
Bias cahaya malam yang redup begitu syahdu mengiringi insan manusia yang mengarungi pekatnya malam. Aura kebahagiaan terlukis dengan nyata pada diri yang baru saja mencapai puncak keindahan. Senyum tipis terukir pada bibir tipis menawan sang pesona.
Mereka baru saja melakukan ritual permainan yang sangat panas. Berawal dari rencana iseng Galaksi untuk mengerjai Rumi berakhir di ranjang tercinta. Menggapai kebahagiaan bersama tak pernah di bayangkan oleh mereka, mereka yang baru saja menikmati indahnya pernikahan.
Andai saja kedua tua Galaksi tak pernah peduli dengan nasib kehidupan anaknya, andai saja Galaksi yang tak merasa bosan setiap kali ayah dan ibunya menagih calon istri mungkin saat ini Galaksi masih menikmati kehidupan nya sendiri, tanpa ada sosok pasangan yang menemaninya. Tak pernah jemu Galaksi memandangi wajah cantik Rumi walaupun dia merasa dalam dirinya belum ada rasa cinta.
Malam ini mereka bermain dua kali, niat hati hanya sekali namun ketagihan hingga dua kali. Pertama di ranjang tercinta seperti pasangan lainnya, kedua kalinya ketika Galaksi mengajak mandi bersama. Dasar Galaksi yang penasaran mendengar cerita Eddy yang sering bermain di kamar mandi, membuatnya mencoba dengan Rumi. Rumi hanya pasrah mengikuti kemauannya Galaksi karena sesungguhnya dia pun menikmatinya.
"Pantas saja Eddy menjadi seorang cassanova, tak pernah bosan bercinta dengan para wanita. Bercinta ternyata senikmat ini dan bisa membangkitkan mood booster. Sepertinya kamu sudah menjadi candu untukku Rum, kuharap kamu wanita pertama dan terakhir untukku," gumam Galaksi. Tak lupa sebuah kecupan selamat malam diberikan untuk Rumi.
Galaksi lalu membaringkan tubuhnya sambil memeluk tubuh Rumi, tiada malam yang terlewatkan tanpa pelukan. Menjadi kebiasaan baru untuk Galaksi menjadi tubuh Rumi sebagai bantal hidupnya.
.
.
Semalam berlaku dan berganti sang mentari yang menyinari seluruh lapisan bumi. Dua insan yang masih terlelap tidur belum menyadari jika mereka terlambat bangun. Mungkin karena kelelahan setelah melakukan kewajiban suami istri, tanpa sadar alarm yang terpasang di handphone masing-masing tak terdengar.
Untung saja hari ini merupakan hari Minggu, jika hari biasa mungkin mereka akan kelimpungan. Apalagi status mereka yang belum di publikasikan akan menjadi keanehan jika mereka terlambat bekerja bersama.
Mata Galaksi mulai mengerejap setelah merasa haus tenggorokannya. Begitu membuka matanya langsung suguhi wajah Rumi yang polos, begitu tenang dalam tidurnya.
"Maaf ya, semalam membuatmu sangat kelelahan," guman Galaksi pelan-pelan takut mengganggu tidur Rumi
Cup
Tak lupa sebuah kecupan semangat mengawali hari ini, Galaksi beranjak bangun dari tidurnya. Dia ingin menyiapkan sarapan spesial untuk Rumi.
__ADS_1
.
.
Seperti biasa Rumi berangkat ke kampusnya diantarkan oleh Galaksi. Pagi-pagi Rumi sudah di buat resah dan malu karena bangun kesiangan. Semalam Galaksi berhasil mengerjai Rumi hingga lelah. Tak cukup sekali tetapi dua kali, awalnya begitu ketakutan merasakan kembali rasa sakit. Tetapi karena terbuai dengan permainan Galaksi yang lihai membuat Rumi terhanyut hingga lupa diri.
Galaksi pun sudah memberi tahu perihal pembelian kampusnya dan mengalihkan kepemilikan atas nama Rumi membuatnya sempat tak percaya. Namun setelah melihat dengan matanya sendiri perubahan struktur komite, membuat Rumi akhirnya percaya.
"Haii Rumi sudah datang ternyata, kirain kamu ga akan masuk kuliah loh," ucap Satya tiba-tiba muncul saat Rumi tengah santai di kantin.
"Kamu datang kayak kuntilanak, tiba-tiba muncul dan meresahkan. Apa ga bisa sehari aja ga gangguin aku hah?" ucap Rumi kesal
"Aku ga akan pernah berhenti gangguin kamu sebelum kamu kembali bersamaku seperti dulu, apa kamu ga kangen kebersamaan kita di masa putih abu?"
