Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Asrama putri


__ADS_3

Suara anak-anak terisak masih terdengar bahkan setelah malam tiba. Entah kenapa Zahra merasa kesal dengan hal itu, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Ia pun mencoba merubah posisi tidurnya, namun ia mendapati anak di samping kirinya sedang menangis juga sambil menutup wajah dengan selimut.


"Kata ayahku kalau kamu begitu terus nanti kekurangan oksigen loh! Bisa mati," ujar Zahra, tangisan anak itu semakin menjadi-jadi.


"Iya! Iya! Maaf! Aku nggak nakut-nakutin kamu kok, cuma... kecilin dikit suaranya! Aku mau tidur," ujar Zahra.


"Kamu nggak sedih ditinggal papa sama mama?" tanya anak itu. "Aku nggak punya papa dan mama," ujar Zahra.


Anak itu pun langsung membuka selimutnya, ia tampak prihatin pada Zahra. "Bercanda, aku memang nggak punya papa dan mama, aku punyanya ayah dan ibu," ujar Zahra. Entah kenapa setelah mendengar perkataan Zahra, anak itu langsung tersenyum.


"Aku Naila, kamu siapa?" tanya anak itu. "Aku Zahra," ujar Zahra. "Aku Intan loh," ujar salah seorang anak yang berada di samping kanan Zahra. Awalnya Zahra hanya diam karena anak itu tiba-tiba menyahut, ia pun tertawa lalu menepuk-nepuk bahu anak itu.


"Namaku Zahra, salam kenal!" ujar Zahra. Perbedaannya dengan anak-anak itu pun tampak semakin jelas, sifat feminimnya tidak terlihat jika dibandingkan dengan anak-anak perempuan lainnya, tingkahnya bahkan sudah dianggap aneh bagi Naila dan Intan.


Zahra sudah melupakan kesedihannya, bahkan mulai hari itu ia langsung mencari banyak teman, ini adalah pertama kalinya ia tidur bersama teman-temannya dan itu sangat mengasyikkan baginya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepekan telah berlalu, Zahra tampak asyik berjalan sambil membawa embernya, ia hendak mencuci baju. Saat itulah ia menjumpai seorang pria yang menjadi pengawas ujiannya. Pria itu langsung berkacak pinggang.


"Akhirnya ketemu lagi," ujar pria itu. Zahra hanya bisa bersikap sopan sambil menyapanya lalu segera pergi.


Sayangnya setelah selesai mencuci baju, ia menjumpai pria itu lagi. Ia menjadi semakin kesal, meskipun pria di hadapannya itu seorang ustadz yang harus ia hormati, ia tidak akan segan-segan jika sedang kesal.


"Apaan sih? Ustadz mau apa?" tanya Zahra kesal. Pria itu tertawa. "Bukan apa-apa, biasanya kalau anak perempuan bertemu laki-laki asing yang sama, ia langsung ketakutan dan lari ke kamar," ujar pria itu.


"Ustadz pikir Zahra juga takut? Dahlah! Zahra mau jemur baju," ujar Zahra sok sibuk. Anak-anak lainnya memperhatikannya dari kejauhan.


"Kenapa kamu kayak gitu di hadapan ustadz Amir? Dia kerabatmu? Kalian tampak akrab sekali," ujar para gadis remaja. "Bukan kok mbak, bukan apa-apa," ujar Zahra kemudian menggantungkan pakaiannya di jemuran.


Tak lama kemudian Alfa datang menghampiri pria yang bernama Amir tadi. Zahra yang menyaksikan hal itu langsung meninggalkan cuciannya, ia langsung menghampiri Alfa dan memeluknya.


"Dah lama banget nggak ketemu paman!" seru Zahra saking bahagianya. "Eh?" Amir terkejut melihat Zahra yang tiba-tiba berlalu di depannya.

__ADS_1


"Nga... ngapain Zahra? Jangan di sini! Paman jadi malu!" ujar Alfa sambil tengok kanan dan kiri.


"Heh?" Amir masih tidak mengerti. "Oh, maaf ustadz, ini keponakanku," ujar Alfa. Amir pun langsung tertawa. "Pantas saja! Kalian berdua sangat mirip! Sama-sama galak!" ujar Amir.


