Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Perlombaan


__ADS_3

Shadiq dan Hasan bisa beradaptasi dengan kehidupan pesantren karena Syihab yang menuntun mereka. Kedua anak itu juga tertarik dengan pelatihan beladiri karena sering melihat Zahra berlatih sewaktu pulang.


Sudah beberapa bulan sejak mereka berdua tinggal di pesantren. Keuletan mereka dalam pelatihan beladiri sangat menonjol dan menarik perhatian para pelatih.


"Hei Syihab! Kau nggak ikut pelatihan beladiri? Padahal semua adikmu ikut loh! Lihatlah! Mereka berdua sangat antusias," ujar Ifan.


"Aku sudah di tahun terakhir, bentar lagi lulus! Ngapain ikut kayak gituan?" tanya Syihab keheranan.


"Bukan begitu loh! Maksud Ifan, kenapa nggak dari dulu ikut?" tanya Faisal. "Yeah, kalaupun ikut palingan aku hanya bakal jadi samsak bagi para pelatih," ujar Syihab sebal.


"Oh! Oh! Pasti gara-gara yang waktu itu yah!" Ifan mencoba mengingat sebuah kejadian. "Waktu itu yang mana?" tanya Faisal keheranan.


"Kau nggak lihat sih! Si Syihab sama Yusuf disuruh maju ke depan buat cobaan teknik beladiri, pokoknya kasihan banget deh!" ujar Ifan.


"Kudengar si Yusuf juga nggak ikut beladiri," ujar Syihab. "Sayang sekali! Padahal tubuh kalian berdua sangat besar loh! Lengan dan kakimu juga lumayan kekar," ujar Faisal sambil memijat betis dan lengan Syihab dengan keras.


"Hei! Jangan di bagian itu! Ngilu!" ujar Syihab. "Gimana rasanya? Kayak siku tangan membentur tembok kan?" tanya Faisal.


"Sudahlah! Tubuhku ini bukan buat mainan!" ujar Syihab kesal. "Tapi apa yang jadi motivasimu memiliki tubuh besar seperti ini? Padahal kau nggak ikut beladiri," Ifan keheranan.


"Yeah, aku selalu jadi samsak adikku," ujar Syihab sebal. "Eh? Adikmu yang mana? Mereka berdua kah? Nggak berakhlak sekali!" ujar Faisal miris.


"Bukan mereka! Tapi adikku yang satunya lagi! Yang perempuan," ujar Syihab. "Eh! Aku lihat! Si imut yang ikut masuk ke kamar adik kembarmu itu? Itu juga adikmu? Kupikir itu sepupumu loh!" seru Faisal.


"Bukan leh! Itu adik kandungku!" ujar Syihab. "Wah, tapi beda dengan mukamu loh! Nggak ada garang-garangnya! Mana mungkin gadis cantik itu adikmu!" ujar Ifan.


"Hei! Tentu saja dia adikku! Dia sangat mirip dengan ibuku loh!" ujar Syihab. Setelah Syihab sendiri yang membahas orang tua, Ifan dan Faisal langsung terdiam, mereka tidak ingin Syihab kembali berduka atas apa yang terjadi pada ayah dan ibunya.


Tak lama kemudian suasana canggung mereka berakhir ketika Anita menjewer telinga Syihab.


"Aduh! Aduh! Sakit!" seru Syihab. "Kalian nggak lihat sudah jam berapa? Sekarang waktunya pemadatan materi loh! Jangan malas!" tegur Anita.


"Duh! Kenapa cuma aku yang dijewer sih bu? Mereka kan juga masih di luar kelas!" keluh Syihab.


Sebelum Anita menegur mereka, Faisal dan Ifan langsung masuk ke dalam kelas. "Hei! Hei! Jangan pergi kalian berdua!" ujar Syihab, sayangnya Anita semakin keras menjewer telinganya.


Setelah pemadatan materi selesai, Syihab langsung kembali ke kamar sambil memeriksa telinganya di cermin.


"Duh! Bukankah bu Anita semakin ganas akhir-akhir ini? Dia bahkan berani menyentuh telingamu loh!" ujar Faisal.


"Mungkin besok-besok ia mulai menamparmu atau... mungkin memukulmu seperti ini," ujar Ifan sambil memperagakan seorang wanita yang sedang memukul-mukul dada Syihab dengan lemas.


"Nggak kebayang lagi tahu! Sayangnya bentar lagi kita lulus! Kalau masih beberapa tahun lagi mungkin bisa jadian nih Syihab sama bu Anita," ujar Faisal.


"Eh, ngomong-ngomong, aku booking adikmu yang di asrama putri yak! Aku jadi adik iparmu," ujar Ifan sambil merangkul bahu Syihab.


"Hei, apaan! Aku yang bakal jadi adik ipar Syihab loh!" ujar Faisal tidak mau kalah, ia juga ikut merangkul bahu Syihab.


"Kalau terus seperti ini, lama-kelamaan tubuhku semakin pendek loh!" ujar Syihab sambil menyingkirkan lengan Ifan dan Faisal.

