
Eddy merasa sangat bersalah dan menyesal karena seharian kemarin tidak memegang handphone nya padahal ada berita duka yang datang dari Rumi. Setelah mandi dan berganti pakaian, Eddy langsung meluncur kerumah neneknya Rumi untuk bertakziah. Tak apa terlambat menyampaikan ucapan berduka dibandingkan tidak sama sekali.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya Eddy sampai di rumah duka setelah sempat nyasar karena salah berbelok. Di rumahnya Eddy tak sempat bertemu dengan Rumi karena sedang beristirahat.
Untung saja Galaksi tidak marah karena Eddy baru membaca pesan yang dikirimkan olehnya. Dia juga paham jika hidup Eddy sedang berantakan karena kepergian Imelda.
Usai melakukan takziah, Eddy pamit untuk pulang. Dia butuh istirahat karena semalaman tidurnya tidak nyenyak sama sekali. Apalagi di kantor sedang banyak pekerjaan yang deadline, sehingga Senin nanti dia tidak bisa mengambil libur kerja.
Berhubung hari ini adalah weekend, jalanan yang dilalui untuk pulang cukup padat. Saat sedang mengamati jalanan diluar , dia melihat seseorang yang dikenalnya. Eddy menepikan mobilnya di pinggir jalan dan membuka kaca pintu bagian kiri.
"Dea... Lo ngapain disini??" tanya Eddy
Dea yang sedang menunggu angkot usai berbelanja keperluan dapur, sedikit terkejut melihat mobil Eddy yang berhenti di depannya.
"Pa-pak Eddy, lagi nunggu angkot pak," jawabnya jujur
"Ya udah ayo masuk ke anterin pulang. Jalanan juga macet gini pasti angkot lagi pada penuh," ajak Eddy
Dea agak ragu menerima tawaran Eddy karena beberapa hari ini Dea selalu di marahi karena kesalahan sepele.
"Ayo naik, tenang gue ga akan ngigit kok," seru Eddy bercanda.
Dea menggigit pipi bagian dalam, menimbang-nimbang apakah akan menerima tawaran Eddy atau tidak.
"Ya udah sih, lumayan hemat ongkos. Adem dan nyaman juga naik mobil bagus," gumam Dea dalam hati.
Dea pun melangkah mendekati mobil dan membuka pintunya. Duduk dengan nyaman dan tak lupa memasang sabuk pengaman.
" Oh iya rumah lo di mana ya? " tanya Eddy, matanya fokus ke jalanan.
"mmmm.. di jalan Kenangan no 18 Pak,"jawab Dea sambil menundukkan kepalanya.
"Eehh kalo di luar kantor ga usah panggil Pak, boleh panggil nama atau panggil mas seperti Rumi. Atau mau manggil saya Kak Eddy juga boleh. Biar lebih santai dan ga terlalu kaku," Kekeh Eddy
__ADS_1
"Ba-baik pak," jawab Dea singkat, dirinya masih gugup.
"Kok masih manggil pak, panggilan akrab dong, mas atau kakak," sahut Eddy sambil cemberut.
"Maaf. A-aku panggil aja mas ya, samain kayak Rumi," ucap Dea dengan malu-malu.
Suasana kembali sepi,tak ada percakapan yang berlanjut. Eddy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan Dea melihat pemandangan di luar jendela.
"Loh....loh... Kok belok kesini Mas???" seru Dea.
"Temani gue makan siang dulu ya. Lo lagi ga ada acara atau urusan kan???" tanya Eddy
Dea menggelengkan kepalanya.
"tenang, ga udah khawatir gue yang traktir," ucap Eddy sambil terkekeh, Dea mendengus.
Eddy membelokkan mobilnya kesebuah rumah makan. Sengaja mengajak serta Dea karena tak bernafsu jika makan sendirian.
"pilih menu apapun, jangan pesan yang paling murah. Tak perlu khawatir," ucap Eddy seakan akan dapat membaca pikiran Dea
" maaf jika beberapa hari kemarin gue marah - marah ga jelas. Gue lagi ada masalah pribadi. Sekali lagi gue minta maaf ya," ucap Eddy menyesal.
"iya Mas, saya juga ga paham kok. Memang berat jika kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi," jawab Dea
"Hemmm... Tentu saja. Apalagi ketika di tinggal saat sedang sayang-sayangnya. Oh iya, lo lagi pendekatan ya dengan Lucas?" tanya Eddy kepo.
"ehhhh... Ga kok Mas. Hanya berteman biasa, soalnya memang saya hanya dekat dengan kak Lucas. Kebetulan kita memang sekampus," jelas Dea.
