Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Zahra


__ADS_3

Gimana mencoba memerhatikan aktivitas Zahra. Anak itu lebih banyak bergerak di dapur, mulai dari memotong bahan makanan, mencucinya hingga menyimpannya di dalam kulkas.


Setelah selesai, ia langsung menyapu sisa-sisa bahan yang ia potong lalu membuangnya ke tempat sampah.


Karena merasa terlalu singkat, ia pun beralih ke ruang makan dan mulai membereskan apa saja yang ada di sana. Ghozali sendiri sangat terkesan dengan keuletan anaknya. Hal itu mengingatkannya pada Aisyah.


"Ah, benar juga! Aku belum menjenguk Aisyah hari ini!" gumam Ghozali. Selagi ia memikirkan Aisyah, ia tidak sadar kalau Zahra sudah memergokinya yang sembari tadi sedang mengintip aktivitasnya itu.


Ghozali terkejut karena putrinya sedang menatapnya dengan tatapan tajam. "Eh, Zahra, kamu lagi bersih-bersih?" tanya Ghozali, ia langsung salah tingkah.


Zahra pun mengabaikannya, ia tidak ingin suasana hatinya semakin buruk jika berurusan dengan ayahnya.


"Tu... tunggu dulu, Zahra! Kamu masih marah sama ayah?" tanya Ghozali. "Nggak kok," ujar Zahra, perkataannya tampak tidak tulus.


"Serius, ayah nanya ini loh!" ujar Ghozali. "Argh! Iya! Iya! Aku nggak marah kok! Makanya jangan bikin aku marah lagi!" ujar Zahra mulai kesal.


"Oke-oke, nanti kamu mau temenin ayah ke pasar? Ayah juga mau tahu kamu belanja di mana aja yang murah biar besok ayah aja yang belanja," ujar Ghozali, ia berusaha sebisa mungkin agar putrinya tidak terlalu membencinya.


"Iya, iya!" jawab Zahra singkat, ia langsung memberikan secangkir teh yang kebetulan baru ia buat. "Eh? Loh! Inikan punyamu," ujar Ghozali.


"Buat ayah aja, lagian belum kuminum," ujar Zahra. Akhirnya Ghozali pun menerimanya sambil senyum-senyum sendiri.


Setelah selesai bersih-bersih, Zahra langsung bersiap-siap untuk pergi ke pasar. "Eh? Mau ke pasar sekarang? Nggak istirahat dulu?" tanya Ghozali terkejut, ia tidak menyangka putrinya masih memiliki energi meskipun sejak tadi banyak beraktivitas.


"Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Orang yang jualan nggak mungkin buka 24 jam di sana! Sayur-sayuran yang mereka jual bisa layu duluan!" ujar Zahra.


"Eh, Zahra? Sejak kapan kamu punya ponsel?" tanya Ghozali penasaran. "Loh? Ayah baru lihat sekarang? Aku pegang ponsel sudah lama loh," ujar Zahra.


"Kalau kamu minta ke ayah, ayah bisa belikan yang lebih bagus dari itu," ujar Ghozali. "Argh! Memangnya aku punya ponsel untuk apa? Yang penting bisa cari informasi saja sudah cukup bagiku," ujar Zahra.


"Baiklah, putri ayah memang paling pintar dan paling hemat," ujar Ghozali menyindir. "Sudahlah! Ayo pergi sekarang!" ujar Zahra.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pun berjalan bersama ke pasar.


Sayangnya ini tidak seperti yang Ghozali kira. Tidak seperti yang terakhir kali, ia pikir bisa mengajak putrinya berbicara selagi berjalan menuju pasar, namun kenyataannya Zahra tampak sibuk dengan ponselnya, bahkan sesekali Ghozali harus menuntunnya agar tidak menabrak seseorang.


"Duh! Gimana caranya kamu sampai ke pasar kalau yang kamu lihat cuma ponselmu, bukan jalan?" tanya Ghozali. "Kan ada ayah," ujar Zahra. Ghozali merasa seolah dirinya sedang dimanfaatkan saja.


Akhirnya mereka pun sampai di pasar, Zahra langsung memilih beberapa bahan makanan dan mulai menyapa para penjual, ia juga sempat bernegosiasi.


Sayangnya ada datu hal yang membuatnya geram, Ghozali terus melirik ke sana kemari entah sedang melihat apa.


"Pak! Mau beli sayuran atau mau cuci mata?" tanya Zahra kesal. "Eh, iya! Maaf Zahra," ujar Ghozali terkejut, ia sempat malu karena suara Zahra terlalu keras hingga terdengar oleh beberapa orang.


Setelah selesai berbelanja, Zahra langsung menyerahkan semua belanjaannya kepada ayahnya.


"Eh, ini mau gimana?" tanya Ghozali kebingungan. Zahra hanya bisa menatapnya dengan ekspresi agak kesal. "Ayah mau bilang kalau aku harus bawa semua itu?" tanya Zahra.


