Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Mood Ibu Hamil


__ADS_3

Galaksi memijit ruang diantara keningnya, selalu ada drama jika Runi sedang dirawat di rumah sakit. Sejam yang lalu Rumi merengek ingin pulang. Padahal baru saja dokter visit memeriksa kondisi Rumi masih lemah dan beresiko untuk mengalami pendarahan.


Namun rengekan Rumi membuat Galaksi tak tega, apalagi Rumi tengah hamil kembar. Galaksi takut akan mempengaruhi mood Rumi nantinya.


Galaksi sudah bercerita jika Rumi sedang hamil anak kembar dan harus menjaga kondisinya agar selalu tetap prima. Namun Galaksi tidak menceritakan perihal Rumi yang kehilangan salah satu calon janin sesuai kesepakatan dengan Bunda Maulindya.


"Bun, Rumi mau pulang. Bujukin Tuan Suami bun, Rumi mau pulang. Please!!!" rengek Rumi sambil menggoyang-goyangkan lengan bunda mertuanya.


Maulindya menggelengkan kepalanya, walaupun merasa kasihan dengan Rumi tetapi dia juga tidak ingin jika calon cucunya nanti kenapa-kenapa.


"Tuan suami dan Bunda jahat!!!" seru Rumi.


Kepalanya langsung di tutup selimut tak ingin melihat wajah suami dan ibu mertuanya yang menurutnya sangat menyebalkan.


Galaksi menghembuskan napasnya dengan kasar, cukup sulit membujuk Rumi yang tengah hamil. Sifat keras kepalanya semakin bertambah, belum lagi Rumi mendadak cengeng dan manja. Sedikit-sedikit nangis, sedikit -sedikit mencari perhatian. Perubahan mood wanita hamil memang sulit di tebak.


"Sayang, makan dulu ya. Kasian debay nya loh nanti kelaparan gimana? Kamu tega?" bujuk Galaksi.


"Ga mau, biarin aja!!" tolak Rumi dengan ketus


"Loh ga boleh gitu sayang, itu sama aja jahat sama debay nya. Masa debaynya dibiarin kelaparan," ucap Galaksi dengan lembut.


"Kalian juga jahat!!!" seru Rumi.


Kepalanya semakin tenggelam dala selimut yang digunakannya bahkan telinganya di tutupi denga bantal.


Galaksi melirik Bundanya yang malah tersenyum mengejek kepadanya. Bahkan mengangkat bahunya pertanda tidak peduli dengan apa yang terjadi. Rasanya Galaksi lebih baik menghadapi seratus orang kliennya yang rese dibanding satu ibu hamil dengan mood yang selalu berubah.


"Sayang, " ucap Galaksi sambil mengusap punggung belakang istrinya.


Rumi tidak merespon, tetap bersembunyi dibalik selimutnya.


"Sayang ga pengap kepalanya di tutup selimut begitu??" tanya Galaksi sedikit khawatir.


Tak lama tubuh Rumi sedikit bergetar dan terdengar isakan kecil. Galaksi yang tahu jika Runi tengah menangis membuka selimut nya dengan paksa.

__ADS_1


Mendapatkan perlakuan yang sedikit kasar membuat Rumi semakin menangis


"Huuuuuuhuuuu... Huuuuuuhuuuu,"


Galaksi langsung mendekap tubuh Rumi dengan erat, merasa bersalah karena bersikap kasar.


"Maaf sayang, bukan maksudnya untuk kasar. Aku ga bisa mendengar atau melihat kamu menangis. Please, stop it okey? Forgive me," bujuk Galaksi sambil meminta maaf.


"Pulang," ucap Rumi begitu lirih.


Akhirnya Galaksi terpaksa menuruti permintaan Rumi walaupun tim dokter sama sekali tidak menyarankan Rumi pulang karena kondisinya yang masih lemah. Apalagi Rumi baru saja kehilangan darah dan keguguran.


