Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Kebahagiaan di Pasar Malam


__ADS_3

Keinginan Rumi untuk bermain di pasar malam akhirnya dituruti oleh Galaksi. Rumi teringat ketika kedua orang tuanya masih hidup mereka sering pergi ke pasar malam yang ada di lapangan desa. Berbagai permainan yang ada di sana sudah pernah Rumi coba.


Hingar bingar keramaian di pasar malam begitu terasa. Banyak orang yang pergi ke pasar malam untuk menghabiskan waktu. Ramai sahut-sahutan teriakan para pedagang yang menjajakan dagangannya kepada para pengunjung. Stan permainan tak kalah ramai dikunjungi oleh pasangan pemuda pemudi atau anak kecil yang ingin bermain.


Berbagai penjual kuliner khas pasar malam pun ada seperti popcorn aneka rasa, arum manis, rambut nenek, kue ape dan masih banyak lagi. Penjual pernak pernik dan aksesoris pun ada, mereka ikut meramaikan suasana pasar malam.


Mata Rumi begitu berbinar-binar melihat keramaian yang ada. Banyak dari para orang tua yang turut mengajak anak mereka untuk pergi ke pasar malam. Galaksi dapat melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh Rumi dari sorot kedua matanya.


Rumi menarik tangan Galaksi untuk segera masuk kedalam pasar malam. Matanya tak berhenti melihat kesana kemari mencari sesuatu yang ingin di beli. Rumi mulai merasakan air liurnya seperti menetes keluar dari mulutnya saat melihat aneka jajanan. Ingin rasanya Rumu memborong makanan yang ada dan memakannya hingga habis.


Air liur Rumi beneran menetes saat melihat penjual gulali, tak terasa tangannya membelai perutnya yang sedikit membuncit.


"Hubby, mau itu?" rengek Rumi sambil menggoyang-goyangkan lengan Galaksi


"Ini dulu dong," goda Galaksi sambil menunjuk pipinya dengan telunjuknya.


Tanpa ragu dan malu-malu Rumi langsung menjinjitkan kakinya lalu memberikan sebuah ciuman di pipi Galaksi. Rona bahagia langsunh terpancar dari diri Galaksi, senyuman manis tergambar dibibirnya.


"Ayo kita kesana," ajak Galaksi sambil menuntun Rumi agar memperhatikan langkah.


Galaksi melindungi Rumi agar tidak tersandung atau tertabrak orang lain mengingat istrinya tersebut tengah hamil dan kondisinya masih rentan.


Rumi langsung memborong semua gulali yang telah di buat oleh si penjual. Galaksi sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Rumi yang kegirangan saat mencicipi salah satu permen gulali yang Rumi beli.


"Hhheemmmmm manis banget," ucap Rumi saat menyoba permen gulali tersebut, Galaksi hanya menanggapi dengan senyuman.


Mereka melanjutkan berkeliling area pasar malam sebelum nantinya akan mencoba satu persatu wahana yang ada di pasar malam tersebut. Mata Galaksi tertuju kesalah satu stand permainan yaitu permainan memanah. Ada pajangan hadiah yang membuat Galaksi tertarik yaitu boneka kelinci putih yang sangat besar. Ingin rasanya Galaksi mendapatkan hadiah tersebut untuk Rumi.

__ADS_1


Galaksi pun membayar dua puluh lima ribu untuk sepuluh panah. Bukannya sombong, bagi Galaksi memanah adalah hal yang mudah karena sejak kecil dia di latih oleh sang bunda di markas Black Dragon Eyes.


Lima panah pertama berhasil di lesatkan tepat di titik tengah, Rumi bersorak sorai melihat kemampuan suaminya yang sangat langka. Galaksi dengan mudahnya memainkan anak panah dan busurnya, semua panah berhasil menancap sempurna dan mendapatkan point tertinggi. Akhirnya boneka kelinci berhasil didapatkan oleh Galaksi.


"The bunny for the beauty bunny in my heart," ucap Galaksi dengan gombal.


Rumi tersentuh, refleks memeluk Galaksi dengan erat. Para pengunjung yang menyaksikan adegan kemesraan mereka ikut bahagia. Senyum Galaksi begitu merekah melihat rona bahagia di wajah Rumi.


"Teruslah bahagia sayang, aku berjanji akan selalu menjagamu dan anak-anak kita nanti," ucap Galaksi dalam hati. Siapapun pasti bisa merasakan kebahagiaan pasangan tersebut.


"Hubby malu," bisik Rumi, sadar jika mereka jadi pusat perhatian.


