Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Pecandu buku


__ADS_3

"Hei, bukankah Asa makin lama jadi makin mirip Shahih?" tanya Fashalay. "Apanya yang mirip? Mereka berdua memang kembar," ujar Hasan.


"Nggak loh, akhir-akhir ini aku sering mengira kalau dia adalah Shahih, si Maniak kutu buku. Lihatlah anak itu," ujar Fashalay sambil menunjuk ke bawah. Kebetulan ia dan Hasan berada di atap jadi bisa memerhatikan semua gerak-gerik orang yang berada di halaman.


Asyraf tampak baru saja keluar dari UKS, tentu saja dengan sebuah buku di tangannya. Hal itu meresahkan orang-orang yang sedang berlalu lalang dalam aktivitas. Tingkah Asyraf yang tidak memerhatikan jalan membuat mereka kesusahan saat berlalu di hadapannya.


Asyraf langsung berhenti sebentar sambil menyandarkan diri pada pilar. Ia tampak menikmati buku bacaannya.


Merasa letih karena terus berdiri,ia memutuskan berjalan beberapa langkah lagi kemudian duduk pada sebuah bangku di depan kamar. Ia tampak tidak peduli sedang duduk di mna dan melanjutkan bacaannya.


Sebuah bola tiba-tiba melambung ke arahnya, ia langsung menghindarinya dengan sempurna.


Merasa terganggu dengan aktivitas olahraga orang-orang, ia pun beranjak dari bangkunya dan berjalan kembali.


Jalannya tampak sangat lambat dan membuat orang-orang kesal. Ia juga menyadari kalau dirinya berjalan sangat lambat hingga merasakan pegal.


Akhirnya ia memangku tangannya di pagar kemudian kembali membaca bukunya. Kelakuan anehnya terus berulang hingga Hasan dan Fashalay geli melihatnya.


"Dia benar-benar kecanduan," ujar Hasan. "Aneh sekali! Padahal yang ia baca bukanlah novel atau cerita menarik. Itu juga bukan sebuah ponsel! kok bisa-bisanya dia betah membuka matanya berjam-jam hanya untuk buku itu? Lebih banyak dapet pahala kalau dia gunakan buat baca Qur'an," ujar Fashalay, ia merasa dirinya lebih baik daripada Asyraf.


"Buat baca Qur'an dia nggak butuh lihat buku lagi, dia sudah hafal 30 juz. Dia sering kali melantunkan beberapa ayat ketika menyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring, bahkan saat menggu kelas dimulai. Yang jelas dia lebih sering membaca Qur'an dari pada kamu," ujar Hasan, ia sangat benci jika ada orang yang mengajaknya membicarakan keburukan orang lain, oleh karena itu ia bersikap dingin pada Fashalay.


"Kamu kenapa, Hasan? Hari ini bad mood sekali," ujar Fashalay. "Bukan apa-apa. Andai saja aku memiliki setengah dari semangat Asa untuk membaca buku, pasti peringkatku di kelas akan terus naik," ujar Hasan.


"Nggak harus baca buku loh! Bahkan orang malas kayak Arkan pun bisa peringkat kedua tanpa harus belajar," ujar Fashalay.


"Nggak adil sekali! Kita belajar susah-susah, kenapa dia yang nggak belajar bisa dapat peringkat yang lebih tinggi dariku?" tanya Hasan kesal.


"Semua itu bukan karena rajin atau nggaknya, dia punya otak yang lebih encer," ujar Fashalay. Hasan yang merasa kesal ingin segera melampiaskan amarahnya. Ia pun pergi menemui Arkan yang tampak sedang merapihkan lemari.

__ADS_1


"Hei, Arkan! Padahal nggak pernah belajar, kok bisa peringkatmu lebih tinggi dariku?" tanya Hasan tidak terima. Suara kerasnya terdengar hingga ke ujung ruangan, membuat anak-anak di dalam kamar itu mendengarnya. Sekilas mereka memang tampak tidak peduli dengan peringkat, namun setelah perkataan lantang dari Hasan itu, mereka mulai memikirkan prasangka-prasangka buruk.


Arkan sempat terkejut karena ia tiba-tiba menjadi pusat perhatian dengan tatapan dengki dari anak-anak sekamarnya.


Ia hanya diam, berharap ada seseorang yang membelanya atau Hasan mengembalikan kata-katanya yang kejam itu.


Asyraf pun datang, Arkan sempat berharap padanya, namun anak itu tidak peduli, ia sedang sibuk membaca buku.


Sekilas Hasan merasa bersalah karena berbicara terlalu keras hingga Arkan menjadi pusat perhatian. Ia pun menghampiri Arkan.


"Bu... bukan itu maksudku. Maksudku..... seperti apa caramu belajar bisa mendapatkan peringkat tinggi?" tanya Hasan, wajahnya dipenuhi rasa bersalah.


"Seperti yang kamu pikirkan, aku nggak pernah belajar. Aku belajar hanya saat jam pelajaran, itu saja," ujar Arkan kemudian pergi meninggalkannya.


Asyraf tahu apa yang sedang dialami anak itu, ia pun mengikutinya diam-diam karena buku yang ia baca sudah habis.


Arkan pun masuk ke dalam kelas lalu menulis sesuatu di bukunya. "Apa yang kau tulis?" tanya Asyraf. Secara spontan Arkan langsung menyembunyikan bukunya.


"Yang aku tulis bukan apa-apa kok, nggak cocok buat kamu baca. Ini cuma khayalan," ujar Arkan. "Oh? Kau menulis novel? Kalau begitu coba aku baca ceritanya! Kayaknya bagus," ujar Asyraf.


