
Ario masih dikucilkan oleh teman-temannya karena uang kas yang harusnya ia pegang malah menghilang. Pada akhirnya ia harus mengganti rugi semua jumlah dari uang yang hilang itu.
Sejak saat itu bendahara beralih dipegang oleh Shahih dan Asyraf, tentu saja karena saat itu Shahih yang mengajukan diri untuk menjadi bendahara, ia bahkan memberikan laporan pemasukan dan pengeluaran dari uang kas setiap pekannya.
"Alhamdulillah! Uangku kembali!" seru Shadiq sambil memamerkan uang seratus ribu yang ia temukan di lipatan baju. "Tuh kan! Kamunya aja yang teledor! Kalau dicari bener-bener pasti ketemu!" ujar Hasan. Shadiq hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum karena merasa senang.
Shahih pun melirik Bagas sambil tersenyum,anak itu hanya menundukkan kepalanya.
Keesokan harinya Arkan juga tampak kegirangan, ia langsung memberitahu Shahih kalau uangnya baru saja ditemukan. Anak itu tampak sangat bahagia, ia pun mengganti uang kas yang dibayarkan oleh Shahih.
"Nggak perlu," ujar Shahih. "Aish! Aku berhutang padamu kok! Ini ambil kembali!" ujar Arkan. "Nggak usah, uangmu sedikit kan?" tanya Shahih, Arkan terdiam sejenak.
"Benar juga, kamu anak orang kaya, bahkan ayahmu seorang dokter, uang segini nggak ada apa-apanya bagimu," ujar Arkan kemudian berbalik badan.
"Aku nggak bermaksud menyinggung kondisimu. Aku nggak akan minta maaf," ujar Shahih. "Mau didengar kayak apapun, itu jelas menyinggung! Kupikir kamu nggak akan memerhatikan kondisi teman-temanmu, sayangnya kamu membuat batasan itu sendiri, seolah aku ini orang miskin yang pantas dikasihani," ujar Arkan.
"Sudah kubilang, aku nggak bermaksud begitu! Aku hanya ingin kau nggak usah repot-repot datang membawa uang itu, lagian aku malas menaruh uang di lemari," ujar Shahih.
"Cuma beberapa detik doang buat melangkah ke lemari loh, juga ada cara lain buat menolaknya. Kamu bisa suruh aku traktir apa sebagai gantinya atau mungkin tinggal terima aja uang ini lalu masukkan ke dalam kas. Tapi kamu menolaknya seolah benar-benar nggak butuh. Aku tahu kalau kamu orang kaya, tapi jangan tunjukkan itu padaku! Kamu sama saja kayak anak-anak lainnya! Kamu sama saja......" Perkataan Arkan terhenti karena Asyraf mengambil uang yang seharusnya Arkan berikan pada Shahih.
"Karena Shahih nggak butuh, buat aku saja. Toh dia juga adikku jadi sama saja kau sudah bayar hutangmu," ujar Asyraf. Akhirnya Arkan pun bisa pergi dengan tenang.
"Kupikir kau lebih mengenal anak itu daripada aku. Kayaknya hari ini pikiranmu sedang kacau," ujar Asyraf sambil memeriksa dahi Shahih. Aku baik-baik, aku nggak ingin ada yang mengganggu bacaanku, tapi dia tiba-tiba datang. Kalau itu bukan Arkan mungkin aku sudah melemparinya buku ini," ujar Shahih.
"Mengerikan sekali, aku jadi teringat hari pertama aku datang ke sini. Kudengar kau juga melempari Shadiq dengan bukumu," ujar Asyraf.
"Yeah, kalau pada Shadiq, aku bisa melakukan apapun, dia nggak mudah menyimpan dendam atau sakit hati. Meskipun mudah menangis, tapi anak itu mudah melupakan masalah yang sudah tuntas," ujar Shahih.
"Sayangnya kau membuat masalah itu berkelanjutan, kau tidak memaafkannya selama berhari-hari, membuatnya terus menangis," ujar Asyraf.
__ADS_1
"Biar dia jera, biar nggak ganggu aku lagi," ujar Shahih. "Lah, kenapa nggak kau peringati saja si Arkan? Bilang saja kalau kau nggak mau diganggu," ujar Asyraf. Shahih tidak menggubris, ia sibuk membaca bukunya.
"Hei! Kau dengar aku?" tanya Asyraf. Shahih tetap diam. "Luar biasa sekali kau ini! Selalu diam kalau nggak punya jawaban," ujar Asyraf kemudian pergi, ia mencoba mencari Arkan dan menemukannya sedang terdiam di kelas.
Anak itu sedang menuliskan sesuatu di bukunya, sayangnya bukan itu yang Asyraf perhatikan, ia terus memandangi bahu Arkan.
"Ada apa?" tanya Arkan sambil menutup buku, ia pikir sejak tadi Asyraf melihat bukunya. "Bukan apa-apa kok," ujar Asyraf sambil menghampiri Arkan lalu memegang bahunya.
"Apaan sih?" tanya Arkan keheranan. "Aku baru sadar, ternyata bahumu lebar juga. Gimana caranya bisa begini? Kau sering push up?" tanya Asyraf. "Ngg... nggak sering kok, aku nggak terlalu suka berolahraga," ujar Arkan.
"Oh, begitu kah? Ngomong-ngomong, apa yang kau tulis?" tanya Asyraf. "Cerita," jawab Arkan.
