
"Apa yang ingin kau lakukan dengan semua ini? Ini bukan mainan!" ujar Jordan kemudian mencabut kabel yang terhubung dengan komputer itu.
"Hei, kenapa kau cabut itu?" tanya Shahih kesal. "Kau mau apa dengan ini semua?" tanya Adam. "Mencuri," ujar Shahih.
"Kupikir kau melarangku berbuat begitu, aneh sekali!" ujar Adam. "Sudahlah, tidak seperti biasanya kau penasaran dengan apa yang kulakukan," ujar Shahih.
"Masalahnya kau bawa anak-anak kecil ke sini. Ada apa sebenarnya? Apakah tidak ada orang dewasa yang mau mengurus mereka sampai kau bawa ke sini segala?" tanya Jordan.
"Kau bicara seolah Shahih bukan anak kecil juga," ujar Asyraf menanggapi perkataan Jordan. "Wah! Menarik sekali! Anak yang satu ini benar-benar mirip denganmu," ujar Jordan.
Adam terus mengamati Asyraf dari atas sampai bawah, ia bahkan berkali-kali membandingkannya dengan Shahih. "Selera pakaian mereka berdua juga sama," ujar Adam.
"Dua anak kembar lainnya bahkan kalah identik dengan mereka berdua," ujar Jordan. "Hmm! Benar sekali, anak yang satu ini tampak beberapa tahun lebih tua! Seumuran SMA kah? Atau bangku kuliah?" Adam mencoba mengira-ngira. Hasan hanya bisa tertawa mendengar mereka menganggap Shadiq sudah tua.
"Kenapa kau dan kembaranmu tidak setinggi mereka berdua, Shahih?" tanya Jordan. "Bukan aku yang bermasalah, pertumbuhan mereka yang terlalu cepat. Tentu saja karena mereka sangat identik dengan ayah mereka," jawab Shahih, ia masih sibuk mengutak-atik program yang ada di komputer.
"Hei! Hei! Kau gunakan itu untuk menyadap sebuah tempat?" tanya Jordan, ia mencoba menghentikan Shahih.
"Memangnya kenapa?" tanya Shahih. "Kalau sampai orang-orang tahu tempat ini, bisa gawat!" ujar Jordan.
"Lagian ini hanya tempat sementara, toh kalian punya banyak tempat," ujar Shahih. "Aish! Tidak boleh! Tempat ini yang paling bagus!" ujar Jordan, ia mengangkat tubuh Shahih kemudian memindahkannya ke depan sebuah laptop.
"Nah, pakai itu saja. Lebih mudah dan bisa kalian bawa ke mana-mana," ujar Jordan. "Bisakah aku menginap di sini dengan semua anak ini?" tanya Shahih.
"Kau bercanda? Tempat ini hanya berisi tiga kamar!" ujar Jordan. "Kalau begitu kalian berdua tinggal tidur bersama," ujar Asyraf sambil menunjuk Jordan dan Adam.
"Hei! Mana cukup untuk tidur kami berdua!" ujar Jordan. "Aku sudah lihat kok, salah satu kamar terdapat dipan tingkat. Apa masalah kalian? Tinggal tidur saja apa susahnya? Kukira kalian sudah biasa dengan hal itu," ujar Asyraf dengan ekspresi datarnya. Jordan benar-benar kesal mendengar perkataannya, namun Adam mencegatnya agar ia mengalah.
"Hei, Shahih! Aku tidur denganmu saja! Aku nggak mau di samping Shadiq!" ujar Hasan. "Apalagi maumu?" tanya Shahih keheranan.
"Shadiq benar-benar bau badan! Baunya kayak para bule itu!" keluh Hasan. "Hei, nak! Sebentar lagi kau juga bakal punya bau yang sama," ujar Jordan.
Meskipun begitu Hasan tetap tidak ingin tidur di samping Shadiq. "Ya sudahlah, biar aku yang tidur dengan Shadiq, lagian mereka berdua tidak mungkin cukup tidur berdua di dipan yang kecil itu, mereka berdua sama-sama besarnya," ujar Asyraf.
