
Selama tiga hari Galaksi merawat Rumi dengan sangat baik. Selama itu juga Rumi merasa seperti seorang ratu karena Galaksi selalu menjaga nya selama 24 jam penuh bahkan Galaksi rela meninggalkan pekerjaaan agar Rumi cepat sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Dah hari ini Rumi mulai bekerja seperti biass tentunya diantar pula oleh Galaksi. Tak ingin Rumi kelelahan Galaksi bahkan mengantarkan Rumi hingga area parkir. Sehingga Rumi terpaksa masuk lewat lift khusus pertinggi. Untung saja jam segini kantor masih sepi, belum terlalu banyak karyawan yang datang sehingga Rumi tak takut ketahuan berangkat bersama Galaksi.
Sebelum bekerja, Galaksi meminta Rumi untuk masuk kedalam ruangan yang terlebih dahulu.
"Kamu yakin udah kuat untuk kembali bekerja?" tanya Galaksi memastikan
"Iya, aku sudah cukup sehat Tuan. Ga enak juga jika terlalu lama mengambilnya cuti apalagi aku masih baru di bagian tersebut," jawab Rumi.
"Tapi jika nanti tidak kuat jangan memaksakan diri. Segera izin untuk pulang atau aku tidak akan pernah mengijinkan mu bekerja selamanya. Selama seminggu ini juga kamu jangan dulu mengambil pekerjaan diluar kantor. Kamu tenang saja, nanti aku yang bilang kepada manager pemasaran untuk mengatur pekerjaan untukmu seminggu kedepan," ucap Galaksi.
Mendengar hal itu Rumi hanya mencebikkan bibirnya, semenjak sakit Galaksi sedikit lebih cerewet dan mengontrol aktifitasnya.
"Jangan memonyongkan bibirmu seperti itu atau ku cium sekarang juga," ancam Galaksi
Rumi refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan melihat dengan mata yang melotot.
"Kenapa ditutup gitu bibirnya? Memangnya tidak boleh aku menciummu? Bukankah kita pernah berciuman dengan sangat panas dan menggairahkan," ucap Galaksi sambil mendekatkan kepalanya kepada Rumi.
Rumi mulai merasa merinding, kakinya mulai mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya mentok ke dinding. Galaksi menyeringai, matanya menatap Rumi dengan tajam. Kini Galaksi sedang menghimpit tubuh Rumi ke dinding, membuatnya tak bisa berkutik.
"Kenapa istriku, kenapa kamu ketakutan? Bukankah kita bebas melakukan apa saja saat ini?" goda Galaksi, seluruh bulu roma di tubuh Rumi mulai berdiri.
"Ja-jangan macam-macam Tuan," seru Rumi.
Deru napasnya semakin berdegup kencang. Jantung mulai tak normal setiap kali berdekatan dengan Galaksi, apalagi setiap kali mencium wangi parfum seakan menghipnotis Rumi.
"Hanya satu macam istriku, aku ingin merasakan manisnya bibirmu yang mungil ini," ucap Galaksi seraya jempolnya mengusap bibir Rumi.
Rumi malah semakin menggoda Galaksi dengan menggigit salah satu bibirnya, terlihat semakin menggemaskan. Rumi mulai memejamkan matanya saat kepala Galaksi semakin mendekat.
Cup
Rupanya Galaksi sudah mulai nakal dengan Rumi, ditempelkannya bibirnya dengan bibir milik Rumi.
"Manis," bisik Galaksi tepat telinga Rumi, membuat merinding disko.
Tubuh Rumi mendadak kaku, darah dalam tubuhnya seolah mengalir cepat dan jantungnya berdebar sangat kencang. Meskipun bukan pertama kalinya mereka berciuman tetapi tetap menimbulkan gelanyar aneh.
"Kau....!!!" geram Rumi dengan mata mendelik, Galaksi hanya terkekeh
"Dasar mesum!!!!" Gerutu Rumi, lagi-lagi dia mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Heiiiii... Gini-gini juga suami mu tau, malah ngedumel," ucap Galaksi dengan santai.
"Iighhh nyebelin!!!!"
Rumi menghentak-hentakkan kakinya lalu segera pergi meninggalkan ruangan kerja Galaksi.
"Menggemaskan sekali dia, rasanya ingin sekali memakannya saat ini juga," gumam Galaksi begitu Rumi menghilangkan di balik pintu.
.
.
"Selalu saja begitu, cari-cari kesempatan dalam kesempitan.. nyebelin banget sih jadi cowok mesumnya keterlaluan. Uuuhhh," gerutu Rumi saat sampai di meja kerjanya.
Melihat tumpukan dokumen dan beberapa formulir yang telah terisi, Rumi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ternyata pekerjaannya sangat banyak setelah ditinggalkan selama seminggu. Satu persatu pekerjaannya mulai dikerjakan oleh Rumi.