"Sejak kapan kau menulis itu?" tanya Asyraf. "Dari kecil. Aku dari dulu memang nggak punya teman, cuma buku dan pensil yang menjadikan alasan keberadaanku nggak seperti orang hilang. Kalau nggak ada ini.... mungkin aku cuma diam dengan pikiran kosong," ujar Arkan.
"Makanya cari teman, bergaul dengan orang lain bukanlah hal buruk," ujar Asyraf. Ia mengajak Arkan kembali ke kamar.
"Hei, Bagas! Kamu benar-benar luar biasa," ujar Ario sambil menabrakkan bahunya pada bahu Bagas. Setelah itu ia kembali mengobrol dengan Fashalay. Kali ini Ario sudah tidak dikucilkan lagi, justru perhatian anak-anak tertuju pada Bagas.
Shahih mendapati Bagas sedang menatap dirinya dengan perasaan kecewa, Shahih sendiri tidak mengerti kenapa Bagas menatapnya seperti itu.
Akhirnya ia pun pergi ke kerumunan anak-anak dan mendapati seorang anak dari kamar lain, namanya Renogi. Anak dengan mata sipit itu langsung keluar kamar setelah berpapasan dengan Shahih.
Karena penasaran, Asyraf pun keluar kamar untuk mengikutinya. "Kau dari kamar lain, kenapa masuk kamar kami?" tanya Asyraf.
"Aku cuma mau kasih berita besar ke mereka," ujar Renogi. "Berita apa?" tanya Asyraf penasaran. "Sst! Jangan bilang siapa-siapa! Bagas, temanmu itu ternyata pencuri! Aku kemarin lihat dia berkali-kali membuka lemari orang lain," bisik Renogi.
"Bagus sekali, gimana caranya kau bisa lihat dia mencuri? Kau juga sedang mencuri kah? Seharusnya anak-anak sedang berada di masjid saat itu, kenapa kau bisa melihatnya? Kau masih di sini? Kau nggak pergi ke masjid?" tanya Shahih, ia sudah terlanjur menatap anak sipit itu dengan tatapan benci.
"Aku lagi sakit, terus tiba-tiba dia lari masuk ke dalam kamar. Jelas-jelas mencurigakan gerak-geriknya. Dia tengak-tengok kayak tikus," ujar Renogi.
__ADS_1
"Nggak usah sebar-sebarin ini ke orang lain lagi, kalau ada yang mencurigakan, bilang ke ketua kamar! Jangan disebarin!" tegur Shahih, ia mengajak Asyraf pergi ke kamar agar tidak berlama-lama bicara dengan anak itu
"Ada apa sih? Kenapa kau tampak sangat membencinya?" tanya Asyraf. "Dia tukang sesat, kalau bercanda nggak pernah kira-kira, mulutnya benar-benar nggak tertolong pokoknya," ujar Shahih.
"Banyak kok, anak yang seperti itu," ujar Asyraf. "Dia ini beda, aku nggak mau beritahu detailnya. Pokoknya jangan sampai kau terpengaruh dengan perkataannya," ujar Shahih.
"Aku pernah beberapa kali berbicara tentang filsafat dengannya, dia anak yang pintar," ujar Asyraf.
"Daripada membicarakan hal itu, lebih baik gunakan waktumu untuk memahami Al-Qur'an," ujar Shahih sambil menyerahkan buku tafsir kecil kepada Asyraf. "Sejak kapan kau pegang buku ini?" tanya Asyraf.
"Nggak penting," ujar Shahih kemudian kembali ke kamar. Saat itulah ia mendapati Hasan tiba-tiba memuntahkan makan siangnya.
"Innalilahi! Hasan! Kenapa ini?" tanya Ario terkejut, Hasan langsung terjatuh ke lantai dengan tubuh lemas.
"Astaghfirullah Hasan! Bangun!" ujar Shadiq panik, ia segera mengangkat tubuh Hasan lalu membaringkannya di dipannya.
"Duh, kasihan sekali karena dipannya ada di atas," ujar Fashalay. "Biarkan dia tidur di dipanku dulu," ujar Shadiq kemudian segera mengambil pel untuk membersihkan bekas muntahan Hasan.
Shahih pun menghampiri Hasan dan memeriksa bagian tubuhnya, ia juga berkali-kali menekan perutnya.
"Hmm! Sepertinya diare!" ujar Shahih. "Bisa sampai demam begini, berarti sudah beberapa hari yang lalu," ujar Asyraf.
"Shadiq! Kemarin dia habis makan apa? Ada yang aneh kah?" tanya Shahih. "Nggak kok, dia makan kayak biasanya" ujar Shadiq, ia kemudian terdiam untuk mengingat sesuatu.
"Oh, iya! Aku baru ingat! Dia mengeluh karena roti yang dibelinya ternyata sudah kadaluarsa selama beberapa hari. Aku nggak tahu kalau dia bakal makan itu," ujar Shadiq.
"Duh! Tubuhnya berat sekali! Kau bisa mengangkatnya, Shadiq?" tanya Asyraf. "Nggak lah, tubuhku sama Hasan juga lebih berat Hasan," jawab Shadiq.
"Arkan! Tolong panggilkan penjaga UKS!" seru Shahih. Arkan pun langsung berlari keluar kamar untuk memanggil petugas UKS.
__ADS_1