
Galaksi meraba ranjang disebelahnya tempat Rumi biasa tidur. Kosong, ternyata Rumi sudah bangun sejak beberapa saat yang lalu. Mereka memang sudah pulang ke apartemennya karena Rumi mengeluh sakit pinggang tidur di kasur kapuk.
Meskipun almarhum nenek Rumi sudah tidak ada, tetapi Galaksi tidak membiarkan rumah tersebut kosong. Galaksi mencari orang yang bersedia tingga dan merawat rumah tersebut dengan baik dan tidak di pungut biaya sedikitpun. Sepasang pengantin baru, anak tetangga sebelah bersedia tinggal di rumah tersebut untuk beberapa lama, lumayan bisa menghemat uang sewa kontrakan.
Usai mengumpulkan nyawanya, Galaksi bergegas bangun dan mencari keberadaan istrinya. Ternyata Galaksi menemukan istrinya tengah memasak di dapur.
Langsung saja dia menghampiri istrinya dan memeluknya dari arah belakang. Terasa juga perut Rumi yang semakin membesar setiap waktunya.
"Hubby, sudah bangun??" tanya Rumi. Tangannya dengan lincah mengaduk opor ayam yang tengah dia masak.
"Heemmm, bangun-bangun kamu udah ga ada. Bikin panik aja. Kok kamu massk sih?? Sini biar aku yang lanjutin," ucap Galaksi, dia tak ingin istrinya kecapean
Rumi menepis tangan Galaksi yang hendak mengambil alih centong sayur dari tangannya.
"No, jangan ganggu ya By, aku lagi pengen masak. Mending Hubby yang duduk manis di meja makan karena sebentar lagi opor ayamnya mateng. Sana-sana-sana," ucap Rumi mengusir Galaksi
"Hhheemmm enak banget aromanya, pasti mantap nih rasanya. Nasinya udah masak belum??" tanya Galaksi memastikan karena pernah Rumi kelupaan masak nasi saking asyiknya memasak sayur.
"Rumi ga masak nasi By. Bikin lontong. Coba liat di panci yang itu sudah mateng belum. Harusnya sih udah ya. Soalnya hampir satu jam," ucap Rumi.
Galaksi menuju kompor yang disebelah dan membuka tutup panci. Seketika aroma daun pisang menyeruak keluar. Galaksi mengambil salah satu lontong buatan Rumi dan meletakkan nya di piring. Agar dingin Galaksi mengipasi lontong tersebut dengan kipas kecil.
__ADS_1
"Mmm.. enak nih, pas banget. Istri siapa sih pinter masak, bisa bikin apa aja," puji Galaksi. Pipi Rumi bersemu merah.
Akhirnya setengah jam kemudian opor ayam sudah matang dan dihidangkan diatas meja. Galaksi juga sudah memotong beberapa lontong agar memudahkan ketika memakannya. Mereka berdua menikmati sarapan yang berbeda kali ini. Tak lupa Rumi membungkus lontong dan opor ayam tersebut untuk diberikan kepada Dea.
*
*
*
Pada jam istirahat kantor, Rumi ingin sekali membeli jajanan telor gulung yang ada di sekitar kantor. Galaksi yang saat itu sedang ada meeting dengan beberapa direksi tak bisa menemani istrinya jajan di luar kantor. Akhirnya Rumi mengajak serta Dea untuk menemaninya.
"Boss, target terlihat arah jam 9 bersama seseorang. Apa kita perlu bergerak sekarang."
"Iya. Kita bergerak. Perhatikan keadaan sekitar jangan sampai mengundang perhatian banyak orang. Pastikan semuanya sesuai dengan rencana."
Mereka dengan mobilnya melaju menghampiri seseorang yang menjadi target mereka beberapa hari ini. Setelah mengamati selama beberapa hari, merrkya mendapatkan kesempatan tersebut.
Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan Rumi dan Dea yang baru saja selesai membeli jajanan telor gulung. Dea merasakan sesuatu tak beres, dengan sigap dirinya melindungi Rumi di balik tubuhnya.
"Si-siapa kalian" ucap Dea dengan lantang.
__ADS_1
Dua orang berbaju serba hitam dari dalam mobil turun dan mendekati Rumi. Wajahnya tidak terlalu terlihat karena memakai kacamatanya dan masker hitam.
"Nona Rumi, lebih baik anda ikut dengan kami secara sukarela atau kami akan berbuat kasar. Kami tau anda sedang hamil, jadi jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan kehamilan anda, sebaiknya segera masuk kedalam mobil. Tenang saja kami tidak akan berbuat macam-macam. Kami hanya menjalankan apa yang Tuan kami perintahkan," ucapnya
Rumi dan Dea saling berpandangan. Dea meminta Rumi untuk tidak mengikuti keinginan mereka.
"Tidak Rum, jangan gila. Mereka ingin menculik kamu. Sebaiknya kita pergi saja dari sini," ajak Dea.
Rumu menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Dea dengan erat
"Aku akan ikut mereka, kamu segera kembali ke kantor dan beritahu suamiku tentang apa yang terjadi ya. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja," ucap Rumi meyakinkan Dea.
"Ga bisa Rum, ini terluka berbahaya. Kita juga ga tau maksud mereka apa."
"Ayo cepat, kita ga banyak waktu. Atau kami akan bertindak kasar untuk membawa anda dan mencelakai teman anda!!!" Ucap Mereka dengan tegas.
Karena tak ingin Dea celaka, Rumi akhirnya masuk kedalam mobil tanpa paksaan. Sedangkan Dea berusaha menahan Rumi agar tidak mengikuti mereka tetapi sia-sia.
"Rum..jangan gila Rum!!!"
Bugh
__ADS_1