
Rofiq kembali ke rumah Ghozali, sudah beberapa bulan ia tidak mengunjungi rumah itu. Saat ia berada di sana, ia mendapati rumah yang sudah tak terawat itu lalu masuk ke dalamnya.
Posisi meja yang ia banting masih belum berubah sedikitpun, bahkan kaca-kaca yang pecah masih berserakan di sana.
Ia pun berkeliling sejenak ke kamar Ghozali dan mendapati dokumen-dokumen yang masih berserakan.
Ia masih ingat saat mengambil akta kelahiran milik Shadiq dan Hasan, ia mengambilnya dari tempat dokumen-dokumen itu berserakan.
Sembari berkeliling, ia mendapati sebuah album kecil di dekat meja. Ia pun mengambilnya untuk sekedar melihat foto-foto yang ada di dalamnya.
Ini adalah kesempatan baginya untuk menemukan anak bernama Shahih itu, ia berharap mendapatkan foto Shahih yang lebih jelas agar bisa ia tunjukkan pada polisi.
Sayangnya setelah ia membuka lembaran-lembaran di album itu, ia tidak menemukan foto Shahih, ia hanya menemukan sebuah catatan di halaman akhir.
"Syihab, anak pertamaku yang pintar dan yang kubanggakan. Karena sikapnya, aku pernah menampar wajahnya hingga bagian dalam mulutnya sobek, sejak saat itu aku mulai berhati-hati ketika menyentuh anakku sendiri. Aku menyadari betapa kasarnya tanganku ini, dan mungkin mereka bisa terluka karenanya.
Syihab, dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, wajahnya mengingatkanku pada masa kecilku. Wajah nakalnya itu, meskipun enggan untuk mengakuinya, aku juga memiliki wajah yang sama sepertinya dulu.
Zahra putri kecilku, sangat mirip dengan Aisyah. Ia benar-benar anak yang cerdas dan penuh optimis, aku merasa bersalah karena mendaftarkannya di pesantren. Tapi semoga ia menyadari betapa sayang dan perhatian ayahnya ini. Aku tidak ingin putriku yang polos ini tercemar oleh kehidupan remaja yang buruk, aku ingin dia tetap polos seperti itu bersama dengan sifat optimisnya.
Zahra putriku, benar-benar gadis kecil yang polos! Ia bahkan tidak mau jauh dariku, bahkan sampai ingin jadi istriku saja. Aku tidak ingin membiarkan pemikiran polosnya itu lenyap, biarkanlah ia terus seperti itu hingga aku bisa menitipkannya pada pria yang baik-baik. Zahra, maafkan ayah karena wanita di keluarga ini hanyalah engkau dan ibumu, apalagi engkau terlahir di antara saudara laki-lakimu, pasti kau merasa bingung hendak mengikuti siapa.
Shadiq anak ketigaku, aku memantaunya lebih banyak dari pada anak-anak lainnya, aku khawatir karena anak itu terlalu dekat dengan Syihab, aku tidak mau ia ikut-ikutan nakal sepertinya, aku tidak mau anakku yang satu ini mengikuti jalan yang sama seperti ayahnya.
Shadiq, meskipun kupikir anak ini sedikit berbeda dariku, tanpa disadari ternyata dialah yang paling mirip denganku, mungkin satu-satunya yang sama persis.
__ADS_1
Aku terus memperhatikan pertumbuhannya dan itu sangat mengkhawatirkan, ia sudah mimpi basah sejak berusia sembilan tahun. Aku takut anak itu akan memutuskan untuk menikah muda seperti yang kulakukan karena perkembangan fisiknya terjadi sangat cepat. Pertumbuhannya yang cepat mungkin akan menimbulkan perbedaan besarantara dirinya dengan saudara kembar identiknya, Hasan.
Hasan anakku yang keempat, ia memiliki kepribadian yang sangat mirip dengan Aisyah, sayangnya ia adalah anak yang paling benci disamakan dengan siapapun. Meskipun sangat sensitif, ia adalah anak yang cenderung pada hal baik. Ia tahu harus bergaul dengan siapa dan cara membuat hubungan yang baik.
Hasan, anakku yang paling cerdas dalam bersosialisasi, aku harap ia bisa menjadi anak yang berpikir kritis dan terpandang. Ia memiliki kepercayaan diri tinggi. Jika saja ia bisa lebih menjaga mulutnya saat berbicara, ia mungkin akan menjadi orang yang tidak akan dibenci oleh siapapun. Semoga anakku yang satu ini berbeda jauh dengan ayahnya yang tidak pandai bergaul dengan tetangga dan orang-orang sekitar.
Dan untuk anak terakhirku, Shahih, rasanya aku ingin langsung bicara padanya. Aku ingin langsung mengatakan hal ini padamu Shahih!
Shahih anakku, maafkan ayah belum menemukan foto yang bisa ayah pajang dengan layak di album ini. Bukannya ayah membencimu. Ayah nggak tahu harus gimana, lain kali kalau ayah bertanya mohon dijawab yah. Bukan hanya sekali, ayah berharap bisa sering mendengar suaramu nak. Ayah ingin mendengarmu tertawa gembira, ayah ingin melihatmu berbaur dengan kakak kembarmu.
