
Kini tinggal tiga anak yang melangkahkan kaki ke asrama putra. Diliputi rasa resah, ketiganya masuk ke dalam kamar.
Tentu saja mereka merasa tidak nyaman dengan hal itu. Shahih diduga oleh anak-anak seangkatan bahwa ia terlibat dalam pencurian ponsel mereka.
Meskipun belum ada bukti pasti, kepergian Shahih secara tiba-tiba membuat dugaan mereka semakin kuat, Shadiq dan Hasan pun mulai merasa resah.
Akan tetapi Asyraf semakin tenang, pada hari-hari selanjutnya saat mereka geram dengan Shahih, ia menemukan bukti penting kalau Shahih tidak mencuri ponsel-ponsel itu.
Masalahnya semua satpam sangat ingat hari-hari mereka dibantu oleh Shahih. Jadwal mereka bersih-bersih bertabrakan dengan waktu kehilangan ponsel itu jadi tidak mungkin Shahih yang mencurinya.
Asyraf terus menelusuri kegiatan Shahih setiap hari dan menyadari satu hal. "Kenapa aku bisa tahu kegiatan Shahih sehari-hari? Padahal aku tidak pernah mencatatnya," gumamnya.
Ia pun menghampiri beberapa anak untuk meminta pendapat mereka. "Fashalay, menurutmu kalau Shahih ada di sini, saat ini dia sedang apa?" tanya Asyraf.
"Hmm? Tunggu dulu! Ini hari kamis, pekan kedua ya? Mungkin sedang bantu pak satpam nganterin berkas-berkas ke kantor. Dia sangat gigih sekali! Hari itu dia sedang dalam mode dermawan, dia akan mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri," jawab Fashalay.
Setelah puas mendengar jawabannya, Asyraf pun bertanya pada beberapa anak lainnya. Kebanyakan anak-anak juga mengetahui apa yang Shahih lakukan sehari-hari, seolah mereka semua adalah CCTV hidup yang merekam semua aktivitas Shahih.
"Shahih, anak itu.... benar-benar luar biasa! Gimana caranya ia bisa memanipulasi orang-orang di sini? Alibinya jelas menunjukkan kalau dia nggak bersalah! Dia pasti mengujiku dengan teka-teki ini!" ujar Asyraf.
"Eh? Apa? Kamu bilang apa tadi?" tanya Arkan yang kebetulan berlalu di hadapannya. "Bukan apa-apa, aku hanya bicara sendiri," ujar Asyraf.
Setelah memecahkan teka-teki itu, akhirnya ia mencoba mencari tahu alasan mengapa Shahih tetap merahasiakannya.
Ketika ia termenung sambil menatap dipan Shahih yang ada di samping Arkan, ia pun menyadari sesuatu. Lemari Shahih, belum ada seorang pun yang penasaran dengan isinya.
Akhirnya Asyraf mencoba menghampiri lemari itu dan hendak membukanya. Saat itulah ia menjadi ragu-ragu. Ia takut kalau-kalau setelah membuka pintu lemari itu, tumpukan ponsel ada di dalamnya.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya sembari menunggu suasana kamar menjadi sepi.
Adzan pun berkumandang, sedangkan anak-anak segera berlari menuju masjid setelah kakak pengurus membunyikan bel, mereka tidak ingin terkena hukuman.
__ADS_1
Akhirnya Asyraf menyempatkan diri untuk membuka lemari Shahih. Ia pun mulai menarik gagang pintu sambil berharap tidak ada tumpukan ponsel di dalamnya. Ia bahkan sampai memejamkan matanya.
Setelah terbuka lebar, akhirnya ia bisa melihat isi dalam lemari itu.
Kosong, hanya ada secarik kertas yang tertinggal di sana. Asyraf segera memeriksa secarik kertas yang berisi coret-coretan itu.
Ia menyadari kalau itu adalah kode rahasia yang biasa Shahih gunakan saat berpesan padanya. Ia pun mulai menerjemahkannya.
"Akhirnya kau menemukan ini juga. Sebenarnya sudah dari lama aku berniat untuk pergi dari pesantren ini. Bukan hanya itu saja, aku mungkin tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Aku tidak bisa beritahu sampai kapan aku pergi, yang jelas..... akrabkanlah dirimu dengan ayah kandungmu, dan saudara-saudaramu juga. Lalu, meskipun ibumu belum pernah sadarkan diri, meskipun kau belum pernah mengenalnya, kuharap kau bisa terus merawat dan menjenguknya ketika libur. Meskipun belum pernah berbicara denganmu, ia tetap ibumu yang melahirkanmu. Jangan merasa enggan meskipun kau melihat wajah pucatnya karena ia masih terbaring di rumah sakit bertahun-tahun lamanya. Semoga ia lekas siuman,"
Asyraf pun dapat menyimpulkan kalau surat itu dibuat sejak lama, sebelum Aisyah siuman. Ia pun mulai membalik secarik kertas itu.
"Kau pasti penasaran kenapa aku merahasiakan tentang pencurian ponsel-ponsel itu. Sebelum itu, aku yakin kau sudah tahu kalau aku bukan pencurinya dan pencuri itu sekarang sedang ada di dekatmu, sekarang juga. Dia ada bersamamu,"
Pesan itu membuat Asyraf merinding, ia langsung menengok ke kanan dan ke kiri, namun tidak mendapati siapapun di sampingnya.
"Argh! Anak ini! Bikin takut saja!" gumamnya. Tak lama kemudian seseorang pun masuk, Asyraf langsung menyembunyikan secarik kertas itu di sakunya. Ia mendapati Renogi masuk ke dalam kamar sambil menatapnya keheranan.
