Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Malam ini aku milikku, lakukanlah


__ADS_3

Deg


Deg


Deg


Detak jantung Rumi berdebar sangat kencang, berpacu melawan gelanyar aneh dari tubuhnya. Sedangkan Galaksi berusaha mati-matian agar tetap sadar dan tidak terbawa nafsu akibat efek obat perangsang tersebut.


"Berkatalah Rumi, jangan diam saja. Saat ini aku sangat membutuhkan bantuanmu," ucap Galaksi dengan tatapan yang semakin sayu.


Cup


Rumi memberanikan diri untuk mencium bibir Galaksi yang menggodanya sedari tadi. Senyuman lebar terlukis di bibir Galaksi diikutinya dengan tatapan mendamba. Rumi terlihat lebih cantik malam ini, bahkan sangat cantik melebihi cahaya senja disore hari.


"Malam ini aku milikku, lakukanlah. Buatlah aku sepenuhnya menjadi milikmu," ucap Rumi


Tangan kanan Galaksi terulur menyentuh pipi Rumi merambat hingga ke bagian bibirnya yang mungil lalu mengusapnya.


"Aku mulai dari sini," bisik Galaksi


Akhirnya kedua bibir mereka saling menyatu, saling bertukar Saliva. Keduanya sama-sama pengalaman pertama, jangan ditanya darimana mereka belajar. Kedua mengikuti naluri yang muncul dari dalam diri mereka.


Hosh


Hosh


Hosh


Tepat saat sisa oksigen nyaris habis keduanya melepaskan ciumannya. Galaksi mengecup kening Rumi berusaha menormalkan napasnya yang nyaris kehabisan oksigen.


"Manis," bisik Galaksi menikmati sisa saliva dibibir


Rumi menundukkan kepalanya, bahkan tubuhnya semakin menegang saat Galaksi sudah mulai merayap kebagian lehernya. Galaksi mulai meresapi ceruk leher istrinya dan membuat sebuah tanda kepemilikan. Rumi menggeliat memejamkan mata dan menahan rasa geli yang ditimbulkan. Tangan Rumi tak mau kalah, mulai merayap di wajah Galaksi, menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi bagian kening.

__ADS_1


"Wangi, aroma tubuh ini yang sangat aku suka," bisik Galaksi mengendus aroma tubuh Rumi.


"Tu-tuan sangat tampan, Rumi suka," ucap Rumi dengan lirih, dengan menikmati setiap sentuhan yang Galaksi berikan pada tubuhnya.


Tangan Galaksi mulai nakal, mulai menyusup ke bagian dalam tubuh Rumi yang masih terbungkus gaun tidurnya, menyentuh area sensitif bagian atas milik istrinya.


Galaksi mulai membuka dan menurunkan gaun tidur tersebut, Rumi diam tanpa menolak apapun perlakuan Galaksi. Dia sudah menyerahkan dirinya untuk suaminya malam ini, jadi apapun yang dilakukan oleh Galaksi Rumi menerimanya.


Galaksi meneguk salivanya, lalu memberanikan diri menyentuh seluruh bagian tubuh Rumi yang putih dan mulus. Galaksi mulai mengagumi semua keindahan yang terpampang nyata di depan matanya. Baru kali ini Galaksi tergoda dan begitu menginginkannya.


Rumi pun tak mau kalah, mulai menanggalkan kemeja yang Galaksi kenakan. Kini Rumi dapat melihat dengan jelas tubuh suaminya saat ini, bagian dada yang bidang dengan rambut tipis disekitarnya. Otot perut yang terbentuk kotak kotak alias sispack begitu memanjakan mata yang melihatnya, sungguh Rumi mulai tergoda.


Tatapan Galaksi semakin dalam dan mendamba, tak akan melepaskan Rumi malam ini juga. Apalagi sudah berkata untuk menjadikan miliknya sepenuhnya.


Galaksi lalu merangkulkan lengan Rumi ke lehernya. Perlahan Galaksi mulai mengangkat dan menggendong tubuh mungil Rumi ala bridal style dan membawanya ke tempat tidur mereka berdua. Dibaringkannya tubuh Rumi dengan hati-hati seolah-olah sebuah kaca yang gampang retak. Rumi semakin dibuat melayang oleh perlakuan Galaksi yang manis.


"Maafkan aku, jika malam ini aku akan menyakitimu. Jika kamu takut dan tak ingin melanjutkannya segera keluar dari sini. Namun jika ingin di lanjutkan, aku takkan pernah berhenti hingga permainan berakhir," bisik Galaksi sebelum memulai intinya.


Walaupun dia belum pernah melakukannya dengan wanita manapun Galaksi tau apa yang akan di rasakan oleh Rumi apalagi ini adalah yang pertama untuknya. Dia juga tak ingin membuat Rumi menyesal setelahnya.


