Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Terungkap


__ADS_3

Sudah dua pekan sejak Bagas dibawa ke rumah sakit, namun belum ada kabar apapun tentang dirinya.


Anak-anak benar-benar penasaran dengan nasibnya. Baru pertama kali mereka melihat orang berupaya untuk bunuh diri di dunia nyata.


Tak lama kemudian saat kelas sedang senggang, wali kelas masuk ke dalam ruangan. Anak-anak pun langsung kembali ke tempat duduk masing-masing. Mereka sudah tahu apa yang hendak wali kelas bicarakan, yaitu masalah Bagas.


Sudah dua pekan ini tidak ada yang membahas mengenai hal itu, akhirnya wali kelas yang angkat bicara.


"Di sini ada yang tahu keseharian Bagas seperti apa?" tanya wali kelas keheranan, ia terlihat merasa prihatin dengan tindakan Bagas.


"Biasa aja kok bu, kita sering main ngobrol bareng. Sama kayak anak-anak lainnya," ujar Fashalay. Sayangnya wali kelas tampak tidak puas dengan jawabannya.


"Hmm! Sebaiknya kalian jangan beritahu siapapun, orang tua Bagas baru datang kemarin dan membawa sejumlah uang...... 180 juta," ujar wali kelas.


"Buset! Banyak banget!" seru Ario. "Ia sudah mengakui semuanya, ini untuk ganti rugi kamar kalian yang terbakar, lalu uang kas kamar yang hilang, lalu beberapa anak lainnya," ujar wali kelas, ia meminta Ario untuk membacakan secarik kertas yang ia berikan kepadanya.


Setelah dipanggil satu persatu, mereka mendapatkan uang dengan masing-masing jumlah yang berbeda. Mereka pun terdiam kebingungan.


"Apa ini?" tanya Shahih keheranan. "Oh, seperti yang kalian tahu, tapi jangan sebarkan ke siapa-siapa, ini uang yang Bagas curi dari kalian. Ia memohon maaf kepada kalian semua, dia dikeluarkan dari sekolah ini," ujar wali kelas kemudian pergi meninggalkan ruangan.


Anak-anak masih dipenuhi tanda tanya, apalagi mengenai yang ada di depan meja guru itu.


Asyraf pun langsung mengambilnya sebelum ada anak yang menghampiri uang itu. "Ini pas 180 juta, kayaknya perlu kita bagi untuk setiap anak," ujar Asyraf.


"180 juta? Setiap anak? setiap anak bisa dapat lebih dari 2 juta dong?" Ario sempat menggigit jari karena saking tak tahannya mendengar jumlah yang fantastis itu.


Anak-anak yang seharusnya marah karena uang mereka dicuri dan kamar terbakar, malah dibutakan oleh uang yang sebenarnya tidak setimpal dengan kerugian yang mereka dapatkan dari kebakaran itu.

__ADS_1


"Uang benar-benar mengerikan," ujar Shahih. "Benar sekali, uang sangat jelas nilainya dari pada barang-barang dan baju-baju mereka yang terbakar. Apalagi mereka hanya anak kecil, mereka nggak akan tahu kalau uang yang mereka terima itu masih kurang untuk mengganti kerugian dari pakaian dan barang-barang mereka yang terbakar," ujar Asyraf setuju dengan pemikiran Shahih.


Setelah mendiskusikan tentang pembagian uang dengan musyrif kamar, akhirnya anak-anak pun menerima bagian masing-masing setara.


"Wah! Asyik bro! Lima juta ini per anak!" seru Fashalay. Shahih pun langsung angkat tangan, ia sendiri tidak menyangka bisa mendapat bagian juga dari uang ganti rugi itu.


"Ustadz, kenapa ini nggak dikembalikan pada orang tua saja? Kenapa dikembalikan pada masing-masing kami?" tanya Shahih pada musyrif kamar.


"Hmm! Sebenarnya ada yang ingin Ustadz sampaikan setelah pembagian uang ini. Dimohon kalian semua untuk merahasiakan hal ini dari orang tua kalian," ujar musyrif kamar.


"Loh? Kenapa, Ustadz?" tanya Asyraf keheranan. "Masalahnya akan semakin rumit jika ada wali santri yang tahu, mereka mungkin akan menuntut keluarga yang bersangkutan," ujar musyrif kamar. Shahih hanya bisa menggeleng kepala setelah mendengar penjelasannya.


Ia pun pergi ke atap untuk mencari udara segar. "Seperti orang dewasa saja, saat frustasi langsung mencari udara segar," ujar Asyraf. "Aku serasa baru saja menerima suap," ujar Shahih. Asyraf hanya bisa tertawa.