"Eh? Zahra? Galak kenapa?" tanya Alfa keheranan, Zahra langsung menatap tajam Amir seolah memberinya ancaman untuk bungkam.


"Ng... nggak apa-apa kok," ujar Amir. "Zahra, paman ada rapat, kamu tinggal dulu yah, main saja sama teman-temanmu," ujar Alfa, Zahra pun mengangguk lalu kembali ke cuciannya.


Meskipun sudah menunggu lama, Alfa tak kunjung muncul, padahal Zahra ingin banyak cerita padanya.


Akhirnya malam pun tiba sedangkan ia tidak menjumpai Alfa. Ia pun kembali ke kamar dengan wajah kesal.


"Ada apa Zahra? Kamu kok cemberut gitu," tanya Intan. "Nggak ada apa-apa kok, ayo tidur!" ujar Zahra.


"Kita kayak mau pesta piyama saja! Lihat! Aku kebanyakan beli camilan!" seru Naila. "Wah! Asyik tuh!" seru anak-anak lainnya, mereka pun berkumpul di dipan Zahra.


Mereka tidak berani duduk di dipan gadis lainnya karena mereka pasti marah, sedangkan Zahra tampak biasa saja meskipun mereka duduk di dipannya.


"Hmm! Mau ngapain yah?" tanya Intan. "Gimana kalau cerita cinta?" tanya Naila. "Eh? Cinta? Hmm! Cinta yah? Sebenarnya aku sudah mulai suka seseorang dari kelas tiga SD," ujar Hafizah, salah seorang anak yang ikut kumpul.


"Wah! Gasik banget! Padahal waktu itu aku masih benci sama laki-laki! Mereka sangat jorok dan bodoh," ujar Intan.


"Buset! Aku lihat kakakmu loh! Ganteng banget! Yang ikut rapiin lemarimu tapi malah kacau balau kan? Tingkahnya lucu banget!" ujar Naila.


"Kayaknya aku langsung jatuh cinta pandangan pertama deh! Aku sampai iri Zahra punya kakak seganteng itu! Ayahnya juga sama, lebih ganteng loh!" ujar Siska.


"Hmm! Pandangan pertama yah? Kalian sudah punya cinta pertama kalian?" tanya Intan.


"Cinta pertama?" tanya Naila kebingungan. "Ituloh, perasaanmu pada orang lain, perasaan suka," ujar Intan.


"Oh, kalau cinta pertamaku sih jelas waktu kelas 3 SD, dia adik kelasku yang baru masuk di tahun pertama, dia beda dengan anak-anak lainnya, dia tampak bersih, putih dan tenang. Juga pendiam," ujar Hafizah.


"Memangnya ada anak yang kayak gitu?" tanya Naila. "Ada kok, dia sangat dewasa! Entah kenapa kalau lihat dia duduk di kursi dengan tenang, sangat menyejukkan hati!" ujar Hafizah.


"Gila sampe ada kata 'menyejukkan hati' segala!" ujar Naila sambil tertawa.

__ADS_1


Sayangnya Zahra terdiam mendengar cerita itu, ia jadi teringat dengan Shahih, ia juga putih, bersih dan pendiam.


"Eh, Hafizah kayaknya asyik banget deh! Coba ceritaiin lagi dong! Namanya siapa?" tanya Siska.


"Asa," jawab Hafizah. "Heh? Nama apa itu? Kok kayak perempuan!" ujar Naila. "Nama aslinya Asyraf, dipanggil Asa. Bukan cuma namanya, mukanya juga emang kayak perempuan. Kalau diibaratkan.... mungkin kayak Zahra! Iya! Dia mirip Zahra, makanya kenalan pertamaku Zahra itu karena dia yang kelihatan nggak asing," ujar Hafizah.


"Ciye, gimana Zahra? Kamu terima nggak pengakuan cintanya?" tanya Naila. "Terima dong!" ujar Zahra bercanda, ia sebenarnya masih memikirkan perkataan Hafizah tentang anak bernama Asyraf.


"Keknya Hafizah cuma bohong si! Emangnya ada yang kayak gitu? Kamu cuma dapet cerita dari novel mungkin!" ujar Siska.


