
Pagi-pagi Rumi sudah uring-uringan tak jelas. Sejak jam lima pagi dia sudah bangun, sedangkan Galaksi masih bergelung dengan selimutnya terlelap tidur setelah menghabiskan permainan yang syahdu bersama Rumi. Namun sayangnya Rumi tak kunjung tertidur dan gelisah tak menentu. Entah jam berapa Rumi akhirnya bisa tidur.
Sudah satu jam Rumi menghabiskan waktu dengan berdiam diri di meja makan. Perasaannya saat ini sedang kecewa, sedih, galau dan juga bingung. Rumi sendiri bahkan tidak mengerti apa yang terjadi dengannya saat ini.
"Bunny, aku kok kamu disini sih?? Kamu bangun dari jam brapa?" tanya Galaksi sambil mengucek matanya.
"Dari jam lima," ucap Rumi ketus.
"Loh..loh.. kok jutek sekali sih pagi-pagi. Emangnya yang semalem kurang ya?" goda Galaksi
"Bukan!!" jawabnya semakin ketus.
"Eh..kok makin galak dih? Sayangku ini kenapa nya?" Bujuk Galaksi.
Rumi hanya mengerucutkan bibirnya.
"Nggak tahu. Ada yang lupa sama janjinya," jawab Rumi sambil memalingkan wajahnya.
"Janji?? Janji apa ya???"
"Janji Joni!!! Gak tau ah kesel!!!" Gerutu Rumi kesal. Lalu dia meninggalkan Galaksi begitu saja.
Galaksi dibuat tercengang oleh sikap Rumi badmood pagi ini. Sengaja Galaksi tidak mengejar Rumi agat dia menenangkan dirinya. Mungkin Rumi butuh waktu menyendiri.
"Emangnya aku pernah janji apa ya? Bukannya nanti jam sepuluh kerumah Bunda ya karena ada arisan," ucap Galaksi sambil mengangkat bahunya.
Langsung saja Galaksi menuju area dapur untuk membuatkan sarapan untuk istri tercinta. Semenjak Rumi hamil semua pekerjaan rumah dan memasak Galaksi yang ambil alih. Dia tidak ingin hal-hal kecil bisa mencelakakan Rumi.
Galaksi memutuskan untuk membuat roti goreng isi, berhubung ada roti ya hampir kadaluarsa. Di dalam kulkas juga ada daging ham dan daging ayam cincang. Tak ada salahnya sekali- kali sarapan tidak dengan nasi.
Setelah semuanya siap, Galaksi menuju kamarnya untuk menyusul istrinya. Ternyata sang istri malah bergelung dalam selimut, diapun menyibaknya untuk mengeluarkan Rumi.
Tak disangka wajah Rumi merah padam dan basah dengan air mata. Buru-buru Galaksi menarik Rumi kedalam dekapannya. Galaksi tak sanggup jika melihat Rumi menangis seperti ini.
"Bunny, apa perkataanku tadi ada menyinggung perasaanmu?" Tanya Galaksi.
Rumi menggelengkan kepalanya.
"Jangan menangis Bunny, please. Aku ga bisa melihatmu menangis seperti ini. Katakan apa yang membuatmu menangis?" Galaksi masih mencoba mencari tahunya.
Rumi masih menangis dengan sesegukan di pelukan Galaksi, emosinya saat ini sedang tidak stabil. Ingin rasanya Rumi maki-maki seseorang untuk meluapkan rasa kesalnya. Bisa saja dia lakukan terhadap suaminya tapi Galaksi sudah terlalu sering mendapatkan omelan yang sebenernya bukan kesalahannya.
"Hub-hub-hubby lupa sa-sama jan-janjinya huuuuuhuuuu ja-jahat...!!!" ucap Rumi terbata-bata karena sambil menangis.
"Janji yang mana Bunny, maaf jika aku lupa, maaf sekali Bunny," ucap Galaksi merasa bersalah.
"Na-naik ko-kome-di pu-putar," ucap Rumi dengan kesal.
Galaksi langsung mengerti apa yang dikatakan oleh Rumi. Memang dia berjanji akan mengajak Rumi ke Dufan weekend ini Karena pada malam itu komedi putar yang ada di pasar malam tidak diperuntukkan untuk orang dewasa.
"Sayang, Bunny kesayanganku. Khan kita akan pergi nanti sore setelah dari rumah bunda. Kemaren kan kamu sudah aku liatin kartu masuknya," ucap Galaksi dengan tenang
"Ta-tapi aku maunya seharian," ucap Rumi sambil mengerucutkan bibirnya
Cup
Galaksi mencuri ciuman dari bibir istrinya, Rumi tersipu malu.
__ADS_1
"Ya udah, seharian ini kita ke ke Dufan aja nggak perlu ke rumah Bunda. Lagian acara di rumah Bunda juga nggak seru-seru amat, disana juga nanti kamu bosan," ucap Galaksi
" Jangan!!! Nanti bunda marah," sanggah Rumi, dia tidak ingin mengecewakan Bunda Lily
"Bunda kan baik pasti ngerti kalau menantunya yang cantik ini lagi ngidam ingin main ke Dufan, percaya deh sama suamimu ini," bujuk Galaksi
Rumi menggelengkan kepalanya, dia tak ingin membuat Bunda Lily kecewa karena dia tidak datang dalam acara arisan di rumahnya.