"Lah? Kayak nggak biasanya aku masuk ke kamar kalian," ujar Renogi, ia langsung keluar lagi dari kamar tanpa melakukan apapun.
Asyraf pun mencoba membaca kembali pesan yang tertulis pada kertas itu.
"Kau pasti penasaran gimana caranya aku bisa memperkirakan datangnya pencuri itu tepat saat kau membaca surat ini. Aku sudah gerak-geriknya setiap hari, ia selalu mencari kesempatan untuk masuk kamar saat anak-anak pergi ke masjid. Ia tidak mencuri uang, ia mungkin hanya mengambil beberapa barang yang dilarang di pesantren. Meskipun tindakannya terlihat bijak, mencuri tidak bisa dibenarkan. Aku sengaja merahasiakannya agar orang lain yang membuktikan kalau anak itu adalah pencuri, aku tidak ingin membicarakan keburukan orang di belakang. Begitu juga denganmu, kau pasti juga ragu kalau aku adalah pencurinya. Jadi kau pasti memilih waktu yang tepat untuk membuka lemariku, dan hasilnya.... kalian berpapasan. Maaf jika aku terlihat seperti orang yang mengendalikan pikiran kalian semua. Sekarang giliranmu untuk mengungkapkan pelaku sebenarnya, terserah mau seperti apa caranya,"
Pesan itu pun berakhir, Asyraf hanya bisa mengerutkan dahi, ia juga tidak tahu seperti apa cara membuktikan bahwa Renogi adalah pencuri ponsel-ponsel itu.
Setelah sholat usai, tiba-tiba Shadiq, Hasan, dan Asyraf dipanggil ke tempat Alfa. Mereka bertiga sempat keheranan dengan pemanggilan yang tiba-tiba itu.
"Ada apa paman? Nggak kayak biasanya tiba-tiba manggil begini," ujar Hasan. Di sisi lain Shadiq masih takut dengan Alfa layaknya anak-anak lainnya, ia masih menganggap Alfa sangat mengerikan karena pernah memukul Ghozali hingga mimisan.
"Paman minta kalian bertiga mengajar TPA di desa sebelah, ntar paman antar ke sana setiap sore. Mau nggak?" tanya Alfa.
__ADS_1
"Mau!" seru Hasan, menurutnya itu adalah kesempatan untuk pergi dari lingkungan pesantren yang menjenuhkan itu.
Di sisi lain Shadiq tampak terpaksa menyanggupinya, ia tidak ingin Alfa merasa kecewa jika ia menolaknya.
"Gimana, Asa? Mau ikut juga?" tanya Alfa. "Terserah paman saja," ujar Asyraf, ia tidak peduli mau ikut atau tidak, ia tidak punya kegiatan khusus untuk menolaknya.
Akhirnya hari pertama mereka pun dimulai. Mereka bertiga harus menghadapi anak-anak SD yang membandel itu.
Hasan pun langsung duduk untuk memperkenalkan diri, begitu juga dengan Shadiq.
Asyraf pun merasa lega karena Shadiq tidak terlalu gagap di hadapan anak kecil.
Akhirnya kegiatan belajar membaca Al-Qur'an dimulai. Hasan mulai menuliskan beberapa penggalan kata dalam Al-Qur'an.
"Kau ini bodoh kah? Cara mengajar anak-anak bukan seperti itu!" ujar Asyraf sambil menghapus tulisan di papan tulis sedangkan anak-anak mulai menertawakan Hasan karena Asyraf menyebutnya bodoh.
"Hei, Asa! Sebaiknya jangan keras-keras kalau ngomong!" ujar Hasan. "Aku sengaja mengatakannya dengan keras," ujar Asyraf kemudian mulai menulis huruf demi huruf.
"Kamu ngajak ribut di sini?" tanya Hasan mulai emosi. "Sebaiknya kau sadar diri dulu! Suaramu juga terlalu keras! Kau nggak sadar kalau selama ini selalu mengusik Arkan dengan nada bicaramu? Kau membuatnya merasa hina di hadapan banyak orang," ujar Asyraf. Suasana tempat itu menjadi tegang karena perdebatannya.
Akhirnya Shadiq langsung melerai keduanya. "Sudahlah, Hasan! Cuma begitu doang! Kamu juga, Asa! Kenapa tiba-tiba membahas itu di sini? Kita bukan mau berdebat, ini mau ngajarin anak-anak!" ujar Shadiq.
Anak-anak. itu terlanjur tidak mau diajar oleh Asyraf dan Hasan, mereka pikir keduanya sangat galak. Pada akhirnya hanya Shadiq yang mengajar mereka.
Anak-anak itu tampak senang dengannya, beberapa anak juga langsung melekat pada kedua lengannya sehingga membuatnya kesusahan untuk mengajar.
Meskipun begitu Shadiq tetap sabar menghadapi mereka, ia mencoba berdiri sekuat tenaga sedangkan beberapa anak sedang bergelantungan di lengan dan bahunya.
Ibu-ibu hanya bisa tersenyum saat melihat anak-anak mereka menjahilinya. Mereka sangat terkesan dengan kesabaran Shadiq.
Shadiq juga merasa senang bisa akrab dengan mereka. Hanya dengan anak-anak itu ia tidak bersikap canggung dan tidak perlu meminta maaf saat melakukan sedikit kesalahan, ia merasa kalau dunianya berada di sekeliling mereka.
__ADS_1
Setelah selesai mengajar, ibu-ibu menghampiri mereka bertiga untuk menyapa, meskipun begitu mereka hanya menanyakan nama Shadiq, mereka berharap ia akan datang ke tempat itu lagi. Shadiq dengan senang hati menerima tawaran mereka.