Meskipun nggak identik dengan mereka, jangan berkecil hati! Ayah tetap menyayangimu kok, ayah harap kamu juga nggak benci ayah, besok-besok kita foto bersama dan memastikan kamu ikut berfoto, kamu adalah anak ayah! Jadi harus ada di foto keluarga ayah!"
Catatan Ghozali berakhir sampai di situ. Entah kenapa Rofiq mata berkaca-kaca, ia menutup album itu.
Tak lama kemudian pintu rumah kembali terbuka, seseorang langsung masuk ke dalam dan pergi ke kamar Ghozali. Orang itu adalah Shahih, ia menemukan album yang tergeletak di kasur lalu membukanya sekilas. Ia juga sempat membaca catatannya hingga akhir.
"Kau tidak merasa sedih sepeninggal ayahmu?" tanya Jordan yang tiba-tiba sudah berada di belakang Shahih, ia juga sempat membaca catatan yang ditulis Ghozali.
"Tidak, biasa saja," ujar Shahih kemudian meletakkan kembali album itu. "Benarkah? Dia sangat menyayangimu loh, tidak seperti anak-anak lainnya, ia bahkan sempat memberikan pesan secara khusus untukmu," ujar Jordan.
"Itu hanya tulisan biasa, memangnya apanya yang menyedihkan?" tanya Shahih dengan eskpresi dinginnya, ia tampak tidak ingin Jordan membahas masalah itu.
"Baiklah, aku akan diam! Silahkan ambil barang-barang yang kau inginkan," ujar Jordan. Shahih pun langsung memilih beberapa di antara dokumen yang berserakan itu lalu pergi ke luar rumah. Ia terhenti sejenak lalu kembali ke kamar ayahnya.
"Apa lagi yang kau perlukan?" tanya Jordan. Shahih tetap diam sambil mengambil sikat gigi, sisir, dan pencukur janggut milik ayahnya lalu memasukkannya ke dalam plastik.
__ADS_1
"Untuk apa itu? Jangan-jangan kau ingin mencoba membuktikan apakah kau anaknya atau bukan?" Jordan mencoba menebak.
"Untuk apa aku melakukan hal sia-sia? Entah dia ayahku atau bukan, yang jelas sekarang aku tidak tinggal bersamanya. Aku tidak perlu repot-repot membuktikan hal itu," ujar Shahih kemudian pergi sambil mengunci pintu rumah itu.
"Sudah tidak ada keperluan lain kan?" tanya Jordan. "Tidak ada," ujar Shahih kemudian pergi ke jalanan. Melihat anak kecil yang selalu bertindak sendirian itu, Jordan merasa iba, ia pun menghampiri Shahih dan merangkul pundaknya.
Shahih sempat keheranan dengan apa yang ia lakukan. "Sudahlah, teruskan saja jalanmu," ujar Jordan. Akhirnya Shahih pun mengabaikannya dan terus berjalan.
"Kau benar-benar anak yang kesepian yah. Kasihan sekali karena harus terlibat dengan kami," ujar Jordan. "Tidak masalah, aku lebih suka hidup seperti ini," ujar Shahih. Mereka pun menaiki sebuah bus yang kebetulan berhenti di halte.
Belum sampai bus itu berjalan, Jordan mendapatkan pesan penting dari atasan. "Aduh! Shahih! Aku ada misi darurat! Kau tidak apa-apa kan pulang sendiri seperti ini?" tanya Jordan. Shahih mengangguk layaknya anak kecil yang polos, ia tidak bisa menunjukkan kesan dewasanya di hadapan orang-orang.
Entah kenapa wajah polosnya itu juga ikut memperdaya Jordan. "Benarkah? Kau baik-baik kutinggal di sini?" tanya Jordan khawatir. Shahih sempat kesal dengan pria itu, akhirnya ia memberikannya sebuah bahasa isyarat yang menyatakan bahwa ia bukanlah anak kecil lagi. Jordan langsung tersenyum tipis lalu segera turun dari bus.
Sembari memperhatikan bus yang membawa Shahih pergi, ia melambaikan tangan pada Shahih.
"Apakah dia ayahmu? Kasihan sekali yah! Sepertinya ia sibuk bekerja," ujar wanita paruh baya yang menyaksikan perpisahan mereka berdua.
Entah kenapa pertanyaan itu membuat Shahih teringat pada ayahnya sendiri, meskipun tidak pernah berbicara dengan ayahnya, ia selalu memperhatikannya dalam diam.
"Tidak kok, lebih sibuk ibuku," ujar Shahih menyangkal pertanyaan wanita paruh baya itu. Wanita itu langsung tertawa mendengar sangkalannya.
"Memangnya ibumu kerja apa nak?" tanya wanita itu. "Mencuci baju, menyapu seisi rumah mengepel, membersihkan jendela, memasak, mencuci peralatan makan, berbelanja, menyetrika, melipat baju, merapihkan lemari......" Shahih hendak menyebutkan semua pekerjaan ibunya setiap hari, namun wanita paruh baya itu langsung menjedanya.
"Ibumu pembantu rumah tangga?" tanya wanita itu. "Bukan, ibuku ibu rumah tangga biasa," ujar Shahih sambil tersenyum. Bus yang ia naiki sudah sampai ke tempat tujuan, ia pun segera turun darinya.
__ADS_1