"Bunda kan mau pamer menantu, nanti kalo aku ga datang gimana?" rumi menundukkan kepalanya.
Galaksi mengelus kepala istrinya sambil merapikan beberapa helai rambutnya yang berantakan.
"Khan ada Titania, istri kak Andra," sahut Galaksi
Kedua mata Rumi langsung melotot mendengar nama Titania, senyuman terbit di sudut bibirnya.
"Beneran ada kakak ipar?? Ahh aku kangen sekali dengannya. Dia jarang dibolehin keluar sama kak Andra, kasian di kurung terus kaya buronan!!!" gerutu Rumi.
Galaksi geleng-geleng kepala melihat tingkah bumil yang satu ini, selalu menggemaskan. Apalagi pipinya yang mulai terlihat begitu chubby sangat menggemaskan dan menggoda untuk di cubit.
"Lah kan kamu tau sendiri, diluar itu berbahaya buat Tania, makanya dia dilarang keras keluar sendirian. Kak Andra masih trauma waktu Tania di culik dulu, makanya sekarang overprotektif sekali. Apalagi pekerjaan kak Andra juga banyak yang mengincar, kalo ga waspada Tania bisa jadi korban," ungkap Galaksi.
"Terus gimana dong, aku ingin ketemu sama kakak Ipar, tapi mau ke Dufan juga. Huuuuuuu," Rumi kembali menangis.
Galaksi mengacak-ngacak rambutnya dan menjambaknya dengan kasar. Selalu serba salah menghadapi ibu hamil yang moodnya berantakan. Tiba-tiba saja sebuah ide melintas dikepalanya.
"Gimana kalau ke dufannya besok aja, kan besok masih weekend. Jadi hari ini kamu bisa ke rumah Bunda buat ikutin acara arisan dan juga bisa ketemu Tania. Gimana mau??" usul Galaksi
"Aaahhhh bener juga. Boleh deh, Besik ke dufannya ya janji jangan boong. Kalo boong Rumo gigit idungnya ampe copot," ucap Rumi sambil bergaya ngambek.
"Janji dong Bunny, ya udah jangan ngambek lagi ya. Aku sedih kalo kesayangan aku ini bawaan ngambek-ngambek terus," ucap Galaksi pura -pura.
Krucuk
Krucuk
Krucuk
Terdengar suara yang nyaring dari perut Rumi.
"Aduhhh debay nya kelaparan ya, papa sudah buatin sarapan spesial buat mamah mu ini. Nanti habiskan ya, soalnya buatan papa itu enak banget," ucap Galaksi tepat di depan perut Rumi yang mulai membuncit.
Mendengar ucapan tersebut hati Rumi sangat bahagia, bahkan air matanya menetes karena terharu.
*
*
Tepat pukul sepuluh Galaksi dan Rumi sudah sampai di rumah kediaman orang tua Galaksi. Tampak dekorasi sederhana menghiasai ruangan depan, disana juga sudah tertata rapi deretan makanan dan minuman. Rumi yang melihat camilan yang berwarna warni dan beraneka bentuk menjadi ngiler, tak terasa air liurnya mulai berkumpul dalam rongga mulutnya.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Bunda kangen loh. Wah dede utunnya mulai keliatan, pantesan aja badannya makin bohay," ucap Bunda Maulindya dengan semangat.
Rumi hanya tersenyum, matanya tak lepas pandang dari deretan makanan yang menggugah seleranya.
"Bun-bun, ga tau aja tadi pagi ada drama dulu. Uhhh, bikin gemes istri yang satu ini," ucap Galaksi.
"Yang sabar sayang, namanya juga ibu hamil. Ga mudah loh jadi ibu hamil sembilan bulan apalagi mengandung bayi kembar. Apalagi kalo moodnya udah mulai gampang berubah-ubah, serba salah. Kamu yang sabar ya Nak, jangan sampai kasar kalo Rumi lagi badmood. Dia juga sebenarnya ga mau seperti itu, sudah bawaan anak kamu loh!!" nasehat Bunda Maulindya
__ADS_1
"Iya bun, Gala selalu sabar kok dan berusaha membuat Rumi nyaman dengan kehamilannya. Apalagi selama beberapa bulan kedepan dia membawa dua calon anak kami kemana-mana. Pasti ga akan nyaman dan sangat menyiksa tubuhnya seiring waktu," ucap Galaksi.
"Ya udah sana, temenin istrimu makan gih. Liat tuh, udah kayak anak kecil liat kue-kue yang ada di meja, lucu amat sih. Biarin dia makan sepuasnya ya, jangan dilarang. Dia butuh banyak tenaga," ucap Bunda Maulindya
Galaksi tersenyum, istrinya itu memang semenjak hamil nafsu makannya bertambah besar, gampang tergoda dengan makanan enak.