__ADS_1


Tak lama kemudian Shadiq dan Hasan datang dengan nafas tersendat-sendat. "Kak Syihab!" teriak Shadiq dan Hasan serentak.


Orang-orang sangat gemas melihat dua anak kembar berambut seperti landak itu, mereka langsung membawa keduanya masuk ke dalam.


"Ada gaduh apa sih?" Syihab keheranan sambil memeriksa apa yang terjadi. Kedua adiknya sudah menjadi mainan teman-temannya.


"Kalian lagi ngapain sih? Mereka bukan boneka loh!" ujar Syihab, Shadiq dan Hasan pun langsung berlari ke arah Syihab dan bersembunyi di belakangnya.


"Yeah, bukan apa-apa, cuma rambut mereka itu benar-benar bagus sekali," ujar salah seorang.


"Ada apa, Shadiq, Hasan? Kenapa kalian berkeringat?" tanya Syihab keheranan. "Kami akan lomba!" seru Shadiq dan Hasan serentak, mereka tampak bersemangat.


"Eh? Lomba? Sparring atau pertunjukan seni?" tanya Syihab. "Sparring dong!" ujar Hasan bangga.


"Eh? Seriusan? Hasan juga mau ikut sparring?" tanya Syihab. "Ikutlah! Kenapa nggak?" tanya Hasan.


"Kalau Shadiq ikut sparring sih nggak masalah, tapi kamu jangan! Muka ini nggak boleh kena cidera!" ujar Syihab.


"Lah berarti kalau aku yang cidera nggak masalah, gitu?" Shadiq merasa kecewa karena Syihab hanya membela Hasan.


Saat ini Syihab merasa bahwa Shadiq adalah saingannya, apalagi pertumbuhan Shadiq saat ini terasa sangat aneh baginya.


"Nggak usah hiraukan kakakmu, dia cuma iri karena nggak punya ini," ujar Ifan sambil menunjuk kumis Shadiq.


"Eh, nggak gitu kok, Shadiq. Kakak cuma bercanda tadi. Kakak khawatir dengan Hasan karena dia kidal, takutnya nggak cocok buat sparring," ujar Syihab.


"Loh, justru karena kidal dia jadi terpilih ikut lomba," ujar Shadiq. "Sudahlah, nggak usah banyak alasan, Syihab! Ngaku aja, kau iri dengan adikmu kan?" ujar Ifan, Syihab hanya memalingkan wajah sebalnya.


Akhirnya hari perlombaan pun tiba, Shadiq dan Hasan dapat memenangi babak pertama, bahkan pada pertandingan ini Hasan masih menyembunyikan strateginya, ia masih menggunakan tubuh bagian kanannya yang lemah.


Setelah melalui babak kedua dan ketiga, peserta lomba pun menjadi lebih sedikit, kali ini Shadiq dan Hasan bisa memperhatikan pertandingan para peserta dengan baik.


"Pertandingan selanjutnya adalah Asyraf dari pesantren Al Ghifari, melawan Hidayat dari pesantren Mumtaza!" ujar komentator perlombaan.


"Heh? Mumtaza? Kayak namanya kak Zahra aja," ujar Shadiq. Akhirnya peserta yang dipanggil pun langsung masuk ke dalam arena. Mereka mengambil sikap kuda-kuda.


"Eh? Itu! Itu! Bukankah itu Shahih?" tanya Hasan terkejut sambil menunjuk-nunjuk arena.


"Mana?" tanya Shadiq, ia malah memeriksa bagian kursi penonton. "Itu loh yang lagi tanding!" seru Hasan.


"Eh? Memangnya iya sih?" Shadiq masih keliru. "Argh! Coba deh lihat dari dekat saja!" ujar Hasan kemudian mengajak Shadiq ke tempat yang lebih dekat arena.


"Eh! Benar sekali! Itu Shahih! Nggak salah lagi! Tapi namanya......" Shadiq terdiam saat melihat nama peserta itu.


"Kayaknya cuma mirip aja deh," ujar Shadiq. "Apa iya sih? Bisa semirip itu? Lihatlah ekspresinya!" ujar Hasan.


"Mungkin gara-gara lagi tanding jadi ekspresinya datar," ujar Shadiq. "Eh! Pokoknya ntar kalau aku panggil nama Shahih kau yang sahut yah! Biar aku nggak malu!" ujar Hasan.


"Lah ngapain? Kau mau teriak begitu?" tanya Shadiq. "Yeah, barang kali ia merasa terpanggil," ujar Hasan.

__ADS_1


Akhirnya setelah pertandingan selesai, ia pun sengaja berada di dekat peserta itu. "Shahih!" seru Hasan dengan suara keras. Sayangnya anak itu tidak merespon sama sekali, ia bahkan berlalu di hadapan Hasan seolah-olah hanyalah orang asing, ia bahkan tidak berpikiran untuk meliriknya sama sekali.


Hasan yang merasa terabaikan langsung terdiam. Shadiq pun menghampirinya sedangkan anak itu tampak berwajah pucat.


