Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Kedatangan Bunda Maulindya


__ADS_3

Beberapa kali Galaksi mengirim pesan chat dan menelepon Rumi namun tak ada balasan apapun. Pekerjaannya kali ini benar-benar tidak bisa dia tinggalkan. Apalagi tender kali ini nilainya cukup fantastis dan akan mendapatkan untung sangat besar jika berhasil mendapatkannya.


"Udah deh, lo mending pulang aja kalo pikiran lo ga disini," ucap Eddy


Dia sebenarnya kesal melihat Galaksi sedari tadi sibuk dengan handphonenya padahal tak ada pesan ataupun telepon yang masuk.


"Kalo gue pulang lo gimana?? Ini tender penting buat perusahaan. Tanggungjawab sebesar ini ga bisa gue tinggalin gitu aja," keluh Galaksi bercampur khawatir


"Tapi lo khawatir kan dengan kondisi Rumi yang sendirian dirumah?? Lagian kita kan tinggal nunggu keputusan akhirnya, gue gapapa ditinggal disini sendiri. Sapa tau gue bisa ketemu sama CEO cantik disini," balas Eddy.


"Yakin lo gapapa? Gue takut lo ilang lagi," ledek Galaksi


"Emang lo pikir gue bocah umur 5 tahun. Boss laknat lo!" gerutu Eddy.


"Ya kali, sapa tau lo di culik tante tante girang,"


"Kalo cakep plus tajir gapapa gue rela jadi simpanannya. Oh iya, perasaan lo sama Rumi gimana? Apalagi lo udah berhubungan suami-istri?" tanya Eddy kepo.


"Gue ga tau Ed, lo tau sendiri gue ga pernah ngalamin jatuh cinta. Yang jelas gue nyaman di dekat dia, begitu juga sebaliknya," terang Galaksi.


Akhirnya Galaksi memutuskan untuk pulang karena pikirannya begitu khawatir dengan kondisi Rumi. Namun sebelum pulang Galaksi mampir kesebuah restoran untuk membeli makan siang.


.


.


Saat masuk kedalam apartemennya Galaksi mulai curiga terjadi sesuatu dengan Rumi, pasalnya piring kotor bekas sarapan masih ada di wastafel. Biasa Rumi selalu membersihkan area dapur dengan baik. Lampu-lampu di apartemennya juga dalam keadaan mati sama seperti saat ditinggal kerja oleh Galaksi. Seharusnya menyala jika Rumi keluar dari kamarnya.


Dengan langkah yang terburu-buru Galaksi menuju kamarnya, tas kerjanya bahkan dilemparkan kesembarang arah.


"Rumi" panggil Galaksi


Aroma tidak sedap langsung menyeruak ke indra penciumannya begitu memasuki kamarnya. Netranya mencari keberadaan Rumi diatas ranjang.


"Rumi, Rumi, kamu kenapa??" cemas Galaksi.


Kondisi Rumi sedang meringkuk didalam selimut, matanya sembab karena menangis.


"Rum, Rum katakan sesuatu," ucap Galaksi sambil memeluk tubuh Rumi.


"Tubuhnya panas sekali," guman Galaksi.

__ADS_1


"Maafkan aku tuan, maafkan. Aku ga sengaja, aku udah ga tahan Tuan. Sakit.. sakit sekali rasanya," racau Rumi dengan mata masih terpejam.


Galaksi paham mengapa Rumi meminta maaf pasti ada hubungannya dengan dirinya yang mengompol diatas ranjang.


"Gapapa Rum, justru aku minta maaf karena sudah membuatmu sakit seperti ini," ucap Galaksi dengan menyesal.


"Tu-tuan sudah pulang???" Rumi mulai membuka matanya


"Hemmm, pikiranku tak tenang Rum meninggalkan mu sendiri di apartemen. Sekarang aku bantu untuk membersihkan tubuhmu ya, pasti sudah tidak nyama rasanya," ucap Galaksi dengan lembut. Tak lupa jemarinya menghapus air mata yang ada di pipinya.


Galaksi membawa tubuh Rumi dan mulai melepaskan satu persatu pakaian yang di kenakannya tanpa rasa jijik sedikitpun. Galaksi mulai membersihkan bagian bawah Rumi dengan lembut. Setelah selesai Galaksi memakaikan bathrobe pada tubuh Rumi agar tidak kedinginan.


Galaksi kembali melepas seprai yang sudah kotor. Untung saja kasurnya di lapisi lapisan khusus sehingga saat Rumi mengompol tidak tembus hingga kedalam bed. Setelah selesai mengganti seprai Galaksi mengambil pakaian dan dalaman untuk Rumi.


Galaksi teringat dengan salep yang diberikan oleh Rumi untuk mengurangi bengkak serta sakit dibagian sensitif Rumi.


Rumi sesekali meringis kesakitan saat tubuhnya bergerak sedikit saja. Rumi tersentak kaget saat Galaksi membuka pahanya dan melihat area sensitif nya.


"Tenang Rum, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin mengoleskan salep ini untuk meredakan rasa sakitnya. Kamu mau??" ucap Galaksi sambil memperlihatkan salep ditangannya.


Rumi menganggukkan pasrah, mendapatkan izin darinya Galaksi langsung mengoleskan salep tersebut.


Sesekali Rumi menggigit bibirnya menahan rasa perih. Usai mengobati Rumi, Galaksi lalu memakaikan Rumi baru kemudian membaringkannya kembali ke ranjang.


