
Zahra mendapati Shadiq yang baru saja keluar dari kamar. Ia langsung menarik lengannya dan membawanya keluar menuju lapangan.
"Apalagi ini? Masih pagi loh!" keluh Shadiq, ia tampak malas beraktivitas. "Selagi masih di rumah, jangan malas-malasan! Jangan mau kalah sama Hasan! Lihat, dia sedang lari pagi tuh," ujar Zahra sambil menunjuk Hasan yang sedang berlari mengelilingi lapangan.
"Tumben sekali dia mau melakukan hal itu, padahal di asrama ia jarang olahraga, ia hanya olahraga saat ada pelajaran olahraga saja," ujar Shadiq.
"Sudahlah! Nggak usah banyak alasan! Kamu juga ikut! Ayo pemanasan saja kalau nggak mau berlari," ujar Zahra.
Baru beberapa menit melakukan senam pemanasan, Shadiq sudah basah kuyup oleh keringatnya sendiri, seluruh lekukan tubuhnya pun terlihat karena pakaiannya yang basah.
"Wah! Ternyata tubuhmu juga lumayan kekar kayak Kak Syihab!" ujar Zahra sambil tepuk tangan.
Wajah Shadiq langsung memerah, ia benar-benar malu seperti orang yang baru saja ditelanjangi di depan umum.
Sayangnya Zahra tidak peduli dengan hal itu, ia malah mulai memasang kuda-kuda. "Kak Zahra? Mau ngapain?" Shadiq tampak kebingungan, namun Zahra langsung meninju perutnya.
"Hih! Basah sekali!" Zahra sempat merasa jijik. Shadiq pun tertawa. "Makanya jangan macam-macam!" ujar Shadiq.
Akhirnya Zahra membalut tangan kanannya dengan sabuk yang ia kenakan."Kak, jangan begini! Aku nggak siap!" ujar Shadiq panik.
Sayangnya Zahra tidak peduli dengan perkataannya, ia langsung meraih lengan Shadiq lalu melintirnya. Shadiq hanya bisa meraung kesakitan, namun Zahra tampak menikmati hal itu dan terus memperagakan semua jurus bela dirinya pada Shadiq.
Pagi itu tampak melelahkan, Shadiq langsung pulang dengan wajah lesu, ia langsung terbaring di ruang tamu dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Syihab keheranan. "Dia sudah jadi bonekanya kak Zahra," ujar Hasan. "Benarkah? Kasihan sekali! Tapi tenang saja! Semakin sering dipukul, otot-ototmu akan semakin keras," ujar Syihab sambil menekan perut Shadiq. Lagi-lagi anak itu meraung kesakitan, ia langsung beranjak dari posisi tidurnya.
Hasan yang tampak kelelahan setelah berlari juga hendak membersihkan diri. Sayangnya ia terpeleset karena lantai dipenuhi oleh keringat Shadiq.
"Innalilahi! Apa yang terjadi?" Lilis tampak terkejut melihat itu. Hasan pun langsung beranjak dari posisi terjatuhnya. Ia benar-benar kesal hingga menghampiri Shadiq lalu menjambak rambutnya.
"Ini semua gara-gara kau! Ngapain tidur di lantai? Hah!" teriak Hasan. Shadiq tidak bisa berkutik, Hasan terus mengguncang kepalanya hingga ia terpeleset dengan keringatnya sendiri.
Hasan pun terjatuh karena tertimpa Shadiq. Ia pun semakin kesal dengannya dan terus menjambaknya. Akhirnya Zahra dan Syihab pun memisahkan keduanya sedangkan Shadiq tampak terisak, ia merasa tidak bersalah, namun mendapatkan perlakuan buruk dari adiknya.
Antara sakit dan malu, mata Hasan ikut berkaca-kaca, ia langsung pergi ke kamar meninggalkan mereka semua.
"Semakin lama mereka ini semakin nggak akur saja," ujar Syihab. "Aku lebih penasaran apa yang sedang Shahih lakukan sekarang," ujar Zahra sambil menatap langit-langit ruangan.
"Paman, agamamu apa?" tanya Shahih tiba-tiba sambil menatap Adam yang sedang sibuk di depan komputer. Ia mendapati pria bule itu belum beranjak sama sekali dari kursinya sejak dua hari yang lalu.
"Kenapa tiba-tiba nanyain soal agama?" tanya Adam keheranan. "Bukan apa-apa, paman Jordan selalu pergi ke gereja setiap hari Minggu, sepertinya dia penganut Kristen yang taat," ujar Shahih.
