Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Sama persis


__ADS_3

"Shahih ke mana lagi sih? Hari ini aku belum rapiin lemari loh!" ujar Hasan kesal. "Ada apa?" tanya Shahih yang tiba-tiba muncul dari dipan atas.


"Astaghfirullah! Bikin kaget saja! Sejak kapan kau tidur di situ?" tanya Hasan terkejut. "Aku minta tukar dipan sama Arkan, lebih enak di atas sini," ujar Shahih.


"Argh! Padahal aku mau minta diajarin cara lipat baju yang benar," ujar Shadiq. "Hei! Aku dulu yang minta!" ujar Hasan.


"Nggak lah, aku lagi malas! Baju-bajuku juga belum kurapiin di lemari," ujar Shahih, ia sedang asyik membaca bukunya.


"Ayolah, Shahih! Ajarin sebentar saja! Kalau nggak, kasih tahu aja gimana caranya, ntar aku coba," ujar Shadiq. Shahih pun melempar beberapa pakaian miliknya ke arah Shadiq.


"Baiklah, cobalah lipat itu dulu, biar kuberitahu caranya," ujar Shahih. Shadiq pun mengangguk bersemangat. Akhirnya Shahih pun turun dari dipannya dan mulai mengarahkan Shadiq cara melipat baju yang benar.


"Wah, kamu mau rapiin baju Shahih cuma-cuma?" Ario terkesan. "Ini nggak cuma-cuma, dia juga ngajarin aku cara lipat baju yang benar.


Hasan pun tampak tidak mau kalah, ia langsung mengambil beberapa baju Shahih yang sudah dilipat oleh Shadiq.


"Biar kutaruh ini di lemari! Gimana caranya biar terlihat rapi?" tanya Hasan. "Letakkan dengan sedikit celah antara dua lipatan pada satu kotak lemari. Lalu pisahkan antara baju, celana bahan dan celana training, semua jenis pakaian itu memiliki cara lipat yang berbeda, jadi akan berantakan kalau dicampur-campur," ujar Shahih.


Hasan pun menuruti apa yang ia katakan dan mulai menata pakaian Shahih. "Wah! Buku-bukumu juga sangat rapi!" seru Hasan. "Pasang saja sampul pada buku biar warnanya sama, kalau sudah, kau bisa tata sesuai ukurannya. Pastikan buku yang paling besar berada di sisi kotak, sedangkan buku yang paling kecil berada di tengah, biar sudut setiap buku nggak ada yang tertekuk, itu juga bisa bikin buku lebih awet, nggak cepat rusak," ujar Shahih.


"Wah! Sepertinya kau tahu banyak tentang beginian!" Ario tampak terkesan. "Oh, iya! Aku belum bilang ke kalian! Kemarin waktu izin keluar, kami bertemu dengan lawanku di final lomba! Dia benar-benar sama persis seperti Shahih!" seru Hasan.


"Benar sekali! Shahih bahkan berpapasan langsung dengannya! Kalau saja baju mereka sama, aku mungkin nggak bisa bedain keduanya," ujar Shadiq.


"Walaupun beda, tapi model pakaiannya tetep sama deh! Gamis sama celana besar itu... aku sampai nggak bisa bedain yang dia pakai itu celana atau rok," ujar Hasan.


"Kalian sudah paham cara merapikannya kan? Aku mau pergi sekarang," ujar Shahih kemudian menutup bukunya.

__ADS_1


"Pergi ke mana?" tanya Hasan. "Apa kau harus selalu tahu aku pergi ke mana dan apa saja yang kulakukan?" tanya Shahih, akhirnya Hasan pun terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hmm! Sepertinya ini cocok sekali dengan Shahih!" ujar Alfa sambil melihat-lihat gamis yang ada di toko, ia pun mencoba bercermin untuk membayangkan seberapa tinggi Shahih.


"Hmm! Seharusnya ia lebih pendek lagi! Mungkin sedadaku kah?" Alfa mencoba mengira-ngira. Saat itulah ia melihat anak yang tampak tak asing berlalu di jalanan.


"Shahih? Kenapa dia ada di sini?" Alfa keheranan, ia pun keluar dari toko untuk memastikannya. Ia langsung menghampiri anak itu dan menepuk bahunya.


"Shahih! Apa yang kamu lakukan di sini? Harusnya kamu ada di asrama! Nggak boleh keluar-keluar!" tegur Alfa. "Aku sudah izin kok!" ujar Shahih kemudian menyingkirkan tangan Alfa dari bahunya.


"Izin ngapain? Siapa yang mengizinkanmu?" tanya Alfa. "Bagian keamanan lah! Aku izin karena ada keperluan Humas panti asuhan," ujar Shahih.


"Panti asuhan? Jadi panti asuhanmu berada di sini?" tanya Alfa, ia mencoba melihat sekelilingnya untuk menemukan bangunan yang bisa disebut sebagai panti asuhan.


