
"Hari ini kegiatan *** kalian ditiadakan karena harus menyambut tamu dari Eropa, mereka akan mengadakan seminar mengenai beasiswa di luar negeri, jadi pelajaran matematika hari ini ditunda dulu," ujar Anita.
Anak-anak tampak kegirangan, mereka merasa terbebas dari sebuah penjara setelah mendengar pengumuman itu.
"Oh! Sepertinya kalian senang kalau saya nggak ngajar di sini, tapi kenapa Syihab kelihatan sangat kecewa?" tanya Anita keheranan.
"Bu.. bukan apa-apa kok bu, kita sudah membayar SPP di sini untuk mendapatkan pelajaran, namun malah ditiadakan seenaknya," ujar Syihab tidak terima.
"Hmm! Sepertinya Syihab sangat bersemangat di pelajaran matematika! Kalau begitu saya akan memberikan pelajaran ekstra pekan depan, harap siapkan materi kalian dengan baik yah!" ujar Anita.
Setelah wanita itu pergi, anak-anak sekelas pun langsung kesal dan menyoraki Syihab. "Lah! Kalau kau begitu semangat, harusnya masuk kelas IPA saja! Ngapain di sini?" tanya salah seorang anak.
"Eh? Kok ngungkit-ngungkit kelas IPA sih? Kalian sangat diskriminasi sekali! Katanya IPS solid! Kok jadi gini sih?" Faisal langsung angkat bicara untuk membela Syihab.
"Teman-teman, nggak usah salah paham. Syihab cuma caper sama bu Anita aja, bukannya dia pegiat matematika atau sebagainya," ujar Ifan meluruskan. Suasana kelas yang begitu panas pun mereda karena perkataannya.
Akhirnya anak-anak pun pergi keluar kelas untuk menyambut tamu di aula. Saat itulah Faisal dan Ifan masih berada di dalam kelas.
"Hmm! Kayaknya kelakuan Syihab makin parah sih, walaupun pintarnya nggak pernah berkurang. Caranya nggoda bu Anita tuh dah nggak ngotak! Aku khawatir kelas kita bisa kena sidang tengah malam," ujar Faisal.
"Tenang aja! Nyatanya nggak sampai dipanggil sidang kok, damai-damai aja kita," ujar Ifan dengan santai.
"Benar sekali! Selama hampir tiga tahun ini.... kenapa nggak ada masalah sama sekali? Bikin penasaran!" ujar Faisal.
"Bukankah sudah jelas? Bu Anita juga menyukai Syihab, ia nggak mungkin melaporkan orang yang ia sukai," ujar Ifan.
"Enak sekali hidup Syihab yah, kudengar dulu ia anak orang kaya, sebelum tinggal bersama pamannya. Selain pintar, mukanya juga ganteng," ujar Faisal.
"Sudahlah nggak usah biacarain itu, lama kelamaan kau bakal iri dengki padanya," ujar Ifan.
"Hei, nggak mungkin lah! Syihab tuh teman kita! Aku tetap nggak nyangka aja bu Anita bisa menyukainya! Ah, guru yang menyukai muridnya? Apakah cuma pikiranku yang menjadi liar setelah membayangkan cerita drama seperti itu?" tanya Faisal.
"Kalau pikiranmu jadi liar, lampiaskan di kamar mandi saja, jangan ceritakan padaku," ujar Ifan.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Ifan! Nggak boleh gitu loh!" ujar Faisal sambil menggeleng kepala. "Apaan? Memangnya kau nggak pernah melakukan hal itu? Bohong! Nggak mungkin nggak pernah! Semua pria pasti pernah melakukannya, nggak sekali dua kali! Pria yang nggak pernah melakukan hal itu kemungkinan cuma ada dua alasannya, antara nggak punya tangan atau nggak punya tongkat, bahkan orang kayak Syihab pun pasti sering melakukannya," ujar Ifan.
"Ada kok yang nggak pernah, menurutku ustadz Alfa nggak pernah melakukan hal itu," ujar Faisal.
"Kata siapa? Emangnya kau pernah lihat?" tanya Ifan. "Tapi kayaknya cuma dia yang kelihatan berbeda dari ustadz-ustadz di sini. Kau tahu? Hanya ada laki-laki di asrama ini, biasanya orang-orang tak akan berkedip sekali melihat ada wanita di sini. Sayangnya ustadz Alfa tampak acuh tak acuh meskipun banyak wanita cantik yang lewat di hadapannya," ujar Faisal.
"Mungkin dia lemah syahwat," ujar Ifan. "Lemah syahwat apaan? Kenapa kalian nggak langsung pergi ke aula? Ada absen loh! Semua disuruh tanda tangan sebelum masuk aula," ujar Syihab yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas.
"Argh! Menyebalkan sekali! Emangnya kita mau hadir di acara bagi-bagi sembako? Ngapain pakai tanda tangan segala?" keluh Faisal.
"Sudahlah! Ayo kita ke aula! Ada bule wanita juga loh di sana katanya!" seru Syihab. "Bule? Wanita? Rambut pirang kah? Matanya biru?" tanya Faisal penasaran. Kalau mau lihat, ayo ke aula.
"Lah, nggak usah jauh-jauh buat lihat bule, di depan kita ini juga ada bule kok, bule bermata coklat," ujar Ifan.
"Benar sekali, Syihab Si Hot Daddy emang bule kulit sawo matang," ujar Faisal tertawa. "Kalau warna kulitnya lebih putih sedikit kayak adik terakhirnya, mungkin bener-bener kayak bule!" ujar Ifan.
