Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Solusi untuk Syihab


__ADS_3

Syihab pulang ke rumah tepat saat adzan Maghrib tiba. "Kamu dari mana Syihab? Uang di kamar sering hilang, dan kamu malah pergi sampe larut sore begini!" tegur Ghozali. Syihab hanya menundukkan kepala.


"Ayah sudah lelah begini terus nak! Kamu udah besar! Masa harus ayah pukuli lagi! Dewasalah nak!" ujar Ghozali, ia benar-benar sudah sangat kesal, kebetulan sekali ia sedang memegang sapu karena baru saja menyapu kamar.


"Syihab! Jawab pertanyaan ayah, jangan bikin ayah marah lagi," ujar Aisyah, ia takut anaknya akan terkena pukulan Ghozali.


"Pergi ke mana kamu? Kenapa ambil uang segala?" tanya Ghozali. "Ke warung PlayStation," jawab Syihab sambil menundukkan kepala.


"Pantas saja nilaimu selalu turun! Apa untungnya bermain seperti itu? Hah? Jawab! Jangan diam lagi!" teriak Ghozali.


"Sudahlah mas, jangan teriak-teriak. Nggak baik untukmu," ujar Aisyah sambil mengelus dada Ghozali, ia berusaha menenangkannya dan membawanya ke kamar.


"Aku harus gimana, sayang? Semakin jarang aku di rumah, anak itu semakin kurang ajar!" ujar Ghozali. "Sabar mas! Anak orang lain juga kebanyakan seperti itu," ujar Aisyah.


"Kamu mau menyamakan anakmu dengan anak orang lain? Anak orang lain juga banyak yang jadi gelandangan. Kamu mau anakmu disamakan seperti mereka?" tanya Ghozali.


"Nggak gitu mas, si Syihab pasti jenuh karena terus-terusan di rumah tanpa hiburan. Sejak nggak ada TV di rumah, ia jadi bosan," ujar Aisyah.


"Itu salah mereka sendiri karena berebut acara TV, mereka yang merusaknya," ujar Ghozali.


"Mungkin sebaiknya kita perbaiki saja TVnya," saran Aisyah. "Percuma saja, acara TV saat ini banyak yang nggak bermoral. Bahkan berita-berita zaman sekarang juga hanya berisi kasus pelanggaran HAM, aku takut hal seperti itu menjadi hal yang biasa bagi anak-anak kita," ujar Ghozali.


Tidak lama setelah mereka merenungi kelakuan anak mereka, seseorang mengetuk pintu rumah.


Ghozali pun pergi ke depan dan mendapati Alfa di depan rumah dengan wajah sebal. "Wah, sudah setahun kita nggak bertemu seperti ini. Bahkan saat kami bersilaturahmi, kamu nggak ada di rumah Abi, aku jadi nggak sempat bayar hutangku," ujar Ghozali.


"Jangan salah paham! Aku ke sini bukan menagih utang, aku hanya ingin bertemu Shahih," ujar Alfa.


"Makanya menikah saja, anak sendiri lebih menggemaskan dari pada anak orang lain," ujar Ghozali. "Aku ingin bertemu dengan Shahih bukan karena ia menggemaskan, aku hanya penasaran seperti apa pertumbuhannya karena memiliki wajah yang mirip denganku," ujar Alfa.


"Hei, dia anakku, nggak ada mirip-miripnya denganmu, dia mirip denganku," ujar Ghozali.

__ADS_1


"Aku memang sedikit kesal, kuakui kalau kepala Shahih besar seperti kepalamu, tapi lihat saja baik-baik! Dia nggak punya rambut landak sepertimu, bahkan warna matanya hitam, bukan coklat, Shahih lebih mirip kak Aisyah!" ujar Alfa.


"Kedatanganmu sangat mengganggu sekali! Sayangnya aku nggak bisa mengusirmu karena masih memiliki hutang. Mungkin sebaiknya kulunasi saja dan menyuruhmu pergi," ujar Ghozali kemudian berbalik badan.


Alfa langsung menahan lengannya. "Lepaskan! Kau pikir aku nggak bisa melepaskannya sendiri? Cepat lepaskan sebelum kulakukan dengan paksa!" Ghozali memberi peringatan.


"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu?" tanya Alfa. Melihat mereka berdua yang saling bertatapan dingin membuat Aisyah semakin kesal.


"Kalian ini bisa berhenti nggak sih? Mas Ali ngalah deh! Dia ini masih belum dewasa!" ujar Aisyah. Alfa merasa senang karena kakaknya memihaknya.


"Kamu juga, Alfa! Kenapa datang-datang membuat keributan? Kalau nggak ada kerjaan, sana urusi anak-anak di pesantrenmu!" tegur Aisyah.


"Wah! Benar sekali sayang!" seru Ghozali tiba-tiba. "Apanya yang benar?" tanya Aisyah keheranan. "Pesantren! Mungkin sebaiknya kita sekolahkan Syihab ke pesantren saja!" seru Ghozali.


"Pe... pesantren? Kamu serius mas? Nggak ada jalan lain?" Aisyah tampak khawatir. "Ya elah, kakak! Jangan samakan orang lain denganmu! Setiap orang berbeda-beda! Nggak seperti kakak yang sudah disekolahkan di pesantren eh, malah keluar di tahun pertama," ujar Alfa.


