
Ghozali mencoba pergi ke pasar, ia sangat malu sekali karena baru pertama kalinya ia pergi ke tempat seperti itu, apalagi karena orang-orang terus menatapnya.
Di siang hari matanya yang coklat terlihat sangat mencolok dan itu menarik perhatian orang-orang.
"Nak, matamu bagus sekali," ujar salah seorang wanita paruh baya, Ghozali hanya bisa tersenyum menyapanya. "Mau cari bahan makanan? Ibu bisa bantu cari loh," ujar wanita paruh baya itu, ia langsung menuntunnya ke tempat penjualan sayur-sayuran yang masih segar.
"Wah! Wah! Nggawa sapa maning kuwe? Waduh!" ujar salah seorang pria paruh baya. Ghozali tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Kiye mase njaluk tulung digoletna sayur," jawab wanita paruh baya itu. Ghozali hanya bisa menggaruk-garuk kepala, ia benar-benar tidak paham sampai keringat bercucuran membasahi kaos yang ia kenakan.
"Loh koe ke aneh! Bujangan enom kok diajak ngobrol kayak ngono kuwi, ya ora paham!" ujar pria paruh baya itu kemudian menghampiri Ghozali.
"Nyari apa mase? Di sini sayuran ada banyak, tempe juga ada, tahu juga ada," ujar pria itu. Ghozali pun mengangguk, ia pun bertanya tentang bahan-bahan yang bagus.
Pria itu pun menunjukkan beberapa penjual dan menuntunnya untuk berbelanja. "Baru pertama kali ke sini mase?" tanya pria itu. Ghozali pun mengangguk.
"Pengantin baru kah?" tanya pria itu. Ghozali sungguh mau untuk mengatakan sebenarnya, ia mungkin akan dikira aneh jika mengatakan sudah punya lima anak, ia hanya menggeleng. "Sebenarnya saya sudah punya anak," ujar Ghozali.
"Aduh, kasihan sekali sampai suami yang harus belanja, pasti istri sedang sibuk jaga anak! Kenapa nggak sewa pembantu saja?" tanya pria paruh baya itu.
"Saya nggak tahu mau cari pembantu di mana, belum terlalu kenal lingkungan ini," ujar Ghozali.
"Oh! Kalau begitu kebetulan sekali! Bisa minta istri saya saja buat ngurusi rumah, biar kamu nggak kerepotan dengan pekerjaanmu!" seru pria itu.
"Istri bapak?" tanya Ghozali. "Iya, Lehah! Mrene oh! Kiye ana wong njaluk tulung!" ujar pria itu. Seorang wanita paruh baya pun datang.
"Ana apa ta pak?" tanya wanita itu. "Kiye mase lagi nggolet pembantu," ujar pria itu. "Oh! Walah! Mase sing njal......." Wanita itu berhenti bicara saat melihat wajah Ghozali.
"Masnya yang sedang cari pembantu?" tanya wanita itu, ia mengganti bahasanya. "Iya bu," ujar Ghozali agak malu-malu.
"Hahaha! Santai saja sama saya! Kalau masalah pekerjaan rumah gampang! Momong anak juga gampang," ujar wanita itu.
"Ba.... baik bu," ujar Ghozali, sekali lagi ia tampak gugup. "Nggak usah kaku begitu! Panggil saja Wak Lehah," ujar wanita itu.
__ADS_1
"Hmm, karena ini masih pagi, mungkin Wak Lehah bisa lihat-lihat rumahmu dulu!" Wanita menambahkan.
"Baiklah, mari, Wak Lehah!" ujar Ghozali, ia mengajak wanita paruh baya itu ke rumahnya.
Wak Lehah terkejut saat melihat rumah Ghozali. "Ternyata lebih dekat yah! Selain itu, nggak nyangka rumah sebesar ini!" ujar Wak Lehah. Ghozali hanya garuk-garuk kepala.
Ia pun mempersilahkan masuk. "Maaf karena rumah kami berantakan," ujar Ghozali. "Loh? Istri kamu mana? Kenapa rumahnya sepi sekali?" tanya Wak Lehah.
"Ehm, sebenarnya istri saya sedang dirawat di rumah sakit," ujar Ghozali. "Oh Walah! Pantas saja!" Wak Lehah menepuk-nepuk punggung Ghozali.
Anak-anak pun langsung penasaran dengan siapa yang datang, suara wanita paruh baya itu lumayan keras hingga terdengar ke kamar mereka.
Wak Lehah langsung merasa gemas melihat Shadiq dan Hasan yang mengintip dari tirai ruang keluarga.
"Wah Siapa itu? Anak kembar? Menggemaskan sekali!" ujar Wak Lehah. Shadiq dan Hasan pun langsung menutup tirai karena Wak Lehah melihat mereka.
"Hahaha, iya! Mereka anak terakhir saya," ujar Ghozali. "Mirip masnya ternyata!" ujar Wak Lehah.
"Oh, boleh! boleh!" ujar Ghozali mempersembahkan. Wak Lehah pun mengambil bahan makanan yang ada di tangan Ghozali dan menaruhnya di dapur.
