Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Kamar baru, Awal baru


__ADS_3

"Hmm! Serasa baru pertama kali masuk pesantren! Tempat ini benar-benar putih jernih! Bersih sekali!" ujar Fashalay. "Bukan cuma itu, baju-baju kita juga semuanya baru, kecuali dua orang itu," ujar Ario sambil menatap Shahih dan Asyraf dengan tatapan sinis.


"Kalian ini sibuk memandang buruk orang yang nggak berbuat salah apapun, itu cuma kebetulan saja," ujar Asyraf.


"Hmm! Mencurigakan! Ini seolah kalian sengaja membakar kamar, sedangkan kalian sudah bersiap-siap agar barang-barang kalian nggak ikut terbakar," ujar Fashalay.


"Apa maksudmu? Jadi kebakaran ini bukan kebetulan? Ini sengaja?" tanya Shadiq dengan wajah serius. Secara tidak sadar ia merubah suasana kamar menjadi serius pula. Anak-anak hanya bisa mengerut dahi, tentu saja mereka geram jika ada yang sengaja membakar kamar mereka.


"Cerita kalian ini ada-ada saja! Bukankah kalian lihat sendiri? Waktu subuh aku duduk di samping Shahih dan Fashalay, mana mungkin aku yang membakar kamar!" ujar Asyraf.


Pembicaraan semakin dalam setelah perkataan Asyraf. "Berarti yang nggak ikut kegiatan hafalan Al-Qur'an pagi itu pelakunya!" ujar Ario menyimpulkan.


"Hei! Enak saja! Aku juga nggak ikut kegiatan! Aku lagi sakit di kamar!" ujar Hasan. "Hmm! Iya juga sih! Nggak mungkin Hasan mau membakar diri sendiri," ujar Ario.


"Nggak mungkin itu Hasan! Saat aku masuk ke kamar, ia masih tertidur, dia malah berpikir dirinya sudah mati dan masuk neraka," ujar Shadiq. Anak-anak langsung tertawa mendengar penjelasannya.


"Katanya yang pertama kasih tahu ada kebakaran si Febio, kok dia bisa tahu sih?" tanya Fashalay curiga.


"Hei! Kalian semua ini jahat sekali lah! Aku ketiduran sampai nggak jama'ah sholat subuh tahu! Nggak ada yang bangunin!" ujar Febio kesal.


"Lah, terus kamu bangun udah ada apinya?" tanya Ario. "Iya, aku bangun juga gara-gara merasa kamarnya hangat sekali," ujar Febio. Anak-anak pun tertawa lagi.


"Aku jadi ingat waktu Febio bilang ke ustadz. Katanya kamarnya hangat, ada apinya. Tinggal bilang aja kamarnya kebakaran kok, apa susahnya?" tanya Fashalay keheranan.


"Apinya kecil, jadi tak tumpuk pakai kasur biar padam, nah, setelah itu aku pergi ke masjid buat sholat sendirian, waktu itu kukira apinya sudah padam, jadi aku cuma bilang ke Ustadz kalau kamarnya ada apinya," ujar Febio.


"Hmm! Aneh! Kamu lihat ada api di mana?" tanya Asyraf. "Di dipan kosong, itu kayak ada kalender yang kebakar," ujar Febio.


"Dipan kosong itu letaknya jauh dari stop kontak, nggak ada kabel listrik di sekitar situ!" ujar Asyraf. "Berarti emang disengaja dong? Siapa pelakunya?" Anak-anak semakin penasaran.


Shahih langsung mencegat Asyraf agar tidak berbicara lebih banyak lagi. "Kau ini pandai bikin rumit keadaan," bisik Shahih, Asyraf pun terdiam.


"Hayo! Siapa yang bakar kamar! Ganti rugi sini! Semua uangku habis terbakar!" ujar Ario.


"Hayo yang nggak ikut kegiatan hafalan Al-Qur'an, siapa?" tanya Fashalay. "Eh, si Arkan! Aku kayaknya nggak pernah lihat dia!" ujar Ario.