"Cihhh tak sudi untuk mengingatnya, semuanya hanya kesakitan dan kekecewaan. Oh iya, aku sekedar mengingatkan jika Suami ku ternyata sudah membeli kampus ini untukku. Padahal hanya bercanda, ternyata segitu cinta dan sayangnya suami aku hingga rela ngeluarin uang lima puluh miliar untuk membeli kampus ini," ungkap Rumi dengan sombong.
"Ga usah banyak menghalu Rum aku tau kamu sedang bersandiwara agar aku menyingkir dan pergi dari hidupmu. Tapi aku tidak peduli mau kamu janda atau perawan sekalipun akan aku kejar," ucap Satya meremehkan.
Rumi menyunggingkan senyum di bibirnya, dia sudah menduga jika Satya tak mudah percaya.
"Kamu anggap aku bersandiwara, silahkan cek website kampus ini dan lihat susunan komite disana. Siapa yang menjadi pemiliknya," bisik Rumi di telinga Satya.
Satya buru-buru mengambil handphone nya yang ada di saku celananya. Membuka situs website kampus nya Rumi dan mengklik bagian susunan komite kampus. Matanya terbelalak, tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Sekali lagi bahkan Satya mengucek matanya berulang kali takut ada masalah dengan penglihatannya.
Mulutnya mulai mengeja nama pemilik kampus yang tertulis bagian paling atas susunan kepengurusan komite. Tubuhnya melemas begitu saja karena telah kalah bersaing. Ternyata suami Rumi bukan seseorang yang gampang di usik. Salah -salah perusahaan ayahnya yang akan menjadi korban
"Bagaimana Sat, sudah percaya jika suami ku adalah Sultan??? Bahkan jika kau tidak percayalah dia akan membeli perusahaan keluarga mu saat ini juga. Aku hanya tinggal meneleponnya saja," ucap Rumi begitu angkuh.
__ADS_1
Satya mengepalkan tangannya, baru kali ini dia merasa sangat direndahkan. Walaupun sudah kalah secara status, Satya tidak menyerah untuk mendapatkan Rumi apalagi setelah mengetahui jika Rumi bersuamikan sultan akan membuatnya semakin menggila.
"Okey untuk kali ini aku mengaku kalah, tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu Rum. Bagaimanapun juga kamu selamanya hanys milikku," ucap Satya sambil berlalu meninggalkan Rumi.
Untuk saat ini dia lebih baik menghindar dan memikirkan langkah selanjutnya agar dapat mendekati Rumi. Dia juga tidak boleh sampai salah langkah karena akan berakibat fatal untuknya.
Akhirnya Rumi bisa kembali bersantai sambil menunggu waktu perkuliahan selanjutnya. Masih ada setengah jam lagi sebelum lanjut ke jam kuliah berikutnya. Rumi membaca materi yang akan di bahas nanti agar ketika dosen menjelaskan Rumi sudah memiliki sedikit materi tersebut.
"Wah -wah wah..ternyata simpanan om-om sudah ganti mengincar cowok seumuran ya. Ternyata lo bener- bener sudah jadi wanita peng-goda. Pantas saja sekarang hidupnya lebih santai," ucap salah seorang teman seangkatan Rumi.
" Gue kira gosip yang beredar itu bohongan tapi setelah gue liat dengan mata kepala gue sendiri gue percaya. Apalagi kemarin gue liat dia dijemput oleh cowok tinggi gendut udah gitu terlihat sedikit tua. Selera lo ternyata pria matang ya Rum. Apa lo takut di labrak sama istrinya?" cecar teman lainnya
Rumi diam saja, tak menggubris semua omongan teman-temannya itu. Mereka selalu iri dengan kehidupan Rumi.
Rumi pun bangkit dari duduknya kemudian menjinjing tas miliknya, sengaja agar mereka lihat tas mahal miliknya
"Kalian kenapa sih? Iri?? Ga perlu menghujat, lakukan saja jika kalian tertarik," balas Rumi dengan santai.
"Jangan samakan kami dengan kehidupan lo Rum, kita ini dari kalangan atas, uang tak pernah menjadi masalah," ucapnya dengan sombong.
"Satu lagi yang mesti lo tau, gue ga murah-an kayak lo, dan gue ga akan ngejual diri gue hanya untuk mencari kekayaan," sambung yang lain.
Rumi memutar kedua bola matanya dengan malas, ingin rasanya dia menjambak dan menyobek mulut mereka yang kurang ajar dan tidak di didik dengan benar.
"Lo semua tunggu aja, ada waktunya kalian tau siapa gue. Gue harap sih kalian ga akan ngemis-ngemis berteman sama gue setelah tau siapa gue yang sebenarnya," ucap Rumi tak kalah songong.
"Bener-bener ya lo Rum, ga usah banyak bermimpi."
__ADS_1