Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Ayah?


__ADS_3

Pria itu menatap cermin untuk memeriksa siapa yang memanggilnya ayah. "Syihab? Itukah kamu?" Pria itu tidak percaya, ia langsung berbalik badan.


"Ayah? Kenapa ayah ada di sini?" tanya Shadiq keheranan, ia dan Hasan sudah berada di ruangan itu dalam keadaan terkejut. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Itu kamu, Syihab? Ayah nggak salah lihat kan?" tanya pria itu kemudian menghampiri Shadiq lalu memeluknya.


Shadiq sempat terdiam, ia benar-benar tidak percaya setelah bertahun-tahun menganggap ayahnya sudah meninggal, namun kini ia berada di dekapannya. Hasan yang tak kalah terkejutnya pun ikut memeluk pria itu.


"Ayah, ini aku! Hasan!" seru Hasan dengan berlinang air mata. "Hasan? Benarkah? Kamu sudah besar! Tapi kenapa tubuhmu sama besarnya dengan Syihab?" tanya pria itu keheranan.


"Aku bukan Syihab, ayah! Aku Shadiq!" ujar Shadiq sambil memukul pelan lengan pria itu. Pada akhirnya pria itu tertawa. "Benarkah? Ayah nggak nyangka lihat kalian sebesar ini! Apakah ini mimpi? Tapi ini terlalu nyata!" ujar pria itu tidak percaya.


"Ini bukan mimpi, paman," ujar Asyraf yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Pria itu pun tercengang, ia dapat melihat rupa yang sangat mirip dengan Aisyah dari wajah Asyraf, ia pun langsung menghampirinya.


"Shahih? Itu benar kamu kan? Ayah nggak salah lihat kan?" Pria itu mencoba menghampiri Asyraf untuk memeluknya.


Sayangnya sebelum pria itu semakin dekat padanya, ia sudah menjaga jarak. "Aku bukan Shahih, paman," ujar Asyraf.


"Pa... paman? Ini aku! Ayahmu loh!" ujar pria itu kebingungan. "Ehm, dia bukan Shahih, ayah. Dia Asa, karena belum pernah ketemu ayah jadi dia milih panggil paman," ujar Shadiq.


Asyraf memeriksa earphone yang ia kenakan, tampaknya Shahih baru saja memberikan arahan.


"Ini bukan waktunya untuk terharu-haru! Kita harus keluar dari sini!" ujar Asyraf, ia langsung keluar dari ruangan.


"Pergi ke mana?" tanya Hasan. "Nyalakan earphone mu, Shahih yang beritahu," ujar Asyraf.


"Shahih? Dia barusan bilang Shahih kan?" tanya Ghozali. "Nanti aja bicaranya, ayah! Kita pergi dulu dari sini!" ujar Shadiq.


"Ayah nggak bisa keluar dari sini! Kalau ayah keluar ruangan, pasti ada bel peringatan, kalian semua bisa tertangkap!" ujar Ghozali.


"Duh! Shahih! Lakukan sesuatu dong! Ayah nggak bisa keluar dari ruangannya!" ujar Hasan.


"Ada apa? Aku nggak lihat apapun di sana," ujar Shahih. "Ayah, kata Shahih nggak ada apa-apa di sini," ujar Hasan. "Sensor panas, ruangan ini mendeteksi itu, kalau saja ruangan ayah kosong, peringatan akan muncul!" ujar Ghozali.

__ADS_1


"Argh! Pokoknya kalian semua keluar dulu! Kalian tertinggal oleh Asa!" ujar Shahih. "Akhirnya Shadiq menarik paksa lengan Ghozali agar keluar dari ruangan. Saat itulah sirine berbunyi di sepanjang lorong.


"Lari! Ambil kanan di pertigaan pertama!" ujar Shahih. Akhirnya mereka pun berlari sesuai arahannya.


"Aku sudah memblokir semua pintu otomatis, seharusnya ini bisa memperlambat pergerakan satpam! Kalian langsung pergi menuju elevator!" ujar Shahih.


Akhirnya mereka bertiga berlari ke ujung lorong, Shadiq segera menekan tombol yang ada pada pintu elevator, namun pintu itu tak kunjung terbuka.


"Biar ayah yang buka!" ujar Ghozali, ia menggunakan kartu tanda pengenal yang ada di sakunya. Saat itulah ia hendak masuk ke dalam elevator setelah pintu terbuka.


"Stop! Kau melangkah lebih jauh atau anak-anakmu akan mati," ujar seorang pria. Ghozali mencoba membalik badan, namun mendapati kedua anaknya sudah disandera oleh beberapa satpam dengan senjata api.


"Tidak kusangka ada tikus-tikus yang masuk dengan mudah ke tempat ini! Mereka mengambil waktu yang tepat saat sterilisasi ruang kerja seolah sudah tahu semua jadwal aktivitas di tempat ini," ujar direktur rumah sakit geram.


Ghozali tak berkutik, ia hanya bisa mematung melihat moncong senjata api itu ditempelkan pada kepala kedua anaknya. Pintu elevator pun akhirnya tertutup kembali.


"Halo? Halo! Hasan! Shadiq? Kenapa kalian nggak jawab? Apa yang terjadi?" tanya Shahih. Shadiq dan Hasan tidak bisa menyahutnya karena kepala mereka ditodongi pistol.


"Hasan? Kenapa ini? Argh! Okelah! Biar aku yang ke situ!" ujar Shahih kesal.