Galaksi membantu membawakan piring agar Rumi bisa mengambil banyak camilan yang ada. Mulai dari beraneka kue basah, kue tart dan camilan ringan. Semuanya begitu menggoda Rumi untuk segera dicoba satu persatu.
Para tamu yang di undang pun mulai berdatangan, mereka adalah tetangga sekitar komplek rumah dan istri karyawan yang bekerja di perusahaan Raka, ayah Galaksi. Rumi tak terganggu dengan kedatangan ibu-ibu tersebut dan asyik mengobrol dengan Titania, istri Andromeda.
"Hay jeng Lily, gimana kabarnya? Senang loh bisa ikut arisan di rumah jeng yang mewah ini," ucap salah satu ibu-ibu.
"Alhamdulillah selalu baik, terima kasih juga ya sudah mau datang kesini. Ayo silahkan dinikmati dulu yang ada. Maaf ya seadanya aja, mudah-mudahan berkenan," ucap Maulindya merendah diri.
"Apaan sih jeng, apanya yang seadanya loh. Ini udah banyak banget, udah kayak parasmanan aja deh segala ada," timpal ibu yang lainnya.
"Oh, iya jeng katanya mau kenalin anak menantunya nih, mana ya. Kita juga ingin tau menantu jeng Lily yang mana aja, iya ga ibu-ibu?" ucap ibu yang paling heboh penampilannya, memakai baju warna merah ngejreng dengan hiasan payet bling-bling. Cetar membahana pokoknya
"Ada sebentar ya, saya panggilkan dulu," ucap Maulindya.
Tak berselang lama, Maulindya kembali ke kerumunan ibu -ibu yang sedang berkumpul.
"Ini perkenalkan, dua menantu saya yang cantik. Ini Titania, istri Andromeda dan ini Rumi Istri Galaksi. Kebetulan Rumi sedang mengandung buah hati mereka lagi jalan empat bulan," ucap Maulindya dengan bangga memperkenalkan kedua menantunya.
Ibu-ibu saling berbisik melihat Tania dan Rumi yang berpakaian dengan sangat sederhana. Rumi hanya menggunakan dress selutut, tak terlihat mencolok dan memakai sendal jepit. Sedangkan Tania lebih terlihat santai dengan pakaian blouse dan celana. Rambutnya juga hanya di ikat biasa, tak ditata.
"Jeng, ga salah pilih mantu? Kok gini amat sih?" Ucap ibu yang paling heboh
"Maksudnya jeng apa ya?" tanya Maulindya sedikit tersinggung dengan ucapan ibu tersebut.
"Kok bisa sih menantu jeng seperti ini. Kekuatan kayak orang kampung. Apalagi yang sedang hamil ini, kayak orang kelaparan ga dikasih makan seminggu. Tadi saya liat dia ga malu makan sepiring penuh, duh jeng kalo saya jadi kamu malu punya menantu seperti itu," ucapnya tanpa di filter.
Maulindya menahan emosinya, sengaja ingin mendengarkan ucapan wanita yang sudah berani menghina menantunya.
"Terus ya, yang satunya lagi keliatan masih bocil. Kayaknya baru lulus SMA deh. Udah gitu penampilan mereka ga ada yang bagus, memakai baju murahan. Apalagi yang satu ini jeng, uuh masa memakai sendal jepit andylau sih," lanjut ibu tersebut.
"Memangnya yang bagus untuk menjadi menantu saya seperti apa? " Timpal Maulindya, sebenarnya dia sudah ingin menendang jauh-jauh ibu tersebut.
Rumi yang mendengar ucapan teman bundanya menjadi bersedih, Tania berusaha menggenggam tangannya agar Rumi bisa bersabar. Andai Galaksi ada di sini pasti dia akan memarahi dan mengusir ibu tersebut tapi Galaksi sedang berbicara penting dengan Andromeda.
"Ya seharusnya kayak anak saya dong jeng, elegan dan berkelas. Pendidikannya tinggi dan pintar. Pasti cocok dengan anak jeng yang tampan dan sukses. Bukan seperti mereka ini jeng, hanya bisa malu-malu. Sebentar lagi anak saya dateng ya jeng, saya akan kenalkan," ucap Ibu tersebut dengan bangga.
"Cih, pede sekali dia!!!" umpat Maulindya dalam hati.
Tapi Maulindya hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu tersebut. Sesekali melirik kearah Rumi untuk menenangkan hatinya, dia tau menantunya itu hatinya terluka.
"Bunny, " sapa Galaksi, tak lupa mendaratkan sebuah kecupan di kening Rumi.
Ibu-ibu yang ada disana begitu terpana melihat ketampanan Galaksi, mereka sangat ingin menjadikan Galaksi sebagai menantunya.
"Mami, maaf Linda telat ya. Tadi ada kecelakaan, jadi jalanan macet," ucap Seorang gadis menghampiri ibu-ibu yang berpakaian ngejreng.
"Ini loh jeng, anak saya Linda. Gimana cantik kan, lebih seksi lagi," ucapnya memperkenalkan anaknya dengan bangga.
Hueks
Hueks
__ADS_1
Hueks