"Nggak! Ini mungkin kamu pikir tulisan anak kecil, cuma fantasi saja," ujar Arkan. "Nggak apa-apa, namanya juga novel. Aku udah nggak ada buku lagi yang bisa kubaca," ujar Asyraf.


"Nggak deh, tulisanku jelek. Kalau kamu baca nyar kepalamu tambah sakit, " ujar Arkan. "Arkan, kau marah padaku?" tanya Asyraf, sekilas ia melihat anak itu menelan ludah, bahkan urat di dahinya mulai menonjol.


"Kenapa kau marah?" tanya Asyraf tidak mengerti. "Aku nggak marah kok, nggak usah baca bukuku," ujar Arkan, ia semakin tidak ingin memperlihatkan bukunya.


"Aneh sekali, kalau kau menulis sebanyak itu tapi nggak ada yang boleh baca terus buat apa? Sudahlah, biar kubaca! Kumohon, kepalaku mulai sakit, " ujar Asyraf, ia langsung duduk di samping Arkan karena kelelahan.


"Nggak," ujar Arkan. Asyraf bahkan merintih sambil memegangi kepalanya. "Aktingmu jelek sekali! Aku nggak akan kasih kamu baca buku ini," ujar Arkan. "Arkan, kumohon!" ujar Asyraf sambil mengguncang-guncang lengan Arkan.

__ADS_1


Karena merasa tidak nyaman, Arkan segera pergi dengan buku bukunya. Asyraf masih di kursi, ia berharap Arkan berbalik badan dan berubah pikiran, namun Arkan terus pergi menjauh hingga keluar kelas.


Asyraf merasa sakit kepalanya sangat tidak tertahankan, ia ingin sesuatu yang bisa ia baca sebelum pikirannya mulai kacau. Sayangnya tidak ada apa-apa di kelas itu sedangkan ia malah jatuh tersungkur di lantai tak sadarkan diri.


Tak lama kemudian Hasan pun masuk ke dalam kelas dan mendapati Asyraf sudah tergeletak di lantai.


"Hei, kenapa kamu tidur di situ? Kotor loh!" ujar Hasan sambil mengguncang-guncang tubuh anak itu. Sayangnya Asyraf tetap bergeming.


Hasan pun menjadi panik, ia memanggil anak-anak yang lainnya. Akhirnya seseorang memanggil ustadz di kantor. Saat itulah Alfa langsung bergerak cepat untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


Pihak UKS tidak tahu kondisi Asyraf saat ini, akhirnya Alfa membawanya ke rumah sakit.


Setelah dikabari, Ghozali dan Aisyah pun segera menjenguknya, namun anak itu belum kunjung sadar.


"Apa yang sebenarnya terjadi dok?" tanya Ghozali. "Oh, mas Ghozali. Bagaimana mas bisa sampai ke sini?" tanya dokter itu keheranan, namun Ghozali sedang menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Maaf, untuk keadaan ananda Asyraf...... sepertinya ada kelainan pertumbuhan dan produksi hormon pada kepalanya, ini membuat sebuah tekanan pada bagian otaknya," ujar dokter itu.


"Ke... kenapa bisa begitu?" tanya Ghozali. "Mungkin kelainan saat lahir. Ini bisa terjadi ketika ia dilahirkan dalam keadaan prematur, atau mungkin memang ada kelainan genetik yang diwariskan orang tua. Apakah masnya pernah mengalami hal seperti ini? Gejalanya berbeda untuk setiap kondisi seseorang. Gejala yang buruk adalah seperti ini, ia bisa saja mengalami koma jika keadaannya lebih lemah. Jika saja kondisi tubuhnya prima dan baik, bisa jadi tidak ada gejala apapun atau gejalanya akan terlihat dari kecil, seperti kedewasaan di usia dini. Bukan dewasa secara mental, namun secara fisik." Dokter itu menjelaskan.


"Benar sekali! Seperti itu! Aku juga mengalaminya! Bahkan Shadiq juga. Tapi Hasan tetap normal," ujar Ghozali. "Loh? Jadi mereka ini kembar? Tapi kenapa mereka berdua usianya tampak tidak jauh berbeda dengan ananda Asyraf?" tanya dokter keheranan.


"Mereka kembar empat, identik dua pasang," ujar Aisyah. "Hmm, jadi sepasang kembar ini menunjukkan gejala positif! Berarti kemungkinan anak kembar yang lainnya akan mengalami gejala yang sama seperti ananda Asyraf! Sebaiknya segera diperiksakan! Gejalanya tidak akan sama waktunya, mungkin sekitar sebulan, atau bahkan beberapa tahun kemudian. Kita harus mencegah hal seperti ini terjadi lagi," ujar dokter itu.


Aisyah hanya bisa terduduk lemas, ia langsung menangis di tempat. "Loh? Ada apa ini?" tanya dokter itu keheranan saat melihat wajah terpuruk dari Ghozali dan Alfa.


"Apa yang terjadi pada anak satunya?" tanya dokter itu penasaran. "Sekarang dia entah ada di mana, kedua orang tuanya memang bukanlah orang yang bertanggung jawab," ujar Alfa. Ia benar-benar muak dihadapkan dengan kenyataan itu. Sebelum amarahnya meluap-luap, ia langsung pergi meninggalkan mereka.


Sayangnya saat mengendarai mobil, kegelisahannya tidak pernah hilang. Ia terus mengkhawatirkan keberadaan Shahih yang samar-samar.

__ADS_1


"Dasar anak itu! Pergi ke mana sih dia?" Alfa hanya bisa menggigit jari karena tidak tahu menahu tentang kondisi Shahih.


__ADS_2