"Ga papa khan kita udah halal. Mau lanjut atau pulang," tanya Galaksi sambil memgelus punggung istrinya.


"Lanjut, khan belum naik itu, itu, itu dan itu," ucap Rumi sambil menunjuk ke beberapa permainan.


"Okey tapi kalo cape pulang ya, ingat disini ada debay," ucap Galaksi mengingatkan, Rumi menganggukkan kepalanya.


"Itu buat anak kecil Bunny, nanti kalo kamu naik bisa rusak," bujuk Galaksi


Mata Rumi memanas, air mata di pelupuk sudah menggenang. Galaksi yang tak tega melihat betapa ingin istrinya tersebut menaiki wahana tersebut. Akhirnya Galaksi mencoba untuk bertanya kepada penjaga wahana tersebut bisa di naikin oleh istrinya atau tidak.


"Maafkan aku sayang, Ternyata memang bukan untuk orang dewasa. Kita tunda dulu naik komidi putarnya ya. Aku janji weekend minggu ini kita ke Dufan gimana? Disana ada komidi putar yang besar, kamu bisa naik sepuasnya. Atau kalo kamu ingin mas bisa pesankan komidi putar khusus buat kamu, nanti sementara diletakkan di tanah kosong dibelakang rumah ayah. Kamu mau??" ucap Galaksi berusaha membuat Rumi tidak kecewa.


Rumi menghapus air matanya, menganggukkan kepalanya dengan hati bahagia. Selalu ada cara yang bisa dilakukan oleh Galaksi untuk membuat Rumi bahagia.


"Janji ya weekend ini ke Dufan," ucap Rumi dengan lembut," ucap Galaksi sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


Rumi menyambutnya dan mentautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Galaksi. Mereka melanjutkan jalan-jalan mereka untuk menaiki wahana yang lainnya.


Malam semakin larut tetapi riuh suasana ramai di pasar malam tidak berkurang sama sekali. Salah satu tangan Galaksi menenteng beberapa keresek camilan atau jajanan uang di beli oleh Rumi. Sedangkan Rumi sedang asyik memakan cilok goreng setelah sebelumnya menghabiskan kue ape dan popcorn caramel.


"By pulang yuk, ngantuk...." rengek Rumi sambil mengucek matanya yang mulai berair.


"Ga jadi naik bianglala??" Rumi menggelengkan kepalanya.


"Nanti aja sekalian di Dufan," balas Rumi.


"Oke deh, ya udah kita pulang ya," ajak Galaksi


"Gendong!!!!" pinta Rumi dengan manja.


"Terus ini bonekanya gimana??"


"Aku yang pegang, gendong belakang ya??"


Galaksi langsung memposisikan tubuhnya agar Rumi bisa naik keatas punggungnya. Rumi meletakkan kepalanya di bahu Galaksi karena tak tahan dengan rasa kantuknya. Galaksi berjalan dengan sangat hati hati agar tidak terjatuh apalagi setelah mengetahui Rumi sudah tertidur.


Setengah jam kemudian, Galaksi sudah sampai di parkiran apartemen dan Rumi masih tertidur nyenyak sambil memeluk boneka kelinci. Tak tega membangunkan Rumi, Galaksi kembali menggendong Rumi hingga kamarnya. Untung aja berat badan Rumi belum naik drastis, mungkin pinggangnya akan encok jika kehamilan Rumi sudah besar.


Galaksi membaringkan tubuh Rumi diatas ranjang dan melepaskan sepatu yang dikenakan oleh Rumi. Galaksi pun hendak mengganti pakaian yang digunakan oleh Rumi dengan baju tidur agar lebih nyaman. Namun saat hendak memakaikan baju, mata Rumi yang asalnya terpejam mendadak terbuka.


Rumi refleks mengalungkan tangannya pada leher Galaksi yang membuat tubuh Galaksi tepat diatasnya. Hampir saja menimpa tubuh Rumi jika tangan Galaksi tak sigap menahannya.


"Bu-bunny, kenapa bangun sayang??" ucap Galaksi.

__ADS_1


Kedua netra mereka saling berpandangan, bertatapan dengan begitu dalam. Kedua bola mata saling mengunci dan tak bergerak sedikitpun. Rumi melepaskan kedua tangannya dan salah satu tangannya mulai meraba pipi Galaksi hingga bagian dada. Galaksi memejamkan matanya menahan rasa geli dan hawa panas yang mulai menjalar di tubuhnya.


"Hubby....kita main dulu yuk???"


__ADS_2