"As you wish baby, you're mine right now," bisik Galaksi sangat sensual.


Kedua nya melanjutkan kembali kegiatan yang sempat tertunda, menikmati setiap sentuhan yang diberikan pada tubuh masing masing. Suasana semakin panas, bahkan dinginnya udara AC yang berhembus tak mampu mencegah keluarnya keringat.


Keduanya bahkan sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Entah siapa yang memulai dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Yang jelas Galaksi menikmati mahakarya Tuhan yang terindah. Matanya bahkan tak sempat mengedip, membuat Rumi harus menutup area sensitifnya dengan telapak tangannya.


"Jangan di tutup aku sedang menikmati nya."


Galaksi mulai menyingkirkan kedua tangan Rumi bahkan menguncinya di tas kepalanya dengan salah satu tangan Galaksi. Rumi hanya bisa pasrah sambil menahan rasa malu.


Malam ini akan menjadi malam terindak untuk keduanya, kenangan yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidupnya. Pertama kalinya mereka merasakan peran suami istri yang sesungguhnya, menikmati syahdunya belaian yang nyata.


Perlahan mereka mulai memasuki inti permainan malam ini. Keduanya mulai melakukan penyatuan menyelami permainan panas yang tercipta diantara hubungan yang halal.

__ADS_1


Rumi memejamkan matanya saat Galaksi mulai memasuki tubuhnya. Rasa sakit mulai mendera di area intinya hingga tak kuasa menitikkan air mata. Galaksi yang melihat Rumi menangis menghentikan sejenak agar Rumi sedikit tenang. Sebelah tangannya menghapus air mata yang sempat menetes.


"Maafkan aku telah menyakitimu. Dan maaf aku tak bisa menghentikannya saat ini. Maafkan aku," ucap Galaksi dengan suara seraknya.


Kepalanya mendekat dan mengecup kening, berharap mengurangi rasa sakit yang Rumi rasakan. Tak ingin membuat Galaksi menyalakan diri sendiri, Rumi tersenyum manis.


"Lanjutkanlah, aku tak apa. Ini airmata kebahagiaan karena sudah memberikan hal yang terpenting dalam diriku untukmu Tuan suami," ucap Rumi sambil membelai wajah Galaksi, memandanginya dari bawah.


"Terima kasih istriku" Galaksi mengecup kembali kening Rumi.


Lalu kemudian melanjutkan yang tertunda, melakukan penyatuan kembali dengan lebih lembut. Galaksi berusaha menahan hasratnya yang menggebu dibawah pengaruh obat perangsang.


Keduanya semakin terhanyut dalam penyatuan yang indah. Bahkan tubuh mereka sudah dibasahi oleh keringat. ******* terdengar saling bersautan, diiringi permainan yang semakin dalam.


"Sebutlah namaku Rumi," desah Galaksi.


"Galaaaa," lirih Rumi menyebut nama suaminya.


Suaranya terdengar sangat seksi ditelinga Galaksi, membuatnya semakin bersemangat dan menambah tempo permainan.


Akhirnya mereka berdua berhasil mencapai puncaknya bersamaan dimalam ini. Deru napasnya masih tersengal -sengal. Rumi tersenyum manis dan wajahnya rona bahagia, Galaksi tak kalah senangnya malam ini.


Galaksi melenguh panjang, kembali mengecup kening Rumi yang masih berada dalam kungkungannya malam ini. Galaksi tersenyum puas, tak bosan memandang wajah cantik istrinya walaupun dipenuhi oleh keringat.


Namun sedetik kemudian Galaksi teringat bagaimana saat Rumi kesakitan ditengah permainan mereka. Pada waktu itu Galaksi terlanjur dikuasai oleh hawa nafsu dan bermain dengan kasar.


"Wanita ja-lang itu membuat istriku harus merasakan kesakitan. Besok dia harus jadi sarapan pagi Marvel, akan ku buat dia merasakan seribu kali rasa sakit," geram Galaksi dalam hati.


Rambut Rumi yang berantakan usai aktifitas panas mereka dirapikan oleh Galaksi. Sesekali Galaksi mencium wangi sampo dari rambut Rumi, membuatnya bergairah kembali.


Walaupun sudah mengalami pelepasan, tetapi hawa panas dalam tubuh Galaksi masih terasa. Seperti reaksi dari obat perangsang tersebut tidak akan hilang dalam sekali permainan.


Dengan tatapan yang dalam, kedua bola mata mereka saling beradu. Tubuh Rumi bahkan masih dibawah kungkungan Galaksi.

__ADS_1


"Rum, sekali lagi ya," ucap Galaksi dengan mengiba


"Hah!!!"


__ADS_2