
"Nama adek..... Shahihul Mufid, benar?" tanya Adam, salah satu teman Ghozali yang membuka klinik psikiatri. Shahih mengangguk, ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya, ia tidak tahu apapun tentang tempat itu.
"Paman dengar.... adek punya kembaran, benarkah?" tanya Adam. Shahih tampak malas menjawab, ia hanya memperhatikan kamera CCTV yang membuatnya tidak nyaman itu, ia merasa sedang diawasi.
Memang sesuai firasatnya, Ghozali dan Aisyah berada di ruangan yang berbeda sedangkan mereka terus memperhatikannya lewat layar monitor yang terhubung dengan CCTV itu.
"Ada apa Shahih?" tanya Adam keheranan, ia belum tahu apa yang sejak tadi Shahih perhatikan.
"Shahih, bisa jawab pertanyaan paman?" tanya Adam sekali lagi. Shahih tidak menjawab, ia langsung melepaskan satu karet gelang yang ada di tangannya lalu membidik CCTV dengan karet itu.
Aisyah dan Ghozali sempat terkejut karena karet itu tepat mengenai kamera. "Ada apa dek? Kenapa dengan benda itu?" tanya Adam keheranan. Shahih tidak menjawab, ia mengambil beberapa karet lagi yang ada di pergelangan tangannya dan membidik kamera CCTV terus menerus.
Kamera itu sempat tergeser dari posisi aslinya. "Ba.. baiklah-baiklah! Paman akan mematikan itu," ujar Adam panik, ia tidak ingin Shahih terus membidik kamera itu hingga rusak.
Adam pun keluar ruangan, ia menuju ke tempat Aisyah dan Ghozali. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia melakukan itu?" tanya Ghozali keheranan.
"Bu.. bukan apa-apa, aku akan kembali menanyakan beberapa hal padanya," ujar Adam. Ia pun langsung kembali ke ruangan Shahih tanpa melakukan apapun.
Lagi-lagi Shahih membidik kamera itu dengan karet yang ada di pergelangan tangannya, ia pun sampai tidak sadar kalau karet di tangannya sudah habis, ia hendak melempar bolpoin yang ada di meja.
"Oh! Stop! Stop! Jangan lempar itu! Nanti pecah!" ujar Adam panik. Kali ini ia kembali ke ruangan Ghozali dan benar-benar mematikan monitor.
"Loh? kenapa dimatikan?" tanya Ghozali keheranan. "Maaf, anakmu lebih cerdas dari yang kupikirkan. Ia tidak ingin diawasi seperti itu," ujar Adam, ia pun kembali ke ruangan Shahih.
Kali ini Shahih duduk dengan tenang, ia tidak melempar sesuatu ke kamera lagi.
"Sepertinya kamu sudah tahu kalau CCTV itu dimatikan," ujar Adam, kali ini ia bicara dengan bahasa orang dewasa, ia mencoba menguji Shahih.
Shahih langsung mengambil bolpoin yang di meja lalu mencoret-coret buku jurnal milik Adam.
"Kamu kidal?" tanya Adam. "Kidal itu apa?" tanya Shahih. "Cenderung melakukan aktivitas sehari-hari dengan tangan kiri," ujar Adam. Shahih tidak terlalu mengerti apa yang Adam katakan, namun setelah mendengar kata 'tangan kiri', ia langsung memindahkan bolpoin itu ke tangan kanannya.
"Apa yang sedang kamu gambar?" tanya Adam. "Mata....." ujar Shahih sambil terus mencoret-coret buku jurnal. "Mata?" Adam meminta Shahih melanjutkan.
"Mulut, dan dahi," ujar Shahih kemudian menyerahkan kembali buku jurnal itu. Adam merasa terkesan dengan gambaran yang Shahih buat, ia benar-benar tidak percaya dengan perbuatan anak itu.
__ADS_1
Ia pun langsung mengajak Shahih keluar. "Adek tunggu di sini dulu yah, paman mau bicara dengan ayah dan ibumu," ujar Adam. Shahih langsung menggapai tangan Adam lalu menariknya kuat-kuat, ia bahkan menusuk punggung tangan Adam dengan bolpoin lalu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ba... baiklah, paman nggak akan bilang apa-apa pada ayah dan ibumu," ujar Adam, Shahih pun kembali tenang.