"Wah! Luar biasa! Dapur ini sangat lengkap peralatannya!" seru Wak Lehah, ia merasa takjub, ia tidak menyangka akan bekerja di rumah orang kaya.
Ia pun mulai menata bahan makanan dan mencucinya. Zahra pun keluar dari kamarnya dengan kucing. "Wah! Cantik sekali! Kamu pasti mirip ibumu yah! Kucingnya juga imut sekali!" seru Wak Lehah sambil mengelus-elus kepala kucing itu.
Zahra masih sempat kesal karena Wak Lehah menyentuh peralatan dapur. "Mau ikut bantu Wak Lehah masak? Ayo sini! Biar bisa masak sendiri!" ajak Wak Lehah. Zahra yang awalnya kesal pun mencoba mendekatinya.
"Nah kucingnya taruh di sini dulu, biar nanti dia yang cicipi makanannya," ujar Wak Lehah sambil meletakkan kucing itu di atas meja.
Entah kenapa rasa kesal Zahra menghilang, ia langsung ikut mencuci sayuran yang baru saja dibeli.
"Ayah! Aku lapar!" keluh Syihab sambil berjalan ke dapur dengan sempoyongan.
"Siapa itu?" bisik Wak Lehah kepada Zahra. "Kak Syihab, orang paling pemalas sedunia," bisik Zahra, mereka berdua tertawa bersama. Syihab langsung kembali ke kamar setelah menyadari ada orang asing di dapur. Ia langsung mengunci pintu kamar dengan perasaan malu.
__ADS_1
Wak Lehah h ndak mengambil sesuatu pada lemari besar yang ada di dapur, ia dikejutkan dengan Shahih yang sedang duduk di atas lemari.
"Astaghfirullah! Mengagetkan saja!" ujar Wak Lehah. "Shahih! Nggak sopan! Cepat turun!" ujar Zahra.
"Sejak kapan dia ada di situ?" tanya Wak Lehah. "Huh, sejak tadi pagi. Shahih memang suka duduk di atas sana," ujar Zahra.
Wak Lehah menengok ke sana kemari dengan wajah keheranan. "Gimana caranya dia ke situ?" tanya Wak Lehah. Zahra tidak kepikiran untuk mengetahui hal itu. Ia juga tidak tahu bagaimana Shahih bisa berada di atas sana.
"Entahlah, aku nggak pernah lihat dia naik," ujar Zahra. "Shahih, turun sekarang, nanti jatuh loh!" ujar Wak Lehah. Akhirnya Shahih pun berdiri di atas lemari.
"Hati-hati Shahih!" ujar Wak Lehah, namun anak itu langsung terjun ke bawah tanpa ragu. "Ya ampun! Bikin kaget saja! Nanti kalau kakimu patah gimana?" ujar Wak Lehah. Shahih nggak peduli, ia langsung pergi dengan bukunya.
"Ia suka sekali memegangi buku," ujar Wak Lehah. "Dia memang suka membaca," ujar Zahra. "Suka membaca? Padahal masih kecil loh! Eh, sepertinya umurnya sama saja katak si kembar tadi," ujar Wak Lehah. "Mereka bertiga memang kembar," ujar Zahra.
"Eh? Kembar tiga?" Wak Lehah tidak percaya. "Oh iya, ini mau diapain lagi Wak Lehah?" tanya Zahra sambil menyerahkan sayuran yang sudah ia potong-potong.
"Habis ini kita langsung masukkan sayur ke kuah yang sudah dibumbui tadi, jangan lupa dicicipi dulu rasanya," ujar Wak Lehah. Zahra pun teringat dengan makanannya yang sangat asin karena tidak mencicipinya saat memasak.
Zahra pun mengangguk semangat lalu memperhatikan cara Wak Lehah memasukkan sayuran itu ke dalam panci.
"Diaduknya juga harus seperti ini, biar bumbunya meresap ke seluruh bagian sayurnya," ujar Wak Lehah.
Ghozali terus memperhatikan Zahra dari kejauhan, seolah melihat nenek dan cucu sedang memasak bersama.
Sayangnya kedua orang tuanya sudah meninggal, ia belum sempat memamerkan anak-anaknya kepada mereka dan itu membuatnya sedih. Meskipun begitu, ia merasa senang karena memiliki mertua seperti Hamid, ia bahkan menganggapnya seperti ayahnya sendiri.
Selagi menatap Zahra, tiba-tiba Shahih lewat di depannya. Anak itu tidak ikut berbaur dengan kedua saudara kembarnya. Ia memilih duduk sendirian di pojok ruang tengah sambil membaca bukunya.
Ghozali pun teringat dengan pesan Aisyah, akhirnya ia mencoba memeriksa dokumen yang ada di atas lemari kamarnya.
Ia sudah mendapati atas lemari itu tidak berdebu lagi, banyak sekali berkas-berkas menumpuk di atasnya.
"Gimana caranya kamu mengumpulkan semua ini, sayang? Aku benar-benar nggak nyangka," ujar Ghozali sambil terus memeriksa berkas-berkas itu.
__ADS_1