
Begitu keluar dari lift dengan langkah yang terburu-buru Eddy segera menuju ruangan Rumi. Beberapa karyawan tampak berkumpul didepan pintu ruangan kerja Rumi yang artinya Eddy telah terlambat datang.
"Semoga Imel belum membuat kekacauan," gumam Eddy
Eddy terpaksa menyingkirkan beberapa orang yang menghalangi jalannya dengan cukup kasar. Pemandangan pertama cukup membuat Eddy tercengang, Rumi sudah terduduk dilantai dengan wajahnya yang pucat.
"Cukup Imelda!!!" teriak Eddy.
Eddy langsung rengkuhan tubuh lemah Rumi yang bergetar, dahinya sudah dipenuhi oleh keringat dingin sebesar kacang kedelai. Melihat Eddy menolong Rumi dan memeluknya didepan mata Imelda membuatnya meradang.
"Junaedi apa-apaan sih lo, ngapain lo menolong dia hah!! Pake adegan peluk-peluk lagi. Apa jangan -jangan diantara kalian ada affair, kalian selingkuh dibelakang Galaksi hah??" tuduh Imelda
"Tutup mulutmu Imel, jangan menyebarkan berita yang tidak-tidak atau lo bakal terima akibat lebih buruk," jawab Eddy dengan tegas.
Dibantu oleh Dea, Eddy memindahkan tubuh Rumi keatas sofa. Apalagi Rumi sedang hamil, tak baik duduk di lantai dengan posisi yang tak nyaman.
"Rum, apa ada yang sakit???" tanya Eddy khawatir.
Rumi menggelengkan kepalanya, dikepalanya penuh tanda tanya besar. Apalagi setelah Imelda berkata jika janinnya meninggal.
"Mas Eddy," ucap Rumi dengan mata yang sendu
Prok
Prok
Prok
Imelda bertepuk tangan sendiri, merasa pemandangan didepannya sangat indah.
"Wooow mesra sekali panggilan kalian, ternyata benar dugaan gue kalian ada hubungan terlarang dibelakang Galaksi. Gue ga nyangka lo berkhianat dengan sahabat lo sendiri," ucap Imelda
__ADS_1
"Tutup mulut lo Mel, apa yang lo tuduhkan salah!!!" hardik Eddy, dia berusaha untuk tidak terbawa emosi.
"Rum," lirih Eddy, berusah mencari tau apa yang terjadi dengan Rumi.
"Mas Eddy, apa benar calon anak aku meninggal mas?? Apa aku beneran keguguran. Lalu yang disini apa?" ucap Rumi dengan sendu, tangannya mengelus perutnya yang sedikit buncit.
Deg
Kedua bola mata Eddy langsung membola mendengar ucapan Rumi. Yang Eddy tahu Rumi tak diberitahukan perihal kegugurannya. Sorot mata yang tajam langsung di tujukan kepada Imelda yang masih berdiri dengan angkuh.
"Napa lo liatin gue??? Emang bener khan kemarin janinnya mati dan keguguran. Kalian sengaja ya ga ngasih tau dia tentang kabar buruk itu? Cckckckckc kasian," ledek Imelda tanpa belas kasihan.
"Imelda!!!! Ga punya hati lo!!!! Cepat pergi dari sini sebelum gue sendiri yang akan menyeret lo keluar!!!" ancam Eddy.
Tindakan Imelda sudah kelewat batas, tak ada lagi maaf untuk Imelda.
"Bunny.... Sayang!!!!" teriak Galaksi saat memasuki ruangan kerja Rumi.
Rumi menangis sesenggukan dipelukan Galaksi, menumpahkan segala kegundahan yang dia rasakan.
"Hubby, calon anak-anak kita masih ada kan. Mereka masih tinggal dan hidup didalam sini kan, mereka sehat kan?" tanya Rumi dengan rentetan pertanyaan.
Galaksi memindai seluruh orang yang ada di dalam ruangan, belum paham apa yang terjadi kepada Rumi.
"Tentu sayang, kemarin kan kita sudah lihat mereka sehat di dalam sini. Sudah jangan menangis ya nanti dedek bayinya ikut sedih okey," bujuk Galaksi.
Jemarinya menghapus air mata yang membasahi wajah cantik istrinya. Galaksi pun mengecek seluruh tubuh Rumi takut Imelda berani melukainya.
"Tap-tapi dia bilang calon anak jika meninggal By," ucap Rumi dengan tangan bergetar, keringat dingin di dahinya semakin banyak.
Galaksi mengepalkan tangannya, gigi-giginya saling gemerutuk menahan emosi. Tatapannya begitu tajam terhadap wanita yang sudah lama menjadi sahabatnya itu.
__ADS_1
"Nanti aku jelasin ya sayang. Sebentar ya, aku ada yang harus aku katakan," ucap Galaksi berusaha menenangkan Rumi.
Imelda mengeluarkan senyum terbaikmu saat Galaksi berjalan mendekatinya. Merasa dirinya sudah mendapatkan kembali simpati dari Galaksi. Apalagi saat ini kedua bola mata mereka saling bertatapan. Hembusan napas Galaksi begitu terdengar merdu di telinga.
"Sekali lagi lo berani mengusik kebahagiaan keluarga kecil gue, gue sendiri yang akan kirim lo ke markas Dragon Eyes untuk menjadi cemilan Marvel," bisik Galaksi tepat di telinganya
Tubuh Imelda langsung menegang, tak menyangka Galaksi justru mengancam hidupnya. Apalagi Galaksi tak segan mengancam akan mengakhiri nyawanya.
Dengan tatapan sendu, Imelda berusaha memelas didepan Galaksi. Tapi nihil, Galaksi tak terpengaruh sama sekali. Justru muak dengan sikap Imelda yang berubah 180 derajat.
Galaksi kembali membalikkan badannya dan kembali menghampiri Imelda, dia melupakan sesuatu.
"Lo akan rasakan di akibat dari perbuatan lo hari ini karena sudah membuat istri kesayangan gue menangis dan bersedih. Satu jam dari sekarang, lo standby saja apa yang akan lo terima di handphone lo," tegas Galaksi kembali memperingati.
Tak terasa air mata menetes di pipi Imelda, hatinya sudah hancur dihempaskan oleh Galaksi. Usahanya selama ini sia-sia, bahkan membuat Galaksi seperti benci dan jijik kepada dirinya.
"Lo jahat Gala. Gue sahabat lo sejak kita sekolah, gue yang selalu berada di samping lo. Tapi di mata lo gue bahkan seperti kuman yang harus disingkirkan!!! Lo jahat Gala!!!" seru Imelda meluapkan segala emosinya.
"Lo wanita, tega menyakiti sesama wanita. Siapa yang lebih jahat dan ga punya hati. Sikap lo sendiri yang bikin gue muak Mel. Dan sekarang sebaiknya kita tidak saling mengenal Mel. Gue rasa itu lebih baik,"
"Tidak!!!tidak!!! Gue ga mau, gue minta maaf kalo gue salah tapi gue mohon jangan jauhi gue please. Kita kembali berteman dan bersahabat ya!!!!" pinta Imelda
Galaksi menggelengkan kepalanya, tak menyetujui permintaan Imelda. Dengan lembut Galaksi membelai pipi Rumi.
"Istirahat di ruangan ku saya ya Bunny, kasian debaynya pasti cape," ajak Galaksi
Rumi menganggukkan kepalanya. Galaksi langsung menggendong Rumi ala Bridal style, menjadi tontonan para karyawan.
Eddy berhasil menahan Imelda saat hendak mengejar Galaksi.
Plakkk
__ADS_1