"Gimana keadaan anakku dok?" tanya Ghozali. "Dia baik-baik saja kok, sebaiknya kalian perlakukan dia dengan baik. Aku menemukan tanda-tanda bahwa ia sering diasingkan," ujar Adam.
"Loh? Tanganmu kenapa?" tanya Ghozali keheranan. "Oh? Ini? Ini bukan apa-apa," ujar Adam kemudian menyembunyikan tangannya.
Akhirnya mereka pun pulang setelah mendapatkan beberapa saran dari Adam.
"Sekarang kita sudah mengetahui permasalahannya, apakah itu bisa membuatmu merasa lebih baik, sayang?" tanya Ghozali. Aisyah pun mengangguk, namun ia tetap tidak mengerti kenapa Shahih merasa diasingkan.
"Sebenarnya siapa yang mengasingkan Shahih mas? Aku nggak paham!" ujar Aisyah. Ia terus menatap dua kembar yang sedang asyik bermain tanpa Shahih.
"Kenapa kalian hanya berdua saja? Ajak Shahih bermain juga! Dia adik kalian loh!" tegur Aisyah, ia merasa frustasi karena tidak bisa menemukan akar masalahnya.
"Sabar, sayang! ntar juga kelihatan! Kita pasti bisa mengatasinya," ujar Ghozali. Aisyah pun melihat Zahra langsung menghampiri Shahih yang sedang duduk sendirian, ia bahkan mengajaknya ngobrol.
"Zahra, bisa ikut ibu sebentar?" tanya Aisyah, ia juga mengajak Ghozali masuk ke kamar. "Ada apa sayang? Kenapa mengajakku masuk juga?" tanya Ghozali keheranan.
Sayangnya hal itu membuat Ghozali semakin tidak nyaman, parfum kamar itu terasa sangat menyengat.
"Ada apa bu? Kenapa tiba-tiba ke sini?" tanya Zahra penasaran. "Gimana sekolahmu? Apakah baik-baik saja?" tanya Aisyah. "Nggak kenapa-kenapa kok, cuma mataku agak pegal kalau baca buku. Bu guru juga sering menegur karena aku membaca terlalu dekat," ujar Zahra.
"Hmm! Sepertinya perlu diperiksakan matamu itu," ujar Ghozali. "Lalu... gimana Shahih di sekolah? Sering bermain dengan teman-temannya?" tanya Aisyah penasaran.
Zahra tampak ingin mengeluarkan keluh kesahnya. "Jangankan teman, bu! Ngobrol sama Shadiq dan Hasan juga nggak pernah," ujar Zahra.
"Loh? Kok nggak pernah? Kenapa?" tanya Aisyah keheranan.
"Ibu sama ayah aneh banget! Baru tanya sekarang? Sekolah tuh satu bangku cuma buat dua orang! Shadiq dan Hasan memang duduk di depan, tapi Shahih nggak dapet tempat duduk bu! Dia duduk di pojok belakang sendirian! Lagian kenapa ayah dan ibu nggak nanyain sendiri? Kenapa harus tanya aku?" Zahra semakin heran, ia ingin menunjukkan betapa malangnya nasib adiknya itu, namun tidak tahu harus berkata apa lagi.
Aisyah dan Ghozali hanya bisa terdiam, mereka pun langsung keluar dari kamar Zahra dan masuk ke kamar Ghozali.
Mereka langsung duduk termenung. "Kayaknya nggak ada yang dekat dengan Shahih kecuali Alfa, ini semua salahku! Dia harus menghadapi hari-hari yang nggak pernah berjalan sesuai harapannya, tapi nggak ada yang mendukungnya. Aku benar-benar ibu yang bodoh!" ujar Aisyah menyesal, ia berkali-kali memukul kepalanya sendiri karena merasa kesal.
__ADS_1
"Tenanglah sayang! Kamu nggak salah apapun! Jangan begini!" ujar Ghozali menenangkan.
"Lalu apa? Ini semua salah anak itu? Dia lahir tanpa tahu apapun mas! Kamu mau nyalahin dia?" tanya Aisyah.
"Bukan begitu Aisyah, ini salahku karena nggak pernah ngobrol dengannya," ujar Ghozali. "Apa? Bahkan mas nggak pernah ngobrol dengannya?" Wajah Aisyah tampak kecewa, ia bahkan baru mengetahui hal itu, padahal ia pikir selama ini Ghozali selalu akrab dengan anak laki-lakinya. Ghozali hanya menggeleng kepala dengan perasaan bersalah.