__ADS_1
Akhirnya setelah Shahih memberikan beberapa arahan, mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.
"Asa, maaf karena badanku bau," ujar Shadiq. "Bukan masalah, aku lebih heran karena kau minta maaf hanya karena masalah itu. Kau bahkan nggak pernah minta maaf soal ini pada Hasan, padahal kalian setiap hari tidur bersama," ujar Asyraf. Shadiq pun terdiam, ia merasa serba salah.
"Kasihan sekali kau harus mendengar kritikan orang-orang setiap kali kau bicara. Sudahlah tidur saja, aku nggak terlalu peduli dengan sikapmu," ujar Asyraf.
Akhirnya Shadiq mencoba membaringkan diri, namun tetap saja tubuhnya memenuhi dipan, tubuhnya seukuran orang dewasa sehingga tidak ada tempat untuk Asyraf.
Karena merasa tidak nyaman, akhirnya Shadiq pun mencoba menekuk kakinya untuk memberi ruang agar Asyraf bisa tidur.
"Maaf, badanku kebesaran," sekali lagi Shadiq merasa bersalah, ia takut Asyraf mengkritiknya lagi.
Benar seperti yang ia takutkan, wajah Asyraf tampak kesal dan kecewa terhadapnya. "Aku ini siapa bagimu? Orang asing?" tanya Asyraf, ia bahkan sampai tertawa saking frustasinya melihat tingkah.
"Aish! Kenapa aku terlihat seperti istri yang sedang mengomeli suaminya? sepertinya kau adalah orang pertama yang bisa membuatku marah seperti ini," ujar Asyraf kesal.
"Ma... maaf Asa! Aku yang salah," ujar Shadiq, ia bahkan beranjak dari dipan untuk mempersilahkan Asyraf tidur.
"Kau ini terlalu baik arau terlalu bodoh? Untuk apa meminta maaf kalau kau nggak bersalah? Kalau kau semudah itu meminta maaf, orang-orang hanya akan menginjak-injakmu! Apa gunanya punya badan besar kalau kau sangat pengecut?" tanya Asyraf.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Shadiq, pada akhirnya ia menangis karena tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Nah, itu satu-satunya kesalahanmu! Kenapa nggak dari awal kau bertanya begitu? Kenapa harus kuarahkan seperti bayi? Memangnya aku orang tuamu? Bukankah kau seharusnya menjadi kakakku dengan badan besar itu?" tanya Asyraf.
"Wah! Wah! Wah! Ada yang sedang mendidik seseorang di sini," ujar Jordan sambil bersandar di daun pintu. Asyraf langsung menutup pintu lalu berusaha menenangkan Shadiq yang sedang menangis.
"Caramu menangis unik sekali, benar-benar senyap sampai aku nggak dengar suara terisak," ujar Asyraf.
Shadiq menganggap perkataannya itu sebuah pujian, ia pun langsung menyeka air matanya. "Tidurlah senyamanmu, kau yang pertama berbaring di dipan itu jadi kau yang berhak tidur dengan posisi yang kau mau," ujar Asyraf.
Shadiq mengangguk lalu mulai berbaring di kasur, ia pun menyisakan ruang untuk Asyraf agar ia bisa tidur.
Asyraf pun mengambil sebuah kursi lalu mendekatkannya dengan dipan. "Kuharap kau mau merubah posisimu agar kakimu nggak ada di atas kepalaku," ujar Asyraf, Shadiq pun dengan senang hati membalik posisi tidurnya.
__ADS_1
Asyraf pun mulai membaringkan diri sedangkan sebagian tubuhnya ia topang dengan kursi itu.
"Kamu nggak papa tidur kayak gitu, kursi itu terlalu keras loh, biar aku aja yang tidur di situ," ujar Shadiq menawarkan.
"Nggak usah, banyak otot di tubuhmu, kalau posisi tidurmu salah, bisa-bisa ototmu yang kena cidera, apalagi badanmu sangat berat," ujar Asyraf.