"Berisik!" ujar Aisyah kesal. "Daripada dibiarkan saja, ia mungkin akan terus-terusan pulang malam, aku juga semakin sibuk bekerja, sayang! Nggak bisa memantau anak-anak," ujar Ghozali.


"Siapa yang mau menyekolahkannya ke pesantrenmu?" tanya Ghozali dengan wajah sinis.


"Sudahlah mas! Itu lebih baik daripada tempat lain, seenggaknya ada kerabatnya yang memantau. Aku khawatir jika ia sendirian," ujar Aisyah.


"Cih, anak laki-laki nggak akan semanja itu kali! Ia pasti baik-baik saja," ujar Alfa. Akhirnya Ghozali dan Aisyah menyuruh Syihab ke kamar.


Selagi mereka berbincang-bincang, Alfa langsung mengajak Shahih keluar untuk jalan-jalan.


"Adikmu mau kemana? Kenapa bawa Shahih segala, kayak penculik anak saja," ujar Ghozali. "Biarkan saja dulu, dia berusaha menghibur dirinya sendiri karena dulu sering jadi bahan rundungan orang-orang," ujar Aisyah.


"Dia dirundung di sekolah? Kukira dialah yang suka merundung orang lain, suka merundungku juga," ujar Ghozali kesal.


"Nggak gitu mas, dulu wajahnya nggak semaskulin sekarang, bahkan orang-orang sering menganggapnya saudara kembarku, kalau dia pakai kerudung mungkin nggak ada bedanya denganku," ujar Aisyah.

__ADS_1


"Wah, punya masa kelam rupanya! Apakah ia sering di-bully teman-temannya karena wajahnya sangat feminim?" tanya Ghozali.


"Nggak juga sih, meskipun wajahnya seperti itu, nyatanya kelakuannya sama saja dengan anak laki-laki lainnya, mungkin sama seperti Syihab," ujar Aisyah.


"Sepertinya kenakalan Syihab memang diwariskan turun-temurun dari keluargamu," ujar Ghozali. "Dih! Nggak gitu mas! Ih! Aku lagi bicara serius ini!" ujar Aisyah kesal.


"Iya, iya! Maaf, lalu dia dirundung siapa?" tanya Ghozali. "Anak-anak perempuan," ujar Aisyah.


"Eh? Loh? Kenapa?" tanya Ghozali keheranan. "Kebanyakan perempuan menyukai wajah laki-laki yang seperti itu karena menggemaskan. Ia diperlakukan seperti boneka oleh mereka, ditarik sana sini, diperebutkan. Tentu saja Alfa yang sensitif sangat benci dipermainkan seperti itu, sampai sekarang ia belum menikah karena hal itu, Selain ibu dan kakaknya, ia benci dengan wanita," ujar Aisyah.


"Parah sih kalau sampai benci dengan wanita. Jangan-jangan dia homo?" tanya Ghozali. "Kalau dilihat dari kelakuannya, kayaknya nggak loh mas, dia juga benci padamu. Padahal kamu cukup menarik," ujar Aisyah.


"Eh? menarik dari mananya? Maksudmu bagi pria?" tanya Ghozali keheranan. "Tentu saja! Dengan tubuh kekar seperti itu kamu pilih pakai baju yang kecil hingga semua lekuk tubuhmu terlihat," ujar Aisyah sambil memojokkan suaminya dan berkali-kali mencolek dada bidangnya. Ghozali tidak bisa berkutik, kenyataan bahwa pakaiannya seperti yang dikatakan Aisyah membuatnya terdiam.


"Bahkan setelah semua itu, kamu sangat suka bersolek seolah mencari perhatian orang-orang. Sebenarnya aku khawatir mas, barang kali bukan hanya wanita yang melirikmu, barang kali ada orang yang otaknya miring dikit melirikmu," ujar Aisyah.


"Ehm!" Syihab tampak kesal karena melihat pemandangan panas suami istri itu. "Kenapa ayah dan ibu memanggilku ke sini?" tanya Syihab keheranan.


Ghozali dan Aisyah menjadi salah tingkah. "Yeah, maaf nak! Kamu kelamaan jadi ibumu begini," ujar Ghozali, Aisyah langsung mencubit pinggang suaminya dengan wajah sebal.


"Huh! Jadi ada apa?" tanya Syihab. "Gimana kalau kamu masuk pesantren saja?" tanya Ghozali terus terang. Syihab pun terdiam seribu bahasa, ia tidak bisa menentang setelah membuat banyak masalah.


"Gimana, Syihab? Nggak apa-apa kan?" tanya Aisyah. Setelah melihat wajah mereka berdua, Syihab merasa kedua orang tuanya tidak memberikan kesempatan baginya untuk memilih.


"Yeah, ya terserah ayah dan ibu," ujar Syihab, kepalanya banyak bergerak, berusaha menahan emosi. "Nanti kami daftarkan di pesantren paman Alfa saja, biar kamu nggak sendirian di sana," ujar Aisyah.


"Ya, nggak apa-apa, baguslah," ujar Syihab, ia benar-benar tidak bisa menolaknya, matanya mulai berkaca-kaca karena tidak rela. Sayangnya ia terus menahannya, ia terlalu malu untuk menangis di hadapan orang tuanya.


"Beneran nggak apa-apa?" tanya Aisyah, justru karena pertanyaan itu Syihab menjadi sangat tertekan.


"Iya nggak papa," ujar Syihab kemudian pergi keluar kamar.

__ADS_1


__ADS_2