"Kayaknya nggak ada panti asuhan di sini," ujar Alfa. "Aku nggak pergi ke asramanya! Aku pergi ke kantor pusat buat ngirim sesuatu," ujar Shahih.


Setelah pria itu tidak melihatnya lagi, ia pun langsung berlari menelusuri gang-gang hingga sampai ke sebuah bangunan usang. Ia pun masuk ke dalamnya.


"Sepertinya kau masih belum mahir menyembunyikan keberadaanmu! Lihatlah, orang lain sampai sadar kau datang ke sini," ujar Adam.


Shahih mengabaikan kritikannya, ia langsung menyerahkan plastik sampel pada Adam. "Apa ini? Rambut? Sikat gigi? Bukankah ini yang dulu kau ambil dari kamar ayahmu? Mau buat apa?" tanya Adam keheranan.


Akhirnya Shahih memberikan satu plastik sampel lagi padanya. "Loh? Rambut siapa lagi ini?" tanya Adam penasaran. "Rahasia," ujar Shahih singkat.


"Ada apa ini? Kenapa kau terlihat seperti hendak mencocokkan DNA anak hasil selingkuhan ayahmu," ujar Adam.

__ADS_1


"Ayahku tidak berselingkuh!" ujar Shahih tegas. Adam pun tertawa.


"Maaf, aku memang salah memilih kata! Yang benar adalah nyaris selingkuh. Kau juga tahu kan? Ibumu hampir mati kecelakaan karena syok setelah melihat berkas formulir perceraian yang ayahmu siapkan. Hal yang paling tidak rasional selanjutnya setelah agama adalah cinta. Mereka memutuskan berhubungan hingga memiliki anak, namun mereka tidak sadar kalau hal yang mereka sebut cinta itu kadang naik dan turun, tidak konsisten dan hanya bersifat sementara. Akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai setelah merasa bosan atau benci satu sama lain, mereka tidak mempertimbangkan kehidupan anak-anak mereka setelah bercerai, yang mereka cari hanyalah kenikmatan hubungan seksual semata untuk diri mereka sendiri," ujar Adam.


"Kau tampak emosional sekali saat membahas cinta dan perceraian, tidak seperti saat membahas tentang agama. Apakah kau terlahir dari keluarga yang broken home?" tanya Shahih.


"Kemampuan analisismu sudah semakin baik, bahkan Jordan pun tidak menyadari kondisiku ini," ujar Adam.


"Lalu kenapa tidak bunuh diri saja? Kupikir anak yang ditinggal orang tuanya karena perceraian cenderung tidak semangat hidup," ujar Shahih.


"Aku tidak akan bunuh diri! Itu adalah hal yang paling tidak rasional! Aku mendapatkan tujuan hidupku kembali! Aku harus menyelesaikan misi-misiku demi negaraku!" ujar Adam.


"Kau tidak percaya agama tapi kau malah menuhankan negaramu sendiri, aneh!" ujar Shahih kemudian pergi keluar, ia tidak ingin berbincang lebih banyak dengan Adam.


Di sisi lain Alfa tampak terus menunggu di pinggir jalan, ia menunggu Shahih muncul agar bisa ia ajak menuju ke toko baju untuk mengukur ukuran tubuhnya.


"Hei, Shahih! Kamu dari mana saja? Lama sekali! Memangnya apa yang kamu lakukan di sana? Kamu sekalian mandi juga? Sampai ganti baju segala!" ujar Alfa keheranan sambil menepuk bahu anak yang baru saja lewat di hadapannya.


"Paman siapa?" tanya anak itu dengan ekspresi datarnya. Alfa pun langsung terdiam, ia menyadari tas yang dibawa Shahih juga tidak ada pada anak itu.


Anak itu terus menatapnya, seolah menunggu penjelasan. Alfa tidak tahu hendak berkata apa, ia benar-benar bingung dengan sikap anak itu.


Karena Alfa terus diam, akhirnya anak itu berlalu meninggalkannya. Hal itu semakin membuat Alfa tertegun. Ia sangat yakin kalau dirinya baru saja melihat Shahih.


"Hei, nak!" panggil Alfa, ia mencoba memastikan siapa anak itu.


Akhirnya anak itu berbalik badan, Alfa hanya bisa mengerutkan dahi. Dari atas sampai bawah anak itu benar-benar sama persis seperti Shahih, meskipun warna pakaiannya berbeda, namun modelnya tetap sama. Hal itu membuat Alfa tidak mengerti suasana apa yang sedang ia alami ini.

__ADS_1


"Maaf, nak! Kayaknya paman salah orang! Namamu siapa?" tanya Alfa. "Asyraf," ujar anak itu singkat kemudian pergi meninggalkan Alfa. Caranya menjawab dan caranya meninggalkan lawan bicaranya sama persis seperti Shahih.


"Apa-apaan itu tadi? Hantu kah? Kenapa aku mendapati hal aneh hari ini?" Alfa langsung merinding.


__ADS_2