
Rumi mengusap peluhnya yang menetes dari keningnya. Barusaja dia selesai membersihkan dan mengepel lantai 2 seorang diri. Tak lupa kertas -kertas yang tidak terpakai di dekat mesin fotocopy dibereskan dan dan dimasukkan kedalam mesin penghancur kertas. Jangan sampai ada kertas keluar dari perusahaannya dalam keadaan utuh, walaupun itu hanyalah kertas yang berisi salah cetak atau kotor karena berpotensi akan membocorkan dokumen perusahaan kepihak luar.
Hari ini Rumi berangkat lebih awal karena ingin melihat hasil seleksi untuk karyawan dividi pemasaran yang akan ditempel nanti di mading informasi. Galaksi terkena imbasnya, gara-gara Rumi Galaksi harus ikut berangkat lebih pagi padalah dia masih ingin santai sambil menikmati secangkir kopi buatan Rumi.
Rumi membereskan peralatan kebersihan kedalam lemari yang ada di ruangan pantry. Sejenak Rumi duduk untuk melepas rasa lelahnya setelah bekerja. Tak lama terdengar suara langkah yang tengah berlari menuju ruangan pantry.
"Rum.... Rumi... Rumi lo ada di dalam kan!!!" teriak Dea sambil ngos-ngosan setelah berlari.
"Napa sih lo kayak abis di kejar setan sja deh ada apa??" tanya Rumi penasaran.
Dea masih berusaha menormalkan napasnya yang terengah-engah, Rumi pun merasa kasihan dan memberi nya air minum.
"Lo.... Lo diterima Rum sebagai karyawan divisi pemasaran. Lo hebat banget deh, lo bahkan dapet nilai tertinggi. Selamat datang ya Rum, akhirnya lo bisa mendapat karir yang lebih baik," ucap Dea dengan rasa senang yang luar biasa.
"Hah apahhhh diterima?? Lo jangan boong Dea, pengumumannya kan nsnti setelah makan siang. Memangnya sudah ada di mading?? Lo lolos juga kan?" tanya Rumi, dirinya masih tidak percaya dengan apa yang diucapkannya oleh rekan kerjanya tersebut.
Dea mengulum senyum dilanjutkan menggelengkan kepalanya.
"Lo aja Rum yang lolos, si nenek lampir juga ga lolos emangnya enak sok kepedean ternyata zonk. Makan tu sombong!!!" seru Dea meluapkan kekesalannya.
"Huussshh ga boleh ngomong gitu, nanti kalo ada orangnya denger malah diajak ribut," ucap Rumi
__ADS_1
"Alaahh ga mungkin dia ada disini, palingan dia lagi mojok ditoilet nangis -nangis karena gagal. Omongannya aja yang gede tapi hasil nol besar," ucap Dea dengan sisa kekesalannya.
"Tapi lo nggak bohong kan soal gue yang lolos seleksi itu? Jangan-jangan lo cuma mau bikin Gue senang lagi padahal kenyataannya gue nggak diterima," ucap Rumi dengan sedikit keraguan.
Daripada banyak omong dengan Rumi akhirnya Dea menarik tangan Rumi dan mengajaknya untuk melihat pengumuman di mading. Ternyata masih ada beberapa karyawan yang berdiri di depan mading untuk melihat pengumuman tersebut sehingga membuat Dea terpaksa menerobos kerumunan tersebut agar bumi dapat membaca.
Rumi membaca pengumuman tersebut dengan seksama, terpampang jelas namanya tertulis di nomor satu dengan score penilaian paling tinggi. Ada lima orang yang lolos dan hanya Rumi yang berasal dari bagian kebersihan.
"Tuh lo udah baca, dan nama lo itu terpampang dengan nyata Arumi Putri," sebut Dea dengan jelas.
Rumi masih tidak percaya dengan yang dia lihat saat ini apalagi lolos dengan nilai tertinggi.
"Aaaawwwww kok lo nyubit gue sih!!!" Sungut Dea karena Rumi mencubit tangannya.
"Pokoknya gue nggak mau tahu ya, lo wajib traktir gue bulan depan dengan gaji lo sebagai karyawan pemasaran," seru Dea sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Siap boss, perintah akan di laksanakan," jawab Rumi sambil tersenyum manis.
Galaksi yang melihat dari kejauhan bagaimana Rumi tersenyum bahagia juga merasa senang. Cukup melihat wajah Rumi yang tersenyum membuat mood Galaksi kembali naik setelah kesal dengan Eddy yang melakukan kesalahan dalam membuat laporan.
.
__ADS_1
.
Tak ada angin tak ada hujan, Sarah sang sekretaris mengetuk pintu ruangan Galaksi sambil membawa secangkir kopi. Sarah tahu jika Galaksi habis memarahi Eddy karena kesalahan dalam laporan. Sehingga Sarah berinisiatif untuk membuatkan secangkir kopi untuk Galaksi guna mengusir rasa penat.
" Masuk!!" ucap Galaksi dari dalam ruangannya.
Setelah mendapatkan izin, Sarah kemudian masuk, berjalan berlenggak lenggok memamerkan bokongnya yang aduhai. Tak lupa kancing kemejanya dibuka hingga sedikit belahan dadanya terlihat.
"Ini Pak saya buatkan kopi khusus untuk anda," ucap Sarah dengan nada menggoda. Ketika meletakan cangkir tersebut diatas meja dia juga sedikit membusungkan dadanya.
Galaksi mengereyitkan dahinya saat sekertaris nya membuat kopi untuknya. Galaksi mendengus, menghela napas dengan kasar apalagi setelah melihat pakaian sekertarisnya yang tak layak pandang mendadak membuat perutnya terasa mual.
"Siapa yang meminta kamu untuk membuat kopi hah?" seru Galaksi
"Ini inisiatif saya pak, mungkin bapak butuh kopi agar pikiran tenang," jawab Sarah dengan pede
Galaksi memijit ruang diantara alisnya, selalu ada saja hal yang memuakkan.
"Mulai detik ini kamu tidak perlu membuatkan kopi untuk saya. Karena saya hanya meminum kopi buatan istri saya. Kalo kamu sudah paham dan mengerti silahkan keluar dari ruangan saya dan bawa kopi buatan kamu!!!" Tegas Galaksi
Sarah mencebikkan bibirnya dan terpaksa membawa kembali kopi buatannya. Di luar ruangan, Sarah menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kesal karena gagal menarik perhatian atasannya.
__ADS_1
"Kumenangis.......membayangkan...." Ledek Eddy sambil menyanyi salah satu lagu populer.