Selang dua jam kemudian Rumi hampir menyelesaikan setengah dari pekerjaannya. Namun entah kenapa kepalanya terasa sakit. Mungkin karena efek melihat layar komputet terlalu lama. Rumi pun mencubit -cubit ruang diantara kedua alisnya berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Lapor Tuan suami,
Kepala ku tiba-tiba terasa sakit. Bagaimana ini, izin pulang saja?
Sent
Galaksi yang melihat ada pop up pesan dari istrinya langsung mengambil Handphone dan membuka pesannya. Galaksi mendesah kasar, jika di suruh pulang pasti pekerjaan Rumi akan semakin banyak.
Akhirnya Galaksi meminta Eddy supaya memanggil Rumi keruangan.
"Rum, kamu di panggil ke ruangan pak direktur sekarang juga," ucap Eddy, Rumi paham dan langsung menuju ke ruangan Galaksi.
Salah seorang rekan kerja Rumi mendengar jika Rumi di panggil oleh Galaksi
"Maaf Pak Eddy, kenapa Pak direktur memanggil Rumi ya?" tanyanya penasaran
"Ohh mungkin ada kaitannya dengan cuti Rumi kemarin. Sekalian bertanya tentang hasil promosi di mall kemarin karena manager juga hari ini sedang ambil cuti," ucap Eddy berbohong.
Eddy terpaksa berbohong agar hubungan Galaksi -Rumi tidak terbongkar. Apalagi setelah Rumi terjebak di ruang dokumen dan diselamatkan oleh Galaksi, terdengar gosip jika Rumi sedang menggoda Galaksi. Entah siapa yang menyebarkan gosip seperti itu namun saat ini Eddy sedang menyelidikinya.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Masuk," ucap Galaksi dari dalam.
Mendapatkan izin, Rumi langsung masuk kedalam ruangan Galaksi.
Galaksi dapat melihat wajah Rumi yang sedikit pucat. Lekas dia berdiri dan menghampiri Rumi takut terjadi sesuatu dengannya. Galaksi membantu Rumi untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Pusing banget?" tanya Galaksi khawatir.
"Heemmm, ga terlalu. Hanya mata tersds berkunang-kunang kalo melihat komputer," ucap Rumi, kepalanya mulai berdenyut.
Galaksi mengambil obat dan teh manis hangat yang sudah disiapkan sebelumnya. Rumi menerima dan meminum obat tersebut
"Beristirahat dahulu, di dalam ada kamar. Kamu bisa tidur dulu sebentar. Jika nanti kondisi tidak membaik, kita pulang saja ya. Aku tau kamu sedang banyak pekerjaan yang tertunda," ucap Galaksi dengan penuh perhatian
"Apa tidak apa-apa jika aku tidur? Nanti rekan kerjaku akan sadar jika aku pergi terlalu lama apalagi mereka tau jika aku ke ruangan direktur?" cemas Eddy.
"Kamu tenang aja semuanya sudah diatur, sekarang lebih baik kamu istirahat saja dulu ya," ujar Galaksi dengan lembut.
Rumi akhir menurut dan masuk kedalam kamar belakang untuk beristirahat. Di dalam ruang kerja Galaksi memang ada sebuah kamar, biasanya Galaksi gunakan jika mengharuskan dirimu untuk lembur di kantor.
Tak berselang lama, Eddy masuk kedalam ruangan karena dipanggil oleh Galaksi.
"Loh, Rumi mana?" tanya Eddy
"Ngapain lo nanyain istri gue???" ucap Galaksi sambil memicingkan matanya.
"Ya elah barany nanya doang udah sewot aja lo. Ya maklum gue tanya, wong tadi aja kan Rumi lo panggil kesini, sekarang malah ga ada,"
"Lagi tidur di kamar," jawab Galaksi dengan singkat.
Eddy hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Gimana soal kandidat sekertaris gue, sudah berapa banyak yang masuk? Seperti harus butuh segera," ucap Galaksi sambil menyenderkan punggungnya pada kursi kerjanya.
"Yang masuk kebanyakan cewek boss, padahal gue sudah tulis untuk kualifikasinya hanya untuk cowok. Sedangkan cowok yang melamar hanya 3 orang, dua orang lulusan luar negeri dan satu orang lulusan universitas lokal tapi masalahnya dia fresh graduate dan belum ada pengalaman," ungkap Eddy.
Galaksi menghela napasnya, selepas Sarah diberhentikan dia sangat membutuhkan sekretaris untuk mengatur jadwal meeting dan pertemuan. Apalagi pekerjaan Galaksi semakin banyak setelah perusahaannya mendapatkan dua proyek dari tender kemarin.
"Ya sudah lu nanti tolong print kan CV 3 orang tersebut, gue pengen lihat dan nantinya gue sendiri yang bakal test dan interview mereka. Gue ga mau kecolongan lagi, gue kapok Ed," keluh Galaksi, bayang-bayang rasa bersalah masih menyelimuti nya.
"Oke habis ini gue bakal print CV mereka bertiga. Kuharap lo nggak salah pilih ya, gue rasa bisa minta pendapat Rumi untuk masalah sekertaris," usul Eddy.
"Okey, kita liat aja nanti."
__ADS_1