"Yeah, lebih gagah seperti ini, jadi kelihatan garang. Aku nggak sadar kalau setiap hari lihat bule Jawa di sini," ujar Faisal.
"Nggak boleh gitu Syihab! Kau sudah punya bu Anita kan? Jangan lihat wanita lain dong," ujar Faisal.
"Aish! Sudahlah! Ayo kita pergi ke aula saja!" ujar Syihab sambil merangkul bahu mereka berdua.
"Daddy, kau nggak pernah kepikiran punya kulit seperti adikmu?" tanya Faisal. Saat ia berbicara seperti itu, tiba-tiba Shahih muncul di hadapan mereka dengan keranjang berisi peralatan bersih-bersih. Mereka pun terhenti karena terkejut.
"Kenapa kalian kaget? Kayak habis bicarain aku di belakang," ujar Shahih curiga. "Nggak kok, kenapa kamu pakai celemek Cleaning Service? Kamu tukang bersih-bersih kah?" tanya Faisal.
Shahih tidak mendengarkan, ia merasa terganggu dengan noda putih yang ada di bahu Syihab, ia pun membersihkannya dengan kemoceng yang ada di keranjangnya. Syihab hanya tersenyum saat anak itu mencoba jinjit untuk mencapai bahu Syihab.
"Ternyata kamu kecil sekali yah, Shahih," ujar Syihab sambil mengacak-acak rambut Shahih. "Kalian mau ke mana? Bolos kelas?" tanya Shahih. Faisal pun tertawa. "Kakakmu mana berani membolos," ujar Ifan.
"Ada seminar di aula, anak SMA suruh nyambut kedatangan orang luar negeri," ujar Syihab. Akhirnya mereka bertiga pun berlalu dari hadapan Shahih.
Karena penasaran, Shahih pun mengikuti mereka dan mendapati beberapa ustadzah sedang berdebat dengan seorang bule wanita mengenai kerudung. Ia pun tidak sengaja melihat Adam dan Jordan berada di ruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa mereka di sini?" Shahih keheranan, ia pun terus memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan.
"Hei, Shahih! Kenapa nggak masuk kelas?" tanya Alfa tiba-tiba. "Kelasnya kosong, ustadzah sedang sakit," ujar Shahih.
"Bukankah seharusnya ada tugas? Kenapa di luar?" tanya Alfa keheranan. "Aku sudah selesai!" ujar Shahih kemudian pergi meninggalkan Alfa.
Dua jam setelahnya ia mendapati Adam dan Jordan berkeliling asrama. Saat itulah ia memberikan isyarat pada pria itu lalu pergi ke ruang tamu.
Adam pun berpura-pura ingin pergi ke toilet, lalu diam-diam mengikuti Shahih ke ruang tamu. Setelah benar-benar sepi, Shahih menutup pintu ruang tamu.
"Ngapain paman ke sini?" tanya Shahih. "Kayaknya menyenangkan jadi paman ingin tahu gimana kau hidup di kandang ini," ujar Adam.
"Sebaiknya segera pergi dari sini! Jangan lakukan hal macam-macam!" ujar Shahih. "Jahat sekali! Aku ke sini untuk menyerahkan hasil tes DNA yang kau minta loh! Itu tidak murah," ujar Adam sambil memberikan sebuah dokumen pada Shahih.
"Sebenarnya siap pemilik DNA itu? Anak ayahmu dengan wanita lain? Atau DNAmu sendiri?" tanya Adam.
"Kalau kau bilang begitu, berarti hasil dari tes DNA ini cocok setidaknya 99%," ujar Shahih kemudian meletakkan dokumen itu di bawah keranjangnya, ia hendak pergi.
"Hei! Tanpa terima kasih? Langsung pergi begitu saja?" tanya Adam. "Apalagi yang perlu dibicarakan?" tanya Shahih kesal.
"Hati-hatilah, ada agen rahasia juga di tempat ini, kau mungkin akan dicurigai olehnya. Kudengar agen itu adalah anak-anak dari salah satu negara. Tugasnya adalah untuk mengacaukan ajaran agama di tempat ini. Aku tidak keberatan dengan hal itu, tapi jangan sampai ia melaporkan pergerakan mencurigakan darimu," ujar Adam memperingatkan.
"Oh, anak yang itu? Sudah kuduga! Jadi ini alasannya?" tanya Shahih. "Apa? Kau sudah tahu tentang hal ini? Dari mana? Sejak kapan?" tanya Adam.
"Sejak awal masuk. Tenang saja, ia tidak akan bisa menilaiku. Kegiatanku, kepribadianku, temperamenku, kebiasaanku, semuanya kubuat berbeda agar ia tidak mudah mencari identitasku," ujar Shahih.
"Baguslah kalau begitu. Semoga kau bisa dekat dengannya tanpa membuatnya mencurigaimu," ujar Adam.
"Untuk apa akrab dengannya? Kau berharap keyakinanku bisa rusak karena anak itu? Entah kenapa aku jadi punya tujuan baru datang ke asrama ini," ujar Shahih.
"Apa maksudmu?" tanya Adam. "Kalau misi anak itu adalah merusak moral anak-anak di sini, maka tujuanku adalah menghentikan hal itu, aku bisa membuka hatinya untuk menerima keyakinan ini," ujar Shahih.
"Berbuatlah sesukamu, asalkan kau tidak menghambat misiku, silahkan lakukan apa saja," ujar Adam. "Baiklah," ujar Shahih kemudian pergi meninggalkan Adam.
__ADS_1