
"Nggak mungkin! Kenapa aku turun jadi peringkat tujuh?" Hasan tidak terima. "Heleh! Cuma turun dua tingkat aja kayak tersambar petir aja kamu! Aku yang dari kemarin peringkat sepuluh juga biasa aja," ujar Shadiq.
"Gila! Peringkat pertama Shahih, peringkat keduanya Asyraf! Mereka berdua diam-diam menghanyutkan!" ujar Ario.
"Benarkah? Shahih peringkat pertama?" Hasan tidak percaya, ia mencoba memeriksa peringkat yang ada di papan pengumuman kelas.
"Hasan, kupikir kamu pernah bilang kalau Shahih itu selalu peringkat terakhir di SD, kok kamu kalah dengannya?" tanya Fashalay keheranan.
Shahih dan Asyraf terdiam di depan papan pengumuman. Hal itu membuat anak-anak lainnya tidak memiliki kesempatan untuk melihat-lihat.
Secara serentak Shahih dan Asyraf mengambil kertas peringkat yang ada di papan pengumuman lalu merobeknya.
Anak-anak sekelas tercengang melihat tindakan mereka berdua. Tanpa sepatah katapun mereka berdua keluar dari kelas lalu membuang kertas yang sudah robek itu ke dalam tempat sampah lalu.
Shahih belum selesai dengan tindakannya, ia mengambil segelas air lalu menyiram kertas itu hingga tintanya luntur.
"Aku tidak menyangka kau juga akan melakukan hal yang sama," ujar Asyraf. Shahih tidak merespon perkataannya, ia langsung pergi ke kamar untuk membereskan barang-barangnya.
"Hei, di mna rumahmu?" tanya Asyraf. "Oh, benar sekali! Aku harus memberikan tur singkat untukmu tentang rumah kami. Agak mewah loh, kuharap kau tidak terlalu membencinya. Aku sendiri juga tidak nyaman tinggal di rumah besar itu," ujar Shahih.
Setelah mereka selesai mengemasi barang-barang, akhirnya mereka berdua pergi keluar gerbang asrama bersama-sama.
Shadiq langsung berlari ke arah mereka. "Shahih, Asa! Ikutlah dengan kami ke rumah paman Rofiq! Dia bakal marah lagi kalau kami nggak ngajak kamu ke sana, seperti perpulangan sebelumnya," ujar Shadiq.
"Bilang ke pamanmu! Kalau mau marah, ke orangnya langsung! Jangan lampiaskan ke orang lain," ujar Shahih, ia langsung menarik lengan Asyraf untuk pergi ke halte bus.
Shadiq pun tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak bisa menghentikan mereka berdua dan itu membuatnya kebingungan hingga terisak.
"Lagi? Kenapa kau cengeng sekali? Ngapain nangis di depan gerbang?" tanya Hasan keheranan. Ia hendak memeriksa apa yang Shadiq lihat.
__ADS_1
"Oh! Itu mobil paman Rofiq!" seru Hasan, ia langsung memanggil Syihab untuk pergi ke gerbang.
Setelah Rofiq membuka pintu mobilnya, Zahra pun keluar untuk mencari-cari adiknya yang sangat ia nantikan itu.
"Loh? Di mana Shahih dan Asa?" tanya Zahra. "Ada apa? Kalian nggak ajak Shahih lagi?" tanya Rofiq, ia hendak murka, namun melihat Shadiq yang semakin terisak, ia pun meredakan amarahnya.
"Sha... Shahih dan Asa sudah pergi duluan, aku nggak sempat bilang ke mereka," ujar Shadiq.
"Apa yang kalian bicarakan? Siapa itu Asa?" tanya Rofiq penasaran. "Oh? Paman belum tahu yah? Ternyata kami masih punya satu adik lagi! Wajahnya benar-benar sama persis seperti Shahih! Aku nggak nyangka ternyata mereka kembar empat dua pasang!" seru Syihab.
"Begitu kah? Lalu mereka pergi ke mana? Panti asuhan?" tanya Rofiq. "Mungkin saja," ujar Syihab. "Paman kalian di mana? Si Alfa itu di mana?" tanya Rofiq.
"Kayaknya lagi lanjut kuliah, dia nggak pernah mengunjungi pesantren, dia juga kayaknya nggak tahu kalau Shahih memiliki kembaran," ujar Syihab.
"Begitu kah? Baiklah, mari pulang!" ujar Rofiq. Ia pun langsung membawa keempat anak itu ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Lilis menyambut mereka dengan riang gembira. Ia tidak menyangka dengan perubahan besar yang dialami oleh Zahra, Shadiq, dan Hasan.