"Kamu anggap dirimu seorang ayah mas? Sumpah, aku baru tahu ini mas! Kukira kamu sering ngobrol dengan mereka loh! Aku sering lihat kamu bercanda dengan Syihab dan anak-anak laki-laki lainnya. Apakah aku terlalu bodoh karena menganggap anak laki-laki nggak terlalu dekat dengan ibunya? Dia terus menghindariku loh mas! Kupikir yang bisa kuajak bicara dengan nyaman hanya Zahra, sedangkan kamu bisa bicara nyaman hanya dengan mereka, tapi kamu malah buat pengecualian untuk Shahih? Kenapa mas? Ya Allah! Lalu selama ini dia hidup dengan siapa? Alfa? Dia bukan ayah Shahih mas! Kamu ayahnya!" teriak Aisyah.
Meskipun terdengar sepele, permasalahan ini membuat pikiran Aisyah semakin kacau. "Iya, maaf sayang! Aku nggak tahu harus gimana! Dia selalu diam seperti nggak ada masalah," ujar Ghozali.
"Kamu nunggu dia bermasalah mas? Nunggu kayak Syihab? Harus sampai membuatmu geram hingga memukulnya baru kamu mau ajak dia bicara? Dia anak kecil loh mas! Harusnya kamu yang ajak dia bicara! Masa kalah sama Alfa! Dia bahkan selalu menghampiri Shahih setiap ada kesempatan buat datang ke sini. Tapi kamu yang setiap hari pulang... malah nggak ada inisiatif untuk menghampirinya?" Pikiran Aisyah menjadi semakin keruh.
Selagi mereka mempeributkan hal itu, Shahih terus mendengar pembicaraan mereka. Meskipun ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, mendengar namanya berkali-kali disebutkan membuatnya murung. Bahkan Shadiq dan Hasan semakin menjaga jarak darinya karena mereka pikir keberadaan Shahih membuat kedua orang tua mereka bertengkar.
Alfa pun datang dan terus mendengar keributan itu. Ia juga sempat berkali-kali mendengar nama Shahih disebutkan mereka berdua.
Akhirnya ia pun menutup telinga Shahih lalu mengajaknya keluar rumah. "Lebih segar di luar rumah kan?" tanya Alfa, Shahih hanya mengangguk setuju.
"Besok Shahih tinggal di pesantren saja yah, biar nggak dengar teriakan mereka. Kamu benci orang yang berisik kan?" tanya Alfa. Shahih hanya mengangguk.
"Ngomong dong! Kamu kan punya mulut!" ujar Alfa. "Iya, paman!" ujar Shahih kemudian tersenyum hingga gigi serinya terlihat.
Wajahnya yang manis itu membuat Alfa teringat akan masa kecilnya. "Shahih harus hati-hati kalau berteman ya!" Alfa memperingatkan.
Ia pun kembali masuk ke dalam lalu mengetuk kamar Ghozali. Aisyah segera membukanya dan terkejut.
"Kalian senang mempeributkan anak kalian? Shahih salah apa sih? Kenapa kalian nggak bertengkar di tengah lapangan saja? Biar semua orang dengar! Nggak cuma Shahih doang!" ujar Alfa.
Ia benar-benar emosi karena keponakannya selalu diperlakukan buruk seperti itu. "Aku tahu akar masalah ini, pasti gara-gara landak itu kan? Pasti dia yang buat masalah! Setelah kakakku, lalu Syihab, kini kamu juga bikin masalah sama Shahih?" Alfa sudah tidak bisa menahan emosinya, namun saat itu Shahih menarik lengan bajunya, ia menahan kepalan tangan Alfa.
"Oh, Shahih! Maafkan paman! Kamu nggak papa kan? Tanganmu sakit? Pasti kamu kaget karena menarik lengan paman," ujar Alfa khawatir.
Shahih hanya mengangguk, Alfa pun membawanya ke kamar. Ia masih ingin menghibur anak itu lebih lama, namun seseorang menelponnya, memintanya untuk segera ke pesantren.
"Maaf, Shahih! Paman pergi dulu yah!" ujar Alfa kemudian keluar dengan terburu-buru. "Awas saja kalau kalian meneriaki nama Shahih lagi! Aku bakal bilang Abi!" ujar Alfa kemudian pergi keluar rumah.
__ADS_1