Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Pesantren Al-Ghifari


__ADS_3

Hasan tampak mual sambil menyandarkan kepalanya di punggung kursi yang ada di depannya. Wajahnya benar-benar pucat.


"Kenapa, Hasan?" tanya Shadiq panik, ia tidak tahu harus berbuat apa saat menyaksikan wajah Hasan yang semakin pucat.


"Sepertinya dia mabuk kendaraan," ujar Shahih, ia mengambil jeruk yang ada di tasnya. Alih-alih memberikan jeruk itu kepada Hasan, Shahih hanya memberikan kulit sisanya, sedangkan ia menghabiskan jeruk itu untuk dirinya sendiri.


"Kamu bercanda? Untuk apa sampah ini kamu berikan pada Hasan?" tanya Shadiq keheranan, ia benar-benar panik melihat keadaan Hasan, apalagi anak itu terus membuka mulutnya seperti orang yang sedang tercekik.


"Kau ini banyak tanya! Kalau panik begitu kau bisa ikut mabuk juga loh!" ujar Shahih sambil merebut kulit jeruk yang dipegang Shadiq.


Ia pun menyumbat hidung kedua anak itu dengan kulit jeruk yang ia gulung. "Hei! Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Shadiq, ia hendak melepas kulit jeruk yang ada di hidungnya.


"Sudahlah, pakai saja!" ujar Shahih. "Aku nggak bisa nafas!" ujar Shadiq. "Nafas pakai mulut kan bisa!" ujar Shahih.


"Aku dah nggak kuat! Pengin muntah!" ujar Hasan, gerakannya mulai enerjik meskipun sempat lemas. Ia sangat panik karena bingung hendak muntah di mana.


Shahih langsung mengeluarkan kresek dari tasnya lalu memberikan itu pada Hasan. Akhirnya anak itu langsung memuntahkan semua makanan yang ia makan pagi ini.


Shadiq yang menyaksikan hal itu ikutan mual juga, apalagi saat melihat Hasan terus memuntahkan isi perutnya.


"Siapa suruh kau lihat orang muntah? Ya ampun!" Shahih hanya bisa mengerutkan dahi, ia langsung memberikan kresek pada Shadiq juga.


"Kalian bertiga akrab sekali yah! Saudara?" tanya salah seorang wanita paruh baya, ia merasa gemas melihat tingkah laku anak kembar yang kepayahan di dalam bis itu.


"Hehe, iya bu! Merek berdua kakakku," ujar Shahih sambil memasang wajah ramah, Shadiq dan Hasan sempat terdiam, baru kali ini mereka melihat wajah Shahih bisa seramah itu.


Akhirnya bus pun berhenti di tempat tujuan, Shahih langsung keluar dari bus sedangkan Shadiq mengikutinya.

__ADS_1


"Loh? Mana Hasan?" tanya Shahih. "Masih di dalam," ujar Shadiq singkat tanpa rasa bersalah. Shahih hanya menghela nafas panjang, ia berusaha sabar sambil kembali ke dalam bus lalu menarik paksa lengan Hasan.


Akhirnya mereka bertiga pun duduk di halte untuk menghilangkan penat mereka. "Besok-besok aku nggak mau naik bus lagi! Baunya nggak enak!" ujar Hasan.


"Kau kayak orang hamil saja sampai mual cuma gara-gara bau bus," ujar Shahih. "Memang bikin mual, aku juga nggak tahan sama baunya," ujar Shadiq.


"Ya sudah, terserah kalian. Kita pergi sekarang," ujar Shahih. Akhirnya mereka bertiga berjalan kaki ke jalan kecil di sebuah pedesaan.


"Baru kali ini aku pergi jauh-jauh dari rumah tanpa orang dewasa! Rasanya agak aneh," ujar Hasan sambil melihat sekelilingnya.


"Matamu nggak usah jelalatan ke mana-mana, Hasan! Jalan biasa saja! Kayak anak yang baru saja pulang sekolah," ujar Shahih.


Mereka bertiga terus menelusuri jalan setapak hingga menemukan sebuah gedung di pinggiran sawah.


"Wah! Itu pesantren Al-Ghazali!" seru Shadiq. "Al-Ghifari! Kau nggak bisa baca tulisannya kah?" tanya Hasan keheranan.