"Ngg.... nggak juga, tapi emangnya kamu biasa belanja sebanyak ini? Nggak berat?" tanya Ghozali. "Kan ada ayah," ujar Zahra singkat, ia kembali menatap ponselnya lalu berjalan menuju ke rumah.


Ghozali pun berjalan mengikutinya sambil tersenyum, ia merasa senang bisa berjalan dengan putrinya.


Sontak Zahra langsung berhenti, ia tampak tidak mau tahu dengan ekspresi ayahnya saat ini. "Ayah," ujarnya. "Iya, Zahra. Ada apa?" tanya Ghozali, ia menjadi semakin dekat dengan Zahra agar bisa mendengar perkataannya.


"Bisakah ayah menjauh sedikit? Beri jarak lima meter atau apalah," ujar Zahra. Ghozali masih tidak mengerti dengan perkataan Zahra.


"Orang-orang bakal mengira kalau ayah adalah om-om yang sedang menggoda gadis di bawah umur," ujar Zahra, ia langsung mengambil langkah cepat agar menjadi lebih jauh dari ayahnya.


Ghozali hanya menanggapinya dengan tertawa, namun tawaannya agak keras hingga terdengar oleh sekitarnya.


"Hish! Apa yang salah dengannya?" gumam Zahra sambil mempercepat jalannya, ia merasa malu karena ayahnya terlalu banyak menarik perhatian.


Melihat reaksi putrinya yang sangat kekanak-kanakan, Ghozali merasa sangat senang.

__ADS_1


"Zahra, hati-hati loh! Nanti nabrak tiang!" Ghozali mengingatkan.


Akan tetapi belum lama ia ingatkan, Zahra langsung menabrak tiang dengan keras karena ia berjalan terlalu cepat.


Ghozali langsung menghampirinya. "Zahra! Zahra? Kamu gapapa?" tanya Ghozali panik. Zahra mendapati hidungnya berdarah, ia menjadi semakin kesal.


"Tuh, kan! Udah ayah bilang!" ujar Ghozali. "Ini gara-gara ayah! Doain yang buruk-buruk!" ujar Zahra kesal. "Loh kok jadi ayah," Ghozali keheranan.


Melihat lutut Zahra yang lecet, akhirnya Ghozali menundukkan badannya. "Sini, biar ayah gendong," ujar Ghozali. Zahra tampak malu lantaran banyak orang yang lihat.


"Nggak lah! Aku bisa jalan sendiri," ujar Zahra berusaha untuk berdiri, sayangnya luka di lututnya semakin nyeri dan membuatnya merintih kesakitan. "Sudahlah, sini!" ujar Ghozali sambil meletakkan kedua lengan Zahra di bahunya.


"Pegangan erat-erat, biar nggak jatuh. Ayah lagi bawa barang-barang soalnya," ujar Ghozali.


Akhirnya Zahra terdiam selagi ayahnya menggendongnya hingga ke rumah. Rasa bencinya juga mulai perlahan menghilang.


Semakin dekat dengan wajah ayahnya, ia semakin sadar kalau ayahnya itu sudah bertambah tua, bahkan beberapa uban mulai tumbuh di bagian belakang kepalanya.


"Umur ayah sekarang berapa?" tanya Zahra penasaran. "Sudah 39 tahun, ini bentar lagi jadi 40," ujar Ghozali. "Eh, muda banget!" ujar Zahra terkejut. "Hahaha! Makanya nggak usah khawatir digendong ayah! Ayah masih kuat kok gendong kamu bolak-balik seratus kali dari pasar ke rumah," ujar Ghozali.


"Bohong, nggak mungkin seratus kali lah," ujar Zahra. "Cuma perumpamaan, kalau ayahmu ini masih kuat, Zahra," ujar Ghozali sambil tertawa.


"Jangan ketawa, suara ayah terlalu keras, orang-orang sekitar bisa denger," ujar Zahra sambil mengencangkan kedua lengannya pada leher Ghozali.


"Iya, ampun! Ampun! Jangan begitu Zahra, nanti ayah mati tercekik," ujar Ghozali. Zahra pun kembali melonggarkan kedua lengannya.


Mereka pun sampai di rumah sedangkan Syihab sempat menahan tawa melihat Zahra digendong.


"Dih, manja sekali! Sudah besar kok minta digendong ayah! Kalau mau digendong, cari pria lain, jangan ayahmu sendiri," ujar Syihab.


"Sudahlah, Syihab! Jangan bikin dia marah. Lagian sebenarnya kamu iri kan?" tanya Ghozali.

__ADS_1


"Eh? Ng... nggak kok! Badanku sudah besar begini, nggak mungkin aku minta digendong ayah!" ujar Syihab.


"Heleh! Kalau badanmu kecil berarti kamu sebenarnya mau kan? Jujur saja! Kamu yang yang manja, bukan aku! Aku sering lihat kamu cari kesempatan untuk tidur bareng ayah," ujar Zahra, perkataannya tidak bisa dibantah lagi, ia benar-benar membuat Syihab malu.


__ADS_2