"Sebaiknya hati-hati dengan perkataanmu itu. Ini bukan suap, melainkan ganti rugi dari barang-barang yang hangus terbakar, nggak ada salahnya menerima uang itu kan?" tanya Asyraf.


"Di mana-mana juga bakal seperti ini, entah itu peraturannya atau pun cara mereka menyelesaikan masalah. Asal kau tahu saja, mendirikan pesantren itu sangatlah susah, terkadang banyak kritikan dari warga sekitar, kebakaran kemarin sudah meresahkan warga! Kalau sampai ada polisi datang ke sini karena wali santri menuntut kerugian dari kebakaran itu, semakin rumit masalahnya," ujar Asyraf.


"Nah itu, aku hanyalah anak kecil di sini, nggak bisa berbuat apa-apa untuk tempat yang sudah sakit begini, mungkin lebih baik aku pindah saja, aku mau pergi dari sini," ujar Shahih.


"Pindah? Kenapa pindah? Kamu baru ada di sini Shahih! Kenapa mau pindah?" tanya Shadiq, ia sudah berada di antara mereka.


Shahih tidak ingin berbicara lebih banyak lagi, ia langsung pergi dari atap. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kalian mau pergi dari sini?" tanya Shadiq pada Asyraf.


"Siapa bilang aku mau pergi?" tanya Asyraf keheranan. "Jadi, apa maksud Shahih? Kenapa dia mau pindah?" tanya Shadiq.


"Tanyakan saja sendiri! Kalau kau benar-benar saudaranya, harusnya kau bicara langsung dengannya! Jangan tanya-tanya orang lain! Kalau ingin jawaban dariku, aku hanya bisa katakan kalau keinginan Shahih pergi adalah gara-gara kalian! Kalian punya banyak kesempatan untuk bertanya padanya, tapi kenapa memilih bertanya pada orang lain?" tanya Asyraf.

__ADS_1


"Kata siapa kami punya banyak kesempatan? Dia selalu menghindar," ujar Shadiq menyangkal.


"Cuma karena dia turun dari atap, kau bilang dia menghindar? Toh dia nggak pergi ke ujung dunia, nggak sampai ke Antartika sana, memangnya sejauh apa dia sampai kau nggak bisa bertanya sendiri?" tanya Asyraf keheranan.


Shadiq hanya bisa diam, ia menjadi serba salah setelah mendengar perkataan Asyraf. "Hei, Shadiq, menangislah!" ujar Asyraf.


"Eh? Aku? Kenapa? Untuk apa?" tanya Shadiq. "Bukan apa-apa, aku cuma pengin lihat," ujar Asyraf, suasana hatinya langsung berubah meskipun ia sempat berbicara serius dengan Shadiq tadi.


Aku nggak bisa nangis tanpa alasan," ujar Shadiq. "Terus, gimana caranya biar kau nangis?" tanya Asyraf. "Kalian berdua ngapain?" tanya Hasan keheranan.


"Oh, kebetulan sekali! Hasan, kau bisa buat dia menangis?" tanya Asyraf. "Apa-apaan? Dia sudah sering menangis kok dibuat menangis lagi? Kasihan loh," ujar Hasan.


"Jadi yang nggak pernah kelihatan nangis nggak perlu dikasihani?" tanya Asyraf. "Aku nggak bilang begitu kok," ujar Hasan.


"Yeah, emang nggak ada yang nyuruh kamu bilang begitu," ujar Asyraf kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Saat hendak masuk ke dalam kamar, Shahih tampak berada di pintu, ia sedang terdiam. "Hei! Ngapain di situ? Kau menghalangi jalan!" ujar Asyraf, ia sempat keheranan karena mendengar sesuatu. Karena penasaran, ia segera masuk ke dalam kamar dan mendapati seorang anak membawa ponsel, ia adalah Aldi.


"Sst! Jangan keras-keras! Nanti kalau ada kakak pengurus, habislah!" bisik Fashalay.


"Kalian sedang apa?" tanya Asyraf. Anak-anak itu tanpa merasa bersalah menunjukkan ponsel pada Asyraf.


"Bukankah alat komunikasi dilarang di sini?" tanya Asyraf. "Sst! Diamlah! Kudengar beberapa kakak kelas juga membawanya! Asalkan jangan sampai ketahuan," ujar Aldi.


"Gimana nggak ketahuan? Kau menunjukkan benda itu terang-terangan begini," ujar Asyraf keheranan. "Yang penting jangan ketahuan kak pengurus! Kalau cuma ketahuan sama anak sekamar.... kita kan teman! Saling rahasia," ujar Aldi sambil merangkul bahu Asyraf.


Shahih semakin muak melihat kelakuan mereka itu, suasananya semakin buruk hingga membuatnya enggan masuk ke dalam kamar. Ia sempat membanting pintu kamar karena kesal.

__ADS_1


__ADS_2