Saat mereka menghampiri gedung itu, tampaknya gerbang sudah terkunci rapat dan sepi, hanya terdengar suara berisik dari tukang yang sedang merenovasi bangunan.


"Wah! Enak banget! Bisa keluar-keluar setiap hari dong?" tanya Hasan. "Jelaslah, merek kan juga perlu sekolah," ujar Shadiq.


"Bukankah sekarang harusnya hari libur? " tanya Hasan. "Kayaknya sengaja disuruh keluar gara-gara ada renovasi di sini," ujar Shahih.


"Kamu tahu banyak ternyata! Jadi memang benar kau tinggal di sini?" tanya Hasan. Shahih tidak menjawab.


Tak lama kemudian bunyi perut Shadiq dan Hasan terdengar keras. "Aduh! Kayaknya gara-gara habis muntah tadi, aku jadi lapar," ujar Hasan. "Kalian bawa uang?" tanya Shahih. Shadiq dan Hasan hanya bisa menggeleng.


Akhirnya Shahih mengajak mereka menuju ke pasar. Tempat itu terlihat sangat ramai hingga Hasan terus menggandeng lengan Shadiq dengan erat.

__ADS_1


"Shahih! Tunggu kami!" teriak Hasan. Akhirnya Shahih berhenti sedangkan mereka berdua segera menghampirinya.


Tak lama kemudian seorang pedagang kaki lima lewat dengan barang dagangan yang ia angkat dengan tangan kanannya. Beberapa detik setelahnya, sebuah sepeda motor melaju hingga barang dagangan itu tersangkut. Hal itu membuat tangan kanan pedagang itu terkilir. Ia langsung teriak dengan keras karena tangannya merasa sakit.


Itu menarik perhatian orang-orang, selagi mereka menjaga jarak darinya, Shahih segera menghampirinya, Shadiq dan Hasan hanya bisa berdiri di belakang Shahih, mereka tidak tahu harus berbuat apa.


Saat itu juga seorang anak segera berlari ke arah pedagang itu, ia hendak menyentuh lengan kanan pria itu.


"Hei, apa yang kau lakukan? Jangan sentuh itu, dia sangat kesakitan!" tegur Shahih dengan suara keras, ia tampak serius.


"Aku mau lepaskan kancing bajunya dulu," ujar anak itu. Tanpa banyak tanya, Shahih langsung memberikan gunting pada anak itu sedangkan ia sendiri mencoba mengangkat bagian leher pria itu agar terduduk.


Saat itulah anak itu mengangkat wajahnya untuk menatap Shadiq dan Hasan yang sedang berdiri di belakang Shahih. "Kalian berdua, bantu kami juga!" ujar anak itu.


Shadiq dan Hasan terkejut saat melihat wajah anak itu. Mereka menyaksikan dua wajah Shahih di hadapan mereka.


"Tunggu apalagi? cepat angkat badan bapak ini biar aku bisa memperbaiki persendiannya!" ujar Shahih. Akhirnya mereka berdua mengabaikan rasa terkejut mereka mulai membantu Shahih.


Setelah Shadiq dan Hasan menahan pria itu, Shahih dan anak itu mulai menarik lengan pria itu secara bersamaan, membuatnya berteriak kesakitan.


Setelahnya pria itu kembali tenang, ia mulai mencoba menggerakkan persendian lengannya.


"Jangan gerak dulu! Sebaiknya diperiksa, pak!" ujar Shahih, ia tengok kanan dan kiri untuk mencari orang dewasa yang bisa menuntunnya ke rumah sakit.


"Biar aku saja yang pergi sama bapak ini, aku kenal dengannya kok," ujar anak itu. Akhirnya Shahih pun beranjak dari posisi jongkoknya.


Shadiq dan Hasan hanya bisa melongo sambil menatap anak itu merangkul pria pedagang menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


"Hei, Shahih! Bukankah anak tadi mirip denganmu?" tanya Shadiq. "Benar! Itu anak yang kemarin! Anak yang lawan aku di final!" seru Hasan.


"Wah! Kok bisa mukamu sama persis dengannya?" tanya Shadiq terkesan. "Ayo kita pulang," ujar Shahih sambil memasukkan sesuatu ke dalam tasnya. Tanpa banyak tanya, akhirnya Shadiq dan Hasan pun mengikutinya.


__ADS_2