
Semalam Galaksi setia menjaga Rumi yang masih terlelap tidur. Kedua orang tuanya semalam datang dan melihat kondisi Rumit, ingin ikut menjaga namun Galaksi meminta mereka untuk pulang saja. Galaksi akan mengabari jika Rumi kondisinya sudah sadar.
Galaksi sempat tertidur saat sedang menjaga Rumi tetapi beberapa kali terbangun setelah merasakan gerakan jemari Rumi. Ya semalaman pula Galaksi tak lepas menggenggam tangan Rumi seolah takut menghilang ketika dirinya memejamkan mata.
"Hubby.... By... By... " racau Rumi. Matanya masih terpejam.
Mendengar suara Rumi yang memanggilnya Galaksi mulai terbangun dari tidurnya yang tidak sengaja.
"Sayang... Aku disini, " ucap Galaksi merasa senang karena menganggap istrinya sudah sadar.
Tetapi senyuman itu segera hilang saat merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada Rumi. Wajahnya di penuhi oleh keringat, matanya masih terpejam walaupun bibirnya meracau. Tangan Galaksi terulur untuk memeriksa suhu tubuh Rumi dengan menyentuh keningnya.
Galaksi mulai panik, Rumi kembali mengalami demam tinggi. Buku-buku Galaksi menekan tombol bantuan yang berada disamping ranjang berharap dokter segera datang untuk memeriksa kondisi Rumi.
Beberapa menit kemudian dokter jaga dan suster datang ke ruang rawat Rumi dan segera menghampiri nya.
"Apa yang terjadi pak?? " Tanya dokter
"Istri saya mengalami demam tinggi dok dan sempat meracau. Padahal beberapa jam yang lalu suhu tubuhnya masih normal setelah diberikan obat pereda panas, " ucap Galaksi menceritakan kondisi Rumi.
Dokter pun segera memeriksa kondisi Rumi saat itu juga.
"Maaf Pak, kami izin menggantikan baju pasien yang basah karena keringat. Jika tidak diganti dikhawatirkan pasien akan kedinginan," ucap salah satu suster.
Galaksi mengizinkan suster tersebut untuk mengganti baju Rumi setelah dokter selesai memeriksa kondisi Rumi. Dokter kembali menyuntikkan obat pereda panas untuk menurunkan demen Rumi.
"Dokter bagaimana kondisi istri saya??" tanya Galaksi, tergugat jelas rasa khawatir diwajah nya
__ADS_1
"Untuk sementara kondisi istri anda sudah stabil. Apa sebelumnya istri anda mengalami kejadian yang membuatnya tertekan?" tanya dokter
"Iya dok, istri saya menjadi korban penculikan," jawab Galaksi. Akhirnya dokter menemukan titik terang.
"Sementara saya menduga yang terjadi pada istri anda ada kaitannya dengan kejadian penculikan tersebut yang menyebabkan gangguannya psikologis. Jika dalam dua jam ke depan kembali mengalami demam maka kita harus melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan CT scan karena di khawatir ada peradangan atau luka di organ dalam. Hasil test darah tidak menunjukkan gejala infeksi bakteri atau virus. Jika memang benar karena gangguannya psikologis, mungkin setelah pasien sadar akan segera sembuh, " terang Dokter memberikan penjelasan.
Galaksi bisa bernafas lega untuk sesaat, setidaknya kondisi Rumi sudah membaik. Kali ingin dia tak akan lengah untuk menjaga Rumi. Cukup sekali Rumi mengalami kejadian buruk.
Setelah Dokter dan suster keluar dari ruang perawatan, Galaksi kembali menghampiri Rumi yang masih setia terpejam. Meskipun wajah dan bibirnya sudah tidak sepucat di awal, tetapi masih enggan membuka matanya.
.
.
.
"Ibu!!! " ucap Kevin terkejut.