"Rum, kita kerumah sakit ya. Tubuhmu demam, aku takut terjadi apa -apa denganmu," bujuk Galaksi.


"Nggak.... Nggak mau!!! Rumi ga mau, Rumi malu kalo harus kerumah sakit, huuuuaaa... Huuuuu," ucap Rumi sambil menangis tergugu.


Galaksi semakin dibuat bingung sekaligus rasa bersalah. Apalagi Rumi sampai menangis, paling tidak bisa galaksi melihat wanita meneteskan air mata.


"Okey, kita ga akan kerumah sakit ya. Tapi Rumi makan dulu ya, aku suapi. Setelah itu minum obat supaya demamnya sembuh," ucap Galaksi


Untuk sementara Galaksi membiarkan Rumi di apartemen saja, jika setelah minum obat kondisi Rumi tak kunjung membaik terpaksa Galaksi akan membawanya kerumah sakit.


Galaksi mengambil makanan yang telah Dia beli sebelum di meja makan kemudian membawanya ke dalam kamar.


Wajah Rumi terlihat pucat, sesekali mulutnya berdesis menahan rasa sakit. Sungguh Galaksi tak tega melihatnya, seandainya bisa biarkan dia saja yang merasakan sakitnya.


Galaksi menyuapi Rumi dengan telaten, dia juga menyuapi dirinya sendiri karena Rumi menolak jika Galaksi tidak ikut makan. Setelah selesai makan Galaksi mengambil obat demam untuk Rumi.


Setengah jam kemudian Rumi mulai terlelap tidur, Galaksi masih setia menjaga disampingnya. Dipandanginya wajah Rumi yang tetap cantik walaupun tanpa make up.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Galaksi terhenyak saat mendengar Rumi tengah meracau kesakitan. Keringat dingin pun membasahi dahinya, sekujur badannya gemetar. Galaksi panik dan langsung membawa Rumi dalam dekapan.


"Sakit bu.... Sakit sekali bu.. huuuuhuuuuhuuuu," racau Rumi, matanya masih terpejam.


"Rum... Rumi... Sadar Rum, Rumi!!!! " Galaksi menepuk pipi Rumi perlahan.


"Tu-tuan ini dingin sekali Tuan, dingin!!!" Rumi kembali meracau bahkan giginya saling bertumbukan, tubuhnya menggigil.


Galaksi sudah kebingungan dan putus asa. Dia hanya memeluk tubuh Rumi dengan erat. Tak punya pilihan lain, Galaksi mengambil handphone-nya dan menelepon seseorang.


"Bun, tolongin Galaksi bun. Rumi sakit," ucap Galaksi mengadu.


.


.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk Maulindya, bunda Galaksi tiba fi apartemen anaknya. Mendapatkan telepon dari Galaksi jika Rumi tengah sakit membuatnya panik luar biasa dan langsung bergegas menuju apartemen anaknya. Bahkan dia lupa untuk pamit kepada suaminya yang ada dihalaman belakang mengurus ikan koi kesayangannya.


"Kenapa Rumi bisa seperti ini Gala, apalagi ini di tubuhnya banyak bercak merah seperti ini. Apa yang kamu lakukan???" tanya Maulindya penuh curiga. Apalagi setelah melihat tanda merah di area leher dan sekitar dada membuatnya curiga sang anak telah berbuat sesuatu.


Galaksi hanya bisa memainkan jemarinya saat di pojokkan oleh ibundanya tersayang. Kondisinya Rumi sudah membaik setelah di kompres, Rumi meracau karena suhu tubuhnya yang sangat tinggi. Untung saja tidak kejang-kejang.


"Itulah Bun, anu... Mmmm gimana ya," ucap Galaksi kebingungan, lidahnya mendadak kaku.


Maulindya memberikan tatapan membunuh kepada anaknya.


"Apa kamu memperkosanya Gala, jawab!!!!" bentak Maulindya dengan nada tinggi.


Walaupun mereka sudah menjadi sepasang suami istri dan sah-sah saja jika bercinta tetapi Maulindya tidak suka Galaksi bersikap kasar.


"Tidak bun, bukan seperti itu. Sebenarnya-"


Galaksi mulai menceritakan kejadian tadi malam, hingga membuat bundanya sangat murka.


"Bukannya sudah bunda katakan jika wanita si-alan itu pembawa masalah. Bajunya saja sangat tidak layak untuk di pakai kekantor. Apalagi penampilannya seperti wanita penggoda, kenapa kamu tidak mendengarkan nasehat bunda Gala. Dan lihatlah Rumi jadi korban akibat ulah wanita si-alan itu," ucap Maulindya dengan berapi-api, amarahnya mulai berkobar dalam hatinya


"Iya Bun, Gala salah. Gala hanya berusaha profesional Bu karena memang kinerja nya bagus. Tapi bunda tenang saja, ja-lang itu sudah Gala singkirkan," ungkap Galaksi


"Bagus lah, tapi lebih bagus lemparkan saja ke kandang Marvel," gerutu Maulindya.


Galaksi dibuat melongo mendengar ucapan bundanya. Selama ini bundanya selalu sabar dan lembut walaupun anak-anaknya bandel, tapi di balik itu semua Maulindya orang yang tega dan kejam jika sudah ada orang yang berani mengusiknya keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2