"Eh? Sifat yang mana?" Syihab penasaran. "Biasalah masa muda yang membara," ujar Lilis.
"Aduh! Ini berat banget! Ngobrolnya nanti aja sih! Aku mau lewat!" keluh Hasan. Akhirnya mereka pun langsung masuk ke kamar masing-masing untuk menaruh barang mereka.
Shadiq langsung merebahkan diri karena kelelahan. Saat itu juga Syihab masuk ke dalam kamar dengan baju basah kuyup penuh keringat.
Ia pun melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang bulat. "Hei, kak Syihab! Apa yang kakak lakukan?" tanya Shadiq terkejut, ia langsung berbalik badan dengan wajah memerah.
"Apa yang salah denganmu Shadiq? Kenap kamu malu lihat kakak telanjang? Kita ini sama-sama laki-laki loh!" ujar Syihab sambil menghampiri Shadiq.
"Pakai baju sih! Aku nggak mau lihat!" ujar Shadiq. "Kenapa sih? padahal dulu juga sering mandi bareng loh, kenapa nggak boleh?" tanya Syihab.
__ADS_1
"Kau ini ada-ada saja! Ngapain telanjang bulat begitu?" tanya Risky yang tiba-tiba masuk. "Bukan apa-apa! Si Shadiq aneh banget! Masak dia malu lihat aku telanjang! Emangnya tubuhku kayak perempuan?" tanya Syihab.
"Nggak mungkinlah! Aku nggak bis bayangin tubuh perempuan gempal begitu. Tapi tubuhmu lumayan juga! Mau kuajak ke Gym?" tanya Risky.
"Wah, menarik sekali! Kita ajak Shafiq sekalian!" seru Syihab. "Nggak mau!" ujar Shadiq. "Ayolah! Kakak belum pernah lihat tubuhmu! Jangan bikin penasaran loh! Kita ini sama-sama laki-laki ngapain malu-malu," ujar Syihab sambil membalik badan Shadiq. Sayangnya anak itu menutup kedua mata.
"Apaan ini? Ngapain tutup mata?" tanya Syihab. "Muka adikmu berubah merah loh! Kayaknya dia benar-benar malu," ujar Risky. Tak lama kemudian suara terisak pun terdengar.
"Tuh kan, kubilang apa? kau ini suka sekali memaksa kehendak adikmu," ujar Risky. Syihab pun terdiam, sedangkan Shadiq langsung keluar dari kamar dengan terisak.
"Cih, sudah berapa kali kamu nangis hari ini?" tanya Hasan sambil menggeleng kepala, ia juga sedang berada di luar kamar.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berada di luar?" tanya Rofiq. "Si kak Zahra sih! Lama banget ganti bajunya!" ujar Hasan kesal.
"Terus, Shadiq! Kenapa nangis?" tanya Rofiq. Akhirnya Shadiq mengadukan semua keluh kesahnya.
Rofiq pun memanggil Syihab. "Syihab, adikmu nggak nyaman kalau kamu telanjang di hadapannya. Kalau mau ganti baju harusnya cepat lakukan, jangan malah ganggu Shadiq!" ujar Rofiq.
"Lah, dia kan laki-laki, Kak Risky juga biasa aja lihat aku telanjang. Dia yang tiba-tiba datang ke sini kok malu-malu," ujar Syihab.
Rofiq semakin bingung dengan keadaan anak-anak itu. Hasan dan Zahra mulai gaduh dan bertengkar. Alasannya sederhana, karena Zahra selalu lama saat ganti baju.
Permasalahan sepele mereka menjadi panas dan rumit karena rumah itu sangat kecil, Rofiq bingung hendak berbuat apa, akhirnya ia mendapatkan satu ide.
"Kalian bisa beres-beres rumah kan? Kalian sudah besar loh! Shadiq, Hasan, kalian bisa nyapu dan ngepel lantai kan?" tanya Rofiq.
"Tentu saja, Shahih sering mengajari kami," ujar Shadiq. "Kau ini benar-benar bermulut besar!" ujar Hasan kesal.
"Baiklah! Besok paman akan membawa kalian pindah ke rumah kalian, Zahra bisa masak kan?" tanya Rofiq. "Tentu saja!" ujar Zahra dengan lagaknya.
__ADS_1
"Lalu Syihab! Kamu juga harus bantu-bantu adikmu loh! Jangan sampai cuma bisa ngatur doang," ujar Rofiq, ia hendak memberikan sejumlah uang pada Syihab, namun ia tidak dapat memercayainya.
"Ya sudahlah, pokoknya kita ke rumah kalian dulu, setelah tahu keadaannya, paman akan berikan uang untuk sehari-hari," ujar Rofiq.