
Syihab terus menelan ludah sembari melihat pemandangan sekelilingnya dari jendela mobil. Ia mencoba menahan matanya yang berkaca-kaca.
Ia masih sangat takut akan ditinggal pergi jauh dari kedua orangtuanya. Aisyah terus membelai kepalanya dan memeluknya erat-erat, ia tahu saat ini Syihab sedang gelisah.
Pada akhirnya mereka sampai di pesantren tanpa kendala. Syihab langsung melihat seorang anak yang berteriak histeris mengejar mobil orang tuanya.
Beberapa anak bahkan masih belum bisa menerima kenyataan bahwa mereka akan ditinggalkan orang tua mereka di tempat itu.
Tangisan histeris itu membuat Syihab semakin ketakutan. Aisyah terus memeluknya erat-erat sambil menutup telinga dan mata Syihab. Ia segera membawa anak itu ke dalam asrama.
Awalnya Syihab merasa sangat ketakutan, namun setelah masuk ke dalam kamar asrama, ia bisa duduk dengan tenang selagi ibunya membereskan lemari untuk barang-barangnya.
Ia hanya bisa diam di dipan tempat ia duduk, sambil menatap ibunya. Tidak lama kemudian Ghozali datang.
"Bentar lagi jadwal kerjaku, kita akan pulang sekarang," ujar Ghozali. "Bentar mas! Dia sendirian di sini loh! Aku harus membereskan semuanya," ujar Aisyah.
"Tenang saja, Syihab adalah anak yang pintar. Ia juga nggak nangis walaupun sudah sampai di sini, nggak kayak anak lainnya," ujar Ghozali dengan bangga sambil mengusap-usap kepala anaknya. Syihab hanya bisa tersenyum tipis.
"Kamu nggak apa-apa kan nak?" tanya Aisyah, Syihab hanya mengangguk. Aisyah kembali menaruh barang-barang ke lemari sedangkan suasana menjadi hening seketika.
Ghozali hanya melipat kedua tangan di dada sambil memperhatikan Aisyah menaruh barang-barang. Ia tampak terburu-buru sambil menghentak-hentakkan kakinya, sesekali juga memperhatikan jam tangannya.
"Jam tangan dari mana itu mas?" tanya Aisyah penasaran, ia merasa tidak nyaman karena Ghozali memakai barang yang tidak dibelikan olehnya. "Oh... ini? Ini.....dari direktur," ujar Ghozali, ia tahu kalau istrinya menatapnya penuh curiga, ia tidak bisa mengatakan kalau jam tangan itu adalah pemberian Mayang. Karena Mayang adalah anak direktur, ia hanya bisa menjawab seperti itu, agar tidak terlihat seperti orang yang berbohong.
"Oh? Begitu kah? Bahkan pria juga memperhatikan penampilanmu? Sampai membelikan jam tangan yang cocok di tanganmu juga?" Pertanyaan Aisyah diselipi banyak perasaan curiga.
"Yeah, kamu tahu kan? Aku paling mencolok dari semua dokter yang ada karena membuat direktur menghilangkan kebijakan rapat malamnya," ujar Ghozali.
"Yang bikin dia begitu tuh, aku mas! Bukan kamu! Kalau aku nggak ngomong soal kerepotan jaga anak, dia mungkin tetap mengajakmu nongkrong-nongkrong di kafe hingga larut malam," ujar Aisyah dengan wajah sebal.
Akhirnya Aisyah selesai membereskan barang-barang. Ghozali langsung memberikan uang saku pada Syihab.
"Syihab, jangan nakal yah! Belajar yang giat biar cita-citamu tercapai!" seru Ghozali. Akhirnya ia dan Aisyah pun pergi meninggalkannya.
Syihab mengantar mereka berdua hingga ke depan gerbang, lalu menatap kepergian mereka.
__ADS_1
Aisyah tidak bisa berhenti menangis melihat anak kecil itu berdiri diam menatap kepergiannya. Ia terus menahan tangisannya sejak berada di asrama, namun ia tidak bisa menahannya lagi di mobil.