Setelah mengurus administrasi dan menandatangani surat peryataan pulang akhirnya Rumi bisa tersenyum. Galaksi memonyongkan bibirnya, ingin rasanya mengigit bibir Rumi yang senyum merekah.


"Ga usah senyum senyum ah, atau ku gigit saat ini juga," ucap Galaksi dengan ketus.


"Heheheh, makasih tuan suami, seneng deh. Kalo kayak gini jadi makin sayang," ucap Rumi dengan riang.


Bunda Maulindya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya yang unik itu.


"Tuan suami, bisakah kita ke rumah bunda Lily?" tanya nya dengan masih


"Ohh Tuhan ada drama apa lagi ini," gumam Galaksi dalam hati


"Mau apa sayang, tumben?"


"Rumi ingin bertemu dengan ayah Raka, boleh?" Rumi kembali bertanya, jangan sorot mata dan senyum nya yang tak dapat terbantahkan.


Galaksi tersenyum kecut, entah ada apa Rumi ingin bertemu dengan ayah Raka. Walaupun ayah baik tetapi mereka tidak seakrab seperti dengan bunda.


"As you wish my lovely wife," ucapnya


.


.

__ADS_1


Kurang lebih satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah kediaman utama milik ayah Raka. Ada rasa kangen yang dirasakan oleh Galaksi setelah beberapa bulan ini tinggal terpisah. Tentunya banyak kenangan yang terjadi di rumah tersebut karena sejak kecil Galaksi tumbuh dan besar di sana.


Rumi selalu menyukai suasana rumah kediaman utama milik orang tua Galaksi. Halamannya yang luas, taman bunga yang indah serta rumah besar bergaya clasik membuat Rumi merasa betah walaupun sempat tinggal sebentar. Ingin rasanya dikemudian hari memiliki rumah impian seperti itu jika nanti anak-anaknya sudah lahir.


Spontan tangannya mengusap perutnya perlahan. Saat ini sudah ada dua kehidupan baru untuk calon anaknya, suatu kebahagiaan yang tiada tara dapat mengandung janin kembar.


"Kenapa sayang? Apa perutnya sakit?" Tanya Galaksi sedikit khawatir.


Pasalnya dokter mau wanti-wanti untuk menjaga kondisi Rumi apalagi saat Rumi mengalami kram atau sakit di bagian perut.


"Ga papa Tuan, " jawab Rumi.


"Ayo kita masuk, katanya ingin bertemu ayah," ajak Galaksi.


Mereka bertiga lalu segera masuk kedalam rumah. Ayah Raka sudah menunggu di ruang tengah setelah istrinya mengabarkan jika Rumi pulang dan ingin berkunjung ke rumah. Kebetulan juga ada Aurora yang sedang menginap beberapa hari karena suaminya sedang ada perjalan bisnis keluar negeri.


"Rum, sehat sayang??" tanya ayah Raka


"Sehat, ayah sendiri bagaimana?" Rumi balik bertanya


"Seperti yang kami lihat Rum. Ayah ikut bahagia mendengar kabar kehamilanmu, jaga mereka sebaik mungkin ya. Kamu jangan sampai kecapaian, jaga kondisi tubuh dengan baik," pesan Ayah Raka.


"Iya ayah," ucap Rumi dengan senang


Rumi memainkan jari jemarinya, ada hal yang ingin dia lakukan bersama ayah Raka. Namun dia nampak ragu untuk memberi tahukannya kepads ayah Raka. Menyadari jika istrinya memendam sesuatu, Galaksi menghampiri Rumi.


"Kenapa sayang, kamu ingin sesuatu," tanya Galaksi dengan lembut.


Rumi menganggukkan kepalanya sambi tersenyum tipis.


"Kamu ingin apa??"


Rumi mendekat, bibirnya mulai mengarah ke telinga Galaksi dan mulai membisikkan sesuatu.


Mata Galaksi langsung membola, melotot seperti hendak keluar bola matanya saat Rumi mengatakan keinginannya.

__ADS_1


"Rumi!!??"


__ADS_2