
"Mencuri? Tuh kan! Lagi-lagi begini! Ini sudah jelas kalau kamu yang mencuri ponsel-ponsel itu! Sebaiknya kembalikan Shahih!" ujar Shadiq.
"Aku nggak mau bahas itu, aku mau bahas hal lain! Aku hendak mencuri tubuh seseorang," ujar Shahih.
"Tubuh? Maksudmu tubuh ayah? Kamu bilang kuburan ayah kosong, lalu ke mana jenazahnya?" tanya Hasan penasaran.
"Nah, itu! Mereka hanya menyamarkan kematian ayah. Lebih mudah kalau merekayasa kecelakaan di laut, polisi akan susah menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi," ujar Shahih.
"Berarti, maksudmu ini upaya pembunuhan?" tanya Asyraf. "Pembunuhan dan penculikan. Sebenarnya tempat yang kami bertiga datangi dulu bukanlah rumah sakit," ujar Shahih.
"Lalu apa? Kamu tahu dari mana? Jendela mobil tertutup rapat dan sangat gelap! Nggak kelihatan pemandangan di luarnya," ujar Shadiq.
"Yeah, jangan mengandalkan penglihatan saja! Ada banyak cara untuk mengetahui ke arah mana mobil itu pergi," ujar Shahih.
"Gimana caranya?" tanya Shadiq. "Saat mobil melaju lebih cepat, atau berbelok, pasti tubuh kita akan merasakannya, tubuh kita ikut condong ke arah tertentu karena kecepatan pergerakannya berubah," ujar Shahih.
"Itu masih belum bisa dijadikan patokan! Bila ada dua pertigaan jalan, kita nggak tahu di pertigaan mana mobil itu akan berbelok," ujar Asyraf.
"Karena itu kita perlu perhatikan kecepatannya, saat tubuh kita agak condong ke depan berarti mobil sengaja melambat. Aku sudah memprediksi semua kecepatannya mulai dari pertama kali jalan hingga sampai di parkiran aneh itu. Bahkan aku juga sudah menghitung jumlah polisi tidur yang dilewati, Semuanya mengarah ke satu tempat, dan itu sangat sesuai dengan jumlah polisi tidur yang dilewati," ujar Shahih.
"Tempat apa itu?" tanya Shadiq. "Underpass," ujar Shahih singkat. "Underpass? Kenapa underpass ada elevatornya?" tanya Shadiq keheranan.
"Ada jalan lain di sisi dinding underpass, dan itu tertutup layaknya jalan rahasia. Aku sempat curiga karena trotoar di salah satu sisi dindingnya terlihat sejajar dengan aspal untuk beberapa meter. Awalnya kupikir itu sebuah petak, tapi ternyata itu adalah pertigaan menuju ke jalan rahasia itu," ujar Shahih.
"Jadi... maksudmu, ayah kita ada di sana?" tanya Shadiq. "Mungkin saja, karena itu aku minta bantuan kalian untuk membantuku," ujar Shahih.
"Tu... tunggu dulu! Penculikan? Pembunuhan? Ayah ada di sana? Kamu ini bicara apa Shahih? Kenapa kamu minta kami membantumu ke sana? Kita ini hanya anak-anak kecil! Ngapain pergi-pergi ke sana?" tanya Hasan, ia sedikit ketakutan dengan penjelasannya.
"Justru karena kita anak kecil, kemungkinan mereka curiga akan lebih sedikit! Aku sudah tahu tempat itu ada di mana, kita nggak perlu masuk lewat jalan rahasia itu, kita hanya perlu pergi ke tempat di mana sirkulasi udara perlu dibersihkan. Tentu saja karena mereka membuat ruang bawah tanah," ujar Shahih.
"Di mana itu?" tanya Hasan. "Perumahan," ujar Shahih. "Wah, tempat yang sangat sempurna untuk menutupi kejanggalan dari aktivitas mereka!" seru Asyraf.
"Kita hanya perlu jalan-jalan di koridor perumahan itu dan mencari hal yang mengganjal. Sebenarnya aku sudah menemukan satu tempat yang aneh. Mirip gudang bersama," ujar Shahih.
"Gudang bersama apanya? Tumben sekali kalian berempat berbincang-bincang bersama, Untung saja kamu kembali ke sini setelah sepekan, Shahih! Bikin paman khawatir saja!" ujar Alfa yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Shahih terdiam sejenak sambil menatap Alfa berkali-kali. "Ada apa Shahih? Bikin paman nggak nyaman saja," ujar Alfa. Asyraf pun ikut memperhatikan karena penasaran.
"Kalian berdua bikin paman kebingungan saja! Ada apa sih?" Alfa mengacak-acak rambut Shahih dan Asyraf.
"Paman, aku mau ngomong sebentar," ujar Shahih. Ia mengajak Alfa menuju ke tempat lain lalu memberikan berlembar-lembar kertas padanya.
"Apa ini?" tanya Alfa keheranan, ia tidak terlalu tertarik untuk memeriksanya karena lembaran itu terlalu tebal.
"Besok, jam sepuluh kasih ini ke polisi. Lapornya atas nama paman," ujar Shahih. "Loh? Kenapa harus paman? Kamu saja yang kasih," ujar Alfa.
"Aku masih terlalu kecil. Pokoknya paman aja yang ke sana, ntar kalau polisi tanya-tanya pokok jawab iya saja," ujar Shahih.
"Boleh paman baca?" tanya Alfa. "Silahkan," ujar Shahih. Meskipun begitu, Alfa tampak malas untuk membacanya karena ia juga sedang sibuk banyak pekerjaan.