"Makanya jangan banyak berulah, Ghozali! Sampai anak-anakmu yang terlibat di sini.... keluargamu benar-benar luar biasa!" ujar direktur rumah sakit.


Tak lama kemudian pintu elevator terbuka kembali, Asyraf langsung keluar dari dalam dengan sebuah tas besar, ekspresinya tetap datar meskipun melihat Shadiq dan Hasan disandera.


"Apa yang terjadi paman?" tanya Asyraf pada Ghozali, namun pria itu tidak bisa menjawab, ia sangat ketakutan hingga bertekuk lutut di hadapan direktur rumah sakit.


Direktur pun tertawa, ia tidak menyangka sanderanya bertambah satu lagi.


"Kira-kira gimana ceritanya mereka bisa sampai ke sini? Haruskah aku mencaritahu?" tanya direktur kemudian membuka mulut Hasan lalu memasukkan moncong pistol ke dalamnya.


"Nak, siapa yang beritahu kau tentang tempat ini? Kok bisa tahu kalau ayahmu ada di sini?" tanya direktur. Hasan hanya bisa menelan ludah, ia benar-benar ketakutan, matanya pun tampak berkaca-kaca.


"Ayolah, jawab saja pertanyaan paman, nanti kau bisa selamat," ujar direktur. Ghozali benar-benar ketakutan, ia berkali-kali meminta maaf pada direktur.

__ADS_1


Shadiq benar-benar gelisah, ia tidak menyangka adiknya dalam posisi yang sangat berbahaya. Ia terus menatap Asyraf, berharap anak itu bisa memberikan solusi. Sayangnya Asyraf hanya memerhatikan mereka dengan ekspresi datarnya, seolah tidak peduli.


Tak lama kemudian pintu elevator terbuka, Shahih keluar dari dalamnya. Ghozali sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Seluruh tubuhnya terasa lemas, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa semua anak kembarnya masuk ke dalam jurang kematian.


"Wah! Wah! Apakah ini taman bermain? Sepertinya anak-anak kecil bisa seenaknya jidat masuk ke tempat ini!" direktur benar-benar kecewa pada para satpam itu, ia bahkan sampai memasukkan moncong pistol itu lebih dalam ke mulut Hasan hingga ia kesulitan bernafas.


"Pilihlah, Ghozali... tetap di sini bersama anak-anakmu atau kau akan hidup di sini sendirian sambil melihat anak-anakmu mati," ujar direktur.


"Apapun akan kulakukan agar mereka selamat! Kumohon! Lepaskan anak-anakku!" ujar Ghozali.


"Kalau begitu, bujuk mereka untuk memberitahu, siapa yang kasih tahu tentang informasi dari tempat ini," ujar direktur.


"Ba.. baiklah! Akan kulakukan," ujar Ghozali, ia hendak menghampiri Hasan agar bisa membujuknya, namun Shahih mencegat.


"Tunggu dulu! Kami berada di depan elevator persis loh! Kami bisa kabur dalam hitungan detik dan membeberkan semua kejahatan yang ada di sini," ujar Shahih.


"Kalau begitu silahkan lakukan, dua anak ini akan mati. Aku sudah memberi Ghozali kesempatan, apakah dia mau kembali bekerja untuk kami atau merelakan kedua anaknya," ujar direktur.


"Shahih! Diamlah! Biar ayah yang urus ini!" ujar Ghozali.


"Tunggu sebentar!" ujar Shahih, ia langsung menghadap direktur rumah sakit. "Kau ingin menukar dokter handal beserta privasi tempat ini hanya dengan dua anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Apakah itu masuk akal? Itu tidak impas," ujar Shahih.


"Omong kosong apa ini? Kau berharap lebih? Kau ingin memeras kami? Anak kecil sebaiknya diam saja. Kau tidak tahu posisimu sekarang!" ujar direktur.


"Asa, menurutmu mana yang lebih baik? dua anak kecil yang nggak tahu apa-apa sama dokter handal, kau pilih mana?" tanya Shahih, ia sengaja berbicara keras agar direktur mendengarnya.


"Menurutku lebih baik dokter yang handal," ujar Asyraf. "Nah, benar sekali! Maka kesepakatan batal, terserah kalian mau diapakan dua anak itu sedangkan kami akan pergi membawa dokter handal ini, lalu melaporkan kejahatan kalian pada polisi," ujar Shahih, ia dan Asyraf pun menarik lengan Ghozali dan menyeretnya ke depan pintu elevator.


"Tum.. tunggu! Apa-apaan kalian berdua! Hei! Lepaskan ayah! Kenapa jadi kalian yang menentukan kesepakatan ini?" tanya Ghozali panik.


Shahih tidak menjawab, ia memberikan suasana senyap dalam beberapa detik. "Waktu habis!" ujarnya. Saat itu juga pintu elevator terbuka sedangkan para polisi ada di dalamnya, mereka membawa pistol listrik.


"Ja... jangan bergerak atau kami akan tembak anak-anak ini!" ancam direktur, ia sudah panik karena polisi masuk ke dalam tempat itu.

__ADS_1


"Sayang sekali pak guru," ujar Asyraf sambil memamerkan isi tas besar yang ia bawa, itu semua adalah amunisi dari senjata api yang dipegang satpam dan direktur.


Direktur pun mencoba menarik pelatuk pistol yang ia pegang, namun tidak terjadi apapun. Akhirnya polisi menyergap mereka semua.


__ADS_2