"Nggak kok! Beneran ada anak yang kayak gitu," ujar Zahra. "Eh serius? Jangan-jangan cinta pertamamu juga?" tanya Naila. "Dih! Nggak lah! Dia adikku, saat pertama kali masuk SD, ia langsung dapat bangku paling ujung belakang, nggak ada temannya, akhirnya ia diam di situ terus, juga nggak pernah pergi ke kantin," ujar Zahra.


"Heh! Sama kayak Asa dong! Dia juga nggak pernah ke kantin!" seru Hafizah. "Walaupun bukan cinta pertama, tapi adikku memang paling imut dan menggemaskan! Kalian mau lihat fotonya?" tanya Zahra. Anak-anak itu semakin penasaran, ia pun menunjukkan foto Shahih pada mereka.


"Eh? Heh! Ini Asyraf! Ini Asa!" seru Hafizah. "Dih! Bukan! Ini Adikku! Namanya Shahih!" ujar Zahra. "Dih serius! Ini sama persis kayak Asa! Matanya yang kayak orang ngantuk itu! Benar-benar sama persis!" ujar Hafizah.


"Memang imut banget sih! Dia juga bersih! Tapi kenapa fotonya jelek sekali?" tanya Naila. "Ini harus difoto diam-diam loh! Aslinya dia nggak mau difoto," ujar Zahra.


"Serius? Sama kayak Asa! Asa juga benci difoto!" ujar Hafizah. "Kalau memang bersih, putih kayak dia, aku juga suka sih! Adikmu buat aku saja, Zahra!" ujar Siska.


"Heh! Enak saja! Nggak boleh dong!" ujar Zahra. "Dih! Jangan serakah! Kamu kan dah punya kakakmu yang ganteng banget itu! Nah, adikmu yang cakep ini buat aku saja," ujar Siska.


"Lah kalau adik kakaknya orang cakep kek gini, kayaknya Zahra susah dapet cinta pertama loh," ujar Naila. "Eh? Nggak kok, aku sudah punya," ujar Zahra dengan wajah memerah.


"Siapa? Siapa? Nggak nyangka Zahra bisa suka sama laki-laki juga. Soalnya kelakuanmu juga kayak laki-laki," ujar Naila penasaran.


"Cinta pertamaku adalah ayahku," ujar Zahra. Seketika anak-anak di sekitarnya menjadi diam. "Lah kalau semua anak sih cinta sama kedua orangtuanya! Aku juga," ujar Naila kecewa.


"Nggak kok, ini benar-benar cinta pertama, laki-laki pertama yang aku sukai, ayahku sendiri," ujar Zahra. "Emangnya bisa gitu yah?" ujar Intan kebingungan, beberapa anak lainnya juga mulai menggaruk-garuk kepala.


"Bisa saja lah! Ayahku itu orang yang baik hati, sayang banget sama aku loh! Kalau aku nangis pasti langsung dipeluk, kadang aku juga langsung tidur kalau bersandar di dadanya," ujar Zahra.


"Iya juga sih, ayah Zahra juga ganteng banget. Aku jadi iri, ayahku sendiri nggak mungkin kayak gitu. Bayangin ayahku sendiri adalah cinta pertamaku, itu nggak mungkin sih, kerjaannya ngerokok, ngopi sambil duduk ngangkang di sofa, bener-bener bikin nggak betah," ujar Hafizah.


"Iya, ayah Zahra tuh romantis banget nggak sih? Kalian ingat nggak pas Zahra lagi diem ketakutan di kamar, ayahnya langsung menggenggam tangan Zahra lalu menempelkannya di dadanya, wajahnya tulus banget, entah kenapa sampe kebayang-bayang terus," ujar Siska.

__ADS_1


"Aku nggak lihat, aku lagi nangis kayaknya," ujar Naila. "Aku lihat! Dari awal masuk sampe ayahnya keluar. Soalnya muka Zahra nggak asing banget! Mukanya juga beda sama ayah dan kakaknya," ujar Hafizah.


"Mukaku memang mirip ibuku sih, kayak adikku juga," ujar Zahra. "Wah emang keluarga Zahra isinya orang yang cakep-cakep banget!" ujar Siska.


__ADS_2