Ghozali pun memberhentikan mobilnya di kiri jalan setelah jauh dari pesantren. "Tenanglah, sayang! Sabar, dia baik-baik saja kok di sana," ujar Ghozali.
Aisyah masih terus terisak sedangkan Ghozali berusaha menenangkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Syihab pun kembali ke kamar dengan berjalan lemas. Kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkannya. Ia pun duduk termenung di dipan sambil menatap uang pemberian ayahnya. Entah kenapa itu membuatnya ingin menangis.
Akan tetapi tidak lama kemudian ia mendengar anak-anak lain sedang asyik bercerita. Mereka menceritakan berbagai hal tentang permainan yang ada di PlayStation, dan itu membuat Syihab tertarik, akhirnya ia ikut menimbrung ke pembicaraan mereka.
Semakin lama ia berbicara, ternyata semakin seru. Entah kenapa ia menjadi merasa sangat senang berada di tempat itu hanya dalam hitungan detik.
"Heh, kamu nangis nggak ditinggal orang tua?" tanya Faisal, seorang anak yang baru saja berkenalan dengan Syihab. Syihab menggeleng kepala.
"Benarkan! Lagian buat apa nangis? Malah lebih enak di sini! Nggak digangguin orang tua! Main bareng! Tidur bareng, nggak ada yang nyuruh temen pulang, temen kita di sini tidur sekamar dengan kita!" seru Faisal. Setelah dipikir-pikir lagi, menurut Syihab perkataannya memang masuk akal, ia tidak perlu waspada akan terkena marah ayahnya.
"Hmm! Benar sekali! Aku jadi nggak perlu lihat ayahku yang marah-marah kayak gorila," ujar Syihab.
"Eh, aku tadi lihat ayahmu loh! Yang pakai kacamata hitam itu kan? Keren banget tahu! Kayak bos Mafia!" seru Faisal. "Siapa? Siapa?" tanya Ifan, salah seorang teman Faisal.
"Iya bener! Paling keren sih!" ujar Faisal. "Wahahah! Gila ganteng banget asli! Ayahmu aktor kah? Kok bisa sekolah di sini?" tanya Ifan keheranan.
"Bu.. bukan! Mana mungkin muka gorila kek dia jadi aktor!" ujar Syihab. "Dih! Nggak paham sih! Mukanya keren banget tau! bisa bergaya! Coba aja kalau mukaku kek gitu! Pakai jas hitam, kacamata hitam, diiringi pengawal, kayak di film-film," ujar Faisal.
"Iya, nggak kek ayahku, dah beringas, mukanya nyebelin! Makanya aku mending sekolah di sini aja, biar nggak lihat dia terus," ujar Ifan.
Akhirnya malam pertama mereka di pesantren dipenuhi cerita tentang keluarga masing-masing, bahkan alasan mereka masing-masing bisa berakhir di pesantren itu.
Syihab tidak menyangka kalau rasa sedihnya bisa lenyap begitu saja, ia bahkan memiliki banyak teman di tempat itu, ia bisa beradaptasi dengan mudah.
Setelah sepekan berlalu, ia sudah melupakan keluarganya, ia tidak pernah merasa risau lagi karena banyak teman-teman yang mendukungnya sekarang.
Karena ia suka berolahraga, ia jadi memiliki banyak teman, selain itu ia juga pintar, hingga orang lain memiliki kesan baik terhadapnya.
__ADS_1
Alfa pun datang ke lorong asrama, langkah kakinya yang sangat khas dapat dikenali oleh Syihab bahkan sebelum ia melihat pria itu.
"Eh? Kalian dengar itu? Kayaknya nggak ading deh!" ujar Syihab. "Benar sekali, tiba-tiba jadi hening begini! Sebenarnya ada apa sih?" tanya Faisal keheranan.
