
"Kak Zahra, kita berangkat ke pesantren kapan yah?" tanya Shadiq was-was. Ia mulai merasa tidak betah di rumah itu karena Syihab terus menatapinya tiada henti. Setiap ada kesempatan, Syihab selalu membekapnya lalu memainkan kumis dan jenggotnya.
"Ada apa sih? Kamu kok kelihatan lelah banget begitu. Udah dikasih enak tinggal di rumah lebih lama, kok malah minta balik ke pesantren!" ujar Hasan kesal.
"Aku.... Bener-bener nggak kuat di sini! Hasan, kumohon! Ayo kita segera berangkat!" ujar Shadiq dengan mata berkaca-kaca.
"Cengeng sekali! Kerjaanmu nangis terus sih! Nggak asyik banget!" ujar Hasan, ia mencoba menyingkirkan tangan Shadiq dari lengannya.
"Ada apa ini? Kenapa Shadiq menangis?" tanya Asyraf keheranan. "Dia emang cengeng, nggak usah dihiraukan," ujar Hasan.
Pada akhirnya Shadiq menghampiri Asyraf dan berkeluh kesah padanya. "Heh? Ja..... Jadi begitu yah? Kak Syihab agak mengerikan juga ternyata," ujar Asyraf sambil menelan ludah.
"Makanya! Kumohon, Asa! Sebaiknya kita cepat-cepat balik ke pesantren!" ujar Shadiq. "Nggak apa-apa lah, dia cuma mau akran denganmu saja," ujar Asyraf.
"Akrab apanya? Dia selalu maksa buka pintu kamar kalau tahu aku lagi nggak pakai baju. Dia suka sekali cerita yang jorok-jorok juga! Aku nggak tahan!" ujar Shadiq.
"Lah, mau gimana lagi? Hari ini ibu dan ayah sedang pergi liburan katanya. Kita disuruh jaga rumah dulu," ujar Asyraf.
"Ja... Jangan bilang ibu sama ayah tentang kak Syihab! Jangan sampe mereka...." Shadiq tampak malu sendiri.
"Lah kenapa?" tanya Asyraf. "Ntar aku dikira orang aneh," ujar Shadiq. "Lah? Aneh kenapa? Justru kak Syihab yang aneh!" ujar Asyraf. "Ka.. Kata kak Syihab... Harusnya laki-laki trlanjang di depan laki-laki itu hal biasa, tapi aku malu banget!" ujar Shadiq.
"Ya wajar saja kalau malu! Yang nggak wajar tuh kak Syihab yang maksa pengin lihat kamu telanjang!" ujar Asyraf. "Ta... Tapi....." Shadiq benar-benar bingung hendak berbicara apa. Pada akhirnya ia diam karena ekspresi Asyraf tiba-tiba serius dan tidak mengenakkan.
"Hei, kalian berdua lagi ngapain di situ?" tanya Syihab tiba-tiba. Tentu saja Shadiq dan Asyraf tersentak karena terkejut, apalagi mereka berdua baru saja membicarakannya.
__ADS_1
Shadiq tidak menyangka kalau Asyraf sama terkejutnya seperti dirinya. "Eng... Nggak ada apa-apa kok!" ujar Shadiq.
"Hmm? Mencurigakan sekali! Ya sudahlah! Ngomong-ngomong, kalian mau ikut nggak? Kakak mau ajak kalian jalan-jalan," ujar Syihab.
"Wah! Jalan-jalan!" Hasan tampak kegirangan, namun Syihab langsung menutup mulutnya. "Sst! Jangan sampai Zahra tahu!" ujar Syihab, ia menunjukkan kunci mobil Ghozali.
"Kak, mau apa ambil itu?" tanya Shadiq. "Buat jalan-jalanlah!" ujar Syihab. "Ntar dimarahin ayah loh!" ujar Shadiq, ia tidak berani membayangkan seperti apa wajah ayahnya saat murka, ia teringat sekali saat masih kecil, saat ayahnya menampar Syihab hingga berdarah.
"Tenang saja! Ayah dan ibu nggak di rumah kok! Yang penting jangan sampai ketahan Zahra," ujar Syihab.
Ia terlihat memaksa anak-anak yang lain agar ikut dengannya. Akhirnya anak-anak itu terpaksa mengikutinya dengan berat hati, namun Hasan tampak sama semangatnya seperti Syihab.
Akhirnya mobil pun keluar dari garasi. Itu tampak senyap, bahkan Zahra yang asyik bermain ponsel di kamar pun tidak menyadarinya.
