mengajak Hasan berbicara sama sekali.
Shadiq pun langsung menghampiri dari belakang lalu mendobrak meja Shahih, Hasan langsung terkejut karena itu juga mejanya.
__ADS_1
"Kau benar-benar Shahih kan? Kau yang kemarin ikut perlombaan dan mengalahkan kami kan? Kau pura-pura nggak kenal kami?" tanya Shadiq sambil mengguncang-guncang tubuh Shahih.
Shahih langsung menyingkirkan tangan Shadiq. "Apa yang sedang kau lakukan? Omong kosong apa ini?" tanya Shahih dengan wajah kesal.
"Hei, Shadiq! Belum apa-apa kok sudah merundung anak baru! Nggak boleh loh!" tegur Ario. Anak-anak lainnya juga ikut menegur Shadiq. Akhirnya Shadiq pun kembali ke tempat duduknya di belakang.
Suasana kelas pun menjadi hening kembali hingga guru IPS datang, akhirnya pelajaran pun dimulai.
Istirahat pun tiba, Shahih langsung kembali membereskan barang-barang di lemarinya.
Ario dan Fashalay merasa iba melihatnya membereskan barang-barang itu sendirian. "Shahih, kamu nggak datang sama orang tua?" tanya Ario.
"Aku dari panti asuhan," ujar Shahih singkat. Akhirnya Ario pun terdiam, ia tidak berani mengungkit masalah orang tua lagi.
"Shadiq, bantuin aku memakaikan sprei ke kasurku. Aku juga minta beberapa peniti, Hasan!" ujar Shahih.
Secara spontan kedua anak itu langsung menurutinya, Shadiq langsung membantu mengangkat kasur Shahih ke bawah, pada akhirnya ia sendiri yang memakaikan sprei itu tanpa bantuan Shahih.
"Nggak mungkinlah, Shahih juga saudara kembar kami," ujar Hasan. "Eh? Heh! Yang benar saja? Serius? Shahih juga kembaran kalian?" tanya Fashalay tidak percaya.
"Shahih, kenapa diam saja? Kenapa nggak bilang kalau kalian saudara kembar?" tanya Ario.
"Dilihat dari manapun juga aku berbeda jauh dengan mereka berdua," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya, ia sudah tidak tersenyum ramah lagi.
Tak lama kemudian Alfa datang, hal itu membuat Shahih langsung berekspresi datar. "Kau... benar-benar Shahih kan?" tanya Alfa. Shahih tidak menjawab, ia langsung sibuk merapikan kasur ke dipannya.
"Shahih, ikut aku ke kantor," ujar Alfa kemudian pergi keluar kamar. "Dih! Menakutkan! Kenapa nggak dijawab pertanyaannya? Kamu bisa kena masalah loh! Dia galak banget!" ujar Ario.
Shahih mengabaikan perkataannya, ia pun pergi menuju tempat Alfa. Setelah masuk ke dalam ruangan Alfa, Shahih langsung tersudut di pojok ruangan.
"Di mana kamu selama ini? Kenapa kamu bikin paman khawatir? Paman cari-cari kamu selama ini loh! Paman kira kamu sudah nggak ada! Paman kira kamu sudah mati! Kalau masih hidup, kenapa kamu nggak pulang?" ujar Alfa, wajahnya benar-benar cemas.
__ADS_1
Sayangnya Shahih tetap berekspresi datar. "Sempit, paman bikin sesak nafas," ujar Shahih sambil mendorong tubuh Alfa.
Ia pun berjalan mengelilingi ruangan Alfa dengan tenang sembari sesekali menyentuh barang-barang di ruangan itu.
"Lagian untuk apa paman khawatir padaku? Paman siapa?" tanya Shahih, perkataan dan ekspresi dinginnya membuat Alfa terdiam sambil menelan ludah, ia baru kali ini mendengar Shahih berbicara banyak.
"Aku di depan rumah loh, tapi paman langsung pergi, seolah nggak lihat aku di sana. Juga lagian buat apa pulang? Nggak ada aku juga kalian semua tetap sehat-sehat saja," ujar Shahih sambil mengambil pisau sitaan yang tergantung di dekat jendela ruangan Alfa.
"Hei, paman! Paman nggak penasaran aku tinggal di mana sekarang?" tanya Shahih sambil memainkan pisau yang ada di tangannya.
"Letakkan itu, Shahih! Berbahaya!" ujar Alfa. Shahih tidak sengaja menjatuhkan pisau itu dan itu menancap di sandal yang ia kenakan.
Alfa langsung menghampirinya dan mencabut pisau itu. "Kan sudah paman bilang! Jangan mainan pisau! Nanti kalau kena kakimu gimana!" tegur Alfa.
"Yah, sayangnya masih ada banyak pisau yang belum jatuh loh," ujar Shahih sambil mengambil pisau yang masih menggantung.
"Shahih jangan mainan itu! Bahaya! Nanti mau paman buang! Jadi jangan buat mainan!" ujar Alfa, ia hendak merebut pisau yang dipegang Shahih, namun ia malah melukai tangan Shahih.
"Aduh, maaf! Itu pasti sangat sakit! Biar paman ambilkan pembersih luka!" ujar Alfa buru-buru, ia menjadi merasa bersalah karena tangan Shahih terluka.
"Nggak papa kok, luka kayak begini nggak sakit," ujar Shahih, meskipun begitu, Alfa tetap panik melihat darah yang menetes dari tangan Shahih, tampak tergesa-gesa mengambil kotak medis yang ada di lemarinya.
Saat Alfa sibuk menyiapkan pembersih, Shahih masih bermain pisau dengan tangannya yang berlumuran darah, ia mencoba menggores meja kerja Alfa dengan pisau.
"Shahih! Paman minta maaf! Paman nggak tahu apa yang membuatmu jadi begini! Sekali lagi paman minta maaf! Pokoknya lukamu harus dibersihkan dulu! Itu masih berdarah!" ujar Alfa, ia tidak berani meraih tangan Shahih karena Shahih masih memegang pisau.
Suasana dingin itu langsung berhenti karena bel pelajaran berbunyi. "Lah membosankan sekali, habis ini langsung pelajaran," ujar Shahih. Ia pun berjalan keluar ruangan sambil menyayat dinding dengan pisau yang dipenuhi bekas darahnya itu.
Ia pun langsung menjatuhkan pisau di depan pintu ruangan sambil tersenyum. "Selamat bekerja, paman!" ujarnya kemudian pergi dari hadapan Alfa.
Alfa yang sembari tadi menahan nafas karena kelakuan keponakannya itu pun langsung terduduk dengan menghembuskan nafas lega, ia benar-benar ketakutan, apalagi saat melihat noda darah di dinding dan pisau yang ada di depan pintu ruangannya itu.
__ADS_1