
Hampir saja hari ini Rumi terlambat datang ke kampus karena bangun terlambat. Semalaman Rumi tidur tidak nyenyak karena bayang masa lalu yang buruk menghantuinya, baru setelah menceritakan semuanya kepada Galaksi dia bisa tidur dengan nyenyak.
Sengaja Galaksi tidak membangunkannya karena merasa kasihan dengan Rumi yang baru bisa tertidur setelah jam 3 pagi.
"Rum, makan dulu sebelum berangkat aku sudah siapin nasi goreng untukmu. Di makan ya?" ucap Galaksi dari dapur.
Masih ada waktu satu jam lagi sebelum kelas pertamanya dimulai sehingga Rumi masih bisa memakan masakan buatan Galaksi.
"Gimana enak??" Ucap Galaksi tiba-tiba nongol dan main duduk di meja makan.
"Mmmm enak sekali Tuan," ucap Rumi
"Makanlah yang banyak kalo kamu suka, habiskan kalo perlu. Oh iya Rum, hari ini maaf aku tak bisa mengantarkan mu ke kampus karena ada meeting via zoom dengan vendor, kamu bisa kan berangkat sendiri?" tanya Galaksi sedikit khawatir.
"Tidak apa Tuan, sebelum ini aku juga biasa berangkat ke kampus sendiri. Tuan tidak perlu khawatir," ucap Rumi dengan senyum merekah.
"Baiklah kalo begitu, nanti aku pesan ojek online supaya cepat sampai. Nanti pulangnya aku jemput ya. Sekarang habiskan sarapanmu," ucap Galaksi diambil mengacak-ngacak rambut Rumi yang sudah terikat rapi.
Tak lupa Galaksi menyiapkan segelas jus untuk Rumi. Rumi benar-benar merasa seperti seorang Ratu, Galaksi menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami. Perempuan mana yang tidak akan meleleh hatinya jika diperlakukan dengan manis olehnya.
Setelah selesai sarapan, Rumi segara pamit untuk berangkat ke kampus dan kebetulan juga ojek online yang dipesankan Galaksi sudah menunggu di lobby.
.
.
Setengah jam kemudian Rumi sudah sampai di kampusnya, beruntung jalanan tidak begitu macet sehingga dia lebih cepat sampai.
Matanya menyipit memastikan apa yang dia lihat, seseorang yang sangat tidak ingin dia temui sampai kapanpun. Rumi berusaha menjaga sikapnya senormal mungkin dan tidak boleh sampai emosi.
__ADS_1
"Kata Tuan suami kamu harus main cantik Rumi, buat dia terbang setinggi mungkin lalu hempaskan hingga ke neraka terdapat," gumam Rumi dalam hati.
Dibalik sikapnya yang tenang ada kilatan emosi di matanya.
"Rumi, Rumi akhirnya kamu datang ke kampus juga. Aku kira kamu ga ke kampus hari ini?" ucap Satya sambil menyamai langkah Rumi.
Mata Rumi mendelik, malas sekali mendengar omongan dari Satya. Rumi pun tidak menggubris ucapan Satya dsn terus melangkah menuju kelasnya, lima menit lagi dosen akan masuk.
"Rum, bisakah kita berbicara sebentar. Aku ingin menjelaskan semuanya, aku menyesal Rum. Saat itu aku masih labil dan belom paham apapun. Aku sangat berharap kita bisa seperti dulu," ucap Satya penuh pengharapan.
Langkah Rumi terhenti, sedikit muak dengan ucapan Satya yang mengada -ngada.
"Bisa tidak kamu pergi dari hadapanku saat ini juga. Wajahmu itu bisa bikin aku sial sepanjang hari tau ga," tegas Rumi.
"Kasih aku kesempatan sekali lagi Rum, aku yakin bisa bahagiakan kamu kelak. Aku sudah punya segalanya," jawab Satya dengan penuh percaya diri.
"Aku sudah punya segalanya, bukankah sudah ku katakan aku sudah menikah. Sebaiknya kamu pergi dari sini!!" Rumi mulai jengah terus di ikutin oleh Satya kemanapun dia pergi.
Rumi mengepalkan tangannya menahan emosi, bahkan kuku-kukunya memutih.
"Ternyata kamu tak pernah berubah selalu membanggakan harta milik orang tuamu. Tidak semua wanita bisa bahagia hanya dengan harta," ucap Rumi geram.
"Kamu tenang aja Rum, aku sudah menjadi CEO di perusahaan ayah ku. Tak ada wanita yang rela hidup sudah dengan seorang pria. Kamu mau apa Rum, tinggal sebut aja, tas LV,kalung berlian semua bisa aku beli," ucapnya dengan gaya paling sombong.
"Harta yang kamu miliki saat ini hanya secuil dari harta yang dimiliki oleh suamiku. Bahkan jika aku mau, kampus ini bisa berganti kepemilikan. Buat apa melepaskan intan berlian demi seonggok debu di pinggir jendela," jawab Rumi tak kalah sombong
"Aku tau kamu hanya omong kosong belaka, mana ada yang mau sama gadis miskin seperti mu," ucap Satya seenaknya.
"Kita liat sja besok!!!!" Ucap Rumi sambil meninggalkan Satya.
__ADS_1
"Kamu aja menyesal Rumi!!!" teriak Satya.
Dia masih mengira jika Rumi hanya membual bahkan soal pernikahan pun seperti hanya kebohongan agar Satya menjauh. Satya memang melihat sebuah cincin melingkar di jari manis Rumi namun dia menganggap itu hanya cincin biasa bukan cincin pernikahan.
.
.
Tinggal masuk satu mata kuliah lagi yang harus Rumi ikuti, setelah itu dia bisa kembali ke rumah. Namun ditengah-tengah jam perkuliahan Rumi kebelet buang kecil.
Ternyata toiletnya semua sedang digunakan, hanya tersisa satu yang di paling ujung. Hanya masalah pintu toilet tidak boleh di tutup karena akan susah ketika di buka nantinya.
Akhirnya karena sudah tidak kuat menahan, Rumi terpaksa masuk ke toilet yang tersisa.
"Duuhhh ini gimana ganjelnya??" keluh Rumi
Rumi kebingungan, tidak mungkin juga dia buang air kecil dengan posisi terbuka bisa malu seumur hidup.
Akhirnya Rumi mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya berusaha mengakali agar pintu tidak tertutup tetapi tidak terlihat juga dari luar.
Romi berusaha menyelipkan kartu tersebut ke celah diantara pintu dan kusennya.
"Yess bisa," sorak dalam hati.
Setelah selesai saat Rumi hendak mengambil kartunya ternyata sudah karena nyangkut. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, rasa panik perlahan menghinggapi dirinya.
Runi berusaha tetap tenang dan tidak panik. Perlahan Rumi mulai menarik handle pintu dan akhirnya bisa terbuka.
Crack
__ADS_1
Mata Rumi langsung membola saat melihat kartu yang dia gunakan sebagai ganjel ternyata patah menjadi dua. Tangannya gemetaran mengambil potongan kartu tersebut dari bawa. Matanya menatap nanar kartu yang telah rusak tersebut.
"Aduuhhh patah begini, Tuan suami pasti ngamuk nih."