"Bodoh sekali, aku tidak percaya hal-hal spiritual! Aku tidak percaya adanya tuhan, mempercayai hal itu hanya akan menghambat misiku," ujar Adam.
"Aku nggak pernah mengatakan hal yang buruk atau menyalahkan paman karena menganut atheisme, kenapa paman membodoh-bodohi orang beragama di hadapanku?" tanya Shahih, wajahnya langsung berubah datar dengan tatapan dinginnya.
"Jika bodoh, tetaplah bodoh! Tidak bisa dipungkiri lagi! Orang-orang itu, benar-benar tidak rasional! Aku tidak mengerti kenapa mereka begitu dibutakan pada keyakinan semu," ujar Adam.
__ADS_1
"Asal paman tahu, aku juga termasuk orang bodoh yang paman maksud itu, tapi aku membantah pemikiran paman kalau orang beragama itu memiliki keyakinan semu! Keyakinan kami itu tidaklah semu!" ujar Shahih.
"Tidak kusangka kau akan terang-terangan mengaku bahwa dirimu orang beragama. Aku sangat kecewa! Kukira kau adalah anak yang jenius, ternyata sama saja dengan para binatang ternak itu," ujar Adam.
"Kurasa pernyataan itu terbalik. Jangan merasionalkan segala sesuatu seenaknya! Bahkan fenomena alam di dunia ini banyak yang tidak rasional. Paman harus terima keadaan dunia ini, bahkan manusia sendiri pun diciptakan memiliki perasaan, bukan hanya untuk bersikap rasional! Kita ini makhluk hidup, bukan robot!" ujar Shahih.
"Pembicaraan kita sudah tidak sesuai lagi! Manusia itu tidak diciptakan, mereka ada menurut evolusi yang terjadi selama jutaan tahun lamanya," ujar Adam.
"Kalau begitu..... paman memercayai teori Darwin? Manusia dari kera? Yang benar saja! Jika paman tarik kesimpulan dengan pemikiran rasional, seharusnya di luar bumi ini banyak makhluk yang sama seperti kita! Kalau paman mencoba berpikir rasional, bukankah seharusnya ada makhluk hidup lain yang memiliki kecerdasan setara dengan manusia? Kenapa hanya manusia yang memiliki akal pikiran? Dari miliaran jenis hewan yang ada, kenapa hanya manusia yang memiliki kecerdasan?" tanya Shahih.
"Presentase terjadinya evolusi seperti ini memang di bawah 1%! Hampir tidak ada kemungkinan berevolusi menjadi makhluk yang cerdas! Bisa dikatakan ini adalah kelainan yang kebetulan terjadi," ujar Adam. Shahih pun menggeleng kepala.
"Perkataan paman sudah nggak rasional lagi! Kenapa paman membicarakan kebetulan? Omong kosong apa itu? Coba paman jelaskan alasan terjadinya evolusi pada manusia jika memang harus rasional!" ujar Shahih. "Kalau itu bisa kau tanyakan pada ahlinya!" ujar Adam.
"Masalahnya, ahlinya juga belum tahu mengenai hal itu, sekarang mereka hanya menyebutnya sebagai kebetulan. Itu bukan pemikiran yang rasional! Banyak hal yang terkait dengan probabilitas di dunia ini, tapi mereka menyebutnya kebetulan! Mereka hanya memilih-milih mana yang harus dipikirkan secara rasional dan mana yang nggak perlu dipikirkan secara rasional. Secara kebetulan juga mereka memilih menyikapi agama dengan pemikiran rasional, sedangkan mereka mengabaikan topik yang lainnya," ujar Shahih.
"Ada ribut-ribut apa ini?" tanya Jordan keheranan. Shahih hanya menatap Adam dengan tatapan sinis. "Aku nggak membencimu, paman! Aku akan pastikan kau masuk Islam," ujar Shahih.
"Loh? Kenapa ini? Kalian sedang membahas agama? Hati-hati Shahih, kau ingin menyesatkannya juga?" tanya Jordan.
"Bukan menyesatkannya! Pria ini nggak punya agama. Aku akan buat dia mengakui adanya tuhan, aku akan mengarahkannya," ujar Shahih kemudian berlalu dari hadapan mereka.
"Benarkah begitu? Mungkin aku yang akan mengarahkanmu agar tidak percaya adanya tuhan. Kau masih kecil, belum terlalu rasional! Ketika kau semakin tumbuh besar, kau akan mengerti," ujar Adam. Shahih yang sempat berhenti melangkah pun langsung keluar ruangan.
__ADS_1