"ohh.. Kirain kalian lagi dalam masa penjajakan kearah yang lebih serius," sahut Eddy.
Obrolan Mereka pun terpaksa terhenti karena makanan yang mereka pesan telah datang.
*
__ADS_1
*
*
"Maaf tuan, ternyata tidak mudah untuk membobol data perusahaan mereka. Mereka memiliki sistem keamanan yang sangat baik dan sulit untuk ditembus oleh malware manapun. Bahkan kami sudah mencoba untuk mengirimkan virus yang dapat merusak data Namun ternyata malah mental kembali," lapor salah satu anak buahnya
"Jadi ternyata hal tersebut bukan gosip semata jika keluarga Rahadian memiliki pelindung di balik layar. Sebuah organisasi rahasia yang akan melindungi setiap bagian dari keluarga tersebut," ucap Kevin sambil menopangkan dagunya diatas tangannya.
"Benar tuan, bahkan kita sama sekali tidak bisa melacak IP address dari sistem pelindung tersebut. Mereka membuat program yang terbaik untuk mencegah penyusup mencuri atau mensabotase data perusahaan. Kita tidak bisa main -main dengan mereka. Salah langkah maka akan berbalik terhadap data perusahaan kita Tuan."
"Tapi apakah kamu sudah pastikan jika data perusahaan kita tidak akan terkena serangan balik??" tanya Kevin.
Meskipun perusahaan nya merupakan yang terbesar tetapi dia cukup takut jika penyusup berhasil masuk kedalam sistem keamanan datanya.
"Tenang saja tuan, saya sudah memutuskan segala koneksi ketika mereka hendak melacak balik siapa yang hendak meretas data mereka. Maaf Tuan, saya tidak dapat mengerjakan tugas ini dengan baik."
"Tak apa, sejak awal saya memang hanya ingin bermain-main saja. Ingin mengetahui apa yang dikatakan orang-orang diluar jika keluarga Rahadian memiliki sistem keamanan data yang terbaik."
"Betul Tuan, keberhasilan mereka tak lepas dari tangan dingin anak sulung keluarga Rahadian yang bernama Andromeda. Selain terkenal sebagai ahli IT terhebat dia juga memiliki sosok yang kejam jika menyangkut keluarganya. Dia tidak segan-segan akan menghilangkan musuh tanpa jejak. Semua berakhir hilang tanpa kabar," y anak buahnya.
Kevin berpikir sejenak, dia tidak boleh bertindak ceroboh. Dia juga tak bisa memandang remeh rivalnya saat ini. Pantas saja, bisnis keluarga tersebut jauh dari ancaman manapun, berjalan stabil meskipun tak pernah berambisi menjadi penguasa kerajaan bisnis.
"Lanjutkan saja ke rencana berikutnya. Kali ini kalian harus lebih berhati-hati. Jangan sampai melukainya. Seujung rambut nya tak boleh rusak. Ingat dia sedang hamil. Perlakuan dia dengan baik. Setelah berhasil membawanya, kalian bawa dia ke villa saya yang ada di Bogor. Jangan sampai meninggalkan jejak. Lebih bagus lagi jika kalian bisa membujuknya untuk ikut tanpa perlu di bius," Kevin memberikan perintah
"Baik tuan, kami akan menjalankan perintah Tuan dengan sangat baik."
"Bagus kalo begitu. Segera lakukan dan persiapan dengan baik. Kalian bisa lakukan dari sekarang. Amati setiap hal, karena pasti itu akan sangat membantu pekerjaan kalian. Kalian bisa pergi sekarang juga," titah Kevin
Anak buahnya pun pergi meninggalkan Kevin seorang diri. Tinggallah dia sendiri di ruangan kerjanya.
Dia bangkit dan berjalan menuju jendela yang menampakkan pemandangan kota Jakarta dengan sangat indah. Perusahaannya merupakan gedung tertinggi di Ibu Kota dan berdiri di tempat strategis.
Keinginan dan rasa penasarannya dengan sosok Rumi membuat nya harus bertindak lebih jauh. Setelah gagal untuk membuat perusahaan Galaksi hancur, Kevin nekat ingin menculik Rumi dan menyekapnya untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Penolakan Rumi yang terang-terangan membuat harga dirinya tersakiti. Baru kali ini dirinya merasa direndahkan padahal ratusan wanita berlomba -lomba untuk mendapatkan hatinya. Kekayaannya yang berlimpah membuat Kevin sangat percaya diri. Tetapi Kevin lupa jika masih ada cinta sejati yang tidak memandang harta.