"Loh? Kenapa, Hasan?" tanya Shadiq. "Nggak, bukan apa-apa kok," ujar Hasan sambil melirik ke arah peserta tadi, ekspresi peserta itu tampak datar meskipun sudah selesai dari pertandingan.


"Lihatlah, dia benar-benar mirip Shahih, tapi saat kupanggil dia malah mengabaikanku," ujar Hasan dengan mata berkaca-kaca.


"Tenanglah, Hasan! Dia bukan Shahih," ujar Shadiq berusaha menghibur Hasan. "Entah itu Shahih atau bukan, wajah seperti itu.... aku sangat membencinya! Wajah bodohnya itu sangat mengganggu!" ujar Hasan kesal.


"Tenanglah Hasan, kita masih ada beberapa pertandingan lagi!" ujar Shadiq.


Akhirnya babak selanjutnya dimulai, kebetulan sekali karena kali ini Shadiq melawan peserta yang mirip Shahih itu.


"Apakah dia Shahih? Atau bukan? Wajahnya itu... aku benar-benar ingat sekali kalau itu wajah Shahih! Jangan-jangan ia pura-pura nggak kenal kami? Atau hilang ingatan?" Konsentrasi Shadiq teralihkan karena terus memikirkan hal itu, ia pun kalah dalam pertandingan.


Di sisi lain Hasan masih berlanjut, ia masih beruntung karena belum berhadapan dengan peserta yang membuat emosinya meluap-luap itu.


Ia pun sampai ke babak semifinal, sayangnya lawannya kali ini berbadan lebih besar meskipun lebih pendek darinya.


Ia pun kesulitan melawan anak itu karena tangan kanannya tidak berpengaruh untuk menyerang tubuh kekarnya.


"Argh! Sialan! Padahal aku hendak memakai kartu as ini untuk final, tapi si gempal ini menghalangi saja!" ujar Hasan kesal.


Akhirnya ia mengubah gaya kuda-kudanya, kali ini ia memposisikan kaki kanannya di depan. Sontak tindakannya itu membuat heboh komentator bahkan para penonton langsung ramai dengan ekspresi keheranan.


"Duh! Jantungku jadi semakin berdebar-debar! Dasar komentator sialan!" ujar Hasan kesal, ia pun melampiaskan kekesalannya itu pada lawannya. Akhirnya ia menang telak dengan kegesitannya yang tidak dibandingkan lagi dengan lawannya.


Akhirnya ia maju ke babak final, namun ia dikejutkan dengan peserta yang menjadi lawannya. Itu adalah anak yang sangat mirip dengan Shahih.


Akhirnya mereka berdua pun maju ke arena dan saling bersalaman. "Hei, namamu siapa?" tanya Hasan. "Asa," jawab anak itu singkat. Bahkan dari suaranya Hasan bisa mengenali kalau itu adalah suara Shahih.


"Sepertinya kau tidak tertarik untuk tahu namaku," ujar Hasan. "Hasan," ujar anak itu. "Yeah benar sekali! Namaku Hasan! Kau kenal Shahih?" tanya Hasan. Anak itu tampak kebingungan.


"Siapa itu?" tanya anak itu keheranan, sayangnya Hasan belum sempat menjawab sedangkan mereka disuruh ke posisi masing-masing.


Akhirnya mereka langsung bertanding, namun Hasan kalah dalam sekejap karena ekspresi datar anak itu sangat mengganggunya.


Ia pun menghampiri anak tadi lalu memegang pundaknya. Anak itu pun menoleh dan menatapnya keheranan.


"Kembar," ujar anak itu sambil melirik ke arah Shadiq yang ada di samping Hasan. Shadiq pun terkejut karena mendengar suara anak itu lebih jelas, ia langsung menghampirinya dan memegang kedua bahunya kuat-kuat.


"Kau..... kenal Shahih?" tanya Shadiq dengan wajah serius. "Asa! Waktunya foto-foto loh! Ayo ke sini!" ujar salah seorang pria. Akhirnya anak itu langsung pergi sebelum sempat menjawab pertanyaan Shadiq.


"Akhirnya kau juga nggak bisa nahan diri buat penasaran kan?" tanya Hasan. "Dia benar-benar mirip Shahih!" ujar Shadiq, entah kenapa melihat anak itu pergi dari hadapannya membuatnya merasa kehilangan.


"Ah, kira-kira Shahih di mana yah sekarang? Aku nggak nyangka selama ini nggak pernah ngobrol dengannya," ujar Shadiq.


"Bukan salahmu, dia sendiri yang nggak pernah bicara! Aku juga sempat malu di sekolah gara-gara dia diejek bisu," ujar Hasan.

__ADS_1


"Kenapa dia yang diejek, tapi kau yang malu?" tanya Shadiq keheranan. "Ya, mau gimana lagi? Dia adikku," ujar Hasan. "Iya juga sih, dia adik kita berdua. Kuharap dia baik-baik saja sekarang," ujar Shadiq kemudian mengajak Hasan pulang.


__ADS_2