Mobil pun terus melaju di jalanan besar, Hasan berpikir bahwa itu adalah hal yang luar biasa karena baru pertama kalinya ia bepergian tanpa kedua orang tuanya dan itu terasa sangat bebas.
Beberapa kendaraan lain membunyikan klakson untuk memperingatkannya. "Kak! Kak! Jangan terlalu ke kanan! Nanti tertabrak!" ujar Asyraf panik. Sayangnya Syihab kehilangan fokusnya karena banyak bunyi klakson yang ditujukan padanya.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk belok kanan, ia mengambil jalan lurus hingga tidak tahu saat ini sedang berada di mana.
Karena pikirannya kacau, kecepatan mobil yang ia kemudikan semakin lambat, bahkan beberapa orang sempat meneriakinya karena kesal.
Hal itu membuat pikiran Syihab kacau, akhirnya ia berhenti di pinggiran jalan. "Kak! Nggkmak boleh berhenti di sini loh! Nanti kena tilang!" ujar Asyraf, anak-anak yang lain hanya menunjukkan wajah pucat, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sayangnya Syihab tampak tidak bernyali lagi untuk mengemudikan mobil itu, ia tampak sangat kebingungan.
__ADS_1
"Kak Syihab? Kakak baik-baik saja?" tanya Asyraf. "Ini nggak bisa! Aku nggak bisa mengemudikan ini," ujar Syihab, ia tampak sangat tertekan.
"Lah? Terus gimana? Kita nggak bisa balik dong!" ujar Hasan panik. "Ki.... Kita telpon ayah saja, minta dia ke sini buat ngemudi mobilnya," ujar Syihab, ia tampak gemetaran karena panik. Sayangnya ponselnya tertinggal di rumah.
Ia tampak bingung harus berbuat apa, dari kejauhan tampak orang-orang menatap mobil dengan penuh keheranan. Beberapa orang juga berusaha menyebrang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di mobil itu.
"Biar aku yang coba nyetir kak," ujar Asyraf. "Ka.... Kamu? Me.... Memangnya bisa?" tanya Syihab, wajahnya tampak penuh harap. Meskipun ia berpikir mustahil untuk menyerahkan mkemudi mobil itu pada Asyraf, tapi keputusasaannya membuatnya pasrah.
"Kumohon, Asa," ujara Syihab. Akhirnya mereka berdua bertukar posisi. Asyraf mulai menarik nafas perlahan sedangkan Syihab tampak menggigit jari karena orang di seberang sudah hampir sampai untuk memeriksa mobil yang tiba-tiba berhenti di pinggiran jalab.
Asyraf mulai mengatur tuas sebelum menyalakan mesin, ia tampak sangat terampil mengutak atik apa saja yang ada di kursi pengemudi itu meskipun ia sendiri tampak ragu-ragu dengan apa yang sedang ia coba lakukan.
Setelah semua berjalan sesuai keinginannya, ia mulai mengendalikan setir mobil, membuatnya melaju di jalanan sedangkan orang yang baru saja menyebrang tidak sempat memeriksa mobil.
"Berhasil! Kamu bisa melakukannya, Asa!" seru Syihab. Asyraf tetap diam, ia berusaha fokus mengemudikan mobil. Setelah mendapati perempatan, ia pun membelokkan mobilnya dengan mulus, tidak ada suara klakson yang ditujukan padanya.
Akhirnya perjalanan mobil itu menjadi sangat lancar dan mereka kembali ke rumah dengan selamat.
Hasan tampak biasa saja saat kembali ke rumah karena ia tidak begitu mrmahami kegentingan yang terjadi di dalam mobil. Di sisi lain Shadiq langsung membaringkan diri di sofa dengan wajah pucat kelelahan, ia benar-benar tertekan dan mengira tidak akan bisa pulang.
Syihab tampak begitu berkaca-kaca, ia terus berterima kasih pada Asyraf saking leganya. Tak lama kemudian Aisyah dan Ghozali datang.
"Syihab? Kamu kenapa?" tanya Ghozali keheranan. Anak itu tiba-tiba saja memeluknya lalu berkali-kali meminta maaf.
"Maafkan aku, ayah! Aku nggak akan mengulanginya lagi! Maafkan aku ayah!" ujar Syihab sambil memeluk Ghozali erat-erat.
__ADS_1
"Iya, iya ayah maafkan! Tapi kamu lepaskan dulu lenganmu ini!" ujar Ghozali. Sayangnya Syihab masih terus menangis penuh penyesalan.
"Si cabul itu kenapa nangis-nangis yah?" tanya Zahra keheranan. Karena memang tidak ada yang tahu tentang itu, akhirnya tiga anak lainnya memilih diam seolah tidak terjadi apapun.