Akhirnya suasana pun menjadi senyap setelah Asyraf berhenti berbicara. Shadiq masih merasa tidak nyaman dengan suasana canggung.
"Asa, kenapa kamu dan Shahih terlihat seperti orang dewasa? Kalian nggak mudah marah, tapi sekali marah benar-benar menakutkan. Kalau dengar kalian berdua berbicara, aku jadi ingat paman Alfa, kalian sangat mirip dengannya," ujar Shadiq.
"Seperti orang dewasa menurutmu? Kalau aku, mungkin alasanku menjadi seperti ini karena selalu pindah-pindah keluarga. Aku sadar kalau hidupku nggak bisa bergantung pada para orang dewasa itu. Hanya dalam setahun atau beberapa bulan, mereka langsung mengembalikanku ke panti asuhan. Karena nggak mungkin bergantung dengan orang dewasa, maka aku sendiri yang harus menjadi dewasa," ujar Asyraf.
"Sepertinya banyak masa kelam yang kamu alami," ujar Shadiq, lagi-lagi Shadiq merasa bersalah karena mengungkit-ungkitnya.
"Kalau penyebab Shahih seperti itu, aku nggak begitu mengerti, mungkin kau lebih tahu kenapa, padahal dia hidup dengan keluarga kandungnya yang masih lengkap," ujar Asyraf.
"Sebenarnya aku dulu belum terlalu peduli dengan Shahih, aku baru sadar setelah Shahih menghilang, kami semua sering mengabaikannya, bahkan menganggap dia nggak pernah ada di rumah," ujar Shadiq.
"Mana ada orang yang seperti itu! Kalau dia benar-benar diabaikan, nggak mungkin masih hidup sampai sekarang! Ayah dan ibu pasti selalu memerhatikannya, dia juga anak mereka," ujar Asyraf.
"Justru karena itu, perhatian mereka terlalu berlebihan. Mungkin karena dia sedikit... aneh. Sebenarnya kami nggak terlalu peduli dengannya, namun ibu dan ayah membuat keanehannya menjadi tampak jelas, bahkan mereka beberapa kali membawanya ke klinik, padahal dia nggak kelihatan sakit," ujar Shadiq.
"Itu bukan klinik biasa, itu klinik kejiwaan," ujar Asyraf menebak. "Mungkin saja. Shahih pernah selama beberapa tahun nggak berbicara sama sekali setelah melihat kecelakaan maut," ujar Shadiq.
"Kecelakaan? Kecelakaan apa?" tanya Asyraf penasaran. "Seorang anak tiba-tiba melewati lampu merah saat truk melaju dengan kencang. Kudengar pakaian Shahih sampai basah kuyup karena darah anak itu," ujar Shadiq.
"Mengerikan sekali! Itu pasti menimbulkan trauma," ujar Asyraf. "Nggak ada trauma, aku baik-baik saja," ujar Shahih yang tiba-tiba sudah ada di kamar mereka.
"Kukira kau sudah tidur di tempatmu," ujar Asyraf. "Suaramu terdengar ke berbagai ruangan. Apakah Si Jagur itu juga membuatmu marah?" tanya Shahih. Shadiq segera menutupi wajahnya dengan bantal, ia tampak enggan mendengar pembicaraan Shahih. Mengingat ia juga pernah membuat Shahih marah besar.
"Dia nggak salah apa-apa, nggak usah dibahas," ujar Asyraf kemudian membuang muka. "Emang nggak ada yang salah, kau cuma prihatin dengan rasa bersalahnya yang terlalu berlebihan kan?" tebak Shahih, ia langsung menghadap Shadiq.
"Hei, Jagur! Manusia di bumi bukan cuma kau, semua yang terjadi di dunia ini juga bukan semuanya tanggung jawabmu, lain kali jika ada pemilihan ketua kelas, sebaiknya kau menolaknya, kau hanya akan dimanfaatkan banyak orang," ujar Shahih, ia pun kembali ke kamarnya.
__ADS_1