
Seperti sebuah hantaman palu yang besar tepat di jantung nya, ucapan Eddy membuat Galaksi merasakan sesak sekaligus sakit yang teramat sangat. Pukulan telak baginya, bagaimana bisa kabar mengejutkan ini tak diberi tahukan kepadanya. Galaksi merasakan kekecewaan teramat sangat Eddy tidak pernah membicarakan perihal pernikahannya dengan Galaksi.
"Sayang!!!" pekik Galaksi.
Tubuh Rumi tiba-tiba lemas dan terduduk dilantai. Untung saja Galaksi berhasil menahan beban tubuh Rumi agar tidak langsung bertubrukan dengan lantai jika tidak akan bahaya bagi kandungan nya.
Rumi memukul-mukul dadanya yang terasa sesak seketika, terlalu terkejut dengan ucapan Eddy.
Bukan Rumi cemburu, tetapi sama halnya dengan yang dirasakan oleh Galaksi. Kecewa karena seseorang yang sudah dianggap seperti saudara sendiri malah menyimpan kabar pernikahannya. Rumi sama sekali tidak keberatan jika Eddy menikah dengan Imelda. Meskipun Rumi masih belum bisa memaafkan semua kesalahan Imelda kepadanya tetapi baik Imelda dan Eddy berhak untuk bahagia.
"Benarkah mas Eddy sudah menikah dengan Imelda??" tanya Rumi. Tak sekalipun mata Rumi mantap Eddy maupun Imelda. Tatapannya kosong mengarah ke lantai yang dingin.
"Iya Rum, mas sudah menikah dengan Imelda dua hari yang lalu. Itupun mendadak Rum, hanya saja persiapan nya sudah mas sejak lama. Begitu kemarin Imelda bersedia menikah dengan mas, besoknya juga mas urus pemberkasan nya. Bukan maksudnya Mas tidak memberitahu semua ini kepada kalian. Mas sengaja menunda perihal pernikahan kami karena kalian berdua masih belum menerima keberadaan Imelda dengan baik. Mas hanya tak ingin menambah beban kalian saja. Dan malam ini sengaja mas mengajak kalian untuk bertemu makan malam bersama sekaligus untuk Imelda meminta maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat kepada kalian," ungkap Eddy secara gamblang. Dia juga bisa melihat wajah kecewa Rumi dan Galaksi.
"Setidaknya berilah kami kabar pernikahan Lo Ed, jika Lo masih menganggap kami orang terdekat," ucap Galaksi.
"Maaf, gue hanya mengantisipasi takut kalian-"
"Takut kami menggagalkan pernikahan kalian?? Takut kami mengacaukan pernikahan kalian?? Sepicik itukah pikiran mu menganggap kami orang jahat!!!" Seru Galaksi. Hatinya bertambah kecewa.
"Tidak seperti itu Gala, ini semua hanya salah paham. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan semua ini, kami juga -"
"Diam Mel tak perlu membela diri. Kebersamaan dan persahabatan kita selama ini ternyata palsu Ed. Bahkan aku sudah menganggap kamu seperti saudara ku sendiri. Dan Rumi sudah menganggap mu seperti kakak kandungnya. Tapi inikah balasannya terhadap kebaikan kami??"
"Dan satu hal yang membuat gue paling kecewa. Gue ga pernah ikut campur tentang kebiasaan Lo yang suka tidur dengan bergantin ganti pasangan. Tetapi jangan sampai Lo kebablasan. Ternyata dua sahabat gue sudah melakukannya bahkan Lo sampai hamil Mel!!!"
.....
"Gue berharap anaknya yang Lo kandungnya itu adalah anak laki-laki. Tapi jika itu anak perempuan, Lo sebagai ayahnya siap-siaplah dari sekarang kelak ketika anak Lo menikah bukan Lo yang menjadi wali nikahnya. Dan berdoalah semoga jodohnya kelak bisa menerima dia sebagai anak diluar pernikahan. Bye the way, selamat atas pernikahan kalian, gue berharap kalian bahagia selalu," ucap Galaksi dengan begitu menohok.
Eddy dan Imelda sama -sama terdiam setelah mendengar ucapan Galaksi. Eddy telah melanggar janjinya kepada Galaksi karena telah membuat Imelda hamil diluar pernikahan nya. Siap tidak siap Eddy harus menanggung akibatnya kelak .
Galaksi membantu Rumi untuk berdiri. Masih tersirat jelas rasa kekecewaan terdalam di diri Rumi.
__ADS_1
"By kita pulang ya? Pusing," ucap Rumi dengan sendu.
Hilang sudah nafsu makan Rumi saat ini, padahal Rumi sudah menahan rasa laparnya sejak dari rumah. Makanan yang tersaji dibiarkan dingin begitu saja tanpa sempat di sentuh. Imelda menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Eddy melihat kepergian Galaksi dan Rumi. Yang tertinggal hanyalah rasa penyesalan, andai malam itu Eddy memberitahukan akan menikah dengan Imelda, Galaksi tak akan sekecewa ini. Tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu.
*
*
*
Empat bulan kemudian.
Rumi tengah melakukan olahraga yoga di kediaman orang tua Galaksi ditemani oleh Maulindya ibu mertuanya. Sejak kandungan Rumi berusia 6 bulan, Rumi rutin melakukan olahraga yoga seminggu sekali untuk memperlancar proses melahirkan nanti. Apalagi Rumi tengah hamil kembar sehingga tenaga yang harus dipersiapkan olehnya dua kali lipat dibandingkan melahirkan anak tunggal.