Bagaimana tidak terkejut sangat ibu tiba-tiba berdiri di depan ruang tengah saat Kevin baru saja masuk.
Dengan melipat keduanya tangannya di bagian dada, ibu Kevin menatap wajah anaknya dengan begitu serius. Kevin merasakan aura negatif disekitar ibunya, dia memegang tengkuk bagian belakangnya dan merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"Masih ingat pulang kamu hah!! " ucap Ibu Kevin dengan nada dingin.
"Ten-tentu saja bu. Begitu urusan pekerjaan selesai aku langsung pulang. Mengapa ibu berbicara begitu? " Kevin gugup setengah mati.
"Yakin kamu ada pekerjaan di luar kota??" tanya ibu Kevin penuh selidik.
__ADS_1
"I-ya bu. Masa Kevin bohong, " jawab Kevin gugup
"Kamu berbohong Kevin. Jangan mengira ibu tidak tahu apa-apa dengan apa yang kamu lakukan di luar. Ibu sangat kecewa dengan kelakuan mu itu. Sudah ibu katakan berulang kali, jauhi Rumi jauhi Rumi. Dia wanita yang sudah menikah dan bersuami. Tetapi kenapa justru kamu bersikeras mendekati nya bahkan menculiknya?? Sungguh ibu sangat kecewa Vin. Apalagi kamu tega membohongi ibunya sendiri!!! " ucap Ibu Kevin dengan derai air mata.
"Ibu.... Maaf! " ucap Kevin dengan penuh penyesalan.
Kevin hanya bisa menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah ibunya yang penuh rasa kecewa.
"Dari sekian banyak wanita kenapa kamu harus mengejar-ngejar wanita yang bersuami Kevin. Mengapa kamu tega memisahkan nya dengan suaminya apalagi dia sedang hamil. Apa dosa ibu dimasa lalu Tuhan sampai memikiki anak yang tega merusak kebahagiaan orang lain, " ucap Ibu Kevin tersedu-sedu.
"Bu... Sudah. Kevin menyesal. Kevin minta maaf," ucap Kevin dengan lirih.
Berhadapan dengan ibunya Kevin tak berani membantah. Selalu menuruti perintah dan keinginan ibu nyaman tetapi obsesinya terhadap Rumi justru membuat ibunya sangat kecewa.
"Di luar sana banyak Kevin wanita seperti apa pun ada. Ibu tak pernah meminta persyaratan khusus untuk calon istrimu kelak. Mau seorang janda, orang miskin, hanya tamatan SD sekalipun ibu Terima adalah bukan istri orang. Kenapa gara-gara satu wanita kamu begitu trauma Kevin," ucap Ibu Kevin. Kepalanya sungguh berdenyut, anak satu-satunya selalu membuatnya pusing.
"Kevin tak ingin kembali sakit hati bu, Kevin benci pengkhianatan, " ucap Kevin dengan sedikit emosi, tangannya terkepal.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana dia memergoki tunangannya berada dalam satu selimut dengan lelaki asing di sebuah kamar hotel.
"Ibu mengerti dan paham. Tapi tidak semua wanita itu sama. Lidya mantan tunangan mu itu berselingkuh juga karena kamu tak punya cukup waktu, kamu terlalu fokus dengan pekerjaan mu bahkan setelah kalian tunangan pun semakin buruk!!! Wanita butuh perhatian Kevin, bukan hanya harta!!"
Kevin menghembuskan napasnya dengan kasar, kenangan buruk yang sudah dia kuburan dalam-dalan kembali di gali oleh ibunya sendiri. Meski ibunya tau hal itu akan menciptakan luka kembung tetapi Kevin harus sadar jika dia juga bersalah.
"Lalu Kevin harus bagaimana bu??" Kevin sungguh lelah saat ini, tubuhnya perlu istirahat.
"Kau pikir aja sendiri!! " ucap Ibu Kevin sambil meninggalkan anaknya begitu saja.
__ADS_1