"Arkan duduk di sampingku! Jangan mengada-ada," ujar Shahih. Meskipun begitu, anak-anak tetap cekikikan, mereka suka menjadikan Arkan sebagai bahan bersenda gurau. Hal itu dikarenakan Arkan selalu panik dan kaku saat seseorang tiba-tiba menunjuknya. Menurut mereka hal itu lucu dan bisa ditertawakan.

__ADS_1


Arkan berusaha terlihat tidak peduli dengan gurauan mereka meskipun sebenarnya ia merasa sangat sakit hati.


Ia tampak murung karena buku yang biasa ia bawa kemana saja itu sudah hangus terbakar, saat ini ia memegang buku baru.


Matanya sudah mulai berkaca-kaca, selagi tidak ada yang memerhatikan, ia mencoba melangkah mundur untuk pergi kelas, sayangnya saat itu juga ia terpeleset, membuat orang-orang memperhatikannya dengan tatapan keheranan.


Matanya semakin memerah, ia langsung pergi keluar kamar dengan kakinya yang tiba-tiba pincang.


"Kau nggak mengikutinya?" tanya Asyraf, Shahih menggeleng kepala sebagai jawabannya, ia memerhatikan gerak-gerik anak itu sejak tadi. Karena merasa iba, Asyraf pun akhirnya mengikuti Arkan.


Setelah sampai di kelas, Asyraf mendapati Arkan sedang menangis tersedu-sedu. Ia merasa tangisannya berbeda dengan tangisan Shadiq yang selama ini ia lihat, ia terlihat benar-benar menderita.


Asyraf pun mengerti kenapa Shahih tidak mau mengikuti Arkan meskipun hanya sekedar menenangkannya, kenyataan ada orang yang merasa iba pada dirinya membuatnya lebih terpuruk lagi.


Di sisi lain Shahih mengikuti Bagas, anak itu sedang menatap tanah dari lantai tiga, anak itu juga tampak depresi.


"Jangan berpikiran melompat dari sini," ujar Shahih. Bagas terkejut karena sadar ada orang lain di sampingnya.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Bagas. "Itu ulahmu kan? Kebakaran itu," tebak Shahih. Bagas langsung berlutut, kakinya terasa lemas karena ada yang mengetahui perbuatannya.


"Tenang saja, aku nggak rugi banyak kok, cuma baju untuk sholat sama beberapa barang lainnya," ujar Shahih.


Bagas tetap enggan menjawab. "Berisik! Pergi sana!" ujar Bagas kesal, ia masih merasa kecewa dengan Shahih.


"Oh, apakah karena kau ketahuan mencuri? Maaf saja, bukan aku yang menceritakan hal itu. Kayaknya ada orang lain yang langsung lihat kau mencuri, kalau aku malah cuma menebak-nebak saja bahwa kau adalah pencurinya, nggak mungkin aku asal menyebarkan hal ini," ujar Shahih.


"Berisik! Pergilah!" ujar Bagas, kali ini ia menunjukkan pisau yang ada di sakunya, bukannya mengacungkan pisau itu pada Shahih, ia malah mengancam dengan berniat untuk bunuh diri.


Ario dan Fashalay langsung mengetahui hal itu saat mereka hendak menjemur handuk, ia melihat Bagas hendak menyayat tangannya sendiri dengan pisau.


"Hei, Bagas! Apa yang kamu lakukan?" tanya Ario, ia langsung panik melihat anak itu memegang pisau.


Fashalay langsung berlari ke bawah untuk memberitahu anak-anak lainnya. Pada akhirnya semua anak sekamar naik ke lantai tiga dan melihat Bagas sedang memegang pisau, mereka tampak panik dan menyuruhnya untuk membuang pisau itu.


Hanya Shahih yang tampak tenang dan biasa saja, padahal Asyraf juga ikut panik menyaksikan hal itu.


"Kau habis nonton film apa sih? Dapat cerita dari mana? Sepertinya kau berhasil menarik simpati korban pencurianmu," ujar Shahih dengan ekspresi dinginnya, ia juga tampak kecewa dengan tindakan Bagas.

__ADS_1


"Ja... jangan mendekat!" teriak Bagas, namun Shahih tetap mengabaikannya, ia terus mendekati Bagas tanpa ragu.