Semua persiapan untuk menyambut kedua anak mereka yang akan segera lahir telah selesai baik dari pakaian, ranjang bayi, kamar dan perintilannya. Rumi dan Galaksi juga sudah pindah ke rumah yang telah dipersiapkan, lokasinya dekat dengan kantor dan rumah orang tua Galaksi.
"Sayang ini di minum dulu jusnya, habiskan," ucap Maulindya.
"Makasih Bun, tau aja kalo Rumi lagi haus," jawab Rumi dengan senyumnya yang lebar.
"Jam lima Bun, pulang dari peninjau lokasi proyek perumahan yang baru. Jam empat dari sana, kalo ga macet," terang Rumi.
Jam lima kurang seperempat Galaksi sudah tiba di rumah orang tuanya untuk menjemput Rumi. Rumi dan Galaksi hanya tinggal berdua di rumah barunya, sedangkan ART yang ada hanya siang hari tanpa menginap. Sehingga ketika Galaksi tengah bekerja di luar Galaksi mengantar kan Rumi kerumah orang tuanya mengantisipasi Rumi melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
.
.
Malam ini Rumi sedang berdiri depan kamar mereka, ada space seperti tempat bersantai dengan sekat kaca yang mengarah ke samping rumah mereka. Saat ini kamar utama yang di tempat berada di lantai satu karena terlalu riskan jika Rumi harus naik turun tangga dengan perutnya yang besar dan berat. Tubuh Rumi juga sudah membesar seiring bertambahnya usia kandunga, tentu saja menghambat mobilitas apalagi dengan kakinya yang membengkak sejak beberapa Minggu lalu.
Rumi juga sudah mengambil cuti dari pekerjaan dan digantikan sementara oleh Dea dibantu dua orang karyawan magang yang berasal dari kampus yang sama.
Sambil menikmati milkshake susu hamilnya, Rumi tengah menikmati pemandangan itu dengan bunga sedap malam dan Wijaya Kusuma yang bermekaran. Sedikit semerbak wanginya tercium hingga tempat Rumi berdiri saat ini.
__ADS_1
"Bunny..."
Galaksi tiba-tiba datang dan memeluk Rumi dari arah belakang, tangannya tak tinggal diam sesekali mengusap perut Rumi yang sangat membuncit. Terasa gerakan halus kedua calon anaknya, sesekali memberikan tendangan.
"Sayang, mereka nendang loh!!" Seru Galaksi dengan antusias.
"Iya By, kalo satu-satu gini ga begitu linu. Tapi kalo pas barengan geraknya malah sakit By. Makin lama gerakan mereka semakin aktif, ga sabar rasanya menunggu mereka lahir kedunia," ucap Rumi, matanya sedikit berembun.
"Terima kasih sayang, sudah memberikan hadiah terindah dalam hidupku. Kamu menyempurnakan semuanya, menjadi pelita dalam hidupku yang biasa-biasa saja. Aku mencintaimu Rumi," ucap Galaksi dari hati terdalam.
"Rumi juga sangat mencintaimu Hubby, tolong jangan tinggalkan aku seorang diri. Tak ada yang aku punya selain dirimu seorang. Jika suatu hari kamu bosan denganku, tolong katakan segera supaya aku bisa mengusir rasa bosan itu. Jika suatu hari nanti aku tidak menarik lagi, tolong katakan agar aku bisa memperbaiki diri. Aku terlalu menggantungkan hidupku padamu," ungkap Rumi.
Galaksi semakin merenggut tubuh Rumi dalam pelukannya.
"Itu tidak akan mungkin terjadi sayang. Apalagi sudah ada sikembar diantara kalian. Aku akan menjadi pria terbodoh jika meninggalkan mu suatu hari nanti. Bukankah sudah aku katakan jika sampai aku meninggalkan mu, aku akan menjadi bukan siapa -siapa bahkan tak memiliki apapun. Semua yang aku miliki sudah aku berikan seluruhnya padamu termasuk hidup dan hatiku. Apakah itu tidak cukup membuktikan aku tak akan pernah meninggalkanmu sayang. Kau sudah menjadi separuh napas ku."
"Seharusnya Hubby tidak perlu mengalihkan seluruh kekayaan kamu miliki atas namaku By, aku ini bukan siapa-siapa. Aku-"
"Jangan berbicara lagi sayang, suara mu itu membuat aku tidak bisa mengandalkan diri. Apalagi ini menjadi sangat besar dan kenyal," ucap Galaksi, tangannya yang semula berada di bagian perut mulai beranjak naik ke bukti kembar
"By, tolong tangannya diposisikan dengan baik. Jangan nakal By,,, Ahhhh..."
Rumi berusaha menahan desahannya.
"By...ja-jangan," ucap Rumi sambil memejamkan matanya.
Bukannya berhenti Galaksi semakin melakukan banyak gerakan yang membuat Rumi hanya bisa pasrah.
"Sayang, menurut dokter bercinta saat hamil besar bisa memperlancar proses melahirkan nanti," ucapnya, tangannya sudah merambah keberbagai bagian
Rumi menggigit ujung bibirnya, Galaksi semakin menggila.
"Jangan sekarang by, Ah..." bisik Rumi.
__ADS_1
"Apanya yang jangan sayang? Kamu sudah basah," ucap Galaksi tepat di telinga Rumi.