"Coba lihat saja ke depan, memangnya sandal siapa yang bunyi langkahnya sekeras ini?" tanya Ifan. Akhirnya mereka bertiga pun mengintip lewat jendela kamar.
Faisal pun langsung terkejut dan menutup mulut. "Ada apa?" tanya Ifan keheranan. "Ustadz itu! Ustadz paling galak di sini! Tatapannya juga sangat tajam! Ia benar-benar menyeramkan!" ujar Faisal.
Sayangnya tidak begitu bagi Syihab, ia sangat kegirangan dan langsung keluar kamar. "Paman Alfa!" seru Syihab kemudian menghampiri pria itu.
"Oh? Ternyata Syihab, kamu sudah betah di sini yah?" tanya Alfa sambil menyeringai lebar. Entah kenapa Syihab merasa tatapan matanya lebih tajam dari biasanya.
Syihab hendak menjabat tangan Alfa, namun pria itu terus menatap dengan tatapan dingin mengerikan. Alfa pun langsung mengulurkan tangannya sedang Syihab langsung mencium tangannya.
"Bentar lagi Ashar, sana persiapan dulu. Jangan sampai terlambat loh," ujar Alfa. "Baik, paman!" ujar Syihab sambil tersenyum ramah.
Syihab hanya bisa menelan ludah selagi pria itu pergi meninggalkannya. "Hei, hei! Kamu baik-baik saja? Berani sekali langsung menghampirinya!" ujar Faisal.
Syihab langsung menghela nafas lega dan kembali ke kamarnya. Entah kenapa jantungnya berdebar cepat saat melihat tatapan dingin Alfa, padahal ia tidak pernah menyaksikannya seperti itu di rumah.
"Mentalmu kuat sekali, Syihab! Kamu hebat!" seru Faisal. "Dia pamanku, tentu saja aku harus menyapanya," ujar Syihab.
"Pa.... pamanmu? Wah! Ada apa saja di keluargamu sebenarnya, Syihab? Bos Mafia? Ustadz Killer? Yang benar saja!" Faisal tercengang.
"Eh, biasa aja lah! Ayahku bukan siapa-siapa kok! Bos Mafia dari mananya?" tanya Syihab keheranan. "Bos Mafia, ya bos Mafia! Kayak bule-bule Eropa loh! Matanya juga coklat," ujar Ifan.
"Lah! Bule dari mananya? Dia nggak putih-putih amat kok! Lagian kalau mata coklat sih, aku juga bermata coklat," ujar Syihab. "Ya iya, kalian kan anak dan ayah, sama-sama punya Daddy Face," ujar Faisal.
"Hahahaha! Daddy Face katanya! Mulai sekarang panggilannya Daddy Syihab aja!" ujar Ifan.
"Eh? Kalian ini berlebihan! Jangan bikin julukan yang aneh-aneh deh!" ujar Syihab. "Nggak aneh kok! Ini seperti sebuah gelar, Daddy Syihab," ujar Faisal. Ifan tidak bisa berhenti tertawa mendengar julukan itu.
"Sepertinya bergurau dengan Syihab sangat seru yah!" ujar Faisal, sembari tertawa, mereka berdua sadar kalau Alfa sudah berada di kamar mereka dengan sebuah balok kayu panjang.
Merek pun menjadi salah tingkah. "Satu......" Alfa mengisyaratkan dengan wajah dinginnya. Seketika anak-anak yang ada di dalam kamar langsung berlari keluar.
__ADS_1
"Buset! Mengerikan sekali orang itu! Kalau sampai hitungan ketiga belum keluar kamar juga, mungkin balok kayu itu akan mendarat di punggungmu," ujar Ifan.
"Benarkah? Tahu dari mana?" tanya Syihab. "Kakak kelas sempat cerita kemarin siang," bisik Faisal. Mereka pun langsung buru-buru mengambil air wudhu kemudian pergi ke masjid. Syihab masih tidak menyangka kalau Alfa semengerikan itu.