"Oh, iya! Hari ini aku sama tiga anak lainnya mau pergi nginep di rumah temen, jadi jangan cari-cari lagi," ujar Shahih.
"Jadi, kemarin kamu kabur sepekan karena lembaran kertas ini?" tanya Alfa, Shahih mengangguk.
"Lain kali tinggal bilang ke paman! Jangan seenaknya kabur begitu!" tegur Alfa. "Kalau kayak gitu, paman nggak mungkin bolehin aku pergi," ujar Shahih.
"Oke lah, silahkan aja kalau mau nginep, yang penting jangan lebih dari tiga hari," ujar Alfa. Shahih pun mengangguk, ia segera mengajak ketiga kembarannya menuju ke suatu tempat.
"Ini.... tempat apa ini? Kumuh sekali!" ujar Shadiq. "Arahnya sama dengan perjalanan ke pesantren, atau mungkin lebih jauh sedikit?" tanya Asyraf.
"Lebih dekat, bukan lebih jauh," ujar Shahih. "Kenapa bisa ada tempat seperti ini? Kayak rumah, tapi kok cahayanya redup sekali!" ujar Hasan.
"Ini tempat tinggalmu kah?" tanya Asyraf. "Shahih? Tinggal di tempat seperti ini? Kamu hidup sendirian di sini?" tanya Shadiq tercengang.
Shahih tidak menjawab, ia hanya membuka sebuah lemari lalu mengambil beberapa perangkat yang ada di dalamnya.
"Benda-benda apa ini, Shahih?" tanya Hasan penasaran. "Jangan asal pegang! Nanti rusak!" ujar Shahih memperingatkan.
Setelah menyambungkan beberapa kabel pada sebuah komputer, Shahih mulai menjalankan beberapa program.
"Wah! Apa ini Shahih? Kayak di film-film!" seru Shadiq. "Aku baru tahu kau punya hobi seperti ini," ujar Asyraf.
__ADS_1
"Diamlah! Kalian mengganggu konsentrasiku!" keluh Shahih. Setelah ia menjalankan beberapa program, sebuah cetak biru dari peta pun muncul.
"Oh! Itu underpass yang kau bicarakan kan?" tanya Hasan. "Benar sekali. Jika disesuaikan melalui kecepatan yang aku kira-kira, kemungkinan tempat operasi yang ayah lakukan beberapa tahun yang lalu itu ada di sini," ujar Shahih sambil menarik garis dari underpass menuju ke sebuah perumahan.
"Wah! Ini benar-benar hebat! Kamu kayak seorang hacker, Shahih!" seru Shadiq. Saat mereka berempat asyik berbincang-bincang, tiba-tiba pintu rumah terbuka.
Jordan dan Adam terlihat langsung masuk ke dalam rumah. "Apa-apaan ini? Kenapa ramai sekali?" tanya Jordan keheranan.
Sontak kedua pria itu terkejut saat melihat anak-anak menengok ke arah mereka.
"Loh? Apkah ini taman bermain?" Jordan kebingungan.
Shadiq dan Hasan langsung bersembunyi di balik meja, mereka takut melihat wajah pria bule asing yang tiba-tiba masuk rumah.
"Shahih, nggak apa-apa kah kita ke sini?" tanya Hasan dengan suara lirih. "Apa masalahnya? Lagian kenapa kau bersembunyi di situ?" tanya Shahih keheranan.
"Om-om itu, menyeramkan!" ujar Hasan. "Menyeramkan dari mananya? Ini tempat tinggal kami, kenapa kalian di sini?" tanya Adam keheranan. Hasan dan Shadiq pun semakin takut.
"Daripada menyeramkan, menurutku mereka agak aneh. Untuk seumuran pria dewasa, kenapa kalian tinggal di sini berdua? Di mana keluarga kalian? Atau jangan-jangan kalian semacam... sepasang kekasih?" tanya Asyraf.
"A... apa kekasih? Omong kosong macam apa ini? Hei, Shahih! Kau benar-benar menyebalkan seperti biasanya!" ujar Jordan.
"Aku bukan Shahih," ujar Asyraf, meskipun sedikit kesal karena disamakan dengannya, ia mencoba tak berekspresi.
"Aku di sini paman," ujar Shahih sambil mengangkat tangan. Adam dan Jordan pun terkejut melihat dua wajah Shahih di hadapan mereka.
"Loh? Loh! Ada apa ini, Adam? Kau bilang kembaran Shahih tidak mirip sama sekali dengannya. Mereka terlihat sama persis!" ujar Jordan.
"Tidak mungkin! Setahuku mereka terlihat sangat berbeda!" ujar Adam membantah. "Kembaran yang kalian maksud mungkin mereka berdua," ujar Asyraf sambil menunjuk Shadiq dan Hasan yang ada di balik meja.
"Bu... bule itu bicara pakai bahasa kita," ujar Hasan tidak percaya. "Kalian berdua ngapain sih? Berdiri! Ngapain ngendap-endap di situ kayak tikus?" ujar Shahih keheranan. Akhirnya Shadiq dan Hasan pun keluar dari kolong meja.
"Wah! Menarik sekali! Aku lihat dua pasang anak kembar!" ujar Jordan. "Apa maksudnya ini Shahih? Kenapa ada satu anak lagi di sini?" tanya Adam penasaran.
Shahih sempat melirik ke arah Asyraf. "Sebaiknya kau ubah pertanyaanmu itu, kau membuat kembaranku tersinggung," ujar Shahih, ia paham betul kalau Asyraf merasa muak dengan reaksi orang-orang yang selalu menatapnya asing.
__ADS_1