"Coba saja potong tanganmu di situ, cobalah! Selama ini aku sudah memperingatkanmu baik-baik, tapi begini balasanmu? Kau pikir bunuh diri itu lelucon? Aku nggak bisa menoleransi hal seperti ini!" ujar Shahih murka.


"Hei, Shahih! Tenanglah! Kalau dia benar-benar bunuh diri gimana?" Asyraf panik. "Bukan masalah, bisa apa dia dengan pisau itu? Bahkan cara memegangnya salah," ujar Shahih sambil terus melangkah.


Pada akhirnya Bagas langsung memberanikan diri untuk menyayat tangannya. Anak-anak langsung berteriak karena panik. Darah pun mengalir dari luka yang dihasilkan.


"Sudah Cuma itu saja? Nggak ada lagi yang bisa kau tunjukkan?" tanya Shahih. Bagas terdiam, ia langsung pingsan karena melihat darahnya sendiri mengalir deras.


Asyraf langsung berlari menghampirinya lalu mengikat tangannya agar darah berhenti keluar.


Setelah pihak UKS membawa Bagas ke rumah sakit, Asyraf langsung menyudutkan Shahih di hadapan anak-anak lainnya.


"Apa yang salah denganmu? Kenapa kau memperumit keadaan?" tanya Asyraf sambil mendorong bahu Shahih.


Shahih masih bersikap tenang. "Sebaiknya kau perhatikan, siapa yang sebenarnya bersalah!" ujar Shahih.


"Kau yang salah! Gara-gara kau dia melukai dirinya sendiri!" ujar Asyraf. "Kenapa itu salahku? Dia yang aneh! Entah drama apa yang baru saja dia tonton, aku nggak bisa menoleransi orang yang ingin bunuh diri. Emangnya seburuk apa keadaannya sampai ingin bunuh diri? Apakah lebih parah dari Arkan yang setiap hari harus menyembunyikan rasa tertekannya?" tanya Shahih, ia juga mulai kesal.


Anak-anak lainnya tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan, mereka langsung pergi karena tidak tertarik.


"Aku tahu orang bunuh diri itu nggak patut dibela! Ini bukan masalah alasan keinginannya untuk bunuh diri! Kau yang menghasutnya! Kalau kau diam saja, dia nggak mungkin melukai dirinya sendiri!" ujar Asyraf.


"Ini hanya masalah pandangan masing-masing orang, kau nggak banyak tahu tentang Bagas, nggak usah sok menyalahkan! Dia hanya mencari perhatian agar orang-orang bersimpati padanya! Kau nggak tahu apa saja yang ia perbuat selama ini!" ujar Shahih. Ia langsung meninggalkan Asyraf sendirian di lantai tiga.


Saat turun dari lewat tangga, Shahih mendapati Renogi sedang berdiri dengan tangan dilipat di dada.


"Kayaknya nggak cuma aku yang tahu kelakuan Bagas. Sepertinya kau juga tahu kalau dia pelaku pembakaran kamar itu," ujar Renogi terkesan.


"Diam saja kau! Kalau kerjaanmu cuma memata-matai orang, nggak mencegahnya berbuat buruk, nggak usah sebar-sebarkan ke orang lain!" ujar Shahih.


"Apa maksudmu memata-matai orang lain?" tanya Renogi penasaran. "Matamu sipit sekali, kupikir nggak ada orang selicik dirimu yang bisa disuruh menyesatkan anak-anak di sini," ujar Shahih.


"Dasar kau!" Renogi merasa geram, ia langsung menarik kerah Shahih. "Sejak kapan kau tahu hal itu?" tanya Renogi. "Sejak pindah ke pesantren ini. Awas saja kalau kau menambah keributan di sini lagi!" ujar Shahih sambil menyingkirkan tangan Renogi dari kerahnya.


"Orang tak beragama memang seburuk-buruknya manusia! Sayang sekali, kami nggak boleh menghina ciptaan Allah seenak jidat, semoga kau juga mendapat petunjukNya," ujar Shahih kemudian pergi meninggalkan Renogi.

__ADS_1


__ADS_2